Adhisti

Adhisti
Bab 87


__ADS_3

"Nik, kamu ridho Aku menikah dengan Wiwid?" seru Agus membuat Menik urung melangkah.


Menik tersenyum sinis mendengar ucapan Agus. Perlahan dia mendekati Agus, berdiri tepat di depannya.


"Semua sudah tidak penting Mas. Ridho atau tidak, bukankah Mas sudah memutuskan. Jadi mengapa ditanyakan kembali sesuatu yang sudah jelas," sarkas Menik.


Kata-kata Menik berhasil membuat Agus terdiam. Berbeda dengan pak Hadi yang terkejut mengetahui fakta mengenai siapa mantan istri Agus.


Maafkan Aku, Sih. Seandainya Aku tahu jika anakku merebut suami anakmu. Pasti aku tidak akan merestuinya, batin pak Hadi.


Pandangan pak Hadi terus menatap ke arah Menik yang mulai menjauh dari pelaminan. Rasa bersalah menderanya. Tak terasa sudut netra pak Hadi mulai menggenang menunggu luruh.


Menik terus melangkah meski kaki terasa tak bertulang. Sampai di luar hotel, Menik limbung. Hampir saja jatuh, untung ada Soni yang setia menemani Menik. Langsung di peluk tubuh Menik yang limbung. Tangis Menik pecah dalam dekapan Soni.


"Seperti janjiku saat itu, menangislah sepuasmu. Pundakku selalu siap untuk menjadi tempatmu bersandar," ucap Soni sambil menepuk-nepuk pundak Menik yang masih berguncang.


Sementara itu di atas pelaminan, wajah pak Hadi tiba-tiba berubah. Tangannya mengepal setelah mendapat kabar saham perusahaannya turun dan salah satu investor menarik sahamnya.


Beliau turun dari pelaminan dengan berlari. Melihat ayahnya berlari, Andi bergegas mengerjarnya.


"Ayah!" teriak Andi menghenrikan langkah pak Hadi.


Pak Hadi menoleh ke arah Andi sekilas dan bermaksud masuk ke dalam mobil yang telah dipersiapkan oleh sopirnya. Sebelum pintu mobil tertutup, Andi menahannya dan ikut masuk ke dalam mobil.


Sopir segera menginjak pedal gas dalam-dalam dan segera melesat menuju perusahaan pak Hadi.


"Ada apa Ayah? Mengapa terburu-buru," tanya Andi penasaran.


Terdengar hembusan napas panjang pak Hadi dan berkata, "Saham perusahaan anjlok. Para investor mengundurkan diri. Beberapa proyek dibatalkan."


"Apa!" seru Andi lantang.


"Seperti yang kau dengar tadi. Ayah juga baru mendapatkan informasinya," ucap pak Hadi lirih.


"Ulah siapa, Yah?"


"Ulah Kamu!" tegas pak Hadi.


Jeduar ... Andi terkejut dengan ucapan pak Hadi yang mengatakan ini ulahnya. Berpikir sekeras apapun Andi, tetap tidak menemukan benang merah turunnya harga saham perusahaan dengannya.

__ADS_1


"Ma-maksud Ayah apa? Andi tidak bersalah," ucapnya membela diri.


"Masih belum sadar apa kesalahan mu?"ketus Pak Hadi dan segera turun dari mobil yang telah sampai di depan pintu perusahaannya.


Langkah lebar Pak Hadi terkesan tergesa-gesa. Tampak asisten pribadi yang kerepotan menyamai langkah beliau.


"Ayah ... Ayah," seru Andi dan mengejar Pak Hadi yang tak merespon panggilannya.


Brak!


Pintu ruangan Pak Hadi ditutup dengan kencang tepat di depan wajah Andi. Terpaksa Andi menghentikan langkahnya dan menuju ruangan pribadinya.


"Rahmat, sudah kau cari siapa saja yang menarik saham di perusahaan?" tanya Pak Hadi kepada sekertaris pribadinya.


Bingung bagaimana cara menjelaskan pada tuannya, Pak Rahmat terdiam. Menyusun kata-kata yang tepat untuk menyampaikan kondisi perusahaan saat ini.


"Ma—maaf Tuan. Seperti yang Tuan ketahui, Pak Pandu menarik semua sahamnya di perusahaan kita. Beliau melakukannya tepat saat menantu ada mengikrarkan ijab qobul."


Jadi ini yang dikatakan Broto tempo hari. Bahwa dia akan memberikan kado terindah untukku, batin Pak Hadi.


"Selain Pandu siapa lagi?" tanya pak Hadi sembari memijit keningnya.


"Perusahaan Adhisti, Tuan."


Pak Hadi sepertinya pernah mendengar nama itu. Sejenak beliau diam untuk mengingat di mana pernah mendengar nama Adhisti.


Adhisti .... adhisti ... bukankah itu nama perusahaan tempat mendiang Asih bekerja?, batin Pak Hadi.


"Iya Tuan, Perusahaan Adhisti," ulang Pak Rahmat untuk lebih meyakinkan Pak Hadi.


"Pak Rahmat, coba hubungkan saya dengan pemilik perusahaan tersebut. Sekalian dengan perusahaan Pandu."


"Baik, Tuan."


Sementara itu di tempat resepsi pernikahan Agus dan Wiwid, tamu undangan berbisik menggunjing perusahaan Pak Hadi. Agus yang tak paham dengan seluk beluk perusahaan tak begitu menghiraukannya.


Ke mana ayah dan mas Andi pergi. Mengapa mereka tidak kembali lagi, batin Wiwid.


Pandangan mata Wiwid bertemu dengan pandangan ibunya. Terlihat rasa khawatir dari sorot matanya. Wiwid semakin gusar saat melihat ibunya terlihat begitu khawatir.

__ADS_1


"Ibu, Ayah dan Mas Andi ke mana?" tanya Wiwid.


"Ke kantor. Ada sedikit masalah," bisik Bu Widya.


"Masalah apa?" tanya Wiwid kembali dengan berbisik.


"Ada beberapa investor membatalkan kerjasamanya. Saham perusahaan juga anjlog," terang Bu Widya.


Mendengar perusahaan ayahnya diujung tanduk, membuat Wiwid gelisah. Ditambah dengan tamu yang kemudian undur diri sambil menggunjingkan lerusahaan ayahnya.


Resepsi yang awalnya akan di gelar selama enam jam ke depan terpaksa dipercepat, karena sepinya tamu undangan. Bu Islah terlihat penasaran, mengapa tamu undangan yang katanya mencapai sepuluh ribu orang, yang hadir tidak ada separuhnya.


Catering banyak yang tersisa, Bu Widya tidak bisa berkata-kata. Beliau terdiam sembari mengamati keadaan perusahaan dari ponselnya.


"Jeng Widya, bagaimana dengan makanan yang tersisa?" tanya Bu Islah yang belum tahu apabila perusahaan besannya di ujung kebangkrutan.


"Terserah Jeng Islah saja, mau bagaimana. Saya pamit dulu," ucap Bu Widya sambil berlalu.


Setelah meminta pertimbangan pak Dewa, Bu Islah memutuskan untuk menyumbangkan ke orang yang membutuhkan.


"Karma," gumam Astuti saat mendengar pernikahan Agus dan Wiwid tidak berjalan sesuai dengan rencana.


Kamar pengantin Agus dan Wiwid dihias sedemikian rupa layaknya kamar pengantin artis top luar negeri. Agus terlihat tak bersemangat memasuki kamar pengantinnya. Berbanding terbalik dengan Wiwid yang selalu tersenyum.


Agus merebahkan tubuhnya di sofa yang terdapatnl di kamar. Sementara Wiwid mulai membersihakan wajah dari make up yang menempel, menampakkan wajah aslinya tanpa dempulan. Agus melirik sekilas ke arahnya.


Deg!


Agus terkejut melihat wajah asli Wiwid tanpa polesan. Jauh sekali perbedaannya, kecewa menyergap hatinya. Membuatnya teringat wajah teduh Menik yang jarang menggunakan riasan. Agus membalikkan badannya menghadap ke arah sandaran sofa. Rasa sesal dan letih membuatnya cepat terbuai ke alam mimpi.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Wiwid menggunakan lingerie seksi untuk menggoda Agus. Dia pun mendekati suaminya yang tertidur di sofa.


"Gus," pangilnya lembut sambil menggoyangkan bahu Agus.


"Gus," ucap Wiwid


Agus bergeming, hanya suara dengkuran halus yang menjawab panggilan Wiwid. Namun Wiwid tetap mencoba untuk membangunkan Agus.


"Dasar kebo!" ucap Wiwid dan beranjak menuju tempat tidur sambil menghentakkan kakinya.

__ADS_1


Emosi karena tidak berhasil membangunkan Agus membuat Wiwid menghambur semua hiasan yang ada di atas kasur. Agus yang pura-pura tidur mengulum senyum melihat perbuatan Wiwid.


Aku memang jadi suamimu. Tapi jangan harap aku menyentuhmu. Karena setelah ininaku akan menceraikanmu. Sehingga aku bisa kembali dengan Menik.


__ADS_2