Adhisti

Adhisti
Bab 75


__ADS_3

"Salah lihat apa, Nik?" tanya Soni yang mendengar gumaman Menik.


"Itu, foto Menik?" ucap Menik sambil menunjuk ke arah pigura yang tergantung di dinding.


"Iya," jawab Soni santai


"Makan dulu, Nduk. Ibu buatkan bubur untukmu," sela Bu Wagiyem sambil membawakan Menik bubur.


Tercium aroma wangi yang berasal dari bubur ayam buatan bu Wagiyem. Cacing di perut Menik berlomba untuk segera mendapatkan jatah makanan.


"Sini Bu, biar Soni yang menyuapi Menik."


"Menik bisa makan sendiri, Mas. Tidak perlu disuapi," seru Menik dan mengambil mangkok bubur dari nampan.


Hati bu Wagiyem terasa bahagia, melihat Menik menghabiskan semangkok bubur buatannya. Beliau serasa punya anak gadis lagi. Karena kedua kakak Soni, sejak menikah ikut suami mereka.


"Nik, sudah aku siapkan air hangat di kamar mandi. Ayo, aku bantu kamu mandi," ucap Soni santai.


Bu Wagiyen dan Menik terkejut mendengar ucapan santai Soni yang mempunyai banyak arti.


"Jangan ngadi-ngadi Le. Enak saja mau bantuin Menik mandi. Ibu tidak akan membiarkanmu menyentuh Menik melewati batas," tutur bu Wagiyem.


"Siapa yang ngadi-ngadi, Bu? Soni hanya ingun membantu Menik ke kamar mandi saja. Bukannya membantu Menik mandi ... kecuali ..."


"Kecuali apa Le?"


"Kecuali, Menik istri Soni," ujar Soni sambil terkekeh.


Bu Wagiyem hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Soni. Menik segera ke kamar mandi supaya airnya masih hangat.


Ketika Menik mandi, bu Wagiyem menagih cerita tentang Menik. Soni menceritakan semua peristiwa yang terjadi kemarin. Semuanya diceritakan tanpa terlewatkan. Soni secara gamblang juga meminta izin kepada bu Wagiyem untuk menikah dengan Menik begitu perceraiannya sah secara agama.


Mendengar ceeita Menik, bu Wagiyem menjadi geram. Beliau tidak habis pikir ada laki-laki yang seenaknya mempermainkan sebuah ikatan suci perkawinan.


Permintaan Soni untuk menikahi Menik tidak langsung bu Wagiyem setujui. Karena status Menik yang masih berstatus istri orang secara negara.


Namun, beliau berjanji akan memberikan restu apabila Menik sudah benar-benar berpisah dari Agus, baik secara agama maupun negara. Bagi beliau status janda yang akan Menik sandang, tidak mempengaruhi dalam menentukan kriteria menantu. Bagi beliau, yang penting anaknya bahagia.


Selesai mandi Menik ikut bergabung dengan bu Wagiyem dan Soni di belakang rumah. Baru kali ini Menik ke rumah Soni sampai masuk ke halaman belakang. Biasanya hanya sampai ruang tamu saja.

__ADS_1


Terlihat beberapa kandang burung puyuh berjajar rapi di halaman belakang. Bu Wagiyem sedang sibuk memanen telur burung puyuh sambil membawa ember sebagai tempatnya.


Selesai memanen telur burung puyuh, bu Wagiyem mendekati Menik.


"Nduk, kamu suka telur puyuh?" Kalau suka akan ibu masakkan."


"Tidak usah repot-repot Ibu. Menik rencananya sore ini mau pulang."


Mendengar kata pulang terucap dari bibir Menik, Soni langsung menoleh. Di letakkannya tempat pakan burung puyuh yang tengah dibersihkannya.


"Siapa yang mengizinkan kamu pulang?"


"Menik nggak mau merepotkan Mas terlalu lama."


"Terlalu lama? Belum juga dua puluh empat jam kamu di rumahku. Aku tidak akan membiarkanmu pulang saat ini. Tenangkan dirimu di sini. Kalau kamu pulang dan ketemu mami mu, pasti pikiranmu tambah kacau," ujar Soni.


"Tapi Mas,"


"Tidak pakai tapi-tapi an. Kalau aku bilang kamu tidak boleh pulang, ya tidak boleh pulang. Atau aku kabulkan cerita Agus kemarin."


Mendengar nama Agus, membuat hati Menik kembali sakit. Menik terdiam memikirkan ucapan Soni.


"Kamu cantik kalau nurut," ucap Soni dan refleks menarik Menik ke dalam pelukkannya.


"Aduh ... sakit Ibu," teriak Soni kesakitan akibat pinggangnya dicubit bu Wagiyem.


"Awas, kamu peluk-peluk Menik lagi. Ibu suruh kamu tidur di rumah Ririn atau Nita. Biar Menik di sini sama.Ibu," ancam bu Wagiyem.


Senyum Menik terbit, melihat keakraban bu Wagiyem dan Soni. Hingga tanpa sadar air matanya meleleh. Menik teringat keakrabanya dulu dengan mendianh bu Asih.


Sementara itu di kediaman Agus. Tampak Agus sedang menyusun berkas-berkas untuk mengesahkan perceraiannya dengan Menik. Terbersit rasa tidak rela, saat membayangkan Menik menikah dengan Soni, setelah resmi bercerai dengannya.


"Apa aku batalkan saja kata talakku," gumam Agus.


"Meski kamu batalkan,tetap saja kamu tidak bisa kembali dengan Menik. Karena sudah talak tiga," sarkas Astuti dan memmbiarkan Agus


Benar apa yang dikatakan Astuti, karena kalau sudah jatuh talak tiga, maka kalau mereka ingin bersama syaratnya adalah menikah dengan orang lain.


Semua berkas dimasukkan Agus ke dalam map. Dia periksa kembli berkaa-berkas agar tidak ada yang tertinggal. Hari ini rencana Agus, akan mengunjungi pak Broto untuk menyampaikan mengenai peristiwa kemarin.

__ADS_1


Rencana Agus yang ingin ke rumah pak Broto terlebih dulu diurungkannya. Agus pergi mengurus pendaftaran perceraiannya.


Sambil menunggu giliran mengisi data pribadi, Agus melihat ponselnya. Sontak.dia terkejut saat melihat puluhan panggilan dari Menik, kemarin.


"Ternyata kamu kemarin mencariku, tapi untuk memaafkanmu saat ini aku tidak bisa," gumam Agus.


Selesai mendatarkan perceraiannya, lagi-lagi Agis membatalkan niatnya ke rumah pak Broto. Agus sungkan ke sana, dan perasaan takut. Dia bingung harus memulainya.


"Horor juga, kalau aku harus berhadapan dengan pak Broto. Mending besok, aku ajak ayah atau ibu."


Agus pergi ke stasiun untuk mencetak tiket kereta. Meski masih sedikir pusing, Menik memaksa untuk menyapu halaman rumah Soni.


Sesekali terlihat beberapa kereta yang lewat di stasiun. Menik tidak menyadari ada yang memperhatikannya dari kejauhan.


"Ini rumah siapa? Mengapa Menik tinggal di sana?"


Banyak pernyatan muncul di otaknya. Agus sedikit maju merapat ke dekat pagar yang menjadi pemisah antara stasiun dengan rumah warga. Diawasinya Menik yang sedang menyapu halaman.


Agus masih terus memperhatikan Menik, sampai akhirnya mata Agus, melihat ada laki-laki yamg turun dari pohon mangga.


Agus semakin mendekat ketika menyadari seorang laki-laki yang bersama Menik. Mata Agus membulat, saat melihat siapa laki-laki itu.


Cekrek .. cekrek ... cekrek


Agus mengambil foto Menik dan Soni yang tengah nercanda.


"Ternyata kamu memang benar-benar licik, Nik, " gumam Agus.


Agus segera meninggalkan staaiun setelah urusannya selesai. Sengaja dia mengambil foto Menik dan Soni. Rencananya semua foto-foto akan Agus pakai sebagai bukti menguatkan tuduhannya.


"Kenapa kamu bisa bersamanya Nik. Kenapa bukan orang lain saja," gumam Agus.


Sesampainya di rumah, Agus lagsung masuk ke dalam kamar. Agus merenung, mengingat peristiwa kemarin.


Namun, lagi-lagi ego Agus lebih mendominasi daei pada hati nuraninya. Baginya tetap Menik yang bersalah.


Jika Agus masih terus menyalahkan Menik, berbandung terbalik dengan Menik yang sudah bisa menerima takdirnya.


"Mungkin takdirku dengan mas Agus, cukup terhenti di sini. Meski sakit aku harus ikhlas. Aku yakin rencana Allah lebih indah dari pada rencanaku," gumam Menik.

__ADS_1


"Takdirmu selanjutnya adalah menikah dengan ku, Nik," seru Soni yang tiba-tiba sudah berada di samping Menik sambil tersenyum.


__ADS_2