Adhisti

Adhisti
Bab 24


__ADS_3

Perlahan Menik melepas handuknya. Terpampang nyata kemolekan tubuh Menik di mata Agus membuat sesuatu di bawah sana terbangun.


Sekuat tenaga Agus menahan keinginannya untuk memeluk tubuh polos Menik.


Ehem ... ehem ...


Mendengar suara deheman, sontak Menik segera mengancingkan bajunya, dan menoleh ke arah auara itu berasal.


"M—mas Agus." ucapnya terbata. Menik masih shock mengetahui secara tidak sengaja Agus telah melihat tubuh n@ked nya.


"M—maaf Nik, aku tak sengaja. Mau ingatkan tapi kamu sudah melepas handukmu. Akhirnya mau nggak mau ya aku lihat. Rejeki kok di tolak." Agus beranjak dari tempat tidur dan mengikis jarak.


"M—mas mau ngapain?" Refleks Menik mundur menghindari Agus yang semakin mendekat. Sehingga tubuhnya menabrak meja rias.


"Kamu lucu Nik. Aku mau mengambil ponselku yang aku charger di meja rias mu. Aku tunggu di bawah, lanjutkan ganti bajunya. Jangan sampai satu kancing terlewat." goda Agus sembari berlalu keluar kamar.


Menik melihat susunan kancing bajunya, yang ternyata memeng terlewat satu dan membuatnya menampilkan pemandangan indah untuk Agus.


Seketika Menik teriak, "Mas Agus omes!"


Agus yang mendengar teriakan Menik, malah terkekeh. "Beruntungnya aku mendapatkan kamu Nik." gumamnya.


Usai membenahi pakaiannya, Menik segera turun mencari Agus. Diedarkan pandangannya di ruang keluarga, namun sosok Agus tak terlihat. Menik memutuskan untuk melihat ke teras depan. Ternyata Agus duduk di kursi teras sambil memainkan ponselnya.


"Mas ... mas Agus." panggil Menik dari balik pintu. Dia enggan ke luar karena tidak memakai hijab.


Merasa ada yang memanggil namanya, Agus menoleh. Senyumnya langsung terbit melihat gadis yang selama dua puluh jam sudah menjadi istrinya.


"Mas, ayo sarapan. Menik masak nasi goreng." ajak Menik.


Mendengar ajakan sarapan dari istrinya, Agus segera berdiri dan mengikuti langkah istrinya menuju meja makan.


"Mas, segini cukup atau mau nambah lagi?" tanya Menik saat mengambilkan nasi goreng untuk Agus.


"Cukup, nanti kalau kurang aku ambil sendiri."


Menik mengangsurkan piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi kepada suaminya.


"Semoga cocok dengan selera mas Agus. Maaf kalau Menik masih terbatas dalam hal memasak."

__ADS_1


Agus mengangguk menanggapi ucapan Menik. Bagi Agus untuk saat ini cukup Menik bersedia jadi istrinya saja sudah membuatnya bahagia. Urusan masak dan lain-lain bisa belajar secara bertahap.


***


Persiapan pernikahan mas Jaka sudah rampung sesuai dengan yang telah direncanakan. Sebelum pukul sepuluh pagi ini rombongan pengantin sudah berangkat lebih dulu untuk pemberkatan nikah. Pak Broto dan Sri Suketi tidak turut dalam rombongan itu, dikarenakan mendapat tugas untuk memantau kesiapan di gedung resepsi.


Sri Suketi terlihat cantik dengan sanggul yang tersemat di kepalanya. Sedang pak Broto terlihat muda dan gagah menggunakan beskap.


"Pi—Papi." Sri memanggil pak Broto yang berbincang dengan pihak WO. Mendengar panggilan istrinya, beliau segera mendekat.


"Ada apa?" tanya pak Broto.


Sri melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang bersanding dengan gelang berlian pemberian pak Broto. Bibirnya terangkat membentuk senyuman tatkala melihat kilau berlian yang bertahta di gelang itu.


Melihat istrinya yang senyum-senyum sendiri membuat pak Broto heran. "Tadi manggil, eh setelah di datangi malah senyum sendiri." gumam pak Broto.


Sri yang mendengar gumaman pak Broto merasa malu. Cepat dia alihkan pandangannya ke arah jam merk AC. Terlihat jarum pendek menunjuk angka sembilan, dan jarum panjang di angka enam. Tiga puluh menit lagi pemberkatan nikah mas Jaka akan dimulai. Mereka yang tidak turut ke tempat pemberkatan, bisa menyaksikan acara itu melalui layar yang disediakan di gedung.


"Pi, Menik sama Agus belum datang. Coba papo telepon. Karena Menik dapat tugas untuk jadi pagar ayu. Takutnya terlambat datang, sehingga tidak sempat dandan dan ganti baju."


"Mami saja yang telepon Menik. Ponsel papi habis daya, masih proses pengisian daya."


Tut ... tut ...tut


Ponsel Menik berdering. Tertera nama Durgandini di layar. Agus yang melihatnya tidak berani menjawabnya. Karena nama yang tertera di ponsel, terasa aneh baginya.


Ponsel itu terus berdering, mau tidak mau Agus memberanikan diri untuk menjawabnya. Siapa tahu penting, karena ponsel itu terus berdering. Digesernya tombol berwarna hijau.


Belum sempat Agus mengucap salam. Terdengar suara dari sambungan telepon.


"Menik, ke mana saja. Mami telepon nggak diangkat-angkat."


Agus terdiam mendengar omelan dari sambungan telepon itu. Suaranya jelas Agus kenali sebagai suara mertuanya. Tapi kalau dari segi nama kontak jujur Agus pengin tertawa, melihat kelakuan istrinya menamai ibu sambungnya dengan nama Durgandini.


"Woi, Menik malah diam. Kalau mami bicara itu dijawab bukannya didiemin." ketus Sri.


"Mami, maaf ini Agus mi. Menik baru siap-siap berangkat ke gedung." jelas Agus.


Sri menahan malu, karena bukan Menik yang dia omelin, malah menantunya yang kena. Jatuh sudah image lemah lembutnya di depan menantunya.

__ADS_1


"Oalah kamu Gus, mami kira Menik. Sampaikan ke Menik untuk segera ke gedung, nggak usah ke rumah budhe Harmini. Cepat mami tunggu." pesan Sri untuk Menik yang dititipkan pada Agus.


"Iya Mi." jawab Agus.


Menik mengenakan seragam kebaya berbahan brokrat warna kuning kunyit, kontras dengan warna kulitnya. Sekali lagi Agus terpana, menyadari betapa kontrasnya warna kulit Menik saat menggunakan warna kuning. Saat ijab qabul kemarin Menik juga menggunakan kebaya warna kuning.


Melihat suaminya malah bengong, di depan melambaikan tangannya di depan wajah suaminya. Agus meraih tangan yang melambai-lambai di depan wajahnya.


Menik menjadi salah tingkah karena tangannya digenggam erat. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, tiba-tiba Agus menarik tangannya, sehingga Menik terduduk dipangkuan Agus.


Agus, menghidu aroma tubuh Menik yang sejak semalam membuatnya tak tenang. Menahan sesuatu yang hendak keluar di saat yang belum tepat.


Ya, sebelum Menik menjawab pinangan Agus. Menim membuat satu permintaan, agar Agus tidak menyentuhnya terlebih dahulu sebelum Menik lulus. Tentu saja tanpa berpikir panjang Agus menyetujuinya. Belum tahu dia bagaimana rasanya menahan tidak menyentuh sesuatu yang sudah halal untuk disentuh. Jika tahu, pastilah Agus akan menolaknya.


"Mas, lepas. Nanti kita terlambat ke pernikahan mas Jaka. Menik belum dandan dan ganti baju khusus pagar ayu."


"Sebentar saja Nik. Biarkan seperti ini. Biar mas menghirup aroma tubuhmu dan menyimpannya dalam hati dan pikiran, sebelum esok lusa mas berangkat." ucap Agus yang masih setia menempelkan hidungnya di ceruk leher Menik.


Menik akhirnya pasrah, menuruti kemauan suaminya. Toh itu tidak melanggar perjanjian yang mereka buat dan tentunya tidak melanggar syariat agama. Karena mereka sudah sah secara agama dan negara.


***


Suasana gedung terlihat begitu sibuk. Pihak WO dan catering menata satu persatu kelengkapan acara pernikahan itu. Mbah Minto dan mbah Kasdi terlihat duduk memandang layar besar yang menampilkan siaran pemberkatan nikah Jaka dan Wulan. Sedangkan Sri berada tak jauh dari tempat duduk mbah Minto. Dia ikut menyaksikan pemberkatan nikah Jaka dan Wulan.


Begitu sampai di gedung, Menik segera menuju tempat khusus untuk bersolek. Ternyata di sama sudah ada beberapa saudara Menik yang sedang di rias.


Ada empat orang yang memang dipilih oleh budhe Harmini untuk menjalankan tugas sebagai pagar ayu. Budhe Harmini memilih keponakanmya yang masih single alias lajang untuk posisi pager ayu. Tujuannya memilih yang masih lajang tentunya supaya keponakannya segera menyusul Jaka untuk menikah. Kecuali Menik tentunya, yang tiba-tiba dilamar orang.


"Wah-wah ... pengantin baru datang terlambat. Habis lembur Neng?" ejek mbak Ayu yang sedang dipakaikan hijab oleh perias.


Menik tersenyum mendengar ucapan mbak Ayu. Dia segera duduk untuk dirias. Mbak Ndari yang sudah selesai dirias menghampiri Menik.


"Nduk, gimana rasanya jadi pengantin? Seru nggak semalam?" tanya mbak Ndari.


Lagi-lagi Menik tersenyum mendengar pertanyaan Ndari.


"Ealah, ini anak ditanya dari tadi nggak jawab, malah senyum-senyum." gemas Ndari yang melihat Menik dari tadi cuma senyum menanggapi pertanyaan sepupu-sepupunya.


"Menik bingung mbak harus cerita dari mana. Intinya, rasanya campur aduk, manis, asam, asin— ramai rasanya." kelakar Menik.

__ADS_1


__ADS_2