
"Mas Agus, jangan lupa kirimkan undangannya ke rumah Menik," seru Menik dengan senyum yang dengan paksa dia sunggingkan.
Soni mengeratkan genggamannya, tersenyum teduh dan mamandang Menik penuh arti. Menik membalas senyuman Soni. Interaksi keduanya menarik antesi Agus dan bu Islah.
Hati Agus meradang melihat kedekatan mereka. Tanpa sadar Agus malah semakin mengeratkan tangan Wiwid ke lengannya.
Air mata ternyata tak bisa diajak kompromi, perlahan berontak keluar dari tempatnya. Cepat-cepat Menik menyekanya, dan segera beranjak dari sana. Soni mengikuti langkah Menik, sebelum mengikuti Menik, Soni mengangguk ke arah pak Hadi dan pak Dewa untuk berpamitan.
Menik terus melangkah dan semakin mempercepat langkahnya. Soni mengejarnya, dan langsung menarik Menik ke dalam pelukannya.
"Menangislah! Keluarkan semua air matamu, jika itu bisa membuatmu lega. Aku siap jadi tempat sampahmu. Kalau ingin memaki, maki aku saja Nik," ucap Soni sambil memeluk erat Menik dan menepuk punggung Menik.
Tangis Menik tak bisa lagi ditahan, semua dia keluarkan dalam pelukan Soni. Baju Soni basah terkena air mata Menik. Cukup lama Menik menangis, bahunya masih berguncang. Dengan sabar Soni menunggu tangis Menik mereda.
Astuti mengikuti Menik, dia merasa bersalah kepada Menik. Gara-gara Agus, Menik kembali terluka. Astuti melihat luka Menik dari mata Menik.
Langkah Astuti terhenti melihat Menik menangis di dada bidang Soni. Dari kejauhan bisa terlihat bahu Menik yang masih berguncang, yang menandakan tangisnya belum mereda.
Melihat Menik sudah ada yang menemani, Astuti meninggalkannya, dan kembali ke parkiran mobil. Sengaja dia tidak ikut bergabung dengan mereka. Hati Astuti ikut sakit, melihat adiknya tidak punya pendirian. Menyesal mengenalkan Menik padanya.
Perlahan tangis Menik mereda, Soni masih setia merengkuh Menik dalam pelukannya. Sambil sesekali dia ikut menghapus air mata Menik.
Menik segera mengurai pelukkan Soni, begitu tangisnya mereda, menyisakan mata sembab dan hidung meler.
"Maaf ... " ucap Menik lirih.
"Tak perlu minta maaf, kamu tidak salah, Nik." ucap Soni.
Soni menanyakan hubungan Menik dan Agus. Terpaksa Menik menceritakan semuanya. Ada sedikit kecewa dan rasa bersalah mengetuk pintu hati Soni. Mengapa saat Menik membutuhkannya, dia tidak ada di sisi Menik. Sehingga membuat Agus leluasa melenggang masuk ke dalam hati Menik.
Soni mulai memahami duduk permasalahannya. Sebenarnya semua bisa dihindari apabila Agus tegas dari awal. Kalau sudah seperti ini, tentu Menik yang dirugikan. Siapa sih yang berani mengganggu keluarga Hadi Wijaya.
__ADS_1
Agus menyusul Menik, setelah berhasil membujuk Wiwid untuk sebentar melepaskan pelukan di lengannya. Agus beralasan ingin ke toilet. Kesempatan ini dia gunakan untuk mencari Menik.
Setelah menyusuri tempat parkir, Agus melihat Menik masih bersama dengan Soni. Amarah Agus memuncak, dia mendekat ke arah Menik.
"Jadi ini perbuatanmu di belakangku!" ketus Agus.
Menik tidak menjawab ucapan Agus, dia berdiri dan beranjak menuju mobilnya. Dan Agus kembali mengejar, dicekal tangan Menik, dan di dorongnya tubuh Menik hingga membentur pintu Mobil dan berusaha mencium Menik.
Menik berontak, namun dia kalah tenaga. Melihat ke kasaran Agus, Soni segera menarik Agus hingga tersungkur.
"Kalau berani jangan sama perempuan, sini hadapi Aku!" tantang Soni.
Prok ... prok ... Agus bertepuk tangan sambil tersenyum mengejek.
"Ada pahlawan kesiangan rupanya. Kamu tidak usah mencampuri urusanku dengan istriku." ucap Agus.
Soni membuang napas kasar dan berucap, "Meski dia istrimu atau bukan, aku tetap akan melindunginya," tegas Soni.
"Sungguh pemandangan menakjubkan, ternyata istriku pintar bersandiwara. Aku tertipu wajah polosnya. Pantas saja dia selalu menghindar saat ku sentuh. Ternyata ini alasannya. Atau jangan-jangan kamu telah menyentuhnya," sarkas Agus.
Plak ... bunyi pipi bertemu telapak tangan terdengar nyaring.
Agus memegangi bekas tamparan Menik di pipinya. Satu tangannya terangkat ingin membalas tamparan Menik. Dengan sigap Soni bergerak mendekat dan nenarik Menik ke belakang badannya. Sehingga pukulan Agus mengenai punggungnya.
"Cih ... aku kira kamu akan memperjuangkan istrimu. Ternyata, kau malah memperjuangkan orang lain." sindir Soni.
"Aku memilih membela gadis yang masih suci, bukan barang bekas seperti dia!" ucap Agus sambil menuding Menik.
"Jadi kamu menuduh istrimu telah berzin@ denganku?" ucap Soni.
"Aku tak menuduhnya tanpa bukti. Pantasan selama ini tidak mau aku sentuh, takut ketahuan boroknya. Mulai saat ini dia bukan lagi istriku. Langsung talak tiga, untukmu Menik Adhisti Putri Broto." ucap Agus dengan lantang.
__ADS_1
Tubuh Menik tiba-tiba ambruk, untung Soni sigap menangkapnya. Agus melihat Menik ambruk hanya diam dan melangkah pergi dan berucap, "Urus wanitamu, jangan biarkan dia menipu laki-laki lain dengan kepolosannya."
Soni tak memedulikan ucapan Agus, fokusnya tertuju pada Menik. Digendongnya Menik ke dalam mobil, dan segera membawa Menik ke IGD terdekat.
Ciit ... bunyi decitan rem terdengar cukup keras. Soni mendadak menginjak rem saat melihat ada seorang gadis menghadang laju mobil Menik. Gadis itu mengetuk pintu mobil, dan memberi isyarat kepada Soni untuk membuka kuncinya.
Gadia itu segera mendesak masuk dan mengikuti Soni ke IGD terdekat. Sampai di IGD terdekat, Soni menggendong Menik dan membaringkan Menik di brankar.
Dokter mulai memeriksa Menik, Soni terlihat berda di samping Menik, sambil mendengungkan doa untuk Menik. Astuti menunggu di luar IGD, dia mondar mandir, cemas dengan keadaan Menik.
Sebelumnya, Astuti melihat Agus izin ke toilet. Namun dia curiga, sehingga mengikuti Agus. Astuti melihat dan mendengar semua ucapan yang Agus layangkan untuk Menik. Sungguh sebuah tuduhan yang sangat menyakitkan bagi seorang istri. Apalagi tindakan Agus yang sembrono, mempermainkan kata talak.
Detik di mana Agus mengucapkan talak tiga, maka otomatis status Menik sekarang bukan lagi istrinya, meski belum sah secara negara.
Astuti mengirimkan pesan kepada bu Islah, supaya beliau tidak mencarinya.
Astuti: Assalamualaikum Ibu. Astuti menemani Menik di IGD. Menik pingsan, gara-gara ditalak tiga oleh Agus. 😡ðŸ˜.
Status pesan Astuti sudah centang dua tetapi tanda centang belum berubah warna. Menandakan, bu Islah belum membaca pesannya.
Dokter telah selesai mengobservasi Menik, namun Menik masih belum sadar. Soni memanggil Astuti untuk menemani Menik sebentar. Karena dia akan menanyakan keadaan Menik kepada dokter yang memeriksa Menik.
Soni sedikit lega, mendengar Menik baik-baik saja. Hanya saja dia syok, tertekan, kecapekan dan belum makan. Sehingga menyebabkan Menik pingsan. Soni juga menanyakan apakah Menik harus rawat inap atau bisa langsung pulang. Ternyata Menik bisa langsung pulang, setelah cairan infusnya habis.
Setelah berkonsultasi dengan dokter Soni kembali ke IGD, terlihat Menik sudah sadar di temani Astuti.
"Mas Soni," ucap Menik lirih saat melihat Soni mendekat.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar. Hampir saja jantungku berhenti berdetak, Nik. Besok-besok jangan pingsan-pingsan lagi," canda Soni.
Menik tersenyum mendengar ucapan Soni. Namun, air matanya kembali menetes mengingat peristiwa sebelum dia pingsan. Kata-kata talak dari Agus masih terngiang di telinganya.
__ADS_1
Astuti segera mengambil tisu dari dalan tas dan menghapus air mata Menik.
"Makasih, Mbak. Sudah ada di samping Menik," ucap Menik lirih.