Adhisti

Adhisti
Bab 71


__ADS_3

"Oalah, ternyata kamu jatuh cinta, Ce," gumam Menik.


"Kamu ngomong apa, Nik? Coba yang jelas ngomongnya biar aku paham."


Ternyata Darmawan mendengar gumaman Menik. Untung saja nggak begitu jelas dia mendengarnya. Bisa bahaya kalau Darmawan mendengarnya.


"Aku nggak ngomong apa-apa, Wan. Kamu salah dengar."


"Nik, skripsi kamu sampai mana?"


"Masih penelitian, baru baca-baca novelnya."


Beb ... beb ... satu pesan masuk.ke ponsel Menik.


Ince: Nik, aku langsung pulang ke kos. Kamu langsung pulang ke kos saja. Istirahat yang cukup. Besok pagi kamu perjalanan jauh.


Menik: Oke.


Setelah membaca pesan Ince, Menik berpamitan kepada Darmawan. Padahal Darmawan masih ingin berduaan dengan Menik. Jarang-jarang dia bisa makan berdua di kantin. Karena selalu ada Ince di samping Menik.


"Maaf Wan, aku pulang dulu. Karena besok aku ada acara di luar kota."


"Mau ke mana Nik?"


"Ada acara keluarga. Sebenarnya aku ngajak Ince. Tapi dia juga ada acara, jadinya aku berangkat sendiri."


Kesempatan aku ada alasan untuk mengantar Menik, batin Darmawan.


"Kebetulan aku besok nggak ada acara, mau ku antar?" tawar Darmawan. Mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang tidak datang dua kali.


"Maaf Wan. Kali ini aku tidak bisa mengajakmu. Lain kali saja ya," ucap Menik.


"Janji lain kali mau aku antar ya. Jangan lupa," ucap Darmawan.


"Insya Allah, Wan," seru Menik dan segera beranjak dari kantin.


Sekalian pulang, Menik mampir di toko indomei membeli beberapa camilan dan minuman. Untuk bekal di perjalanan, agar tidak ngantuk dan kelaparan.


Tiba di kos Menik, disambut Fera di ruang tamu. Fera terlihat malu karena ketahuan membawa cowok baru ke kos. Menik sedikit menelisik cowok yang Fera bawa ke kos. Karena merasa familiar dengan wajah cowok itu. Begitu juga sebaliknya, cowok tersebut juga memandang Menik. Dia pun merasa seperti pernah kenal. Namun di mana kenalnya, dia lupa.


Menik melewati ruang tamu dan menaiki tangga melingkar warna biru. Perlahan Menik menaiki tangga. Trauma kepalanya terantuk pinggiran beton yang berada tepat di tangga paling atas.


Assalamualaikum, Menik mengucapkan salam sebelum masuk ke kos. Meski tak ada orang, Menik terbiasa mengucap salam. Kos terlihat sepi, karena masih banyak yang berada di kampus.


Kring ... kring


Menik mengambil ponsel dari dalam tas. Tertera nama Ojob Omes di ponsel. Sejak kejadian di hotel, Menik sengaja merubah nama kontak Agus di ponsel.


"Assalamualaikum, Nik. Baru pulang kuliah?" tanya Agus, karena melihat Menik masih terlihat rapi.


"Waalaikumsalam, Mas. Baru saja Menik masuk kamar, Mas telepon. Jadi belum sempat ganti baju."


"Sekarang saja kamu ganti bajunya, biar aku lihat dari sini."


"Ntar saja Mas, masih males gerak," seru Menik sembari melepas hijabnya.


"Sekarang saja, biar aku lihat."

__ADS_1


"Nggak mau. Males."


"Yah, gagal deh lihat kamu buka baju," ucap Agus dengan nada sedikit kecewa.


"Jangan ngambek Mas. Nanti cepat tua lho," gurau Menik.


"Biar tua kamu juga mau," seloroh Agus.


Hampir empat puluh lima menit mereka melakukan video call. Sampai-sampai Menik tertidur dengan ponsel masih menyala. Agus gemas melihat Menik yang tertidur, padahal sedang video call dengannya.


"Dasar putri tidur. Nempel bantal sebentar sudah langsung nyenyak," gumam Agus dan mematikan ponselnya.


Namun, sebelum mematikan ponselnya, Agus sempat mengambil gambar Menik yang tertidur pulas.


***


Mentari menampakkan pendar cahayanya meski sedikit tersembunyi di balik mendung, saat Menik melaju dengan kecepatan sedang memembus kabut sisa hujan semalam. Menik memutuskan lewat tol untuk menyingkat waktu.


Dua jam perjalanan ditempuh Menik seorang diri. Menik tidak berani singgah di jalan, karena sendirian. Apalagi suasana masih agak gelap dan mendung. Untung kemarin Menik sempat mengisi bahan bakar sampai penuh. Sehingga dia tak perlu singgah di SPBU.


Sepupu Menik menyambutnya dengan hangat. Kebetulan sepupu Menik di rumah sendirian. Kedua orang tuanya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Nimas nama sepupu Menik, nasibnya hampir sama dengannya. Sama-sama anak semata wayang, yang membedakannya, Nimas masih mempunyai orang tua utuh. Sedang Menik sudah tidak mempunyai ibu.


Nimas, mengajak Menik ke kamarnya untuk ganti baju. Dilihatnya Menik hanya memoles wajahnya dengan bedak bayi.


"Kok cuma pakai bedak bayi, ini kan acara wisuda suamimu. Harusnya kamu tampil cetar. Sini aku make over kamu. Aku jamin suamimu pangling," ujar Nimas dan segera menghapus bedak Menik.


Nimas melukis wajah Menik dengan telaten dan teliti. Jangan diragukan hasilnya. Karena Nimas, mempunyai usaha salon kecantikan ternama di kota itu.


Menik puas dengan hasil polesan Nimas, terkesan natural dan cocok dengan karakter Menik.


Jam di pergelangan tangan Menik menunjukkan pukul delapan tepat. Tiga puluh menit lagi acara wisuda Agus dimulai. Cepat-cepat Menik menuju kampus Agus yang bisa ditempuh lima menit jika menggunakan kendaraan.


Menik melepas alas kakinya, karena dia terbiasa mengemudikan mobil dengan melepas alas kaki. Rasanya kurang afdol, kalau tidak langsung merasakan pedal gas. Jadi Menik punya kebiasaan melepas alas kaki jika mengemudi.


Terlihat jajaran mobil tertata rapi di parkiran. Agak sedikit susah mencari parkiran yang kosong. Hingga akhirnya Menik menemukan tempat parkir di ujung. Perlahan Menik memarkirkan mobilnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Menik menuju gedung tempat acara wisuda berlangsung. Tak sempat Menik menemui Agus, karena acara sudah di mulai. Menik duduk di deretan paling belakang.


Acara demi acara berlangsung, Menik bisa melihat Agus dari kejauhan saat nama Agus dipanggil maju ke depan. Tiba di akhir acara, semua wisudawan keluar gedung dan berfoto-foto dengan keluarga. Menik sedikit kesusahan mencari Agus di antara peserta wisuda.


Berkali-kali Menik menghubungi nomor Agus, namun tak ada jawaban. Kaki Menik mulai terasa sakit, akibat high heels yang dipakainya. Karena Menik belum terbiasa menggunakannya.


"Tahu begini, mending aku pakai sepatu andalanku," gerutu Menik.


Menik menepi di bawah pohon yang sedikit rindang. Dipijat perlahan betisnya yang mulai menegang otot-ototnya. Tanpa Menik sadari ada seseorang yang memandanginya dari kejauhan.


"Apa mataku salah lihat atau karena aku terlalu kangen dengannya, sehingga aku bisa melihatnya berada di depan mataku," gumam Soni.


Diperhatikannya gadis yang tengah berjongkok di bawah pohon sambil memijat kakinya. Soni masih ragu apakah itu Menik atau bukan. Karena baru kali ini Soni melihat Menik berdandan.


Soni terus mengikuti Menik dari belakang. Hatinya terus bertanya, mengapa Menik ada di situ.


Pandangan Menik terus memindai satu persatu wisuadawan. Sampai akhirnya netranya menangkap sosok Agus tengah berdiri membelakanginya bersama kedua tuanya.


Menik berjalan menghampiri Agus. Namun langkah Menik terhenti saat melihat Wiwid datang bersama dengan kedua orang tuanya serta kakaknya.

__ADS_1


Sekilas Menik menyadari siapa orang tua Wiwid. Dia pernah melihatnya saat ada acara di rumah Nimas. Ternyata pemilik perusahaan perkapalan itu adalah orang tua Wiwid.


Dari tempat Menik berdiri dengan jelas dia bisa melihat bagaimana Agus membiarkan Wiwid bergelayut manja di lengannya. Bahkan kedua mertua Menik terkesan membiarkan.


Bukan hanya melihat, bahkan Menik bisa mendengar percakapan dua keluarga itu. Menik mendengar, jika orang tua Wiwid mengajak pak Dewa untuk segera menikahkan Agus dengan Wiwid.


Menik bisa melihat kedua mertuanya tak bisa berbuat banyak. Karena masa depan Agus bisa berantakan jika menolak pinangan keluarga Hadi Wijaya.


Tidak kuat mendengar kelanjutan obrolan mereka, Menik berniat membalikkan badan, namun terlambat, Astuti melihatnya saat dia kembali dari toilet.


"Lho Menik, kapan datang? Kenapa tidak langsung mencari Agus," seru Astuti dengan suara sedikit nyaring.


Soni terhenyak mendengar nama Agus disebut. Seketika hatinya memanas setelah sadar jika selama ini, Menik telah dilamar adik tingkatnya.


Sebenarnya Soni ingin pergi dari sana. Namun, kakinya enggan beranjak. Seakan tak rela meninggalkan Menik.


Agus tercengang melihat Menik digandeng Astuti. Dia sedikit tak mengenali Menik karena riasannya. Ingin rasanya dia berlari memeluk Menik. Namun, apa daya Wiwid memeluk erat lengannya.


Menik semakin mendekat ke arah mereka. Terlihat pandangan nelangsa dari bu Islah. Bahkan pak Dewa tidak berani memandang Menik. Beliau hanya melihat Menik sekilas. Terpancar kecewa di mata beliau.


Pak Hadi tersenyum melihat Menik. Wajah Menik seakan tak asing baginya. Mengingatkan wajah gadis desa yang pernah ditemuinya waktu masih muda.


"Sepertinya om pernah melihatmu?" tanya Pak Hadi.


"Iya Om, kita pernah bertemu waktu Om Pandu ada acara waktu itu."


"Oalah kamu ponakannya Pandu. Apakabar dengan Pandu? Lama Om tak bertemu dengannya."


"Alhamdulillah baik Om."


"Terus kamu ada hubungan apa dengan keluarga Agus?" tanya pak Hadi penasaran.


"Saya temannya mbak Astuti kakaknya mas Agus," seru Menik dengan suara sedikit bergetar.


"Wah kebetulan sekali, nanti kamu sama Pandu datang di pernikahan anak Om. Undangannya menyusul."


"Insya Allah Om, saya akan datang dan sampaikan ke om Pandu."


"Saya pamit dulu, takut dicari Nimas," pamit Menik.


"Sebentar, om mau tanya. Kamu sudah punya pacar atau belum. Kalau belum, biar om jodohkan sama anak om yang paling kecil. Usianya tidak jauh darimu."


Wajah Agus memerah menahan marah. Namun, lagi-lagi keadaan membungkamnya. Soni pun meradang, dia segera menghampiri Menik dan menggenggam tangannya.


"Maaf Pak Hadi, dia pacar saya. Jadi tolong urungkan niat baik bapak untuk menjodohkannya dengan putra bapak. Karena kalau saya kehilangan dia, bisa-bisa saya tidak menikah seumur hidup," ucap Soni sopan.


Pak Hadi terkekeh dan berucap, " Gadis cantik, selalu sudah ada yang punya."


Gagal mempersutingmu, ternyata aku juga gagal menjadikan anakmu sebagai menantuku, Sih, batin pak Hadi.


"Kami pamit dulu Pak," ucap Soni.


"Ayo Nik, kita pulang," ajak Soni sambil menggenggam erat tangan Menik.


Menik menurut saja, saat Soni menggenggam tangannya. Baru dua langkah, Menik berhenti dan berbalik.


"Mas Agus, jangan lupa kirimkan undangannya ke rumah Menik," seru Menik dengan senyum yang dengan paksa dia sunggingkan.

__ADS_1


__ADS_2