
"Ayah." teriak Astuti kala melihat Pak Dewa memegangi dadanya yang terasa sakit.
Sigap Astuti menangkap tubuh Pak Dewa yanf limbung. Agus pun tidak tinggal diam, dia membantu Astuti mengangkat tubuh Pak Dewa ke atas tempat tidur di kamar Agus.
Sirine ambulans membelah lalu lintas padat siang menjelang sore. Semua kendaraan menepi untuk memberikan jalan. Ambulans berhenti tepat di depan pintu IGD. Tubuh lemah Pak Dewa segera diberikan penanganan. Semua alat kesehatan melekat di tubuh beliau.
"Keluarga Bapak Dewa!" seru dokter yang bertugas di IGD.
"Saya, Dok," jawab Agus.
Air mata Agus menguar tanpa permisi saat mendengar penjelasan dokter mengenai kesehatan Pak Dewa. Agus hanya bisa meenyetujui semua tindakan yang akan dilakukan oleh dokter demi kesembuhan pak Dewa.
Gontai Agus melangkah menghampiri Astuti dan Bu Islah. Pandangan Agus terus menunduk, tidak berani menatap ke arah Bu Islah dan Astuti. Lidahnya kelu, tak tega menyampaikan keadaan Pak Dewa.
"Gus, apa kata dokter tentang ayah?" tanya Astuti lirih.
"A—A—Ayah terkena serangan jantung, Mbak," ucap Agus lesu.
Jeduar!
Penjelasan Agus mengenai keadaan Pak Dewa membuat Astuti limbung. Dia terduduk dan menangis. Sesal kembali menghampirinya.
"Seandainya As, bisa lebih menahan diri. Tentu Ayah tidak akan mengetahui masalah ini," gumam Astuti penuh sesal.
Bu Islah dan Agus menarik Astuti untuk berdiri. Setelah Astuti berdiri, ketiganya langsung berpelukan dan saling menguatkan. Agus berinisiatif untuk menghubungi kakak-kakaknya untuk diajak berdiskusi memutuskan tindakan medis yang akan dakukan terhadap Pak Dewa
Kesepakatan pun telah ada dan keluarga Pak Dewa tidak mau mengambil risiko, jadi mereka mendukung dilakukan tindakan pemasangan ring di jantung Pak Dewa.
***
Sinar mentari diam-diam menyusup ke dalam kamar Menik melalui celah-celah tirai yang menutup jendela.
"Nduk, bangun. Sebentar lagi penghulu datang. Setidaknya kamu harus tampil cantik hari ini," ucap Budhe Harmini.
__ADS_1
Setelah peristiwa itu, Pak Broto memilih menitipkan Menik kepada keluarga Pakdhe dan Budhe Harmini. Karena keamanan di rumah tersebut lebih aman dibandingkan dengan rumah Pak Broto.
Jika Menik berada di rumahnya, pasti grup nyinyir itu akan semakin membuatnya pusing. Apalagi berita tentang status Menik sudah berubah menjadi janda telah menyebar dari mulut ke mulut akibat mulut lemas Sri.
Sebenarnya Pak Broto ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Sri yang telah menyebarkan mengenai status Menik. Namun, Pakde Harjo melarangnya. Beliau memberi saran kepada Pak Broto untuk menunggu sampai semua urusan selesai. Pak Broto pun menyetujui usulan Pakde Harjo.
Menik segera masuk dalam kamar mandi. Ritual mandi Menik kali ini hanya berjalan sebentar. Menik hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi pagi ini. Ketukan di pintu kamar mandi mengisyaratkan agar dia segera mengakhiri ritual mandinya.
Pintu kamar mandi terbuka lebar, tubuh Menik langsung menegang melihat Soni duduk santai di atas tempat tidurnya. Sebenarnya Menik ingin kembali masuk kamar mandi. Tapi Menik urungkan. Langkahnya dibuat setenang mungkin untuk menutupi rasa malu Menik. Bukan hanya malu sebenarnya yang membuat Menik tidak nyaman saat Soni sudah berada di kamarnya, tetapi karena mereka belum menjadi pasangan yang sah. Seharusnya Soni belum boleh melihat Menik tanpa hijab.
Handuk merah bata membungkus rambut Menik, dan kimono yang dipakainya dari kamar mandi tak mampu menutupi dengan sempurna rubuh Menik.
Sudut mata Soni terus menatap Menik, yang perlahan mulai membuka rambut basahnya. Entah mendapat dorongan dari mana, Soni langsung mendekati Menik dan memeluknya dari belakangnya. Hidungnya menghidu aroma cokelat dari ceruk leher Menik.
Ada rasa kurang nyaman saat Soni memeluknya, namun Menik mencoba untuk menekannya.
"Kamu cantik. Membuat Ku tak tahan untuk menerkammu," bisik Soni di telinga Menik, dengan tangan yang masih melingkar sempurna di pinggang ramping Menik.
Mendengar kata-kata menerkam, tubuh Menik menjadi kaku. Kilatan peristiwa di kamar Agus berseliweran di depannya. Soni langsung tanggap dengan keadaan Menik. perlahan Soni melepaskan pelukannya.
Menik mengangguk pelan bertepatan dengan perias yang datang untuk merias Menik. Perias itu tampak mengulum senyum melihat Soni sempat merapikan kimono mandi Menik.
"Sabar, Mas. Pak Penghulu sudah datang, tak perlu menunggu malam bertamu. Langsung hajar saja," gurau perias pengatin.
Mata Menik melirik ke arah Soni dengan tajam. Mendapat lirikkan tajam Menik, Soni segera beranjak dari kamar Menik.
Tepukan di punggungnya, membuat Soni menoleh. Ternyata Mbak Diyah, kakak Soni yamg menepuk punggungnya.
"Sabar. Bentar lagi "sah". Jangan keburu napsu. Untung Aku melihatnya, jika tidak ... bisa-bisa Ibu akan segera dapat cucu," ejek Mbak Diyah.
"Mbak ini kalau ngomong nggak ada filternya. Jelek-jelek begini Soni masih punya moral, Mbak."
"Moral katamu Son-Son. Namanya kucing kalau ada ikan goreng di depan matanya langsung diterkam dan dibawa kabur sembunyi."
__ADS_1
"Soni bukan kucing, Mbak," seru Soni dan berjalan menjauh mendekati Pak Broto yang sedang berbincang dengan Pakde Harjo.
Perbincangan terlihat sangat serius. Terlihat Paakde Harjo sedamg berusaha merobohkan dinding keegoisan Pak Broto kali ini. Namun, hati Pak Broto sudah terlanjur beku. Beliau tetap kukuh dengan pendiriannya. Jika perusahaan Hadi menerima tawarannya, pasti Pak Broto akan mengampuninya.
Pembicaraan mereka terjeda kala melihat Soni berjalan ke arah mereka.
"Ayah, penghulunya barusan sampai. Masih cari parkiran."
Mengetahui penghulu sudah datang, Pak Broto segera memberihkan diri, dan menggunakan baju sesuai dengan pilihan Budhe Harmini. Sengaja kali ini Pak Broto tidak mengabarkan pernikahan Menik dengan Soni. Hanya orang-orang tertentu yang Pak Broto kabari.
Riasan Menik sudah selesai dan segera dibawa ke dekat Soni yang telah duduk nyaman di depan penghulu.
Setelah semuanya siap, akad nikah Menik dan Agus dilaksanakan. Bergema kata "Sah" seusai Soni dengan lantang dan lancar mengucapkan akad nikahnya. Terpancar kebahagiaan di mata semua orang.
Ince yang datang terlambat langsung berjalan ke depan dan memeluk Menil erat.
"Kamu jahat, Nik. Tidak kamu biarkan aku menamimu saat ini," ucap Ince sembari terisak.
"Maaf, Ce."
"Sudah-sudah, biarkan pengantinnya untuk memasangkan cincin di jari pasangannya, ujar pembawa acara.
Ince tersenyum mendangarnya. Dia pun beringsut menjauh dari meja akad nikah itu. Senyum juga ikut menghiasai wajah Ince. Dia ikut merasa senang, Menik mau menerima Soni sebagai suaminya dan melupakan Agus tentunya.
Akad nikah berlangsung dengan lancar, membuat senyum terus saja mengiasi wajah Soni. Berbeda dengan Menik, yang mulai was-was membayangkan akan diterkam Soni.
Hati Menik semakin kebat kebit melihat Soni yang selalu tersenyum saat pandangan mereka bertemu. Cepat-cepat Menik masuk ke dalam kamar.
"Gawat ini. Mas Soni kelihatannya benar-benar akan menerkamku saat ini. Mending aku pura-pura tidur siang sekarang," ucap Menik sembari melepas hiasan di kepalanya.
Tok ... tok ... terdengar ketukan pintu kamar membuat hati Menik semakin tak karuan.
Sengaja dia diam di tempat tidur tak bergerak. Menik merapal banyak doa, agar siang ini lolos dari terkaman Soni.
__ADS_1
Lelah berpura-bura tidur, akhirnya Menik benar-benar tertidur pulas.