Adhisti

Adhisti
Bab 32


__ADS_3

"Ehm—maaf mas, saya belum bisa memberi jawaban tawaran yang mas ajukan. Kalau pun saya harus menjawab, jawabannya akan tetap sama seperti dulu mas. Maaf." ucap Agus sembari menunduk menghindar dari tatapan tajam seniornya.


Andi membuang napas kasar, "Ingat Gus, tidak ada lagi kesempatan kedua. Aku tunggu jawaban mu sampai tugas ini berakhir." ucap Andi dan berlalu meninggalkan Agus yang masih terdiam.


Agus membuka gelari di poonselnya. Dipandanginya wajah teduh istrinya tatkala tertidur yang dia ambil diam-diam.


"Doakan aku tetap bisa bertahan Nik. Aku nggak mau kehilanganmu." gumamnya.


***


Waktu terus bergulir meninggalkan segenggam kenangan. Menik sudah mulai terbiasa tanpa kabar dari Agus, dan sudah sebulan ini Menik tidak pulang ke rumah. Bingung mau pulang ke mana. Pulang ke rumah pasti ketemu ibu sambung yang suka nyindir. Mau pulang ke rumah Agus, masih canggung rasanya. Apalagi Menik baru satu malam menginap di sana.


Tring ... satu pesan dari Ince masuk di ponsel Menik.


Ince: Nik, ayo berangkat. Aku sudah siap. Aku tunggu di gapura perahu.


Menik: Oke


Menik bergegas menjemput Ince di gapura perahu dan berangkat ke tempat magang. Sudah hampir dua bulan mereka magang. Keahlian menyunting naskah semakin terasah. Dan Ince juga sudah mulai menyelesaikan tugas tanpa bantuan Menik.


Guk ... guk ...


Seperti biasa kedatangan mereka di sambut dengan sapaan akrab si Bleki tanpa adanya kejaran lagi tentunya. Karena Bleki mulai hapal dengan mereka berdua.


"Hai Bleki, selamat pagi. Bleki kamu tambah ganteng dech." ledek Ince kepada Bleki yang sedang menikmati sarapan paginya.


Tentu saja Bleki diam tak menjawab sapaan Ince. Dasar Ince saja yang sok akrab, padahal dulu dia yang paling takut sama Bleki.


Om David yang mendengar Ince menyapa Bleki hanya menggelengkan kepala.


"Dasar bocah nggak jelas. Coba saja Bleki nggak aku ikat, pasti sudah dikejar lagi itu bocah." gumam om David.


Tak terasa kegiatan magang audah di penghujung waktu. Saatnya menulis laporan kegiatan selama magang. Untung saja laporannya berkelompok sehingga bisa cepat selesai karena dikerjakan bersama.


"Ce, kamu yang konsep laporannya, aku yang ngetik. Atau aku yang konsep kamu yang ngetik?" tawar Menik.


"Gini saja Nik, kamu yang konsep dan kamu yang ngetik, aku menemani saja." sahut Ince.


"Dasar kamu Ce, itu sama saja aku yang ngerjakan sendirian." seru Menik.


Ince yang mendengar Menik ngomel malah terkekeh. Sengaja Ince membuat jengkel Menik. Karena selama tiga bulan terakhir ini, Menik cenderung diam. Tak seperti biasanya yang ceria.


"Santai Nik, aku sudah dapat kok contoh laporan magang kakak tingkat tahun lalu. Tinggal ganti foto-fotonya saja." timpal Ince.


"Tumben kamu cerdas Ce. Kamu dapat dari mana contoh laporannya? Tumben gerak cepat."


"Dari seseorang yang saat ini singgah di hatiku." jawab Ince dengan senyum merekah.

__ADS_1


Melihat kelakuan Ince yang menjawab pertanyaan sembari senyum-senyum sendiri, Menik menoyor kepala Ince.


"Dasar halu kamu Ce. Bukannya sekarang yang singgah di hatimu Soni anak seni rupa?"


"Ais ... kamu ketinggalan cerita Nik, makanya jangan mikirin Agus terus. Sampai-sampai sahabatmu yang cantik jelita manjalita ini punya gebetan baru kamu nggak tahu."


Mendengar Ince menyebut nama Agus, seketika Menik terdiam. Dia baru ingat sudah hampir dua setengah bulan Agus tak ada kabar berita. Bahkan bu Islah juga tak diberi kabar oleh Agus. Beliau malah bertanya kepada Menik tentang kabar anaknya. Dan Menik hanya bisa bilang bahwa Agus baik-baik saja.


Melihat Menik yang terdiam, Ince merasa tak enak hati.


"Maaf Nik, aku mengingatkanmu tentang Agus. Sabar Nik, mungkin saat ini dia sedang sibuk mengumpulkan pundi-pundi emas untuk kehidupan kalian kelak." hibur Ince.


"Semoga ya Ce. Aku tak berharap banyak. Mungkin ini yang menyebabkan ayah dan ayah Dewa memberikan syarat itu kepada mas Agus." lirih Menik menjawab.


Ince menarik tangan Menik dan menggenggamnya, "Sabar Nik, semua pasti akan indah pada akhirnya."


"Aamiin." Menik mengamini ucapan Ince. Meski harapan di hatinya mulai terkikis seiring berjalannya waktu.


Setelah satu minggu menyusun laporan, Menik dan Ince berpamitan dengan karyawan penerbitan.


"Mas dan mbak yang baik, terima kasih atas bimbingannya selama kami berdua magang di sini. Maaf apabila selama kami magang sering membuat kesalahan. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih untuk semuanya. Kami pamit undur diri dari kantor ini." pamit Ince.


Mbak Santi selaku wakil pimpinan di kantor penerbitan, mewakili pak Waluyo, memberikan sertifikat magang sebagai bukti telah menyelesaikan program magang di kantor itu.


"Hm ... dik Menik, mbak Retno bertanya?" seru mbak Retno saat mereka akan pulang.


"Ini lho dik, mbak dapat titipan pertanyaan dari Wawan."


"Lhah kenapa mas Wawan nggak nanya sendiri ke Menik mbak?" sela Ince.


"Grogi katanya dik." jawab mbak Retno.


"Memangnya mas Wawan mau nanya apa mbak, sampai grogi nggak berani ngomong sendiri." ujar Ince.


"Dik Menik, sudah dengar belum kalau Wawan sama Rio taruhan siapa yang bisa ngajak dik Menik kondangan waktu itu."


Ince yang tidak mengetahui Menik pernah diajak kondangan Wawan dam Rio seketika menatap Menik minta penjelasan. Menik yang mendapat tatapan dari Ince, hanya menggeleng.


"Maksudnya apa mbak?" tanya Ince penasaran.


"Lho ... dik Tika nggak tahu kalau Wawan pernah ngajak dik Menik kondangan, meski di tolak sih." mbak Retno terkekeh saat mengucapkan Menik menolak ajakan Wawan. Karena mbak Retno sempat melihat sekelebat bayangan Wawan yang bersembunyi di balik tumpukkan buku.


"Nggak mbak, Menik nggak pernah cerita." ucapnya.


"Nik, kapan kejadiannya? Kamu kenapa nggak cerita sama aku? Kalau aku tahu kan, kita bisa ikut. Lumayan kan makan gratis."


"Maaf aku lupa Ce." jawab Menik.

__ADS_1


"Dik—" mbak Retno menyela percakapan antar Menik dan Tika "Dik Menik, mbak mau nanya saja. Apa dik Menik sudah punya pacar atau tunangan? Maaf kemarin mbak nggak sengaja lihat cincin yang ada di kalung dik Menik waktu kita wudhu berasama."


Krik ... krik ...


Menik seketika terdiam. Hatinya berkecamuk, bagaimana mbak Retno bisa melihatnya, padahal Menik merasa sudah menyembunyikan cincin itu sebaik.mungkin agar tak terlihat. Yah, ibarat pepatah seoandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga.


"Dik Menik." mbak Retno menyadarkan Menik yang terdiam.


"Eh iya mbak, maaf Menik malah melamun. Menik bingung mau jawab apa mbak. Sebenarnya Menik sudah—"


Belum sempat Menik menyelesaikan ucapannya, Ince menyela. Dia takut Menik akan jujur tentang pernikahnnya.


"Menik sudah tunangan mbak." sela Ince.


Duar ... seketika kaki Wawan terasa tak bertulang. Dia terduduk di antara tumpukan buku. Harapannya layu sebelum diperjuangkan. Rio yang melihat Wawan terduduk lemas segera menghampirinya.


"Nasib kita sama Wan. Padahal aku sudah berharap banyak, Menik akan mau sama aku. Eh, ternyata di luar jangkauan."


"Iya yo, nasib kita sama. Ha ... ha...." Wawan terkekeh menertawakan nasibnya sendiri.


"Tapi Wan, itu masih ada Tika. Kalau dilihat-lihat manis juga. Kalau Menik versi imut, kalau Tika versi preman manis." gurau Rio mengusir sedih di hatinya dan hati Wawan.


"Mana ada preman manis Yo. Kamu itu ada-ada saja."


"Ada Wan, itu buktinya Tika."


"Kalau gitu kamu tembak saja Tika, Yo."


Rio tak menjawab perkataan Wawan. Dia pun perlu waktu untuk menata kembali hatinya yang sempat porak poranda. Padahal harapannya sempat melambung, saat Menik bersedia menematinya membeli jam tangan dan ikat pinggang. Meski tidak berdua tentunya. Karena selalu ada Ince yang jadi pengawal Menik.


"Kapan tunangannya dik? Mbak kok nggak pernah lihat dik Menik diantar. Kemana-mana selalu sama dik Tika."


"Ehm .. iya mbak. Kebetulan tunangan Menik sedang tugas di luar." jelas Menik.


Maaf mbak, Menik bohong. Seandainya saja mas Agus membolehkan untuk membuka pernikahan ini, pasti Menik akan jujur, batin Menik.


"Walah ... ternyata LDR-an. Dik Menik nggak takut tunangannya digoda cewek lain." ledek mbak Retno.


"Kalau itu Menik pasrah saja mbak. Kan yang dosa bukan Menik. Kalau dia selingkuh, tinggal diputusin saja mbak. Beres." ucap Menik penuh keyakinan.


"Setuju Nik. Mati satu tumbuh seribu. Ha ... ha ...ha." sela Ince.


"Kalian ini memang menggemaskan, pantas saja Wawan sama Rio kesengsem."


"Menik saja kali mbak yang menggemaskan. Kalau saya kan garang." ucap Ince.


Ha ... ha ... ha...

__ADS_1


Ketiganya tergelak bersama, tanpa tahu dua orang laki-laki dewasa tengah terpuruk duduk di antara tumpukan buku. Akibat melabuhkan hatinya di dermaga yang sudah berpenghuni.


__ADS_2