
"Gimana Ayu, tertarik tidak dengan anak temannya Om?" tanya pak Broto kepada Ayu setelah berhasil membujuk Ayu untuk berkenalan dengan anak teman Pak Broto.
"Bentar Om, Ayu masih bingung. Izinkan Ayu berkenalan lebih jauh lagi. Setelah itu, baru Ayu bisa menjawab pertanyaan om Broto."
"Iya Ayu. Berkenalanlah lebih dalam lagi. Om nggak akan maksa Ayu. Semua keputusan ada di tangan Ayu."
"Iya Om."
Beb ... beb ... ponsel Ayu berdering. Tertera nama Yani di layar. Segera digesernya tombol hijau.
"Mbak Ayu di mana? Cepetan ke sini! Mas Jaka dan mbak Wulan mau ganti baju."
Tut ... tut ... tut
Belum sempat Ayu menjawab rentetan pertanyaan, Yani malahan memutuskan pnggilan secara sepihak. "Dasar bocah sableng, belum juga dijawab, main tutup telepon." gumam Ayu.
Ayu segera beranjak untuk bergabung dengan pagar ayu yang lain.
"Maaf telat." ujar Ayu sambil tersenyum.
Yani memutar bola mata dengan malas menanggapi permintaan maaf Ayu.
"Sudah-sudah, ayo berdiri sesuai dengan formasi tadi." sela mbak Elma pemilik WO.
Dengan iringan gending ayak-ayak pagar ayu menuju ke gapura pengantin untuk menjemput pengantin untuk berganti baju.
Kemudian pengantin beranjak dari pelaminan untuk berganti baju dengan diiringi gending ketawang langengito. Lagi-lagi beberapa pasang mata memperhatikan pagar ayu dan pagar bagus. Siapa tahu ada yang bisa dijadikan menantu.
Tak berselang lama, setelah berganti pakaian pengantin kembali ke pelaminan dengn iringan gendung ketawang subokastowo. Pasangan pengantin itu terlihat sangat serasi. Senyum tak pernah lepas menghiasi wajah keduanya.
Setelah mengantar pasangan pengantin ke pelaminan, pagar ayu kembali beranjak dari gapura pengantin dengan iringan gending dolanan lelagon gelang kalung.
Nuansa budaya jawa sangat kental di prosesi pernikahan Jaka dan Wulan. Karena kebetulan pakde Harjo masih ada garis keturunan ningrat.
Rangkaian acara pernikahan Jaka dan Wulan telah usai. Satu persatu tamu dan kerabat jauh mulai berpamitan. Begitu halnya dengan pak Dewa, yang dimasukkan dalam undangan khusus keluarga.
"Jo aku pamit dulu." pamit pak Dewa kepada pakde Harjo.
"Kenapa buru-buru pulang Wa, tunggulah sebentar lagi." harap pakde Harjo.
"Maaf Jo, aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Karena Agus mendadak harus berangkat malam ini."
"Hah!" terkejut pakde Harjo mendengar Agus berangkat malam ini. "Lah bukannya masih Sabtu depan?" tanya pakde Harjo memastikan kebenaran informasi yang beliau dengar.
"Itulah Jo, kami juga kaget. Agus pun bingung bagaimana cara menjelaskan ke istrinya. Kamu kan tahu sendiri, keponakanmu itu."
"Ya, aku tahu. Menik tak bisa mendengar kabar secara tiba-tiba. Dia masih trauma dengan kepergian Asih." Pakde Harjo memandang keponakkannya dari jauh.
__ADS_1
"Itulah Jo. Semoga saja istriku bisa menyampaikannya pelan-pelan." ucap pak Dewa penuh keraguan.
***
"Mas, kita mau ke mana? Mengapa lewat sini?" tanya Menik, yang heran melihat rute yang mereka lalui.
"Hari ini, kita pulang sebentar ke rumahku. Ada yang harus ku persiapkan." lirih Agus menjawab.
"Ooh ... kirain mau ke mana."
Agus tak menimpali lagi jawaban dari Menik. Dia terlalu fokus memikirkan cara untuk menyampaikan keberangkatannya nanti malam. Sesekali Agus melirik istrinya yang asyik melihat galeri foto di ponselnya.
"Aku harus ngomong apa sama kamu." gumam Agus.
Mendengar lirih gumaman Agus, Menik menoleh, "Mas mau ngomong sama siapa? Nggak usah bingung apalagi galau."
"Nggak kok, mas nggak mau ngomong sama siapa-siapa. Tapi ntar di rumah, mas mau bicara serius sama Menik."
Deg
Jantung Menik berdegub kencang mendengar Agus hendak bicara serius dengannya. Sebuah firasat menghampirinya. Akankah mas Agus berangkat secepatnya? batin Menik.
Tak terasa mobil Agus memasuki halaman rumahnya. Jarak jalan dengan rumah Agus tak begitu mepet. Begitu masuk halaman, disuguhkan pemandangan pohon mangga yang berbuah tak mengenal musim. Maklum, pak Dewa kan orang kehutanan dan bu Islah pertanian. Jadi selain halaman luas, rumah keluarga itu juga terdapat banyak tanaman.
"Nik, ayo turun." ucapnya, namun tak segera mendapat tanggapan dari Menik. Agus menoleh ke arah kursi penumpang di sebelahnya.
Perlahan Agus mengguncang bahu Menik, "Nik ... Menik ... bangun, kita sudah sampai di rumah ibu."
Menik bergeming, masih lelap tertidur. Akhirnya Agus berinisaiatif memggendongnya saja. Agus keluar dari pintu samping kemudi, dan memutari mobil. Kemudian Agus membuka pintu penumpang di mana Menik duduk.
Agus melepas safety bealt yang menahan Menik tak terjatuh saat tidur. Disisipkan tangan Agus di lipatan lutut dan leher Menik. Namun belum sempat tubuh Menik seratus persen terangkat. Agus dikejutkan oleh Menik yang tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar.
"Mas ... mas mau ngapain?" tanya Menik panik sembari berusaha menggagalkan rencana Agus.
"Menggendongmu." santai Agus menjawab pertanyaan Menik.
"Turunkan Menik mas! Menik bisa jalan sendiri."
Dan ... bruk ...
Agus melepaskan tangannya. Dengan mulus bokong Menik mendarat kembali di kursi.
"Aduh." erang Menik.
Agus yang mendengar Menih mengaduh bukannya menolong malah melenggang masuk ke dalam rumah.
Awas kamu mas, tunggu pembalasanku. batin Menik.
__ADS_1
***
Rumah Agus terlihat lengang, pak Dewa, bu Islah, dan Astuti belum terlihat ketika Menik datang.
"Aku harus masuk kamar siapa nie? Nggak enak kalau langsung masuk ke kamar mas Agus. Lagi pula dia nggak ngajak aku masuk. mendingan ke kamar mbak Astuti saja. Ngadem, melanjutkan mimpi." gumam Menik.
Kamar mbak Astuti memang nyaman, meski tak terlalu luas. Kamar itu berisi kasur ukuran single yang muat untuk satu orang, meja belajar, serta almari baju. Sebenarnya Astuti sudah disuruh pindah ke kamar yang lebih luas. Namun Astuti tidak menyetujuinya dengan alasan sudah nyaman dengan kamar itu.
Selang tiga puluh menit, Agus baru tersadar jika Menik tak mengikuti masuk ke kamarnya.
Jangan-jangan dia tidur lagi di mobil. Kalau kerahuan ibu suri, bisa jadi adonan kue. batin Agus.
Dia segera beranjak ke garasi mobil. Namun tak kunjung menemukan Menik. Agus kembali beranjak menuju area kolam ikan, dan lagi-lagi Menik tak berada di sana. Selintas pemikiran menghampiri Agus. "Kenapa tak aku cari saja di kamar mbak As. Kan selama ini kalau pas istirahat ngajar dulu, dia selalu tidur di sana". batin Agus.
Ceklek ...
Terbukalah kamar Astuti. Terlihat Menik meringkuk di atas kasur Astuti. Alih-alih membangunkan Menik, Agus malah ikut berbaring di samping Menik.
Dipandanginya wajah ayu sedang terlelap. Rasanya nggak rela aku malam ini harus berangkat. Batin Agus.
Tak memerlukan waktu lama. Dua pengantin baru itu terlelap, dengan Agus yang memeluk Menik dengan posesif.
Saat kedua pengantin baru itu sembari berpelukan, pak dewa, bu Islah, dan mbak Astuti memasuki halaman.
"Ibu, As ngantuk. Ntar saja kita rapikan." seru nya.
"Ibu juga ngantuk As, mau langsung ke kamar." jawab bu Islah.
Kriet ... pintu tua kamar Astuti terbuka.
Seketika mata Astuti membulat menyaksikan sepasang anak manusia tertidur dengan lelapnya.
"Ups." Apa-apaan ini sudah tidur bareng. Pelukan pula." sarkas Astuti.
Akhirnya Astuti yang mengalah. Dia beranjak menuju kamar kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum." seru Astuti.
"Ada apa As, ibu mu sedang mandi."
"Sini deh Yah. As lihatkan pemandangan indah senja ini. Tapi ayah harus janji tanpa suara kita ke sana."
"Oke. Ayah ikuti permainan kamu As."
Pak Dewa memgekori Astuti yang yang beranjak menuju kamar Astuti. Sampai di depan kamar Astuti, perlahan pak Dewa memutar kenop pintu.
Kriet ...
__ADS_1
"Astagfirullah."