Adhisti

Adhisti
Bab 79


__ADS_3

"Mau ke mana kamu?" ucap Soni mengagetkan Menik.


"Bangun," jawab Menik singkat dan beranjak dari tempat tidur.


"Maaf. Aku ketiduran di sampingmu," sesal Soni.


Mendengar permintaan maaf Soni, Menik menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap ke arah Soni berada.


"Aku mohon, ini menjadi yang pertama dan terakhir, Mas. Karena kita belum ada ikatan apapun. Takut khilaf."


Kata-kata yang diucapkan Menik, membuat Soni menyesali perbuatannya. Padahal dari awal dia tidak bermaksud tidur di samping Menik. Tiba-tiba kantuk menyerangnya dan langsung terlelap di samping Menik.


Setelah mencuci wajahnya, Menik menuju halaman belakang untuk berpamitan kepada bu Wagiyem yang sedang memanen telur puyuh.


"Ibu," panggil Menik.


Bu Wagiyem menghentikan kegiatannya memanen telur. Beliau mendekat ke arah Menik.


"Ada apa, Nduk?" tanya bu Wagiyem dan duduk di kursi.


Menik mendekat ke tempat duduk bu Wagiyem dan berkata, "Menik mau pamit, Bu. Sudah hampir magrib, di rumah Menik tidak ada orang."


"Kamu sendirian di rumah? Orang tua mu ke mana?"


"Sejak kemarin orang tua Menik tidak di rumah. Ayah dinas ke luar kota," jelas Menik.


"Nduk, Ibu bisa bicara sebentar denganmu dan Soni?"


Deg!


Jantung Menik serasa hendak melompat keluar mendengar ucapan bu Wagiyem. Pelan Menik mengangguk mengiyakan permintaan bu Wagiyem.


Banyak pertanyaan hilir mudik di kepala Menik, memikirkan alasan bu Wagiyem ingin berbicara dengannya bersama Soni.


"Panggil Soni kemari, Nduk. Tentu dia sudah bangunkan?"


"I—iya Bu. Mas Soni sudah bangun. Sebentar Menik panggilkan," ucap Menik dan beranjak menuju kamar untuk memanggil Soni.


Langkah Menik belum sampai di kamar saat melihat Soni tengah minum di dapur.


"Mas."


Soni menoleh, "Apa? Ibu memanggilku? Ayo. Nggak usah takut, paling ibu mau menanyakan mengapa tadi kita tidur bersama."


"Mas dengar pembicaraan ku dengan ibu?" tanya Menik penasaran.


"Iya," jawab Soni singkat.


Mereka berdua berjalan ke halaman belakang dengan posisi Soni berjalan di depan Menik. Tiba-tiba Soni menghentikan langkahnya, yang membuat Menik menabrak punggungnya.


Dug!


"Aduh!" seru Menik. "Mas, kalau mau berhenti bilang dong, biar nggak aku tabrak!" protes Menik.


"Makanya kalau jalan itu pakai mata dan lihat ke depan. Jangan jalan, tapi matanya lihat ke bawah," seru Soni.


Menik memberengut kesal denggan sikap Soni yang terlihat santai. Padahal jantung Menik masih berlomba marathon.


"Duduk di sini," titah bu Wagiyem sembari menunjuk dua kursi yang telah beliau atur di depannya.


Mereka mengikuti perintah bu Wagiyem. Duduk bersebelahan dengan Soni di hadapan bu Wagiyem, lebih mengerikan dibandingkan menghadapi persidangan tadi siang.

__ADS_1


Netra bu Wagiyem memindai keduanya. Menik menurunkan pandangannya. Sedangkan Soni masih terlihat santai.


"Ibu, jangan memandang Menik dengan tatapan mengerikan. Nanti Menik pingsan," seru Soni menggoda bu Wagiyem yang terlihat serius.


"Diam kamu! Dasar anak nakal," seru bu Wagiyem sambil menjewer telinga Soni.


"Aduh ... sakit Bu. Mengapa Soni di jewer? Salah Soni apa?"


Bu Wagiyem melepas tarikan di telinga Soni.


"Masih bertanya apa kesalahan mu?" tegas bu Wagiyem.


Soni mengangguk sambil mengelus telinganya yang masih terasa panas akibat tarikan bu Wagiyem.


"Nduk," panggil bu Wagiyem.


Merasa namanya disebut, Menik mengangkat wajahnya dengan mata yang masih memandang ke bawah. Dia tidak berani menatap ke arah bu Wagiyem.


"Iya Bu," jawab Menik lirih.


"Lihat ibu, Nduk. Tidak usah takut," seru bu Wagiyem yang melihat Menik dari awal tidak berani memandang ke arahnya.


Pelan-pelan Menik mengangkat pandangan matanya. Sehingga bisa melihat wajah teduh bu Wagiyem yang tersenyum ke arahnya. Senyum bu Wagiyem membuat hati Menik tenang.


"Ibu hanya ingin menanyakan, siapa tadi yang tidur duluan?"


"Menik," jawab Soni dan Menik bersamaan.


"Kalian kompak sekali menjawabnya," ucap bu Wagiyem sambil terkekeh.


Tawa bu Wagiyem menular kepada Soni dan Menik.


"Ibu, tidak menghalangi hubungan kalian, namun ada baiknya jika untuk sementara kalian jaga jarak dulu. Biarkan Menik selesai urusan perceraiannya dan selesai masa idah," tutur bu Wagiyem sembari memandang keduanya.


"Baik, Ibu. Menik akan menuruti nasihat Ibu."


"Ya, tidak bisa begitu dong. Kalau Soni kangen gimana?"


"Tahan kangenmu! Biasanya satu tahun nggak ketemu Menik juga biasa saja," tegas bu Wagiyem.


"Tapi ..."


"Mas ... jangan ngeyel. Apa yang Ibu katakan itu benar. Kita tidak tahu ke depannya seperti apa. Ya kalau jodoh, kalau tidak?" sela Menik, menghentikan protes Soni pada bu Wagiyem.


"Jadi, kamu harap kita nggak berjodoh," kesal Soni dan beranjak meninggalkan bu Wagiyem serta Menik.


"Mas! Bukan seperti itu maksud Menik," seru Menik dan akan mengejar Soni.


Langkah Menik terhenti tatkala bu Wagiyem memegang tangannya. Beliau mengatakan kepada Menik, "Biarkan saja, Nduk. Biar Soni introspeksi diri."


Menik mengangguk dan meneruskan rencananya untuk berpamitan dengan bu Wagiyem. Sebelum pulang, Menik menghampiri Soni yang duduk di bawah pohon mangga. Menik berpamitan pada Soni, dan hanya dijawab singkat. Tidak seperti biasanya, Soni selalu mengantar Menik sampai keluar dari halaman rumahnya. Kali ini dia hanya melirik Menik sekilas.


Hati Soni masih kesal dengan ucapan Menik. Dia merasa jika Menik tidak mau berjodoh dengannya. Soni berbaring di kursi bawah pohon mangga, kembali memikirkan ucapan Menik dan ibunya.


Gelap menyapa Menik saat dia masuk ke dalam rumah. Mendung yang menggayut senja kali ini, membuat gelap cepat menyapa. Dihampirinya saklar lampu, dan segera menekannya.


"Astaghfirullah!" teriak Menik saat melihat Darmi duduk santai di kursi. "Mbak Darmi datang nggak beri salam, buat Menik kaget," omel Menik.


"Maaf. Habis kamu perginya lama. Bosan nunggui kamu di sini. Belum lagi diceramahin sama paklik yang ada di kamar depan," ujar Darmi.


"Makanya Mbak Darmi jangan nakal, kalau nggak mau dapat ceramah dari paklik yag di depan. Ehm ... Mbak Darmi mau ngapain ke sini?" tanya Menik.

__ADS_1


Darmi mengikis jarak dengan Menik, dipegangnya pipi Menik. Sensasi dingin menjalar di area yang di sentuh Darmi. Menik mundur selangkah, mencegah Darmi menemukan jejak tamparan Agus.


"Ini bekas apa?" tunjuk Darmi ke arah pipi Menik yang mulai membiru dan sedikit keunguan.


"Ini?" tunjuk Menik.


"Iya."


"Tadi Menik jatuh mbak. Terus pipi Menik kena Meja, jadi memar deh," seru Menik menutupi kejadian sebenarnya.


"Nggak usah bohong kamu. Aku tahu itu bukan bekas terbentur. Tapi bekas jari manusia. Kali ini memar harus dibalas memar!" ucap Darmi berapi-api.


"Jangan Mbak. Kali ini jangan. Karena Mas Soni sudah membalas untuk Menik."


"Aku harus memastikannya terlebih dulu. Baru aku percaya ucapanmu. Aku pergi dulu," ucap Darmi dan menghilang dari hadapan Menik.


"Dasar Mbak Darmi hantu kepo," gumam Menik.


"Aku dengar gumamanmu, Nik," seru Darmi yang ternyata masih berada di dekat Menik.


"Katanya tadi pamit. Kenapa belum jadi pergi?"


"Sst ... sst ... masih ada paklik di depan," bisik Darmi.


"Ternyata Mbak Darmi takut sama paklik. Ha ... ha ...." ejek Menik.


"Dasar bocah nggak jelas. Disuruh diem, malah berisik," geruti Darmi dan benar-benar pergi dari rumah Menik.


Sepeninggal Darmi, Menik menuju kamarnya. Dia segera mandi, dan melaksanakan salat magrib. Selesai salat Menik bermalas-malasan di atas kasur sambil nonton drakor. Sengaja dia memilih drakor bergenre komedi.


Kring ... kring ...deeing ponsel mengalihkan Menik dari kayar laptopnya. Ternyata Ince yang melakukan panggilan video.


"Woi! Menik. Kamu menghilang ke mana?" seru Ince di seberang telepon.


"Salam dulu Ince sayang."


"Assalamualaikum," ucap Ince.


"Waalaikumsalam. Aku nggak menghilang, Ce. Aku di rumah dari minggu lalu. Mungkin besok aku kembali ke kos."


"Jadi dari hari suamimu wisuda, kamu di rumah terus? Jangan-jangan kamu langsung bulan madu sama suamimu," cecar Ince.


Hati Menik kembali terasa perih saat Ince menyebut kata suami. Satu kata yang membuat Menik sedih bila mendengarnya.


"Nggak Ce. Aku jaga rumah. Ayah dinas ke liar kota selama dua minggu. Jadi daripada kosong, aku tungguin dulu."


"Alah, alasan mu saja itu. Palingan kamu sama suamimu lagi ahe-ahe."


"Terserah kamu, Ce. Dikasih tahu nggak percaya."


Meski sudah dijelaskan beberapa kali jika Menik tidak bersama Agus saat ini, Ince tetap tidak percaya. Bahkan Ince meminta Menik untuk memutar kameranya dan menyuruh Menik untuk memperlihatkan kamar mandinya. Ince baru percaya setelah Menik mengarahkan kameranya ke arah gantungan baju, yang hanya terdapat baju Menik yang menggantung.


"Jadi, kamu beneran sendirian. Terus suamimu kemana?" tanya Ince kembali.


"Suami?" ucap Menik.


"Iyalah suamimu, masak suamiku," ketus Ince karena mendengar jawaban Menik yang berputar-putar.


"Oh ... suamiku? Ini lagi main drama," ucap Menik sambil menunjuk aktor favoritnya.


"Menik Adhisti Putri Broto, aku tanya sekali lagi, di mana suamimu!" tegas Ince yang semakin geregetan dengan sikap Menik.

__ADS_1


__ADS_2