
Bugh! Bugh!
Brak! Tubuh Agus terpental membentur pinggiran tempat tidur.
Meski tubuh Menik lemas seakan semua tulangnya raib, dia masih bisa merasakan sebuah kain membungkus menutupi tubuh bagian atasnya yang tersingkap akibat ulah Agus.
Mata Menik terbuka perlahan dan menatap wajah penolongnya. Seulas senyum menghias bibir Menik, setelahnya Menik merasakan pandangannya buram dan tubuhnya semakin ringan.
"Menik! Bangun Menik! Jangan menakutiku!" teriak Soni sambil memeluk tubuh Menik dan membawanya keluar dari kamar Agus.
Sebelum keluar kamar, Soni sempat memberikan tatapan mematikan ke arah Agus. Tatapan Soni menyiratkan, akan membuat perhitungan dengan Agus jika terjadi sesuatu dengan Menik.
"Agh," keluh Agus merasakan sakit di punggung dan perut bekas tendangan Soni. Tangannya kembali terasa nyeri, karena membentur dinding.
Sementara itu, Soni mengendarai mobil seperti orang kesetanan. Klakson terus dia bunyikan, sehingga menarik perhatian polisi yang tengah bertugas. Polisi itu mengejar mobil Soni.
Ciiit!!
Bunyi gesekan ban mobil dengan aspal terdengar begitu nyaring saat perugas kepolisian menghadang mobil yang dikendarai Soni.
Tok ... tok ... Petugas kepolisian mengetuk kaca mobil Soni.
"Selamat siang Pak, bisa saya memeriksa SIM dan STNK, Bapak," ucap petugas kepolisian dengan sopan.
Petugas itu terkejut saat membaca nama dan melihat foto SIM.
"Lhah, ternyata kamu. Kenapa ngebut?"
"Walah, tenyata kamu Ron. Ini aku membawa calon istriku. Dia pingsan, aku akan membawanya ke IGD," ujar Soni menjelaskan alasan mengapa dia melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata.
Roni petugas kepolisian yang ternyata karib Soni waktu di SMP segera mempersilakan Soni untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit setelah melihat Menik yang tak sadarkan diri.
Sesampainya di IGD, Soni menggendong Menik keluar dari mobil dan sudah disambut oleh Tyas, dokter jaga IGD yang kebetulan juga merupakan salah satu teman karib Soni waktu di SMP. Tyas sudah dihubungi Soni sebelumnya. Jadi Tyas sudah bersiap menangani Menik, begitu sampai di IGD
Tyas menyuruh Soni untuk keluar dari ruang pemeriksaan. Meski enggan Soni tak berani menolak perintah Tyas. Gelisah merasuk hati Soni. Tekadnya semakin kuat untuk segera menjadikan Menik sebagai istrinya. Agar kejadian seperti tadi tak terulang lagi.
Flashback on
__ADS_1
Prang!!
Soni berjingkat kaget, melihat foto Menik yang meluncur bebas ke lantai keramik. Gelisah langsung menyergapnya. Tidak mungkin foto Menik bisa jatuh sendiri, karena Soni sudah memastikan jika foto Menik aman saat digantung di dinding kamarnya.
Berkali-kali Soni menghubungi ponsel Menik, tapi tak junjung direspon. Terburu-buru Soni menuju rumah Menik, dan bertemu dengan Sri Suketi yang tengan berkumpul dengan geng nyinyirnya.
"Assalamualaikum, permisi menayakan apakah Menik ada di rumah?" tanya Soni sopan, meski hatinya kebat-kebit khawatir.
"Wah, gantengnya ini anak," gumam Budhe Poni dengan mata yang tak lepas dari wajah Soni
"Son," panggil Sri dengan senyum ramahnya.
"Iya, Bu," jawab Soni.
"Menik ada di rumah Agus, segera kamu ke sana!" ucap Sri.
Tanpa pikir panjang dan pamit kepada Sru, Soni langsung menuju rumah Agus. Rasa gelisah terus mendera, membuat Soni semakin dalam menginjak pedal gas. Begitu Soni pergi, Sri langsung terduduk lemas. Badannya terasa sakit semua. Budhe Poni yang melihatnya langsung menyuruh Bu Subangun untuk mengambilkan air hangat.
Mata Sri menatap nyalang ke arah Bu Subangun.
"Pergi!" teriak Sri histeris, yang melihat Darmi berada tepat di belakang tubuh bu Subangun.
Senyum penuh kemenangan menghias bibir Darmi karena berhasil membuat Sri tersiram air hangat. Dia pun segera melesat menyusul Soni ke rumah Agus. Darmi sengaja menjatuhkan foto Menik yang tergantung di dinding kamar Soni dan merasuki tubuh Sri untuk memberitahu Soni jika Menik dalam bahaya.
Flashback off
"Son," panggil Tyas setelah selesai memeriksa keadaan Menik.
"Gimana keadaan Menik, Tyas?"
"Alhamdulillah. Dari segi fisik dia baik Soni. Hanya saja psikisnya terguncang. Apa yang kamu lakukan kepadanya, sehingga dia pingsan dan bajunya terkoyak. Harusnya kamu sabar Soni. Tunggu dia benar-benar siap. Jangan langsung main sosor seperti itu," omel Tyas yang belum mengetahui kejadian sebenarnya.
Sebagai seorang perempuan, Tyas miris mekihat keadaan Menik saat ini. Banyak tanda kemerahan di sekitar tubuh bagian atasnya dan pergelangan tangannya mulai membiru akibat cekalan Agus.
"Ngawur kamu! Tidak mungkin aku menyakitinya, Tyas. Aku titip Menik di sini. Akan aku laporkan perbuatan mantan suaminya ke polisi," ujar Soni.
"Soni. Kalau menurutku jangan kamu laporkan ke polisi. Mendingan kamu sembuhkan luka psikis Menik lebih dahulu. Aku takut, dia akan semakin terguncang jika berurusan dengan polisi."
__ADS_1
Nasihat Tyas, mengurungkan langkah Soni untuk melaporkan Agus ke polisi. Dia memutuskan untuk menemui Pak Broto ayah Menik. Sengaja Soni menemui Pak Broto di kantornya.
"Permisi Mbak, bolehkah saya bertemu Pak Broto? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," ucap Soni resepsionis di kantor Pak Broto.
"Maaf, Mas nya sudah ada janji bertemu dengan beliau?" tanya resepsionis yang bernama Ida.
"Kebetulan saya belum ada janji temu. Saya mohon sampaikan ke Pak Broto, Soni ingin bertemu."
"Baik, Mas. Tunggu sebentar saya hubungi sekertaris beliau," ujar Ida dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Pandangan Ida juga tak pernah beralih dari wajah Soni.
Ganteng, batin Ida.
Setelah mendapatkan izin utnuk menemui Pak Broto, Soni melangkah menuju ruangan beliau. Begiti Soni maauk ke ruangan, Pak Broto langsung bertanya mengenai tujuan Soni menemuinya.
Secara gamblang Soni mengajukan permintaan untuk bisa menikahi Menik secepatnya. Pak Broto langaung menolak permintaan Soni, karena masa iddah Menik belum selesai, masih tersisa seminggu lagi.
Gigih Soni memperjuangkan keinginannya untuk menikahi Menik. Penolakan demi penolakan dari Pak Broto tak menyurutkan langkahnya. Terpaksa Soni mengatakan apa yang telah terjadi pada Menik hari ini.
Emosi Pak Broto tak terbendung lagi, dengan langkah lebar dan ponsel yang menempel di telinganya beliau menuju ke rumah sakit di mana Menik di rawat.
"Pandu, kamu habiskan karir Agus dan perusahaan Hadi sekarang juga!" titah Pak Broto.
"Sebentar Mas, jangan emosi. Katakan apa yang terjadi pada Menik," seru Pandu dari seberang telepon.
"Jelaskan pada Pandu!" titah Pak Broto kepada Soni sembari memberikan ponselnya.
Meski terkejut dengan sikap Pak Broto yang tiba-tiba memberikan ponselnya, Soni bisa menanangkap makaud Pak Broto. Dengan sigap Soni menjelaskan semua peristiwa yang menimpa Menik hari ini.
Tanpa salam Pandu mengakhiri panggilannya. Segera dia hubungi asisten pribadinya dan Pakde Harjo yang saat ini dipercaya mengelola perusahaan Adhisti.
***
Tap! Tap!
Suara langkah Pak Broto menggema di koridor rumah sakit. Langkahnya tergesa ingin segera bertemu dengan putri semata wayangnya.
Ragu menyeruak di hati Pak Broto saat ingin memutar knop pintu ruangan Menik. Air mata yamg sedari tadi telah mengintip, tak bisa lagi dibendung untuk luruh.
__ADS_1
"Menik, putriku."