
Seandainya kamu tahu mas, gadis itu bukan lagi tunanganku tapi istriku. Pasti lain lagi pendapatmu, batin Agus.
Setelah tiga hari di daratan, tiba saatnya kembali ke rutinitas. Agus bersiap untuk kembali ke kapal.
Tok ... tok
Pintu kamar Agus diketuk dari luar.
"Siapa pagi-pagi ketuk pintu." gumamnya.
Perlahan Agus beranjak ke arah pintu. Belum sempat dia meraih handle pintu, pintu itu telah di dorong dari luar.
Ceklek
Nampaklah wajah Wiwid dengan senyum manisnya. Tanpa dipersilakan, Wiwid menerobos masuk, menutup pintu, dan duduk di atas tempat tidur.
Agus kembali membuka pintu kamarnya, takut ada fitnah menyebar.
"Kenapa pintunya dibuka Gus, sini duduk dekatku!" perintah Wiwid sambil menepuk tempat tidur.
Agus bergeming, dia tetap berdiri di depan pintu sambil bersedekap, menatap jengah ke arah Wiwid.
"Wid, ayo keluar. Kita bicara di luar! tegasnya.
"Nggak, aku maunya di sini." tolak Wiwid.
"Wid, tolong kamu jangan seperti ini. Kamu seorang gadis Wid. Apa kata orang jika melihatmu masuk ke kamarku."
"Malah bagus Gus, kalau ada yang melihatku masuk ke kamarmu. Aku tak perlu lagi mengerjarmu, ha ... ha ....." Wiwid tergelak tak menghiraukan ucapan Agus.
"Terserah kamu Wid. Kalau begitu aku yang keluar." seru Agus, dan mengambil tas ranselnya. Untung saja Agus sudah selesai berkemas.
Wiwid terdiam mendapat penolakan Agus secada bertubi-tubi. Air mata tak terasa menguar, celat-cepat dia seka, agar tak ketahuan Utari.
***
Melihat Ince ke luar kantor Dosen, Menik dan Mimi segera menghampirinya.
"Gimana Ce?" seru Mimi dan Menik kompak.
"Huft— biasa Nik, Mi." jawab Ince ogah-ogahan.
"Biasa gimana Ce?" cecar Mimi.
"Biasalah .... lolos." seru Ince dengan senyum lebar.
"Alhamdulillah, semoga kita bisa bersamaan wisudanya." ujar Menik.
"Aamiin". balas Ince dan Mimi.
"Lapar Nik. Ayo ke kantin. Aku kangen sama mie ayam yu Sri. Sudah lama aku tak pernah mencicipinya." ajak Mimi.
"Ayo Mi. Kebetulan aku juga lapar. Lumayan untuk ganjal perut, sebelum pulang ke rumah." jawab Menik.
Sepanjang lorong menuju kantin, mereka bersendau gurau. Mereka merasa lega, satu fase skripsi mereka lewati. Tinggal melanjutkan fase penelitian kemudian ujian.
Kali ini Mimi yang bertugas untuk memesan makanan. Sedang Ince dan Menik duduk di meja yang biasa merekaa tempati ketika di kantin.
"Nik, kamu mau pulang ke rumah?" tanya Ince.
__ADS_1
"Iya Ce. Disuruh ayah pulang kemarin untuk ngambil laptop." jawab Menik sembari menyedot es jeruk.
"Wah, laptop baru. Boleh dong aku pinjam yang lama." ujar Ince sembari mengerjab-ngerjabkan matanya.
"Lhah laptopmu kemana Ce? Bukankah kemarin baru dibelikan ibu." tanya Menik penasaran.
"Di bawa Ghani." jawab Ince dengan santai.
"Kenapa bisa dibawa Ghani Ce? Kamu kan juga lagi butuh. Harusnya jangan kamu pinjamkan." cecar Menik yang tidak setuju dengan Ince.
"Aku kasihan sama dia Nik. Mau ngerjakan tugas, tapi laptopnya rusak."
"Tapi kamu kan juga butuh Ce. Ayo aku antar untuk minta." ketus Menik.
"Nggak udah Nik. Biar saja dia pakai dulu. Kalau kamu nggak mau pinjamkan laptop juga nggak apa-apa. Aku masih bisa ke rental." sinis Ince.
"Ce, di sini bukan aku nggak mau pinjamkan laptopku. Aku hanya nggak setuju dengan sifatmu yang satu ini. Apa kamu nggak ingat waktu kamu pacaran dengan Bambang kemarin? Satu ponselmu melayangkan!"
"Terserah aku Nik, kamu nggak usah ikut campur. Urus saja suamimu, ups tunangan bohonganmu." ketus Ince sembari beranjak meninggalkan Menik. Dia merasa tersinggung dengan kata-kata Menik.
Menik terdiam mendengar ucapan Ince yang terakhir.
"Tega kamu Ce, hanya karena aku tak suka sifatmu yang satu itu. Kamu membuka rahasiaku." gumam Menik.
Mimi yang datang dengan membawa nampan berisi pesanan mereka, terlihat bingung. Karena tidak melihat Ince.
"Kemana Ince?" tanya Mimi sembari meletakkan nampan dan menyusun mangkok di atas meja.
"Biasa Mi, marah sama aku."
"Terus nasib mie ayamnya gimana?"
"Kalian kenapa? Tak biasanya kelahi sampai yang satu pergi."
"Ntar aku jelasin Mi. Biarkan aku makan dulu."
Mimi terdiam tak melanjutkan pertanyaannya. Dia pun ikut menikmati mie ayam.
"Wah, kalian makan mie nggak ngajak-ngajak." seru Dwi yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
"Duduk Wi." seru Mimi.
Dwi segera duduk di sebelah Menik. Dia heran melihat satu mangkok mie ayam yang masih belum tersentuh.
"Ini mie siapa?" tanyanya.
"Makan saja Dwi. Biasanya juga nggak pernah nanya." timpal Mimi.
"Wah, Mimi tahu saja kebiasaanku, ha ... ha ..." Dwi terkekeh membalas gurauan Mimi.
"Alhamdulillah kenyang." ucap Menik menyudahi makannya..
"Nik, ayo cerita kenapa kamu sama Ince sampai kelahi." seru Mimi begitu melihat Menik telah menyelesaikan makannya.
"Biasa Mi, Ince kumat lagi. Kalau suka sama cowok, pasti diberikan semua barang-barangnya. Dulu waktu sama Bambang, dia berikan ponsel terbarunya. Sekarang sama Ghani, diberikannya laptop yang baru dibelikan ibu sebulan yang lalu. Aku cuma nasihatin dia saja Mi. Aku suruh minta laptopnya ke Ghani. Eh— marah dia." ujar Menik menceritakan kronologi Ince marah dengannya.
"Dasar Ince keras kepala. Diingatkan malah marah. Ntar aku saja Nik yang ngomong sama dia." seru Mimi.
Dwi manggut-manggut mendengarkan Mimi dan Menik. Dia tak berani berkomentar. Karena sifatnya sebelas dua belas dengan Ince apabila menyangkut cowok.
__ADS_1
Selesai makan, Menik menuju kasir untuk membayar makanan mereka. Setelah itu dia berpamitan kepada Mimi dan Dwi.
"Mi, Wi, aku pulang dulu ya. Takut kesorean sampai rumah. Ntar dapat ceramah dari ayah." pamit Menik.
"Iya Nik. Hati-hati, salam untuk ayah." ucap Dwi.
"Iya."
"Nik, kamu langsung pulang atau ke kos dulu?" tanya Mimi.
"Ke kos bentar Mi, ada yang mau aku bawa pulang. Kenapa Mi?" Menik balik bertanya.
"Aku kira langsung ke depan, mau nebeng."
"Sama aku saja Mi. Kebetulan aku juga mau pulang. Kali ini biar aku antar sampai di depan pintu." ujar Dwi sembari mengenakan jaketnya.
"Beneran Wi?" ucap Mimi memastikan.
"Iya Mimi sayang. Tapi mampir beli kue di pasar Besar mau nggak?" tawar Dwi.
"Boleh Wi. Kan ntar kamu antar sampai depan rumah."
"Kalau begitu, ayo gaskeun." seru Dwi.
Mereka bertiga berpisah di pintu gerbang belakang kampus. Menik menuju kos dan mereka berdua menuju pasar Besar.
***
Sementara itu Ince tampak termenung di bangku taman. Dia menyendiri meresapi ucapan Menik.
"Dasar Menik, kenapa nggak mau menahan dan mengejarku. Malah aku dibiarkan pergi." kesal Ince.
"Lagi pula ngapain juga dia ikut campur urusanku. Laptop juga punyaku, bukan punya Menik. Terserah aku mau pinjamkan sama siapa." gerutu Ince.
Ghani melihat Ince di taman sendirian langsung menghampirinya dan melingkarkan tangannya ke pundak Ince. Reflek Ince menepis tangan itu. Ghani tersenyum meihat penolakan Ince.
"Kenapa menepis tanganku Yang?" ucap Ghani.
"Maaf Ghan, aku kira siapa, datang-datang main rangkul."
"Maaf kalau aku mengejutkanmu. Berarti kalau nggak mengejutkanmu, aku boleh peluk dong."
"Tetap nggak boleh Ghan." tegas Ince.
"Lhah, kenapa tidak boleh? Kamu kan pacarku, jadi boleh dong kalau aku peluk." ucap Ghani dengan santai.
"Maaf, Ghan. Meski kita pacaran, bukan berarti semua tubuhku berhak kamu sentuh. Dan maaf mana laptopku, aku butuh untuk melanjutkan skripsiku." tegas Ince.
Mendengar pendapat Ghani, yang menganggap kalau sudah menjadi pacar, berarti berhak disentuh. Seketika otak Ince bekerja, mengingat semua perkataan Menik dan membenarkannya.
"Oke-oke jangan marah Yang. Aku nggak akan berbuat aneh-aneh sama kamu. Laptopnya nanti ku kembalikan. Aku antar langsung ke kosmu."
"Aku tunggu sampai jam empat sore ini Ghan. Karena aku mau pulang." tegas Ince.
"Iya, nanti aku antar sampai depan pintu kos kamu." ketus Ghani seraya beranjak meninggalkan Ince tanpa permisi.
***
Tring
__ADS_1
Masuk satu pesan bergambar dari Fendi. Ince segera membukanya. Matanya memicing melihat gambar yang dikirim Fendi ke ponselnya. Hatinya bergejolak, amarah naik ke ubun-ubun.