
Dua minggu berlalu dan masih sama dengan minggu sebelumnya. Resah mulai menyapa Menik. Apa aku harus mengikuti saran Ince?" tanyanya dalam hati.
Kesibukan di tempat magang, membuat Menik melupakan sesaat kerisauannya. Apa lagi di tempat magang ada yang selalu menggodanya.
Beb ... beb ...
Tertera nama Wawan di layar ponsel Menik. Ragu menik menjawab panggilan itu. Namun tak enak juga kalau tak menjawabnya.
"Halo, assalamualaikum." terdengar suara di sambungan telepon.
"Waalaikumsalam." jawab Menik.
"Dik Menik, lagi apa?" tanya Wawan.
"Lagi santai saja mas."
"Tumben nggak pulang dik?"
"Lagi males pulang, capek bolak-balik."
"Dik Menik nanti malam acara tidak?"
"Nggak ada sih mas, tapi Menik mau tidur cepat. Menikmati hari libur." tandas Menik. Malas terlalu lama berbasa-basi dengan Wawan.
"Aku kira nggak ada acara dik. Sebenarnya mau ajak dik Menik ke kondangannya mas Syahrul. Kebetulan tempat acaranya dekat dengan kos d Menik."
"Ooh, Menik kira ada apa. Maaf mas, Menik malam ini mau istirahat cepat. Mumpung besok libur."
"Ya sudah dik, nggak apa-apa. Lain kali kalau ada waktu aku mau ajak dik Menik jalan. Semoga tak menolaknya lagi."
"Insya Allah." jawab Menik dan mengakhiri panggilan itu.
Menik memandangi foto yang sempat diambil Ince waktu akad nikah dengan Agus. "Kamu lagi apa mas, sampai ngelupain aku. Apa kamu terlalu sibuk, sehingga tak bisa memberi kabar, meski sebatas kirim pesan?" gumamnya.
Lelah memikirkan Agus yang tak kunjung menghubunginya, Menik pun tertidur nyenyak dipeluk mimpi. Menik terbangun setelah mendengar Rambo yang berkokok menandakan pagi telah menyapa.
Perlahan dia buka matanya, mengerjab perlahan menyesuaikan dengan cahaya lampu di nakas samping tempat tidur.
"Sudah subuh ternyata, pantasan Rambo sibuk bangunkan seisi rumah." monolog Menik.
__ADS_1
Di buka sekilas ponsel yang tergeletak di samping bantalnya. Menik membuang napas kasar, mendapati ponselnya masih tetap sama. Tak ada pesan maupun panggilan satu pun dari Agus.
Menik keluar kamar menuju tempat mencuci pakaian. Namun langkahnya terhenti, tatkala melihat sesosok berpakaian putih duduk manis di atas tandon air.
Menik berpura-pura tak melihatnya, perlahan dia memutar badannya dan melangkah kembali masuk kamar.
"Untung aku belum buka pintu, kalau sampai dia tahu aku melihatnya bisa kacau." gumam Menik.
Bagi Menik melihat sosok yang biasa duduk santai di atas tandon itu sudah biasa. Hanya saja dia berusaha menghindari, agar sosok itu tidak mengetahui kalau Menik bisa melihatnya. Kalau tahu bisa berbahaya, cukup mbak Darmi saja yang sering mengikutinya
Tok ... tok ...
Terdengar ketukan di pintu kamar kos Menik. Dia abaikan sejenak ketukan itu, khawatir jika yang mengetuk sosok yang tadi dia lihat. Tak lama ketukan itu terdengar lagi.
"Nik—Menik, mau ikutan jogging nggak?" terdengar suara mbak Nonie di depan pintu kamar Menik.
Ceklek
Menik segera membuka pintu kamar, terlihat mbak Nonie telah siap dengan setelan olahraga.
"Jogging di mana mbak?"
Menik berpikir sejenak, dari pada di kos sendirian dan sosok itu masih terlihat duduk manis di tempat yang sama sembari melirik ke arah Menik, mendingan Menik ikut jogging.
"Menik ikut mbak, tunggu bentar mbak. Jangan turun dulu ya."
"Siap." jawab mbak Nonie sembari mengetuk pintu kamar kos yang lain.
Kebetulan mbak Nonie senior di kos itu, sehingga dia yang sering memberi komando di kos. Namun, meski mbak Nonie senior, dia tetap asyik diajak berteman. Bahkan selalu menjadi tempat curhat penghuni kos yang lain. Kecuali penghuni rumah bawah dan yang suka duduk di tandon tentunya.
Kali ini tujuh penghuni kos kompak jogging mengelilingi kampus. Mbak Nonie ditunjuk jadi perwakilan untuk meminta izin petugas keamanan kampus untuk berkeliling. Setiap libur, gerbang kampus belakang di kunci. Sehingga jika ingin masuk harus melewati pos keamanan. Cukup menunjukkan kartu mahasiswa dan mengutarakan maksudnya, petugas keamanan akan mengizinkannya.
Cukup lama mereka berkeliling, dengan rute kampus FKIP, Hukum, Pasca Sarjana, Perpustakaan dan Gedung Rektorat, berakhirlah mereka di pintu masuk kampus menikmati semangkuk bubur ayam.
"Mbak non, kita baliknya naik angkot saja ya. Capek kalau jalan kaki." seru Fera.
"Iya mbak, capek banget. Lama nggak gerak." timpal Endang.
"Kalian itu, baru saja jalan dari pintu belakang ke depan sudah capek. Gimana mau umrah coba." ujar mbak Nonie.
__ADS_1
"Bedalah mbak Non, kalau umrah Fe, pasti kuat." seru Fera.
"Nah, untuk buktikan kalau kuat, kita pulangnya lewat luar saja. Lewat samping kebun binatang. Kali saja penghuninya ada yang naksir kamu Fe." kelakar mbak Nonie.
Fera yang diolokin mbak Nonie segera memasang wajah cemberut. Melihat Fera yang cemberut, teman-teman kos malah tertawa dan menambahi olokan mbak Nonie.
Sampai di gerbang kos berpintu pagar warna hijau, terlihat bungkusan tergantung di pegangan pintu.
"Mbak Non, ada bungkusan. Isinya apa ya, jangan-jangan bom." ucap Endang.
"Jangan halu Ndang. Kebanyakan nonton berita kriminal, lihat bungkusan langsung dibilang bom." ujar mbak Nonie dan mengambil bungkus itu.
"Apa mbak isinya?" tanya Luthfi satu-satunya calon dokter di kos itu.
"Bubur kacang hijau. Nie ada tulisannya." mbak Nonie membuka catatan kecil di sela-sela bungkusan bubur.
"Dari bu kos ternyata." ucap Luthfi setelah membaca secarik kertas yang di sodorkan mbak Nonie.
"Wah ... bu kos kita memang ter—baik." ucap Endang.
"Halah gayanya mbak Endang, tadi saja takut buka." gurau Fera.
"Namanya juga waspada Fe. Ayo mbak Non, segera kita eksekusi buburnya. Perutku sudah meronta minta diisi." seru Endang.
Mereka pun segera naik dan menikmati bubur kacang ijo. Mumpung gratis, lumayan kan. Apalagi untuk anak kos. Paling senang kalau dapat makanan gratis, sehingga menghemat uang saku.
Selesai menikmati bubur kacang hijau, Menik segera memutar mesin cuci yang memang menjadi salah satu fasilitas yang tersedia di kos.
Kos itu sengaja di khususkan untuk mahasiswi saja. Cowok dilarang masuk. Bahkan pak kos pun di larang naik ke area kamar kos. Kecuali didampingi ibu kos. Kos itu ada dikarenakan ibu kos yang tak mempunyai anak cewek, jadi karena ingin mempunyai anak cewek di buatlah kos khusus cewek.
Menik melirik sekilas ke atas tandon. Alhamdulillah sudah pergi mbak nya, batin Menik. Sebenarnya bukan hanya Menik yang melihat sosok itu, bahkan Fera awal-awal kos sempat pingsan saat di sapa. Sejak kejadian itu Fera tak berani lagi mencuci tengah malam. Salah siapa juga malam-malam cuci baju.
***
"Agus, gimana dengan tawaranku?" tanya Andi.
"Maksud mas Andi, tawaran yang mana?" jawab Agus.
"Tawaranku yang dulu Gus. Akan tetap berlaku sampai kamu menjawabnya. Jadi aku tunggu jawabanmu. Gimana Gus? Sudah siap menjawab?"
__ADS_1
"Ehm—"