
"Terserah kamu mas. Aku sudah mengingatkan. Jangan sampai kamu memenuhi permintaan adikmu, tapi menggagalkan permintaan adik seseorang." sindir Utari seraya meninggalkan Andi yang terdiam.
Tring
Terlihat di layar ponsel Menik, ada pesan masuk. Menik menjeda makannya dan membuka pesan itu.
Agus: Lagi ngapain Nik?
Menik: Lagi di kampus mas. Ada apa?
Agus: Kangen.
Menik: Gombal 🤪
Agus: Dasar istri nggak peka. Suami kangen dibilangin gombal.
Menik: Sudah tahu Menik nggak peka, masih juga dijadikan istri.
Agus: Terlanjur cinta, mau bagaimana. Awas kamu Nik, pulang aku cium kamu.
Menik: Sini pulang, Menik tunggu.
Agus: Beneran nie. Aku pulang sekarang ya.
Belum sempat Menik membalas chat terakhir Agus. Tiba-tiba aplikasi pesan itu berubah menjadi video call. Menik ragu untuk mengangkatnya. Apalagi sekarang ada teman-teman Menik. Lengkap dengan Mimi dan Dwi. Ponsel itu terus saja berdering. Mau tak mau Menik menggeser tombol hijau. Nampaklah wajah Agus dengan senyum merekah selayak bunga mawar yang sedang merekah.
"Assalamualaikum Menik." sapa Agus
"Waalaikumsalam." jawab Menik.
"Nik, kameranya jangan dihadapkan kebelakang. Aku pengin lihat wajahmu, bukan lihat deretan motor." protes Agus, karena Menik mengarahkan kameranya ke arah parkiran.
"Nih, udah kelihatan belum." ucap Menik sembari merubah arah kamera ponsel.
"Kamu di mana? Ramai sekali."
"Di kantin mas, sama teman." jawab Menik santai.
"Cowok apa cewek?" sambung Agus.
"Banyak mas, ada semuanya. Nie kalau nggak percaya." ucap Menik sembari mengarahkan kamera ponsel ke arah teman-temannya.
"Kamu duduk sama siapa Nik?" tanya Agus kembali.
"Sama Dwi dan Mimi mas."
"Tumben Ince nggak sama kamu. Biasanya lengket seperti sablon kaos."
"Wah, mas ketinggalan berita. Ince duduk sama yayang nya mas. Itu di sebelah meja Menik." kamera ponsel Menik kembali berputar ke arah meja Ince.
"Ce, lambaikan tanganmu. Nih di cari mas Agus." perintah Menik.
Ince pun melambaikan tangan ke arah ponsel Menik sambil tersemyum.
"Nik arahkan kamera mu ke Ince, aku mau memberinya selamat." seloroh Agus.
Menik mendekatkan ponselnya ke arah Ince. "Ce, mas Agus mau ngomong sama kamu."
__ADS_1
"Wah, selamat Ince, akhirnya jadian juga. Salam kenal untuk pacarmu."
Ince mengangguk malu-malu. Apalagi Ghani berada di sampingnya. Hilang semua sikap garang Ince, sejak dia punya pawang.
Menik bergeser menjauh menuju parkiran agar lebih leluasa berkomunikasi dengan Agus.
"Kenapa pindah Nik?" tanya Agus.
"Di sana berisik mas, enak di sini." jawabnya.
"Ooh. Nik coba lihat jarimu."
"Kenapa dengan jari Menik mas?" tanya Menik polos.
"Pengin lihat saja, cincinnya sudah kamu pasang apa belum."
"Sudah mas. Nie lihat kalau nggak percaya." Menik mendekatkan jarinya ke arah kamera, agarAgus melihat kalau cincin itu sudah tersemat di jari manisnya.
"Lha kok sebelah kiri Nik? Harusnya sebelah kanan dong." protes Agus.
"Kan cincin tunangan mas, jadi ya sebelah kiri. Kalau cincin nikah baru sebelah kanan."
"Bukannya itu cincin nikah kita Nik?"
"Iya. Tapi kan mas yang nyuruh Menik bilang kalau ini cincin tunangan. Jadi Menik posisikan di kiri." jelas Menik membela diri. "Ehm, mas Agus pakai juga nggak cincinnya. Jangan-jangan mas sendiri yang nggak pakai."
Agus yang belum memasang cincin di jarinya seketika terkejut mendengar pertanyaan Menik.
"Maaf— Aku belum pasang cincinnya Nik. Masih ku simpan di dompet." jawab Agus lirih karena merasa bersalah kepada Menik.
"Ya— kalau begitu Menik juga nggak mau pakai saja." rajuk Menik.
"Nah, gitu dong mas, biar adil. Awas kalau mas lepas, terus ada cewek yang nemplok karena dikira masih free. Jangan harap Menik akui mas sebagai suami." ancam Menik.
"Ampun Nik, nggak lagi-lagi ku lepas cincin ini. Biar nggak ada yang berani mendekat." janji Agus.
"Janji Mas, awas kalau bohong. Meski Menik nggak lihat, tapi Allah lihat lho."
"Iya-iya, aku janji." ucap Agus.
Menik larut dalam panggilan dengan Agus. Hingga tak menyadari kehadiran Fendi di belakangnya.
"Nik, siapa cowok di belakangmu? Dari tadi melihat dan mendengar kita bicara." seru Agus yang melihat Fendi mengawasi mereka bicara. Untung Fendi belum datang saat Agus menyebut Menik sebagai istri. Jadi rahasia pernikahan mereka masih aman.
Menik menoleh kebelakang, dan melihat Fendi tersenyum kikuk. Karena ketahuan mendengarkan percakapan Menik dan Agus.
"Mas, Menik tutup dulu ya teleponnya. Nanti kita sambung lagi. Semoga mas masih dalam jangkauan sinyal."
"Oke Nik. Padahal aku masih kangen sama kamu Nik. Hem, jam berapa aku bisa telepon lagi?"
"Ntar Menik kabari mas. Karena selesai makan, Menik balik ke kos. Kebetulan kuliahnya kosong sampai siang."
"Oke. I love U. Ingat jangan selingkuh." ucap Agus dengan suara nyaring, sehingga Fendi bisa mendengar dengan jelas.
"Siap Bos. Dan jangan lupa jaga hati dan jaga pandangan." ucap Menik, dan mengakhiri panggilan video.
"Nik."
__ADS_1
"Fen." panggil Menik bersamaan dengan Fendi yang juga memanggilnya.
"Kamu dulu Nik." Fendi menyilakan Menik untuk bicara lebih dahulu.
"Kamu dulu saja Fen. Ada yang kamu mau tanyakan sama aku?"
"Ehm, siapa dia Nik?" tanya Fendi.
"Kamu kan kenal dia Fen. Masak lupa."
"Agus?" tanya Fendi meyakinkan dugaannya.
"Ehm." jawab Menik singkat.
"Kamu— terima pinangannya?"
"Hum."
"Jawab yang bener Nik. Jangan cuma ehm, hum." ketus Fendi.
"Tanpa ku jawab pun kamu sudah tahu Fen. Kan tadi sudah dengar obrolanku dengannya."
"Maaf Nik. Aku tak sengaja mendengarnya. Tapi seharusnya aku pergi, bukannya malah diam dan mendengarkan."
"Nah itu tahu." ketus Menik.
"Iya, aku ngaku salah Nik. Sebenarnya aku mau pergi, namun jiwa kepo ku menyuruh untuk tetap di sini. Mendengarkan kamu lagi sayang-sayangan." ledek Fendi sembari menenangkan hatinya yang hancur.
"Dasar kepo." ucap Menik.
"Jadi beneran Nik kamu terima?" Fendi kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Karena dia masih belum yakin dengan apa yang di dengarnya secara live.
"Iya Fen. Seperti yang kamu dengar tadi. Telingamu masih normal kok." canda Menik.
"Wah-wah, kamu menghinaku Nik. Masak orang seganteng aku, telinganya soak."
"Yah siapa tahu Fen."
"Kamu itu Nik nggak percaya kalau telingaku masih normal. Apa perlu ku ulang semua pembicaraan kalian? Aku masih hapal loch." gurau Fendi.
"Apaan sih Fen. Iya-iya aku percaya telingamu normal.Tapi awas kalau kamu cerita ke orang-orang. Aku nggak mau lagi temanan sama kamu." ancam Menik dengan tegas.
"Tenang saja Nik. Aku bakal jaga rahasia ini." janji Fendi.
Menik memberikan tanda mengiyakan janji Fendi dengan memberikan dua jempol.
"Nik." teriak Mimi.
"Iya Mi."
"Cepat habiskan mie nya. Keburu dia melebar seperti badanku."
Menik tergelak mendengar ucapan Mimi. Padahal badan Mimi tak sepenuhnya lebar. Hanya saja di antar ketiga sahabatnya, Mimi yang sedikit agak lebar.
"Ayo Fen, balik kekantin. Mie ayamku sudah lelah menantiku." ucap Menik dengan asal.
Fendi mensejajarkan langkahnya dengan Menik. Bersama mereka menuju meja Mimi.
__ADS_1
"Nik, tadi kamu video call sama siapa? Sampai harus sembunyi di parkiran?" tanya Dwi penasaran.