Adhisti

Adhisti
Bab 27


__ADS_3

"Astagfirrullah."


Pak Dewa terkejut tatkala sepasang tangan menepuk pundak beliau.


"Ibu, bikin ayah kaget saja. Lihat itu ..."


"Sst ... sst ...!" bu Islah memberikan isyarat agar pak Dewa tak melanjutkan ucapannya.


Bukannya membangunkan Agus dan Menik yang tengah tertidur, bu Islah malahan mengambil foto mereka.


Cekrek ... cekrek ...


Mata Menik mengerjab, merasakan kilatan lampu flash kamera ponsel bu Islah. Dia langsung terbangun dan terduduk.


"I—ibu ... Ayah ..." ucapnya gugup.


Bu Islah dan pak Dewa tersenyum melihat kegugupan menantunya. Dengan isyarat mata bu Islah menyuruh Menik turun dari tempat tidur. Begitu Menik turun, pak Dewa segera menggantikan posisi Menik tidur di samping Agus. Astuti, bu Islah, dan Menik menahan tawa melihat apa yang dilakukan pak Dewa.


Sesuai dengan arahan bu Islah, Menik mendekati Agus yang masih nyanyak terbuai mimpi.


"Mas ... mas Agus bangun.' ucap Menik.


Agus bergeming dengan panggilan Menik. Dia masih hanyut di buaian mimpi. Sekali lagi Menik memanggilnya, sembari menggoyangkan punggung Agus. Ternyata cara itu berhasil membuat kelopak mata Agus terbuka sedikit.


Agus makin mengeratkan pelukan pada tubuh yang berada dalam pelakukannya. Tanpa sadar yang berada di pelukannya sudah berganti.


"Sebentar Nik, masih ngantuk. Lima menit lagi, biarkan aku memelukmu." ucap Agus dengan suara khas orang bangun tidur.


Pak Dewa berusaha keras menahan tawa. Beliau membalas pelukan Agus, dielusnya punggung lebar Agus.


"Mas ... ayo bangun." panggil Menik.


Dengan malas Agus membuka matanya. Sontak bola matanya membesar mendapati tatapan mata pak Dewa yang berada dalam pelukannya. Seketika pelukan itu terlepas. Agus terduduk dan sadar ada empat pasang mata yang sedang menatapnya. Dan ke empat pemilik mata itu tertawa terbahak-bahak.


"A—yah." ujarnya menantap pak Dewa yang masih tergelak.


"Iya Gus, ini ayah." jawab pak Dewa santai.


"Menik." ucap Agus menatap Menik yang berdiri di samping bu Islah.

__ADS_1


"Gimana Gus, rasanya tidur sambil meluk ayah?" ejek Astuti.


Agus memberengut, tidak mau menanggapi ucapan Astuti.


"Kamu itu Gus, masak nggak bisa membedakan siapa yang kamu peluk. Sampai ayah pun kamu peluk erat sekali." cibir Astuti.


"Pasti ini ide mbak As kan?" tuduh Agus.


"Mana ada Gus." elak Astuti. "Salah siapa tidur pelukan di kamar orang. Seperti nggak punya kamar sendiri." lanjut Astuti.


Agus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia baru teringat, sebelumnya dia mencari keberadaan Menik, dan menemukan Menik tertidur di kamar Astuti. Akhirnya dia pun ikut tertidur di kamar Astuti.


"Bukan Agus mbak yang mau tidur di kamar mbak As. Menik tuh yang ngajak Agus tidur di sini." bela Agus.


"Bukan Menik mbak yang ngajak mas Agus tidur di kamar mbak As. Malah Menik nggak tahu kalau mas Agus ikutan tidur. Salah siapa Menik ditinggalin. Nggak diajak masuk rumah." sela Menik.


"Oaalah ... ternyata ada drama rumah tangga nie." seloroh bu Islah.


"Sudah-sudah, sekarang Agus sama Menik lanjutkan tidurnya di kamar Agus." sela Pak Dewa.


"Ayah memang paling pengertian." ucap Agus dan menarik tangan Menik menuju kamarnya.


"Yah, ibu khawatir tentang nanti malam. Semoga Menik bisa ikhlas melepas Agus untuk setahun ke depan, dan Agus tetap setia sama Menik meski jarak membentang." lirih bu Islah.


***


Menik baru pertama kali ini masuk ke kamar Agus. Ternyata kamarnya jauh lebih luas dari kamar Astuti. Cat berwarna putih senada dengan warna seprai. Terpasang beberapa foto Agus dari kecil hingga sekarang.


Menik terlonjak tatkala sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. Jujur Menik belum terbiasa dengan suasana seperti saat ini. Karena selama ini Menik selalu menjaga pergaulannya dengan laki-laki.


"Mas Agus, jangan begini." ucapnya melerai tangan Agus yang posesif memeluknya.


"Kenapa harus dilepas Nik. Lebih dari ini pun sudah boleh." ucap Agus tanpa mau melepaskan pelukannya.


Menik terdiam, benar juga apa yang diucapkaan Agus. Seandainya perjanjian itu tidak ada, mungkin saat ini Menik sudah menjadi milik Agus seutuhnya.


"Nik, aku mau bicara penting." Agus mengajak Menik duduk di atas tempat tidur.


Keduanya duduk berhadadapan, tangan Menik masih berada di genggaman Agus. Menik menunduk, tak berani menatap netra coklat yang tengah menatapnya.

__ADS_1


Agus membung napas berat, dia mencari cara untuk menyampaikan keberangkatannya nanti malam. Waktunya tersisa sedikit.


"Nik, kamu tahu kan kenapa kemarin aku minta kita menikah secepatnya?"


Menik mengangguk menjawab pertanyaan itu.


"Nik, tadi waktu di pernikahan mas Jaka, aku dapat telepon. A—ku harus berangkat malam ini." lirih Agus berucap. Dipandangi wajah ayu istrinya langsung berubah tatkala mendengar mengenai keberangkatannya.


"Mengapa harus nalam ini mas? Bukannya kemarin mas bilang minggu depan?" cecar Menik.


"Aku berharapnya juga minggu depan Nik. Tapi aku bisa apa, jika tiba-tiba pihak pusat menyuruhku berangkat nanti malam."


Menik berdiri dan melepaskaan genggaman tangan Agus. Dia beranjak menuju jendela kamar, menyapukan pandangan pada kolam ikan di samping kamar Agus.


"Mas ... bukannya Menik melarang mas untuk berangkat nanti malam. Menik ikhlas kalau mas berangkat malam ini. Menik hanya terkejut, karena bayak rencana yang sudah Menik susun selama seminggu ini. Tapi Allah telah menyiapkan cerita sendiri untuk kita mas. Dan kita hanya bisa menjalaninya. Menik berharap mas tetap setia meski kita berjauhan."


Agus beranjak mengikis jarak dengan istrinya. Dipeluk dan diciuminya pucuk kepala Menik yang terbungkus hijab.


"Terima kasih." ucapnya.


"Terima kasih untuk apa mas?" Menik membalikkan badannya. Kini dia bisa menatap netra coklat itu setengah berkabut.


"Terima kasih kamu mau ngertiin aku Nik. Terima kasih juga kamu mau menikah denganku meski tanpa persiapan dan pesta yang mewah."


"Mas, pesta mewah tak menjamin kelanggengan sebuah hubungan. Yang lenting sekarang, Mas harus menutup hati dari perempuan-perempuan lain di luar sana. Apalagi mas jauh dari Menik. Dan pernikahan kita masih banyak yang belum tahu."


Agus menatap bibir mungil yang terus saja berucap.


Cup


Menik terkesiap merasakan bibir Agus menempel di bibirnya. Refleks Menik mendorong da-da Agus.


"Maaf, aku tak bisa menahan diri." seru Agus.


Keduanya terdiam. Di dalam hati Menik menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa mendorong Agus yang menciumnya. Bukankah sudah halal. Jujur meskipun sudah menikah, Menik masih ragu dengan hubungan ini. Apalagi tanpa sengaja Menik melihat pesan dari seseorang untuk Agus. Perasaan seorang istri yang waspada atas adanya perempuan lain yang mengagumi suaminya.


"Nik, kenapa diam? Kamu marah karena mas cium?" tanya Agus yang heran melihat Menik terdiam.


"Nggak mas, Menik nggak marah. Itu sudah menjadi hak mas, sejak mengucapkan ijab qabul."

__ADS_1


"Jadi boleh nie lanjut lagi. Sebagai bekal mas berangkat?" goda Agus.


"Ehm ... boleh ... tapi tahun depan." ucap Menik sembari menjauh dari Agus.


__ADS_2