
Aku memang jadi suamimu. Tapi jangan harap aku menyentuhmu. Karena setelah ini aku akan menceraikanmu. Sehingga aku bisa kembali dengan Menik, batin Agus.
Rasa kantuk kembali menyergapnya, dia pun kembali terbuai ke alam mimpi. Sesekali tampak senyum menghias bibirnya. Kelihatamnya Agus bermimpi indah hingga membuatnya tersenyum dalam tidur.
Ruangan direktur utama terlihat beberapa orang penting dalam perusahaan sedang berkumpul. Suasana terasa tegang, banyak yang ingin menjual saham mereka dan mengundurkan diri dari perusahaan.
Pikiran Pak Hadi semakin kalut mendengarnya. Sampai terdengar ketukan di pintu. Semua orang terlihat menoleh ke arah pintj yang dibuka oleh Pak Rahmat. Tampaklah pimpinan tertinggi perusahaan Pandu dan salah satu orang lagi yang menutupi wajahnya dengan masker.
"Ada apa Tuan Hadi yang terhormat mengundang kami ke perusahaan Anda?" kelakar pria bermasker dan menggunakan topi.
Deg! Suara itu cukup familier di telinga pak Hadi.
"Broto!" seru pak Hadi.
"Wah-wah, telingamu sepertinya harus dibawa ke dokter, Hadi," ejek pria bermasker.
Ternyata tebakan pak Hadi meleset, pria bermasker tersebut bukan Pak Broto. Beliau kembali terdiam untuk mengingat siapa memilik suara itu.
"Silakan duduk Tuan-Tuan," sela Pak Rahmat yang melihat Tuannya terdiam.
Pandu dan pria bermasker duduk berdampingan di seberang meja Pak Hadi yang masih terdiam.
"Wah kau benar-benar melupakanku, Hadi. Hampir dua puluh lima tahun berlalu kita tidak berjumpa. Ternyata kau lupa padaku. Pantas saja rambutmu mulai berubah warna," seru Pria itu kembali.
"Sudahlah Pakde, jangan di goda terus Tuan Hadi," seru Pandu.
Perlahan pria itu membuka maskernya. Tampaklah wajah yang tak asing bagi Pak Hadi. Wajah yang mengingatkan peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu. Saat dia menerima penolakan saat akan melamar seorang gadis.
"Pak Harjo!" serunya terkejut.
"Ha ... ha ... akhirnya kau ingat padaku Hadi."
"Tentu saja saya ingat wajah Pak Harjo. Bahkan saya tidak pernah melupakan bagaimana Pak Harjo menolak saya, saat melamar Asih tanpa ada alasan yang jelas," ucap Pak Hadi.
"Ternyata kamu masih penasaran dengan alasanku menolakmu? Baiklah akan aku ceritakan sekarang apa alasanku. Tapi bubarkan dulu yang lainnya. Atau kamu ingin mereka semua tahu tentang masa lalumu?" ucap Pakde Harjo santai.
Melihat tuannya terdiam, Pak Rahmat berinisiatif membubarkan pertemuan petinggi perusahaan.
__ADS_1
"Maaf, pertemuan akan dilanjutkan besok. Untuk informasi selanjutnya akan saya kirim melalui email. Terima Kasih."
Para petinggi perusahaan segera membubarkan diri masing-masing meski dengan perasaan tidak puas. Karena belum mendapatkan keputusan tentang masa depan perusahaan.
Setelah hanya mereka berempat berada dalam ruangan tersebut, Pakde Harjo mulai menjelaskan mengapa beliau dulu menolak lamaran Pak Hadi. Alasan Pakde Harjo hanya satu, beliau tidak ingin Widya menyakiti Asih. Karena Widya pernah datang ke perusahaan dan memberikan ancaman pada Asih.
Widya berani mengancam Asih, karena dia tahu Asih hanya pegawai dari Pak Bagio pemilik perusahaan Adhisti. Widya tidak mengetahui jika Asih dianggap seperti anak sendiri oleh pak Bagio. Kebetulan Pak Bagio adalah sahabat orang tua Asih dan beliau tidak dikaruniai buah hati. Sehingga menganggap Asih sebagai anaknya.
Brak!
Terdengar pukulan di meja kerja Pak Hadi. Rasa kecewa begitu menderanya, mengapa dia dulu tidak mencari tahu sebab Pak Harjo menolak lamarannya. Malah dia menganggap Pak Harjo mata duitan.
"Kaget?" seru Pakde Harjo.
Hanya anggukan dari Pak Hadi yang menjawab pertanyaan Pakde Harjo.
"Jadi Tuan Hadi sudah tahu mengapa kami menarik semua saham kami di perusahaan Tuan?"
"Ya, saya paham. Dan semua ini salah anak saya," ucap Pak Hadi lirih sambil mengepalkan tangannya.
"Sudah Pakde. Ayo kita pulang, biarkan Tuan Hadi berpikir dulu," sela Pandu.
Pakde Harjo dan Pandu melangkah keluar perusaan Pak Hadi dengan senyum kemenangan. Lega hati Pandu dan Pakde Harjo berhasil membuat hancur perusahaan Pak Hadi.
"Dua dendam terbalaskan, Du," ucap Pakde Harjo.
"Iya Pakde. Meski semua ini tak bisa mengembalikan kebahagiaan Menik maupun Asih. Jika saja Pandu tahu, ulah Widya sebelum semua ini terjadi," ujar Pandu penuh penyesalan.
"Sudalah, Du. Semua sudah jadi takdir ponakanmu. Kalau Agus tidak bodoh, pasti rencana Widya tidak akan berjalan semulus ini."
***
Mentari pagi menyapa ceria semua kehidupan di bumi. Seminggu berlalu sejak pernikahan Agus dengan Wiwid. Perusahaan Pak Hadi masih berada di ujung tanduk.
Pernikahan Agus dan Wiwid juga belum.ada perubahan. Agus masih cuek dengan Wiwid, bahkan Agus masih enggan untuk menyentuh Wiwid. Meski tidur dalam satu kamar yang sama, Agus selalu memilih tidur di sofa. Hal tersebut membuat Wiwid uring-uringan.
"Agus!" seru Wiwid saat melihat suaminya hendak keluar kamar.
__ADS_1
Malas Agus meladeni panggilan Wiwid, dia tetap berjalan lurus keluar kamar.
Pyar!
Sebuah gelas melayang dan menghantam pintu kamar yang barusan ditutup oleh Agus. Wiwid terduduk menangisi nasib pernikahannya yang baru berjalan selama satu minggu.
Penolakan demi penolakan Agus membuat hatinya sakit. Luruh sudah pertahanan yang dibangun Wiwid, tangisnya pecah. Semua benda yang berada di atas meja riasnya berhamburan di lantai.
Susah payah Utari naik ke lantai dua menujunkamar Wiwid. Nyeri bekas jahitan di perutnya tak dihiraukannya. Jarak kehamilan yang terlalu dekat membuat luka bekas operasi melahirkan anak pertamanya sering terasa perih.
Napas Utari terdengar memburu. Perlahan Utari melangkah mendekati kamar Wiwid sembari mengatur napasnya. Mata Utari membola melihat kekacauan kamar Wiwid. Dia segera berlari sembari memegangi perutnya yang mulai membuncit.
"Wiwid!" teriak Utari dan menggoyangkan badan Wiwid yang tak bereaksi dengan panggilannya.
Wajah Wiwid terlihat pucat dan badannya sangat lemah. Utari kembali mengguncangkan tubuh Wiwid, namun tidak ada reaksi.
"Mas Andi!" teriak Utari memanggil suaminya.
"Mas Andi!" teriak Utari kembali, karena suaminya tak kunjung datang.
Tergopoh-gopoh Andi menaiki tangga dan berlari ke kamar Wiwid saat mendengar teriakan Utari.
Brak! Andi menendang pintu kamar Wiwid yang belum sepenuhnya terbuka. Nampaklah istrinya tengah memangku kepala Wiwid. Tanpa banyak bertanya Andi segera mengangkat tubuh Wiwid ke atas tempat tidur dan menghubungi dokter keluarganya.
Sementara itu Agus dengan santai pulang ke rumah orang tuanya. Sepanjang perjalanan ponselnya terus saja berbunyi. Dia hanya meliriknya sekilas dan enggan untuk menjawab setelah melihat siapa yang meneleponnya. Karena bosan di telepon terus, Agus mematikan ponselnya.
Andi terlihat gusar memandangi ponsel di genggaman tangannya. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Agus, tapi selalu gagal. Emosi Andi kian memuncak setelah tahu penyebab Wiwid pingsan.
"Mas ...," panggil Utari.
"Apa! Kamu ingin menceramahiku mengenai masalah ini!" ketus Andi
Mendengar nada bicara suaminya, Utari mengurungkan niatnya untuk berbicara. Dia memilih beranjak dari kamar Wiwid. Utari bosan dengan drama keluarga Andi. Menurut Utari hanya Pak Hadi yang paling waras di keluarga itu.
Rasa sayang Andi kepada Wiwid membuatnya selalu menuruti kemauan Wiwid. Sehingga membuat Wiwid menjadi gadis manja. Semua keinginannya harus dituruti. Jika tidak, Wiwid akan mengamuk.
Haruskah aku memanggil Sinta untuk merawat Wiwid kembali? batin Andi.
__ADS_1