
Menik segera melajukan si hitam kesayangannya menuju makam mendiang bu Asih. Sampai di makam, Menik melihat ada taburan bunga di atas nisan bu Asih. Menandakan baru saja ada yang mengunjungi makam bu Asih.
"Assalamualaikum Ibu, Menik datang lagi sore ini. Namun Menik nggak bisa lama-lama bu, takut kemalaman di jalan." ucap Menik seraya membelai nisan berwarna merah tua.
Setelah melantunkan doa untuk mendiang bu Asih serta bulik dan simbah buyut yang sudah meninggal, Menik segera berpamitan.
"Ibu, bulik, mbah yut, Menik pamit dulu. Insya Allah kalau Menik pulang, Menik akan mampir lagi." janjinya.
Semribit angin membelai wajah Menik, seketika meremang bulu kuduk Menik. Dia segera bergegas untuk meninggalkan makam itu tanpa menoleh ke belakang. Pandangannya lurus ke depan. Dia sadar ada yang mengikutinya dari belakang.
Aku harus ke rumah simbah atau lanjut ke kos? batin Menik tak nyaman dengan kehadiran sosok yang terus mengikutinya.
Menik merapalkan semua doa yang dia hapal, sosok itu pun menghilang perlahan. Segera Menik melanjutkan perjalanan ke kota S. Sebenarnya Menik bermaksud mampir ke rumah mbah Minto. Tetapi dia urungkan, karena waktu beranjak senja. Dia harus bergegas, agar saat magrib sudah terlepas dari hutan M.
Isya menjelang ketika Menik sampai di tempat kos. Menik langsung masuk ke dalam kamar dan segera membersihkan diri. Suasana kos yang sepi mendukung Menik segera terlelap berpeluk mimpi.
Nonie heran melihat lampu kamar Menik menyala. Tak biasanya minggu malam Menik sudah berada di kos. Sebenarnya Nonie sudah curiga dengan apa yang terjadi dengan Menik. Banyak yang ingin ditanyakannya pada Menik, namun kesempatan itu belum ada.
Tok ... tok ...tok
Nonie mengetuk kamar Menik, namun tak ada jawaban. Tumben sudah tidur, batin Nonie. Dia pun segera berlalu menuju kamarnya kembali.
Tengah malam Menik dikejutkan suara ketukan di pintu kamarnya. Seketika bulu kuduk Menik meremang teringat kejadian di makam. Menik menutup telinganya dengan bantal, namun suara ketukan itu semakin didengarnya. Perlahan dengan rasa takut yang mendera, Menik membuka pintu kamarnya.
Betapa terkejutnya mendapati Fera yang berdiri di depan pintu kamar sembari tersenyum malu.
"Menik ... maaf membangunkanmu malam-malam." ujarnya.
"Ada apa Fe, hampir saja nggak aku bukain pintu. Aku kira mbak yang suka duduk di atas tandon."
"Jangan sebut dia Nik, ntar dia muncul di hadapan kita gimana."
"Ada apa kamu ketuk kamar orang malam-malam?" tanya Menik sambil menguap.
"Ehm, anu— Nik."
"Anu kenapa Fe?" tegas Menik.
"Boleh nggak aku tidur di kamarmu?"
"Memangnya kenapa kamar kamu Fe?" tanya Menik menyelidik.
"Nggak ada apa-apa sih, hanya saja perasaanku nggak enak Nik."
__ADS_1
"Tumben perasaanmu nggak enak Fe, biasanya kau cuek."
"Ntahlah Nik, aku juga bingung." ucap Fera seraya masuk dan berbaring di atas kasur lantai yang dibawanya.
Melihat Fera masuk kamar tanpa permisi, Menik hanya bisa geleng-geleng. Dia pun menutup pintu kamarnya. Tidak tega juga mengusirnya. Biarlah malam ini Fera menemaninya tidur.
***
Mentari mulai menghangatkan bumi yang sedari dini hari di sapa hujan. Perlahan kedua gadis yang lelap tertidur mulai megerjapkan matanya.
"Sudah pagi ternyata." gumam Menik.
"Pagi Nik, ternyata nyaman tidur sama kamu, kalau sama Fati, aku sering kena bom atom." canda Fera.
"Halah, modus kamu Fe. Bilang saja ntar malam mau tidur sama aku lagi." sindir Menik
"Kok kamu tahu sih, kalau ntar malam aku mau tidur sama kamu lagi Nik."
"Tahu lah, sudah kebiasaan kalau kami merasa ada yang aneh pasti cari teman untuk tidur."
"Nik, aku balik ke kamar ya. Mau lanjut tidur, mumpung nggak ada jadwal kuliah."
"Hem." jawab Menik.
Setelah Fera pindah ke kamarnya, Menik segera bersiap ke kampus. Kali ini dia absen menjemput Ince. Karena ada Dwi yang menjemput Ince.
Mimi melihat Ince fokus memandang bengkel fakultas seni rupa, melemparnya dengan kerikil yang ada di bawah kakinya.
"Apaan sih Mi, sakit tahu. Ganggu orang lagi konsentrasi melihat cowok ganteng." protes Ince sembari mengelus pipi yang terkena lemparan Mimi.
"Salah siapa dipanggil nggak nengok-nengok." bela Mimi.
Dwi dan Menik menghampiri keduanya dengan membawa empat kopi kekinian, merasa heran melihat Mimi dan Ince berdebat.
"Nik, mereka ngapain? Perasaan tadi meraka akur-akur saja waktu kita tinggal." ucap Dwi kepada Menik yang berdiri disebelahnya.
"Tahu tuh, Mimi sama Ince kalau ketemu pasti ada saja yang mereka debatkan."
Perdebatan Ince dan Mimi terjeda saat Menik dan Dwi berjalan menghampiri mereka.
"Kalian ngapain? Kelahi nggak lihat-lihat tempat." sindir Dwi.
"Mimi yang mulai duluan. Aku lagi asyik memandang calon pacarku masa depan, eh malah dilempar batu." sungut Ince.
__ADS_1
"Salah siapa aku panggil-panggil malah ngupil ... ups salah sebut." Mimi berucap sembari menutup mulutnya.
"Dasar Mimi suka pitnah, siapa juga yang ngupil, dibilangin aku lagi menatap calon pacar masa depanku, nggak percaya? Itu lihat, gantengnya."
Refleks Menik mengarahkan pandangannya ke dalam bengkel seni rupa. Ternyata terlihat Ghani sedang melukis dengan telaten. Pantas saja Ince terpesona.
Menik menyenggol Dwi dan memberikan isyarat agar Dwi melihat ke dalam bengkel. Dwi pun manggut-manggut setelah tahu apa yang menjadi fokus Ince.
"Makanya Ce, kalau cinta diungkapin saja." ledek Dwi.
"Penginku begitu juga, apa daya Aa Ghanni dingin sama aku. Ibarat kulkas, sikap Aa Ghani sedingin kulkas 4 pintu."
"Ce, kamu beneran suka sama Ghani?' tanya Mimi penasaran.
"Ho—oh Mi." mantab Ince menjawab pertanyaan Mimi.
"Tapi cintanya dalam diam Mi." timpal Dwi.
"Sudah-sudah nggak usah ribut, nie cepat di minum ntar meleleh es nya."
Mimi seketika memegang telapak tangan Menik, yang terlihat salah satu jarinya tersemat cincin yang belum pernah terlihat.
"Nik, ini cincin apa?" tanya Mimi dengan mata masih terfokus pada cincin.
"Cincin biasa Mi." jawab Menik dan menarik tangannya dari genggaman Mimi.
"Mana mungkin cincin biasa, coba lihat." seru Mimi, dan tanpa permisi melepas cincin itu dari jari Menik.
"Kenapa Mi? Cincin siapa itu?" tanya Dwi penasaran ketika melihat Mimi mengamati detail cincin tersebut.
"Cincin Menik. Dan— ternyata ada nama yang terukir di dalam cincin ini." seru Mimi sembari menunjukkan tulisan itu kepada Dwi.
Ince masih tidak memperhatikan kedua temannya mengamati dengan detail sebuah cincin. Ada nama terukir di dalamnya, yang Menik sendiri nggak tahu.
Menik menyenggol Ince, untuk ikut menjelaskan apa arti cincin itu. Ince yang mendapat senggolan, segera menoleh ke arah Menik dan mengikuti arah pandang Menik. Mata Ince membulat melihat cincin kawin Menik jadi objek pemelitian Dwi dan Mimi.
"Kalian ngapain lihat cincin orang?" seru Ince dan mengambil cincin dari tangan Dwi dan menyerahkan pada Menik.
"Ini Ce, kelihatannya teman kita satu ini menyembunyikan sesuatu." ucap Mimi penuh selidik.
"Betul Ce, apa yang dikatakan Mimi Bahkan aku jelas melihat di dalam cincin itu ada tulisannya A n A." seru Dwi menambahi ucapam Mimi.
"Halah kamu lupa ya, kalau Menik di rumah di panggil Adhis. Makanya inisialnya A." Ince berusaha mengalihkan kecurigaan pada dirinya.
__ADS_1
"Aku tahu kalau A itu Adhis, terus yang A satunya siapa?" seru Mimi.
"Hayo ngaku siapa yang dimaksud A satunya." tegas Mimi