
"Nik, tadi kamu video call sama siapa? Sampai harus sembunyi di parkiran?" tanya Dwi penasaran.
"Ada deh Wi. Ntar kapan-kapan aku kenalin." seloroh Menik.
"Ooh— pasti dia kan?" ujar Dwi sok tahu.
"Dia siapa Wi?" Menik balik bertanya.
"Itu yang kasih kamu cincin." seru Dwi dengan suara agak nyaring.
Darmawan yang duduk tak jauh dari mereka seketika menoleh ke arah mereka dengan pandangan penuh curiga. Lamat-lamat dia mendengar kata cincin. Karena penasaran, Darmawan mendekati Menik dan teman-temannya.
"Cincin apa maksudmu Wi?" tanya Darmawan kepada Dwi.
"Ehm—itu Wan, cincin baru Menik, bagus modelnya. Aku jadi kepingin beli." ucap Dwi mengalihkan pembicaraan.
"Ooh, aku kira cincin apa." Darmawan menjadi lega. Karena prasangkanya ternyata tidak benar. Dilirik sekilas cincin yang melingkar di jari Menik. "Bagus." gumamnya.
"Apanya yang bagus Wan?" tanya Dwi yang mendengar gumaman Darmawan.
"Cincin Menik. Pantasan kamu juga pengin beli."
"Sudah-sudah cincin biasa saja lho, kenapa kalian ini ribut sekali. Kalau pengin ya tinggal beli saja. Tanya sama Menik, belinya di mana. Bereskan." Ketus Mimi.
"Nik, pulang yuk. Aku pengin ngadem di kos kamu." ajak Ince yang mulai jengah dengan apa yang dibahas teman-temannya.
"Beneran nih mau ke kos ku? Nggak mau berduaan sama Ghani." ledek Menik.
"Sst ... sst, jangan keras-keras ngomongnya. Sebenarnya aku ingin jalan sama Ghani. Tapi dia masih sibuk menyelesaikan lukisan." bisik Ince takut terdengar Ghani yang masih ngobrol dengan Fendi.
"Wah, calon suami idaman nih, giat cari uang sejak muda." seru Menik menggoda Ince.
"Aamiin. Semoga dia jodohku Nik."
"Aamiin." sahut Menik.
"Nik, aku pamit sama Ghani dulu, takut dia mencariku."
"Hem ... aku tunggu di parkiran Ce." seru Menik dan berjalan menuju parkiran.
"Ghani, aku ke kos Menik dulu. Kalau sudah selesai melukis, kabari saja. Ntar aku ke sini." pamit Ince.
"Oke Yang. Nanti kalau sudah selesai melukis, aku saja yang ke kos Menik. Kasihan kalau panas-panas jalan kaki." respon Ghani.
__ADS_1
"Aku ikut Ghan." sela Darmawan.
"Ikut ke mana Wan? Main sela pembicaraan orang." ketus Ince.
"Ikut ke kos Menik lah, mumpung ada teman. Jadi bisa dipakai buat alasan." ujar Darmawan santai.
"Dasar modus." ketus Ince.
"Nggak apa-apa modus, yang penting bisa main ke kos Menik. Mumpung ada alasan." timpal Darmawan.
"Sudah-sudah Yang, jangan berdebat sama Darmawan lagi. Kasihan Menik nunggu di parkiran." sela Ghani melerai perdebatan nggak penting antara Ince dan Darmawan.
Mendengar ucapan Ghani, Ince segera menghampiri Menik yang sudah nangkring di atas motornya.
"Ce, kamu naiknya di depan pintu parkiran saja. Aku takut ntar kamu nyangkut lagi." cegah Menik saat melihat Ince bersiap naik motor.
"Iya-iya Nik. Aku saja yang nyangkut nggak begitu trauma. Malah kamu yang trauma." gurau Ince. Padahal dia sendiri juga trauma. Bukan karena jatuh yang membuat Ince trauma, melainkan malu dilihat banyak mahasiswa saat jatuh.
Tiba di kos, mereka berdua langsung rebahan di atas karpet bulu sembari menikmati semilir hembusan ac. Tak perlu waktu lama, keduanya tertidur.
Dert ... dert ...
Vibrasi ponsel Menik terus saja bergetar. Tertera di layar ponsel Menik, panggilan video call dari Agus. Karena Menik tertidur begitu nyenyak, panggilan itu terabaikan.
"Apa Menik tidur, sehingga tak menjawab panggilanku." gumam Agus sembari memandang ponselnya yang masih memanggil nomor Menik.
Karena masih belum ada tanda-tanda Menik mengangkat panggilannya, Agus memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Dia bergegas keluar kamar untuk makan siang.
Begitu sampai di ruang makan penginapan, Agus melihat Wiwid yang juga berada di sana. Duduk satu meja dengan Andi dan Utari. Agus memutuskan untuk menuda makan siangnya. Dia pun berbalik arah. Namun sayang, Wiwid terlanjur melihat dan langsung memanggil Agus.
"Agus, sini. Gabung dengan kami." serunya dengan melambaikan tangan ke arah Agus.
Dengan terpaksa Agus bergabung dengan mereka. Ketika Agus bermaksud mengambil piring, secepat kilat Wiwid mengambilnya, dan mengisi piring tersebut.
"Nasinya cukup segini atau nambah? Lauknya apa Gus?" tanya Wiwid dengan ceria.
"Aku ambil sendiri saja Wid. Nggak usah kamu repot-repot mengambilkan." seru Agus sembari mengambil piring lain. "Maaf mas Andi dan mbak Utari, saya pindah meja, bergabung dengan yang lainnya." pamit Agus dan segera beranjak meninggalkan meja.
Seketika amarah Wiwid memuncak, melihat secara terang-terangan Agus menolaknya di depan Andi dan Utari.
Prang ...
Terdengar suara piring tak bersalah terhempas ke lantai swhingga tak berbentuk lagi. Puluhan mata terfokus melihat ke arah sumber suara. Utari dengam sigap memeluk Wiwid untuk menenangkannya dan segera mengajaknya kembali ke kamar.
__ADS_1
Andi menatap Agus dengan tajam. Kilatan amarah terpampang jelas di mata Andi. "Tunggu balasanku Gus, kamu telah berani mempermalukan Wiwid." gumam Andi segera menyusul Utari yang membawa Wiwid kembali ke kamar.
"Wah ... kamu sungguh berani Gus menolak adiknya Andi. Hati-hati nilai kamu Gus." seru Soni memperingatkan Agus.
Agus menghela napas berat. "Aku siap mas, apapun yang akan terjadi ke depannya. Dari pada aku memberikan harapan palsu kepada adiknya."
"Coba kamu berada dalam bimbinganku Gus. Pasti aku tidak akan menyulitkanmu." ucap Soni sembari menepuk pundak Agus.
"Iya mas, sudah terlanjur. Biar sajalah. Saya hanya bisa pasrah, yang penting saya sudah berusaha sebaik mungkin."
"Semangat Gus. Dan kalau kamu masih bisa ganti penilai dan pembimbimg, aku siap." lanjut Soni.
Agus mengangguk mengiyakan ucapan Soni. Dia segera menyelesaikan makannya yang tertunda meski tak berselera lagi.
Sementara itu di kamar Wiwid semua barang berhamburan. Bantal dan sarungnya terserai berai. Andi yang melihat semua kekacuan hanya bisa berdecak kesal. Ya, Andi kesal dengan Agus, dan dia juga kesal dengan sikap Wiwid yang harus dituruti semua keinginannya.
"Sudah puas melempar barangnya?" sindir Andi sambil memasang kembali sarung dengan bantal yang sebelumnya sempat terpisah.
"Mas, harus secepatnya membuat Agus jadi miliku." teriak Wiwid.
"Iya aku janji. Tapi bukan begini caranya. Tunggu Agus wisuda baru aku akan bertindak. Kamu harus sabar, jangan grusa grusu seperti tadi. Yang ada Agus akan semakin menjauhi kamu. Dan lihat kamar penginapan ini jadi kacau. Apa kamu nggak malu dengan pemilik penginapan?" cecar Andi.
Wiwid terdiam mencerna dan meresapi semua kata-kata Andi. Akhirnya Wiwid mengalah.
"Iya mas, Wiwid akan tunggu saat itu tiba." ucapnya lirih.
"Nah itu baru adiknya Andi Altezza." seru Andi bangga.
Utari sebenarnya jengah melihat sikap dua kakak beradik itu. Namun dia tak bisa mencegahnya. Baginya diam lebih baik dari pada memberikan ide yang pasti akan ditolak oleh keduanya. Bagi Utari yang terpenting saat ini dia hidup damai dengan Andi. Meski kisah mereka tak begitu indah di awal pernikahan.
Dert .... dert ... ponsel Menik kembali bergetar. Perlahan Ince meraih ponsel yang letaknya lebih dekat dengannya.
"Nik, ponselmu bunyi terus." ucap Ince sembari mengangsurkan ponsel ke tangan Menik.
Dengan mata yang masih belum sempurna membuka, Menik menggeser tombol hijau untuk menerimanya.
"Halo, assalamualaikum Menik." terdengar suara yang tak asing bagi Menik.
Seketika mata Menik terbuka lebar melihat ke arah ponsel. Menik semakin terkejut saat dengan jelas melihat wajah yang tak asing baginya tersenyum lebar padanya.
Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Jennitra juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung karya Jennitra.
__ADS_1