Adhisti

Adhisti
Bab 76


__ADS_3

"Takdirmu selanjutnya adalah menikah dengan ku, Nik," seru Soni yang tiba-tiba sudah berada di samping Menik sambil tersenyum.


Menik terhenyak mendengar ucapan Soni. Dia tersenyum, dan berkata, "Menik hanya mengikuti takdir yang telah ditulis Allah, Mas."


"Kali ini aku mohon kamu tak menolakku lagi, Nik," ujar Soni sambil menatap lekat ke arah Menik.


Melihat Soni menatapnya begitu dalam, Menik menjadi salah tingkah. Menik mengalihkan pandangannya, tidak berani dia membalas tatapan Soni.


Kring ... kring ... dering ponsel menggema memecah keheningan di antara Menik dan Soni. Tertera nama Agus di layar ponsel Soni. Mata Soni memicing saat tahu Agus yang meneleponnya.


"Nik, lihat siapa yang video call," ucap Soni dan melihatkan ponselnya ke arah Menik.


"Angkat saja, Mas," ucap Menik dan beranjak dari dekat Soni.


Namun, Soni menarik tangan Menik untuk kembali duduk di sampingnya. Sebenarnya Menik enggan duduk kembali. Masih malas rasanya melihat wajah Agus, meski hanya lewat layar ponsel.


"Assalamualaikum," salam Soni saat menerima panggilan video Agus.


Bukannya menjawab salam Soni, Agus lansung tancap gas mengucapkan sumpah serapahnya. Soni tersenyum miring mendengar ucapan dan melihat wajah Agus yang emosi.


Sengaja Soni menarik Menik agar semakin dekatnya, sehingga Agus bisa melihat wajah Menik. Melihat Menik ada di dekat Soni, amarah Agus semakin meledak.


"Pantasan nomorku kamu blokir, ternyata kamu sedang bersama selingkuhanmu," ketus Agus.


Menik bergeming mendengar semua ucaoan Agus. Namun, akhirnya Menik tidak tahan juga. Dia berdiri, namun Soni kembali menahannya.


"Tetap di sampingku, Nik. Aku akan menjagamu," ucap Soni lembut.


Bagaikan api tersiram pertamax, api cemburu Agus semakin membara mendengar ucapan Soni.


"Nggak usah bangga. Kamu hanya mendapatkan bekasku," sarkas Agus sembari tersenyum mengejek.


"Bukannya terbalik? Kemarin kamu bilang, Menik sudah aku sentuh. Berarti bukan aku yang mendapat bekasmu. Tapi kamu yang mendapat bekasku," sindir Soni.


Ucapan Soni mampu membungkam Agus. Terrbukti Agus langsung mengakhiri panggilannya. Soni tergelak melihat Agus begitu emosi. Tawa Soni menular pada Menik, meski tidak sekencang tawa Soni.


***


Terlihat Agus uring-uringan setelah mendengar ejekan Soni. Maksud hati ingin mengejek Soni, ejekan itu malah berbalik kepada Agus.

__ADS_1


"Tunggu saja, akan aku persulit Menik lepas dariku," gumam Agus.


Sebuah rencana licik telah tersusun rapi di dalam otak Agus. Rencana untuk menunda perceraiamnya dengan Menik. Agar Menik tak bisa segera menikah dengan Soni.


Suasana makan malam di keluarga pak Dewa tersa begitu dingin. Tidak ada obrolan sama sekali. Bahkan sejak kemarin pak Dewa mendiamkan bu Islah dan Agus. Beliau kecewa dengan sikap bu Islah yang masih membela Agus.


Setelah makan malam, pak Dewa menuju teras depan sambil menikmati secangkir kopi yang dibuatkan Astuti.


"As, sudah kau tanya sampai mana pengajuan berkas perpisahan Agus?" tanya pak Dewa pada Astuti yang menemaninya malam ini.


"Belum, Yah. Tapi tadi As, sempat dengar Agus bercerita dengan Ibu. Kalau tidak salah, tadi Agus ke pengadilan agama mengurus berkas-berkas," jelas Astuti.


"Ayah harap, prosesnya segera selesai. Kasihan Menik kalau statusnya digantung Agus."


"Iya, Yah. Astuti juga berharap secepatnya Menik pisah sama Agus. Insya Allah, As akan menghubungi teman yang ada di pengadilan agama. Siapa tahu bisa menolong memoercepat prosesnya."


"Ayah percayakan urusan Agus padamu As. Tapi, Agus dan ibi mu jangan sampai tahu, kalau kamu memantaunya."


"Insya Allah , As akan gerak senyap, Yah," ucap Astuti bersungguh-sungguh.


Jika Astuti dan pak Dewa berada di pihak Menik, berbeda dengan bu Islah yang mulai memihak Agus. Karena termakan cerita Agus, tentang Menik yang mendua.


Mendengar cerita Agus, bu Islah menjadi geram dengan Menik. Beliau tidak menyangka jika mantan menantunya yang kelihatan polos, ternyata bisa berbuat seperti itu.


"Ibu, Agus ada rencana. Tapi jangan cerita sama Ayah dan mbak As," ucap Agus setengaj berbisik.


"Rencana apa?" tanya bu Islah penasaran.


Agus segera menceritakan rencananya yang akan sedikit mempersulit proses cerainya. Dengan alasan agar Menik dan Soni tidak dapat segera menikah.


Bu Islah manggut-manggut mendengar rencana spektakuler yang sudah dirancang Agus. Tapi bukankah, dengan mempersulit proses cerainya dengan Menik juga akan menghambat jalannya untuk menjadi menantu bos perkapalan. Sayangnya pikiran Agus tidak sampai kesana. Otak Agus saat ini isinya hanya Menik.


Rasa nyaman selama menikah dengan Menik, membuatnya merasa begitu kehilangan saat tahu Menik bersama Soni. Ditambah dengan rasa sesal yang terus muncul menggerogoti egonya. Membuat Agus bermimpi buruk setiap malamnya.


Beberapa hari ini Agus selalu bermimpi melihat Menik tersenyum bersama Soni. Seringkali Agus terbangun dintengah tidurnya sembari memanggil nama Menik.


***


Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Menik memberanikan untuk pulang, meski Soni masih melarangnya.

__ADS_1


"Menik harus pulang, kalau tidak ayah pasti akan curiga. Jadi biarkan Menik pulang, sekaian mengembalikan mobil," ucap Menik memberikan penjelasan kepada Soni.


Berat hati Soni mengizinkan Menik pulang. Diam-diam Soni membututi Menik sampai di rumahnya. Dia baru meninggalkan rumah Menik, setelah melihatnya masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," salam Menik yang tidak mendapat jawaban dari dalam rumah. Untung saja Menik membawa kunci cadangan. Sehingga dia bisa masuk rumah.


Rumah terlihat lengang, tidak ada orang di rumah. Menik masuk ke dalam kamarnya. Pandangan Menik tertuju pada pigura yang tergantung di dinding. Terlihat Agus dan dirinya tersenyum malu-malu ke arah kamera di dalam foto itu.


Setitik air mulai menggenang di sudut matanya. Digapainya pigura itu, diusapnya perlahan.


"Semua sudah jadi kenangan. Namun sayang bukan kenangan manis yang ada, hanya kenangan pahit yang tersisa," gumamnya lirih.


Semua pigura yang berisi foto pernikahannya disimpan oleh Menik. Perhiasan yang dibelikan bu Islah maupun Agus telah dikemasnya kembali. Rencananya setelah dia bisa berdamai dengan hatinya, dia akan ke rumah Agus mengembalikan semua barang pemberian Agus.


Air mata luruh menemani Menik mengepak semua kenangannya bersama Agus. Ada satu benda milik Agus yang Menik lewatkan. Karena tertumpuk dengan baju-baju Menik.


Setelah semuanya di masukkan ke dalam kardus, Menik mulai mengangkatnya ke dalam gudang.


"Perlu bantuan?"


Hampir saja kardus yang berada di tangan Menik terjatuh gara-gara mendengar suara yang menawarkan banruan. Menik menoleh ke arah suara. Terlihat sosok yang sudah sering Menik lihat sejak kecil.


"Mbak Darmi," seru Menik sambil menetralkan ritme jantungnya.


Senyum tersungging di bibir Darmi. Perlahan dia mendekat ke arah Menik. Semerbak harum bunga menyeruak memenuhi indra penciuman Menik.


"Menik bisa sendiri, Mbak. Cuma se-kardus saja."


Darmi mengurungkan niatnya untuk membantu mengangkat kardus. Dengan setia Darmi menunggu Menik menyimpan kardus di dalam gudang. Begitu melihat Menik selesai menyimpan kardus, Darmi kembali mendekat.


"Nduk, kali ini izinkan aku memberikan pelajaran pada Agus," ucap Darmi.


Menik menatap ke arah Darmi dan menggeleng. Melihat gelengan Menik, Darmi sedikit kecewa. Dia protes kepada Menik, "Kali ini aku tetap akan bertindak meski kamu melarangku. Karena dia sudah sembarangan menuduhmu."


"Mbak, kali ini biarkan Menik yang menyelesaikannya sendiri. Kalau Mbak Darmi nekat ... Menik nggak mau bertemu sama mbak Darmi lagi," rajuk Menik.


Meski kecewa, dengan berat hati Darmi mengabulkan permintaan Menik.


"Baiklah, kali ini aku menurutimu. Tapi kalau Agus semakin keterlaluan padamu, aku tetap akan maju. Biar dia merasakan sakit, seperti yang kamu rasakan saat ini," tandas Darmi dan menghilang tanpa pamit.

__ADS_1


__ADS_2