Adhisti

Adhisti
Bab 45


__ADS_3

Ince segera turun tanpa ditemani Menik. Terlihat Ghani dan Darmawan berdiri di depan pintu pagar. Ghani mengulas senyum tatkala melihat Ince turun dari tangga melingkar. Ince pun membalas senyum Ghani.


Darmawan masih menatap tangga menilingkar biru tua itu. Berharap pujaan hatinya menyusul turun. Harapan Darmawan sirna saat Ince mengatakan Menik tidak ikut turun. Wajah Darmawan langsung tertekuk. Senyum yang sudah disiapkannya, disimpan kembali.


"Maaf Wan, Menik nggak ikut turun. Mager katanya." ucap Ince.


"Coba kamu panggil dulu Yang. Kasihan Darmawan sudah sampai di sini." ujar Ghani.


"Aku nggak berani. Kalau mau lihat Menik, ntar lihat saja ke atas. Dia lagi nunggu kunci ini." sahut Ince sambil mengoyangkan kunci yang ada di tangannya.


Ince segera mengunci gerbang, dan kembali menekan bel, untuk memberitahu Menik segera mengulurkan rafianya.


Tak lama tali berwarna hitam terjulur dari atas kos.


"Nih Wan, kamu saja yang gantungkan kuncinya. Biar Menik tahu kalau kamu ke sini." perintah Ince.


Darmawan meraih tali dan segera mengikatkan kunci gerbang. Dia menarik tali itu menandakan kalau kunci sudah diikat.


"Kenapa susah sekali ditarik, jangan-jangan nyangkut di gerobak mas Udin." gumam Menik.


Menik melongok ke bawah untuk melihat apakah kunci itu benar-benar tersangkut. Betapa terkejutnya Menik elihat Darmawan memegang erat tali itu dengan senyum kemenangan. Karena berhasil membuat Menik keluar dari sarangnya meski tak turun ke bawah.


"Hai Menik!" seru Darmawan.


"Wan, lepasin talinya! Biar bisa aku tarik." seru Menik tanpa menjawab sapaan Darmawan.


"Kalau aku nggak mau gimana? Kamu turun saja kalau mau mengambilnya." gurau Darmawan.


Awas kamu Ce. Kena kamu besok. batin Menik.


"Ayolah Wan jangan main-main. Aku benar-benar malas turun." tolak Menik dan masih berusaha menarik tali itu.


"Turunlah sebentar Nik. Hargai aku yang sudah datang ke sini." bujuk Darmawan.


"Sudah Wan lepas talinya! Nanti Menik murka baru tahu rasa kamu." ketus Ince.


"Biar Ce. Aku penasaran sampai mana Menik akan marah hanya gara-gara kunci." enteng Darmawan menjawab peringatan Ince.


"Terserah kamu Wan. Aku nggak ikut-ikut. Awas kalau besok Menik sampai marah sama aku, gara-gara ulah kamu." ancam Ince.


"Menik, jadi mau kunci nggak?" teriak Darmawan.


Untung saja bapak kos tak ada di rumah. Kalau ada sudah ditabokin Darmawan karena teriak-teriak dan mengganggu salah satu anak kos nya.


"Lepas talinya, aku benar-benar males turun. Kalau kamu nggak mau lepas, ya sudah bawa saja kuncinya. Ntar biar aku beli gembok baru lagi." sarkas Menik.


Melihat Menik mulai merajuk, Darmawan melepas genggamannya dan segera pergi dari kos Menik tanpa pamitan.


Menik segera menarik tali saat merasakan taki itu sudah tak menegang lagi. "Akhirnya bisa ditarik juga." gumam Menik.

__ADS_1


Karena penasaran, Menik melongok ke bawah. Dan sudah tidak ada seorangpun di sana. "Lhah, kemana semua perginya. Tanpa pamit." gumamnya, dan segera melangkah masuk ke dalam kamar.


Tring ...


Satu pesan masuk di ponselnya. Tertera nama Ince. Menik yang masih jengkel, tak menghiraukannya. Dibiarkan saja pesan Ince tak dibukanya.


"Sayang, bagaimana ini, Menik beneran marah sama aku." gusar Ince.


"Tenang saja Yang, pasti sebentar saja Menik ngambeknya." Ghani menenangkan Ince.


"Gara-gara kamu Wan. Menik Marah." ketus Ince.


Darmawan terdiam, karena dia pun risau. Diam-diam Darmawan menyesali aksi nekatnya tadi. Tapi semua telah terjadi, ibarat nasi sudah menjadi karak. Menyesal memang tak pernah muncul di awal.


"Sudah Yang, jangan kamu marahi Darmawan. Lihat dia juga galau." lerai Ghani.


***


Senja beralih malam, rembulan kali ini berbentuk bulat sempurna ditemani kerlip bintang yang setia membersamainya.


Menik terlihat memandangi ponselnya. Dia menunggu panggilan yang Agus janjikan siang tadi. Menik terlupa melihat daftar riwayat panggilan di ponselnya. Sehingga tidak menyadari jika Agus telah memanggilnya beberapa kali tadi siang.


Apa aku harus menelepon mas Agus, takutnya dia sedang sibuk. batin Menik.


Setelah berperang batin, antar menelepon atau tidak, Menik memutuskan untuk menelepon Agus.


Tut ... tut ... tut...


Tut ... tut ...


Kali ini deringan kedua langsung di respon oleh Agus.


"Assalamualaikum mas." ucap Menik begitu melihat wajah Agus menghiasi ponselnya.


"Waalaikumsalam Menik. Tumben telepon mas duluan. Kangen?" gurau Agus.


"Nggak boleh Menik duluan nelpon mas? Kalau nggak boleh Menik tutup saja teleponnya." rajuk Menik.


"Wah, istriku merajuk." ejek Agus.


Menik memberengut, bibirnya mengerucut. Tak membalas ejekan Agus.


"Nik, bibirnya jangan monyongin begitu. Membuatku ingin bertemu lagi dengannya. Kemarin kan baru tiga kali ketemu. Itu pun sebentar." gurau Agus.


"Mas Agus sekarang tambah omes." seru Menik sembari memutar arah kameranya.


"Nik, kameranya jangan dihadapkan ke dinding. Masak suami suruh lihatin dinding."


"Nggak Menik putar, biar saja mas lihat dinding. Dari pada lihatin Menik, ntar mas omes lagi."

__ADS_1


"Sama istri sendiri nggak apa-apa mesum Nik. Dari pada sama perempuan lain."


"Mas sama siapa saja di sana? Kedengarannya ramai." seru Menik mengalihkan pembicaan Agus.


"Sama teman dan para senior Nik. Nih kalau nggak percaya mas lihatkan." seru Agus dan membalik arah kameranya.


Menik mengikuti arah kamera ponsel Agus. Terlihat beberapa teman Agus, sampai ada satu siluet yang membuat Menik terkejut. Tapi Menik berusaha menutupi keterkejutannya.


"Gimana Nik, sudah percaya?" seru Agus membuyarkan lamunan Menik.


"I—iya mas. Menik percaya." jawabnya.


"Di sini ada beberapa teman satu angkatanku. Ada juga beberapa senior. Dan ternyata ada senior yang rumahnya satu kota dengan kita Nik. Kalau tidak salah, rumahnya di dekat stasiun kereta api."


Deg ...


Jantung Menik berdisko ria mendengar kalimat Agus. Senior, satu kota, rumah dekat stasiun kereta. Nggak salah lagi pasti mas Soni yang Agus ceritakan. Berarti siluet yang Menik lihat, memang benar kalau itu Soni.


"Kok diam Nik? Apa kamu kenal?" ucap Agus penasaran. Kalau Menik kenal berarti tak salah lagi, suara yang Agus dengar waktu Soni telepon sudah pasti suara Menik.


"Menik kurang tahu juga mas. Memangnya Menik cenayang yang bisa menebak siapa senior mas Agus." elak Menik.


"Yach siapa tahu kamu kenal Nik. Kan kamu asli sini. Beda dengan aku yang selalu pindah-pindah mengikuti tempat tugas ayah."


"Kalau mau tahu Menik kenal atau nggak, kapan-kapan ketemuan saja mas." usul Menik.


"Kok kamu jadi semangat pengin ketemu dia Nik?" ketus Darmawan.


"Mas Agus kenapa jadi ketus? Cemburu?" goda Menik.


"Jelas aku cemburu Nik. Tak akan aku biarkan istriku melirik laki-laki lain." tegas Agus berucap. Mendadak terselip rasa khawatir, jika ternyata Menik mengenal Soni.


"Mas Agus ternyata posesif."


"Iya aku memang posesif Nik. Tak akan kubiarkan apa yang sudah jadi milikku diganggu orang."


"Sudah mas, nggak usah bahas yang belum tentu terjadi." sela Menik.


"Iya Nik. Aku hanya khawatir." lirih Agus berucap.


"Mas—." ucapan Menik terjeda. Terlihat ada yang menghampiri Agus.


"Iya Nik?" sahut Agus.


"Di belakang mas siapa?" tanya Menik penuh penekanan.


Refleks Agus menoleh, jantungnya berdegub kencang saat menyadari siapa yang menghampirinya. Karena gugup, Agus tanpa sadar menekan tombol merah di ponselnya.


Tut ... tut ... panggilan terputus.

__ADS_1


Menik menatap bingung ke arah layar ponsel yang tiba-tiba berubah tampilannya.


Siapa itu? Ada hubungan apa dengan mas Agus? Kenapa mas Agus tiba-tiba menutup panggilannya. batinnya.


__ADS_2