
"Menik—masih enggan memakainya Yah. Bukankah dari awal pernikahan ini belum boleh di umumkan ke banyak orang."
"Betul nduk, tapi kalau kamu nggak memakainya, akan membuat beberapa orang salah paham. Lihat tadi saja mertuamu kelihatan keberatan saat tahu kamu nggak meakai cincin itu. Jadi nduk, menurut ayah kalau bisa tetap kamu pakai cincin itu." nasihat pak Broto.
"Tapi Yah, nanti Menik harus jawab apa jika ada yang menanykan masalah cicin ini?"
"Jawab saja cincin tunangan."
"Baiklah Ayah, Menik akan pakai cincinnya."
"Ya sudah Nduk, cepat istirahat. Pasti kamu capek." ujar pak Broto dan beranjak menuju kamar beliau.
***
Pagi menyapa, perlahan Mennik membuka mata menyesuaikan dengan cahaya mentari yang nyelonong masuk melalui sela-sela tirai.
Tok ... tok ... tok
"Nduk bangun, ayah mau ke makam ibu ikut tidak?" seru pak Broto di balik pintu.
"Menik nggak ikut Yah. Besok saja sekalian berangkat ke kampus Menik mampir." ucapnya menanggapi seruan pak Broto.
"Ya sudah, kalau begitu ayah berangkat sama mami mu." ujar pak Broto sembari beranjak dari depan kamar Menik.
Sebenarnya Menik ingin ikut, namun dia belum terbiasa dengan hadirnya Sri Suketi. Sehingga Menik menolak ajakan itu.
Menik segera beranjak dari kamar dan menuju dapur mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.
"Aish, tak ada makanan sama sekali. Enaknya delivery saja dech." gumam Menik setelah melihat kulkas yang kosong melompong.
Penasaran dengan kulkas yang kisong, Menik mencoba membuka lemari tempat penyimpanan bahan makanan. Menik mencoba membuka pintu lemari, namun hasilnya nihil. Pintu lemari makanan dikunci.
"Mantab, dikunci. Takut makanannya aku ambil ternyata." gumam Menik.
Tak satupun bahan makanan Menik jumpai. Hanya ada air di galon yang tersisa seperempat galon.
"Mending balik kos sekarang saja, tapi kalau balik sekarang tentu nggak bisa mampir ke makam ibu. Ke rumah mas Agus dulu sajalah." gumamnya.
Menik segera bersiap, sambil menunggu pesanan nasi pecel di penjual langganannya dari kecil.
Teng ... teng ...
Terdengar bunyi gembok diadu dengan besi. Menik segera ke luar untuk menemui kurir yang mengantar makanan.
"Mbak Menik?" uajar kurir itu memastikan bahwa Menik yang memesan makanan.
"Iya Om." jawab Menik.
__ADS_1
"Maaf mbak agak lama. Ngantri."
"Iya Om nggak apa-apa. Terima kasih." ucap Menik dan segera masuk ke dalam rumah.
Setelah selesai menikmati nasi pecel, Menik berangkat menuju rumah Agus. Namun sebelumnya, dia mengirim pesan kepada ayahnya.
Menik: Ayah, Menik berangkat ke rumah mas Agus. Setelah itu langsung ke kos.
Pesan yang dikirim Menik masih centang satu. Menunjukkan kalau ponsel pak Broto tak mendapatkan sinyal.
Menik: Ayah nitip pesan untuk istri ayah. Pesannya, "Terima kasih sudah mengosongkan kulkas dan mengunci lemari makan." 😁😁
Setelah mengirimkan pesan yang kedua dan masih saja centang satu, Menik segera menuju ke rumah bu Islah. Sampai di rumah bu Islah Menik langsung menuju ke kolam ikan. Karena kedua mertuanya sedang bersantai di tepi kolam.
"Assalamulaikum, Ayah dan ibu." ucap Menik.
"Waalaikumsalam, eh mantu ibu akhirnya pulang ke rumah." jawab bu Islah sembari menyambut uluran tangan Menik.
Menik mencium tangan kedua mertuanya bergantian, dan Menik ikut duduk di kursi dekat bu Islah.
Bu Islah tersenyum simpul saat melihat jari menantunya telah tersemat cincin pernikahannya.
"Menik, ibu senang akhirnya Menik mau menyematkaan cincin di jari." ucap bu Islah.
"Maaf kan Menik bu, kemarin Menik masih bingung harus dipakai atau disimpan. Karena mas Agus dari awal sudah wanti-wanti kalau pernikahan ini jangan disebarkan dulu. Jadi Menik putuskan untuk menyimpannya."
"Menik nggak salah, nggak usah minta maaf. Lagi pula bukankah Menik masih memakai cincin itu meski bukan di jari."
"Menik sudah sarapan?" tanya bu Islah.
"Alhamdulillah sudah. Sarapan nasi pecel."
Mereka bertiga melanjutkan obrolannya. Tak terasa mentari beranjak bergeser ke arah Barat. Sinar yang tadinya menyapa dengan hangat, beralih menyengat.
"Ayo bu kita masuk rumah, sudah mulai panas." ajak pak Dewa.
"Ayo Yah." jawab bu Islah.
"Menik nggak ikut masuk?" seru pak Dewa, yang melihat menantunya masih enggan beranjak dari sisi kolam.
"Iya Yah, sebentar lagi." jawab Menik.
"Ayah dan Ibu tinggal ya."
"Iya Yah."
Menik masih menikmati angin sepoi-sepoi di pinggir kolam. Diraihnya ponsel dari dalam tas kecilnya. Dibuka chat dengan ayah nya. Menik penasaran dengan tanggapan ayah nya mengenai pintu lemari makanan yang dikunci Sri. Ternyata masih belum ada balasan, karena masih centang satu.
__ADS_1
Mentari semakin terik, Menik beranjak menuju kamar Agus. Segera Menik merebahkan tubuhnya sembari membaca berita online. Tak lama netra sipit itu terpejam.
"Nik ..." panggil bu Islah dari luar kamar. Karena tidak mendapt jawaban dari Menik, beliau memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Lagi pula Agus nggak ada di rumah, jadi aman kalau masuk kamar.
"Pantes nggak jawab panggilan Ibu, ternyata tidur." gumam bu Islah sembari mendekat ke kasur.
Beliau pindahkan ponsel dari genggaman Menik ke atas nakas. Dipandanginya wajah menantunya. "Kasihan kamu Nik. Ibu harap Agus tak menyakitimu." lirih bu Islah berucap.
Perlahan bu Islah beranjak dari sisi tempat tidur. Beliau menyalakan ac dan mengatur suhunya, agar menantunya tidur dengan nyaman.
"Ayah, ibu lihat Menik tidur di kamar Agus, pengin nangis rasanya. Anak itu menyimpan banyak luka di hatinya. Ibu harap Agus tak menambah luka itu."
"Ayah juga khawatir bu. Apalagi kemarin Andi sempat telepon Ayah—."
"Ada apa Andi telepon Ayah?" sela bu Islah.
"Menanyakan tentang Agus." jawab pak Dewa.
"Menanyakan Agus? Memangnya ada apa dengan Agus?" ucap bu Islah penasaran.
"Andi cerita kalau Agus belum menjawab tentang tawarannya beberapa waktu lalu."
"Tawaran apa Yah? Ibu nggak tahu?"
"Tawaran Andi tentang Wiwid."
"Maksudnya Yah? Coba ceritanya jangan mutar-mutar, ibu penasaran." interupsi bu Islah.
"Lhah ... siapa yang ceritanya mutar-mutar. Ayah baru mau cerita, sudah ibu sela terus." tandas pak Dewa.
"Maaf Yah. Habis ibu penasaran banget. Ayo Yah, lanjutkan ceritanya."
"Jadi begini bu, Andi salah persepsi mengenai status hubungan Wiwid dan Agus. Andi melihat hubungan mereka tidak hanya sebatas teman. Melainkan hubungan sepasang kekasih." jelas pak Dewa.
"Lhah, kenapa bisa begitu? Bukannya mereka hanya sebatas sahabat?"
"Itulah Bu, Ayah juga kurang tahu mengapa Andi punya pemikiran seperti itu."
"Ayah sudah coba tanya Agus?"
"Sudah Bu. Sebelum berangkat, Ayah sudah menanyakan pada Agus. Bahkan sempat ayah ancam. Kalau sampai Agus menyakiti Menik, maka ayah yang akan maju di garda depan membela Menik."
"Terus apa jawaban Agus?"
"Kalau menurut Agus, mereka hanya sebatas sahabat. Tapi ayah rasa ada yang di sembunyikan anakmu."
"Ibu nggak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Menik jika Agus berubah haluan Yah. Apalagi Andi seniornya. Ibu takut Andi menggunakan wewenangnya untuk memaksa Agus." ucap bu Islah penuh rasa khawatir.
__ADS_1
"Semoga saja tidak Bu." ujar pak Dewa menenangkan bu Islah. Padahal beliau sendiri juga khawatir.
Pak Dewa siluet seorang gadis di balik jendela kamar beliau. Namun, beliau tak begitu jelas melihat siapa gadis itu, yang beliau yakin telah mendengar semua pembicaraan beliau dan istrinya.