Adhisti

Adhisti
Bab 22


__ADS_3

Suasana di rumah Menik sudah semakin sepi. Hanya beberapa tetangga yang masih terlihat membantu ibu sambung Menik merapikan bekas-bekas acara. Agus pun terlihat membantu menyusun kembali meja dan kursi di ruang tamu.


"Nduk, budhe pulang dulu. Ingat kamu sekarang sudah jadi seorang istri. Jadi harus bisa merubah sikap. Kurangi porsi manja dan merajuknya. Kasihan suamimu kalau kamu masih manja. Apalagi suamimu juga anak terakhir. Tentunya akan berbeda dengan kamu yang anak pertama." nasihat budhe Harmini.


"Nggih, budhe." jawab Menik


***


"Menik ... Ibu pulang dulu. Terima kasih sudah bersedia menjadi menantu ibu." Bu Islah memeluk Menik.


Astuti yang berada di belakang bu Islah ikut berpamitan, seraya memeluk Menik, "Selamat datang di keluarga Dewa dan terima kasih mau menjadi adik iparku."


Menik membalas pelukan dan perkataan Astuti, "Terima kasih juga mbak, karena sudi menjadikan Menik sebagai adik ipar."


Setelah berpamitan dengan pak Broto, keluarga pak Dewa berpamitan pulang. Menik segera menuju kamarnya dan menutup pitu serta menguncinya. Sejak kehadiran Sri Suketi, Menik punya kebiasaan baru yaitu mengunci kamar. Dia lupa kalau suaminya masih tertinggal di luar.


Tok ... tok ... tok


Agus mengetuk perlahan pintu kamar Menik. Kenapa juga pintu kamar di kunci, batin Agus. Jangan-jangan dia lupa kalau sudah punya suami, ucapnya dalam hati.


Sri yang melewati kamar Menik, heran mendapati Agus yang masih berdiri di depan pintu kamar.


"Agus, kenapa masih berdiri di depan pintu?" tanyanya. "Langsung masuk saja! Mulai sekarang nggak ada yang melarang Agus untuk masuk kamar Menik." ujarnya kembali.


"I—ya Mi, Agus sebenarnya mau masuk, cuma ... sepertinya pintu dikunci Menik dari dalam." kikuk Agus menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


Sri yang mendengar penuturan Agus yang baru saja menjadi menantunya selama empat jam itu, tersenyum simpul.


"Sini Gus, biar Mami yang ketuk. Semoga Menik dengar. Kalau nggak dengar, terpaksa cari kunci cadangan." Sri berjalan mendekati pintu kamar Menik, dan mengetuknya.


Namun belum ada jawaban dari kamar. Jelas nggak ada jawaban dari kamar, karena Menik tertidur masih lengkap dengan kebayanya. Hanya kembang goyang yang bertengger di kepalanya yang terlepas.


Pak Broto heran melihat istri dan menantunya berdiri di depan kamar Menik. Beliaupun menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Ada apa mi?" tanyanya.


"Kebetulan papi datang. Ini pi, kelihatannya Menik mengunci pintu dari dalam. Kasihan menantumu mau masuk tidak bisa." jelas Sri kepada pak Broto.


"Oalah ... sebentar papi ambilkan kunci cadangan. Semoga saja Menik mencabut kuncinya."


Selang berapa menit pak Broto kembali dengan seikat anak kunci di tangannya. Di cobalah satu persatu anak kunci tersebut. Sampai akhirnya ada yang pas. Namun ternyata Menik lupa mencabut anak kunci dari dalam. Sehingga pintu kamar gagal terbuka.


Sri melirik Agus yang wajahnya muram. "Sudah Gus, kamu ke kamar tamu dulu, nanti kalau Menik sudah bangun baru kamu ketuk lagi pintunya." saran Sri sembari menunjukkan kamar tamu untuk Agus.


Agus segera membuka kopernya untuk mencari baju ganti. Dipilihnya kaos oblong dan celana panjang berbahan kaos. Direbahkannya badan yang sedari tadi belum sempat istirahat. Lima menit berlalu terdengar dengkuran halus menandakan Agus sudah terlelap. Rencana tidur dengan istrinya sirna. Karena dia berakhir di kamar tamu.


Senja menyapa, netra Menik mengerjab melihat kamar yang mulai gelap. Ah, aku lupa menyalakan lampu, batinnya. Perlahan dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Saat berjalan melewati cermin yang ada di meja riasnya, seketika Menik tersadar kalau dia tertidur masih menggunakan kebaya.


"Ternyata aku lupa ganti baju." gumamnya sembari duduk di depan cermin untuk membersihkan sisa riasannya.


"Nduk ... nduk ..." mbah Minto memanggil cucunya dari balik pintu. Beliau hendak berpamitan untuk menginap di rumah pakde Harjo.


"Iya mbah, sebentar Menik buka pintunya."


"Masuk mbah." Menik mempersilakan mbah Minto masuk ke kamar.


"Nduk, simbah mau pamit dulu. Simbah mau ke rumah pakdemu."


Menik yang mendengar simbahnya berpamitan seketika cemberut.


"Mbah nggak sayang sama Menik?" rengeknya.


Mbah Minto mengelus perlahan tangan cucunya. "Bukannya simbah nggak sayang Menik, hanya saja budhemu dari tadi sudah telepon simbah untuk segera ke sana."


"Kalau simbah ke tempat budhe sekarang itu berarti mbah nggak sayang sama Menik." rajuknya.


"Nduk, bukan begitu. Menik tahu sendiri lusa mas Joko mau menikah juga. Jadi simbah harus bantuin budhe mu. Kan Menik juga lihat dari kemarin budhe Harmini juga membantu Mamimu." jelas mbah Minto.

__ADS_1


"Terserah simbah saja!" ketus Menik.


Mbah Minto memeluk Menik. "Jangan marah nduk, mbah tetap sayang Menik. Ingat sekarang Menik sudah menikah. Harus bisa merubah semua sikap."


"Iya mbah." jawabnya.


"Jangan cuma jawab iya-iya saja nduk. Buktinya sekarang mana suamimu?"


Refleks Menik mengedarkan pandangannya menyapu kamar. Dan ... ternyata tak terlihat sosok Agus di kamarnya.


"Nah, baru sadar sekarang kalu suamimu nggak ada." goda mbah Minto


Menik menutupi wajahmya dengan dua telapak tanggannya. Mbah Minto terkekeh melihat kelakuan cucunya.


Sri yang melewati kamar Menik menjadi penasaran mendengar tawa mertuanya. Dia pun segera bergabung masuk ke kamar Menik.


Seketika tawa Menik menghilang seiring kehadiran ibu sambungnya itu. Mbah Minto yang paham dengan suasana yang tiba-tiba menjadi dingin itu berucap, "Sri, kamu sembunyikan di mana cucu mantuku?"


"Sri nggak sembunyikan mak, hanya saja Sri suruh dia tidur di kamar tamu. Karena mau masuk ke kamar istrinya, malah dikunci dari dalam." sindirnya kepada Menik.


"Menik dengar nggak?" tanya mbah Minto. Karena beliau melihat Menik bergeming tak bereaksi. "Sana susul ke kamar tamu, kasihan sudah punya istri tidurnya di kamar tamu."


Menik mengangguk dan segera beranjak menuju kamar tamu. Dibukanya perlahan pimtu kamar itu. Terlihat Agus yang tertidur miring memeluk guling.


Ehm ... kelihatannya nyenyak sekali tidur mas Agus. Bagaimana cara aku banguninnya. Masak aku goyang-goyangkan badannya? batin Menik.


Alih-alih membangunkan Agus, Menik malah ikut berbaring di sebelah Agus. Untung saja Agus tidurnya miring menghadap tembok sambil meluk guling. Sehingga tak menyadari Menik berbaring di balik punggungnya.


"Sebentar lagi magrib, aku harus segera membangunkan mas Agus. Karena nggak baik tidur menjelang magrib. Tapi bagaimana caranya?" gumam Menik yang masih bingung mencari cara untuk membangunkan Agus.


Agus sebenarnya sudah bangun sejak mendengar Menik bergumam. Namun, dia enggan membuka mata. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Menik untuk membangunkannya.


Sambil memandang punggung Agus, lirih Menik memanggilnya. "Mas ... mas Agus ... bangun."

__ADS_1


Tetap tak ada respon dari Agus. Menik melihat sekeliling kamar. Matanya tertuju pada satu benda yang terletak di sudut kamar. Segera melintas ide cemerlang setelah melihatnya. Sepertinya ini cocok untuk membangunkan mas Agus, batinnya.


__ADS_2