
Gubrak!
A ... A!
Terdengar teriakan dari depan ruang keluarga. Bu Islah tergopoh-gopoh lari dari kebun menuju ruang keluarga.
"Astagfirullah!" teriak Bu Islah dan berlari mendekat.
"I—" ucapan Agus terjeda. Pandangannya tiba-tiba buram dan tubuhnya terasa ringan.
"Agus!" teriak Bu Islah panik sambil menggoyangkan bahu Agus.
Teriakan Bu Islah membuat Astuti menyudahi aktivitas menjahitnya. Dia berlari menuju ruang keluarga.
"Astagfirullah! Agus!" seru Astuti kala melihat Agus terkapar di lantai.
Astuti segera memanggil sepupunya yang kebetulan letak rumah mereka bersebelahan. Agus digotong menuju mobil dan dibawa ke rumah sakit.
Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, dokter memutuskan tangan Agus dipasang gips untuk sebulan ke depan. Agar tulang tangannya yang retak bisa kembali pulih.
Tiga hari dua malam Agus berada di rumah sakit tanpa kehadiran Wiwid di sampingnya. Sebenarnya Bu Islah ingin menghubungi Wiwid, namun Agus melarangnya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya Agus diperbolehkan untuk ke rumah.
Flashback on
"Agus ... Agus ... sini."
Terdengar suara perempuan menyerukan nama Agus dari atas plafon kamar. Agus menajamkan pendengarannya, dan suara itu semakin terdengar jelas. Penasaran dengan suara yang memanggil namanya, Agus mengambil tangga dan berniat untuk memeriksa siapa yang sudah menyerukan namanya.
Tangga silver itu disenderkan di dinding dekat lobang yang memang disediakan untuk masuk ke dalam plafon. Perlahan Agus menggeser penutup lobang tersebut. Dinyalakan senter untuk mengusir gelap dalam plafon. Senternya terus saja menyorot ke sudut-sudut plafon. Hingga sorot lampu senter itu menanggkap siluet seorang gadis tengah duduk di tengah-tengah plafon. Agus tak menyadari gerakan gadis itu yang tiba-tiba mendekat ke arahnya.
"Maaf," ujar gadis itu sembari mendorong ujung tangga yang digunakan oleh Agus.
Gubrak!
Tubuh Agus mendarat dengan sempurna di lantai keramik itu. Agus masih sempat menangkap senyum yang tersungging dari gadis itu sebelum menghilang.
Flashback off
Saat tiba di rumah, Agus memandang ke arah lobang plafon yang masih terbuka, karena belum sempat dia tutup.
__ADS_1
"Gus!" ucap Pak Dewa ketika melihat gelagat aneh Agus, yang dari tadi memperhatikan lobang plafon itu.
"I—ya, Yah," jawabnya sedikit tergagap.
"Lihat apa? Ayah belum sempat menutupnya. Lagi pula.kamu kemarin ngapain sampai mau naik ke plafon?" selidik Pak Dewa. Karena tidak biasanya Agus mau naik ke plafon.
"Ehm ...."
Agus mengehentikan ucapannya, tidak mungkin dia mengatakan kalau jatuh akibat didorong seorang gadis yang dia temui di atas plafon.
"Kenapa diam? Tak biasanya kamu mau naik ke plafon," ucap Pak Dewa.
"Ada tikus, Yah. Makanya Agus naik ke plafon untuk memasang jebakan," ucap Agus bohong.
"Ayah, ini gimana tho! Anak sakit bukannya dipapah ke kamar, tapi malah diintetogasi," sela bu Islah kesal.
"Ngapain harus dipapah? Bukan kakinya yang sakit, tapi tangannya. Tapi itu tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan Menik," ketus Pak Dewa terus berlalu dari hadapan bu Islah dan Agus.
Setitik bulir bening mengintip di sudut netra bu Islah. Agus segera menghapusnya, sebelum bulir-bulir itu keluar dari sudut netra bu Islah.
"Sudah, Bu. Jangan menangis lagi. Agus janji akan membawa Menik kembali, menjadi menantu kesayangan Ayah," janji Agus.
Mata dan pendengaran Agus masih mencari-cari gadis plafon, namun nihil. Suara itu telah menghilang. Jelas saja.sudah menghilanh, mana mungkin Darmi berdiam diri di rumah Agus.
Pengaruh obat penghilang rasa nyeri bekas operasi, membuat Agus gampang terlelap ke alam mimpi. Melihat Agus tertidur dari celah pintu, Bu Islah meninggalkan Agus untuk menghadiri arisan pensiunan kantor Pak Dewa.
Pak Dewa dan Bu Islah berangkat bertepatan dengan Menik yang datang ke rumah, sehingga Bu Islah menitipkan Agus kepada Menik.
"Ibu ke arisan sebentar, nitip Agus," ujar Bu Islah dan langsung berangkat sebelum Menik sempat menjawabnya.
Terpaku mendengar ucapan Bu Islah, membuat kaki Menik enggan melangkah ke dalam rumah. Maksud kedatangan Menik ingin mengantar pesanan hijab Astuti. Malah disuruh jaga Agus.
"Ngapain juga Ibu nitipkan mas Agus kepadaku. Dia kan sudah besar dan punya istri," gumam Menik.
Terpaksa Menik melangkah masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Agus. Terlihat dari celah pintu kamar, Agus terlelap dengan bertelanjang dada.
"Astagfirullah! Mataku ternoda," gumam Menik saat melihat pemandangan yang dulu pernah dilihatnya.
Merasa ada yang janggal dengan keadaaan Agus, Menik kembali mengintip ke dalam. Tampak oleh Menik, tangan Agus sebelah kiri terbalut gips.
__ADS_1
"Pantasan Ibu menitipkan mas Agus kepadaku. Ternyata tangannya terbalut gips," ucap Menik lirih takut membangunkan Agus.
Menik menuju dapur untuk melihat persediaan makanan untuk Agus. Karena kalau bu Islah berpesan nitip Agus, berarti beliau belum menyiapkan masakan untuk Agus.
Mengetahui tidak ada makanan yang disiapkan bu Islah, Menik berinisiatif memasak untuk Agus. Kebetulan di lemari es bu Islah ada daging, yang merupakan makanan favorit Agus. Menik mengolahnya menjadi rawon.
Selesai berkutat dengan peralatan dapur, rawon buatan Menik siap untuk dihidangkan. Disusunnya dalam satu nampan, nasi beserta lauknya dan segelas jus jambu merah kesukaan Agus.
Perlahan Menik membuka pintu kamar Agus, dengan mengendap-endap Menik menaruh nampan di atas nakas yang berada di samping tempat tidur Agus.
Mata Menik berkabut melihat Agua tertidur dengan satu tangan terbalut gips.
"Cepat sehat, Mas," gumam Menik dan melangkah keluar kamar Agus.
Langkah Menik terhenti saat tangannya digenggam oleh Agus, yang ternyata sudah terbangun sejak Menik memasak rawon. Harum bumbu rawon, mengusik tidur Agus.
"Lepas, Mas!" seru Menik dan mengibaskan tangan Agus.
"Nggak akan aku lepaskan! Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi!" seru Agus dan menarik Menik ke arahnya.
Tarikan Agus membuat Menik terhuyung dan jatuh tepat di dada telanjang Agus. Tangan Agus langsung memeluk Menik posesif. Menik meronta, namun Agus tetap tidak melepaskan Menik. Meski menggunakan satu tangan, Agus berusaha mempertahankan Menik tetap berada dalam pelukannya.
"Maaf," bisik Agus.
Menik bergeming, sambil membaca situasi. Mencari kesempatan agar bisa melepaskan pelukan Agus. Namun prediksi Menik salah, Agus membalikkan badan Menik sehingga berada di bawah badan Agus. Kaki Menik tidak bisa bergerak, karena Agus menindihnya. Begitu pula tangan Menik yang diletakkan Agus di atas kepala Menik dan ditahannya dengan tangan kanan Agus.
Nyali Menik ciut, saat melihat tatapan Agus terhadapnya. Terlihat kilatan napsu di mata Agus. Bibir Agus mulai bergerak mendekat ke arah bibir Menik. Kali pertama serangan Agus meleset dari target karena Menik memalingkan wajahnya.
Mendapat perlawanan Menik, membuat napsu Agus semakin menjadi. Dia kembali menyerang Menik, namun lagi-lagi gagal. Agus tak lagi mengincar bibir Menik, serangannya beralih menuju leher Menik yang terlihat karena hijabnya tersingkap.
Mendapat perlakuan Agus, Menik menangis dan memohon kepada Agus agar menghentikan semuanya. Rengekan Menik tak membuat Agus menghentikan perbuatannya yang semakin menjadi.
Beberapa kancing baju Menik terlepas, menampakkan sesuatu yang seharusnya sudah tidak boleh Agus lihat. Mata Agus semakin menampakkan gairah.
"Tolong Menik, ya Allah," gumam Menik.
"Kamu selalu bisa membangkitkan gairahku, meski hanya melihat bayanganmu," racau Agus yang dikuasai napsu.
Bug! Bug!
__ADS_1