
"Menik, putriku." ucap Pak Broto nelangsa.
Putri semata wayang yang biasanya ceria kini terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. Perlahan beliau mengikis jarak dan menggenggam tangan Menik yang beliau baru sadari jika tangan itu semakin kurus.
"Maafkan Ayah, Nduk. Semua gara-gara Ayah. Seandainya Ayah tak memaksakan keinginan untuk menikah lagi, pasti kamu tak akan mengalami peristiwa ini," monolog Pak Broto.
Langkah Soni terhenti di depan pintu ruang perawatan Menik. Sengaja Soni menghentikan langkahnya untuk memberikan ruang kepada pak Broto untuk bisa mengungkapkan semua perasaan beliau.
Mata Menik masih enggan terbuka, meski sayup-sayup dia mendengar suara ayahnya. Menik takut bangun, dia trauma dengan perlakuan Agus hari ini.
Mendapati Menik tak segera bangun dari pingsannya, Pak Broto bermaksud menemui dokter yang merawat Menik.
"Soni, Ayah titip Menik sebentar," titah Pak Broto sebelum meninggalkan ruangan Menik untuk menemui dokter.
"Ba—baik, Ayah," jawab Soni tergagap karena terkejut Pak Broto menggunakan kata Ayah padanya.
Mata Soni berkabut memdapat perlakuan manis Pak Broto. Ingatannya melayang mengingat almarhum Ayahnya. Ada rasa damai saat pak Broto menyebut kata ayah.
"Bangun, Nik. Aku ada di sini." seru Soni sembari menggenggam tangan Menik.
Berkali-kali Soni menyuruh Menik bangun, namun Menik masih enggan membuka matanya. Rasanya Menik tak mau lagi membuka matanya. Rasa malu dan sedih memdapat perlakuan dari Agus, membuatnya ingin menghilang.
Izinkan Aku pergi. Aku tak sanggup lagi menerima semua cobaan ini, batin Menik.
Air mata Menik mengalir dari sudut matanya, bahunya mulai terguncang. Menik teriak histeris, dan menarik selang infusnyang tertancap di lengannya. Darah mengalir dari bekas selang infus. Soni spontan menekan bel untuk memanggil perawat. Dia peluk Menik yang masih berteriak histeris.
Selesai berkonsultasi dengan dokter Tyas yang merawat Menik, Pak Broto bermaksud kembali ke ruangan Menik. Terlihat beberapa perawat berlari menuju ruangan Menik. Spontan Pak Broto juga ikut berlari.
Melihat banyak darah berceceran di lantai, Pak Broto hampir saja pingsan. Namun, melihat putinya berteriak histeris dalam pelukan Soni membuat pak Broto bisa menekan rasa takutnya saat melihat darah.
Segera diambil alih Menik dari pelukan Soni. Menik terus meronta dalam pelukan Pak Broto. Netra Pak Broto tak bisa menyembunyikan kesedihan beliau. Meski Menik terus meronta beliau tak melepaskan pelukannya, sampai dokter Tyas datang dan menyuntikkan obat penenang.
__ADS_1
Perlahan Menik mulai terkontrol saat efek obat penenang itu mulai bekerja. Setelah Menik tenang, pak Broto dengan bantuan Soni, membaringkan Menik di bed rumah sakit. Soni menarik selimut sampai ke dada Menik. Dengkuran halus Menik mulai terdengar. Pak Broto memberikan isyarat agar Soni mengikutinya.
"Duduk!" titah Pak Broto setelah sampai di taman rumah sakit.
Netra sepuh Pak Broto menatap Soni tak berkedip, yang membuat jantung Soni jedag-jedug. Pak Broto duduk di samping Soni. Beliau tak lagi menatap Soni. Pandangannya fokus ke arah langit. Hembusan napas panjang cukup terdrngar jelas di telinga Soni.
"Le ... Ayah rasa, lebih baik secepatnya kamu menikah dengan Menik dan menjaganya. Tunggu masa iddahnya, sambil kamu siapkan surat untuk syarat-syarat pernikahan," tutur Pak Broto.
Perkataan Pak Broto membuat Soni cukup terkejut. Tanpa pikir panjang, Soni mengiyakan perintah Pak Broto.
"Baik, Ayah. Soni akan mengurus semuanya. Ayah tidak usah bnyak pikiran. Biar Soni yang mengurus semuanya," ucap Soni tegas penuh keyakinan.
Pak Broto menepuk pelan pundak Soni dan beranjak meninggalkan Soni. Beliau kembali menuju ke ruangan Menik. Sepeninggal Pak Broto, Soni segera menghubungi keluarga besarnya. Dia mengabarkan akan segera menikah.
Mendengar kabar Soni akan menikah dengan Menik, hati bu Wagiyem ikut bahagia. Sebagai seorang ibu, beliau tahu bagaimana usaha Soni selama ini untuk memenangkan hati Menik dan Pak Broto.
***
Brak!
"Puas kalian berdua! Ulah kalian kali ini benar-benar melewati batas. Perusahaan yang Ayah bangun dari nol, akhirnya ambruk gara-gara kalian," sarkas Pak Hadi.
Pias menghiasi wajah Andi dan ibunya, sungguh semua di luar perhitungan mereka. Bu Widya terlalu berani mengusik Menik. Beliau tidak tahu jika perusahaan Adhisti telah diwariskan kepada Asih. Pakde Harjo dan Pak Broto begitu epik menyimpan status Menik sebagai pemilik perusahaan Adhisti.
Dugaan Pak Broto dan Pakde Harjo mengenai kelicikan bu Widya akhirnya terbukti. Ternyata usulan budhe Harmini untuk menyembunyikan status Menik sungguh tepat. Bahkan sampai saat ini, Menik tidak pernah tahu jika dia merupakan pewaris tunggal perusahaan Adhisti.
"Ma—maaf, Yah. Kami tidak tahu jika Menik mempunyai hubungan erat dengan pemilik perudahaan Adhisti. Padahal Andi dan Ibu sudah merencanakannya sebaik mungkin," ucap Andi lirih dan menunduk.
Plak! Plak! tamparan mendarat bertubi-tubi di wajah Andi.
"Cukup! Jangan Kamu pukul anakku!" seru Bu Widya dan memeluk Andi yang pasrah menerima pukulan dari Pak Hadi.
__ADS_1
"Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Percuma Aku menyayanginya seperti anakkku sendiri!" sinis Pak Hadi dan berlalu dari hadapan Andi serta Bu Widya.
Pak Rahmat mengikuti langkah panjang Pak Hadi. Beliau segera menyiapkan mobil untuk membawa tuannya untuk pergi dari kantor. Tujuannya adalah taman di mana Pak Hadi pertama kali bertemu dengan mendiang Asih.
Kedua laki-laki yang masih gagah meski sudah tidak lagi muda itu duduk berdampingan di deoan danau. Kesedihan menghiasi wajah Pak Hadi.
"Hadi ... boleh Aku bicara sebagai sahabat?" tanya Pak Rahmat.
"Hem ..." jawab Pak Hadi.
"Seharusnya Kamu jangan sampai kelepasan mengatakan Andi bukan anak kandungmu. Bukankah Kamu telah merawatnya dari dia di kandungan Widya?"
"Aku capek Mat, harus selalu menutupi semua kesalahannya. Apalagi mereka menyakiti Menik yang tidak tahu apa-apa. Widya terlalu dendam dengan mendiang Asih."
"Iya, Aku paham. Tapi tak seharusnya kamu kelepasan, Di."
"Sudahlah Mat. Semua sudah terlanjur. Biar Andi sadar tentang kesalahannya. Aku capek Mat. Usiaku tak lagi muda. Biarkan ini jadi pelajaran untuk Widya."
Tepukan halus mendarat di bahu Pak Hadi. Sebagai seorang sahabat, Pak Rahmat hanya bisa menasihati dan menemani Pak Hadi. Persahabatan di antara keduanya telah terjalin lama. Sebenarnya persahabatan mereka bukan hanya berdua saja, masih ada satu orang lagi.
Sementara itu di rumah Agus, Bu Islah nampak menginterogasi Agus karena beliau melihat ada beberapa luka lebam di wajah Agus.
"Kamu habis jatuh lagi?" tanya bu Islah penasaran.
Untuk menghindari pertanyaan bu Islah, Agus menganggukkan kepalanya. Dia bermaksud menyebunyikan semua peristiwa yang terjadi saat Bu Islah pergi arisan.
"Gus, tadi Menik ke sini?" tanya Astuti yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Agus.
"Walah ibu lupa memberitahu kamu, As. Tadi sebelum ibu berangkat arisan, Menik datang. Dan ibu menitipkan Agus pada Menik. Namun, setelah ibu pulang tidak berjumpa lagi dengan Menik. Ibu hanya melihat motor Menik terparkir di depan."
"Kamu tahu Menik ke sini, Gus?" tanya Astuti. Intuisinya membuat dia mencurigai Agus telah melakukan sesuatu terhadap Menik. Karena saat datang, Astuti sempat melihat motor Menik terparkir rapi di samping rumah.
__ADS_1
Gelengan kepala Agus, menjawab pertanyaan Astuti. Dia coba mempercayainya, meski seribu pertanyaan memenuhi pikirannya. Apalagi Astuti sempat melihat bros yang dia berikan kepada Menik, tergeletak di dekat bantal Agus.
Astuti hapal dengan bros tersebut, karena dia yang membelikannya. Meski penasaran, Astuti mengurungkan niatannya untuk mencecar Agus.