Adhisti

Adhisti
Bab 80


__ADS_3

"Suamiku ... ehm ... seperti biasa Ce. Dia masih bersama dengan keluarganya. Nanti kalau sudah ketemu. Aku kabari kamu," ucap Menik sembari berusaha menahan air mata yang sudah mengintip keluar.


"Coba dari tadi bilang, suamimu ada di rumahnya. Selesai kan, nggak muter-muter begini."


"Iya. Gimana kabar kampus?" ujar Menik mengalihkan pembicaraan.


"Kampus aman, damai, dan sejahtera sejak kamu nggak ada, Nik," kelakar Ince.


"Semprul kamu, Ce."


Obrolan mereka berlangsung cukup lama. Hampir dua minggu tidak ketemu membuat banyak yang ingin diceritakan.


***


Gerimis menemani Menik menuju ke kampus. Dingin terasa menusuk tulang, karena jas hujan yang dipakai Menik tembus ke dalam jaketnya. Hari ini Menik kembali memilih menggunakan motor untuk mengantarnya ke kampus.


Sepanjang perjalanan ponsel Menik beberapa kali berdering, namun dia tidak menghiraukannya. Pak Broto terlihat kesal memandang ponselnya.


"Ke mana saja anak ini," ucap Pak Broto gusar dan menggenggam amplop coklat yang baru beliau temukan tadi.


Pak Broto sampai rumah, selepas Menik berangkat. Beliau sempat berpapasan dengan Menik di jalan. Namun Menik tidak menyadari, padahal pak Broto sempat mengklakson Menik.


Amplop coklat yang tergeletak di meja Menik menarik perhatian pak Broto pada saat beliau masuk ke kamar Menik. Amarah langsung memuncak setelah mengetahui isi amplop tersebut.


Kecewa, kesal, merasa tidak dihargai bercampur aduk dalam pikiran beliau. Diremasnya amplop tersebut, air mata menggenang di sudut netra pak Broto.


"Maafkan ayah, Nduk. Andai ayah tahu akan seperti ini, tidak akan pernah ayah merestuinya,"


Rasa bersalah semakin menyergap pak Broto, saat teringat kala Soni mengutarakan maksudnya beberapa saat lalu tanpa sepengetahuan Menik. Beliau menolak hanya karena arah rumah Soni menuju ke rumah Menik.


Mitos pernikahan dengan arah ngalor ngetan membuat pak Broto menolak maksud baik Soni. Padahal beliau tahu jika Soni dan Menik dekat.


Hal itulah yang membuat beliau tidak mendengarkan ucapan mbah Minto waktu itu. Padahal seandainya mau mendengarkan usulan mbah Minto untuk menyiasati keadaan letak rumah Soni, mungkin Menik tidak akan menjadi janda di usia dua puluh satu tahun.


Piikiran kacau membuat pak Broto melajukan kendaraannya menuju makam Asih. Sampai di sana beliau bersimpuh dan mengucapkan maaf.


"Dik, aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik. Aku menyesal, Dik. Ayo, bicaralah. Marahi aku seperti dulu. Jika aku salah melangkah. Aku merindukan omelanmu, Dik," ucap pak Broto sambil memeluk makam mendiang istrinya.


Sepasang netra tua mengawasi gerak gerik pak Broto. Hatinya ikut sakit melihat anak semata wayangnya memeluk nisan mendiang istrinya.


"Kasian kamu Le. Nasibmu sungguh menyedihkan. Istri baru mu tak bisa memahami kesedihanmu," ucap mbah Kasdi.


Berada di kebun jati yang terletak di sebelah makam, membuat mbah Kasdi mengetahui pak Broto mengunjungi makam Asih. Di balik rimbun rumpun bambu mbah Kasdi terus mengawasi pak Broto.


Cukup lama pak Broto bersimpuh di samping nisan mendiang bu Asih. Dia sangat merindukan istrinya itu. Seorang istri yang tak pernah meninggikan suara di hadapan suaminya. Istri yang selalu bisa membuatnya merasa tenang.


Kenangan bersama mendiang bu Asih menari-nari dalam pikiran pak Broto saat ini. Senyum teduh bu Asih yang selalu menentramkan hatinya. Meski pak Broto sudah menikah dengan Sri, namun hatinya masih tertaut pada mendiang bu Asih.


"To," panggil mbah Kasdi sambil menepuk pundak pak Broto.

__ADS_1


"Bapak," ucap pak Broto saat melihat mbah Kasdi sudah berada di sampingnya.


"Sedih, boleh saja. Tapi jangan kamu bebani Asih dengan semua keluh kesahmu. Seharusnya kamu kirimkan doa terbaik untuk Asih. Bukan malah menangis di sini. Perbaiki kesalahanmu. Fokus kepada Menik anakmu, To," tutur mbah Kasdi panjang lebar.


"Iya, Pak. Aku kangen dengan Asih. Dia selalu bisa memberikan solusi di saat aku salah. Beda dengan Sri. Jika dia tahu masalah ini ... pasti Menik akan semakin diejek."


"Risiko kamu, yang sudah memilih Sri jadi pengganti Asih tanpa pikir panjang."


Ucapan mbah Kasdi bagaikan panah yang menghujam jantungnya. Pak Broto baru menyadarinya, jika beliau telah memaksakan diri untuk menikahi Sri.


"Broto salah, Pak," ucapnya lirih.


"Nasi sudah jadi bubur. Sekatang kamu harus bisa memperbaiki kesalahanmu," ucap mbah Kasdi dan mengajak pak Broto untuk pulang ke rumah.


Sesampainya di kos, Menik langsung menuju kamar. Entah mengapa perut Menik seakan bergolak. Menik mencari obat yang selalu berada di dalam tas nya. Dia sudah terbiasa dengan asam lambung yang sering kumat. Apalagi jika dia sedang dalam banyak pikiran.


Obat yang biasanya selalu manjur jika Menik meminumnya, kali ini tidak mampu mengurangi mual perutnya. Menik mencoba untuk tidur. Baru sebentar terlelap, perut Menik kembali bergolak.


Hoek ... hoek


Suara Menik yang muntah terdengar hingga kamar Nonie. Dia segera menuju kamar Menik. Untung Menik tidak mengunci kamarnya, sehingga Nonie bisa langsung masuk.


Nonie menemukan Menik bersandar di pintu kamar mandi, dengan wajah pucat dan keringat dingin. Dipapahnya Menik perlahan menuju kasurnya. Nonie menuju kamar Lutfhi untuk minta tolong memeriksa Menik.


Ketukan Nonie di pintu kamar Luthfi tidak ada jawaban. Menandakan pemilik kamar tidak berada di dalam.


"Nik, badanmu panas," seru Fera sambil memegang kening Menik.


Menik mengangguk pelan. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.


"Fe, kita bawa Menik ke Medical Centre kampus saja," titah Nonie.


Fera menyetujui usulan Nonie. Dia segera memesan ojek online melalui aplikasi. Karena tidak mungkin membawa Menik menggunakan motor.


Mereka sedikit kesulitan sewaktu menurunkan Menik melalui tangga. Berkat kerja sama yang solid antara Fera dan Nonie, Menik bisa turun tanpa terbentur tembok.


Sampai di Medical Centre, Menik segera di observasi oleh dokter jaga di temani Fera. Sedangkan Nonie bertugas menyelesaikan administrasinya. Untung Nonie sempat menyambar sling bag Menik. Sehingga kartu mahasiswa Menik terbawa.


Dert ... dert ... ponsel Menik bergetar di dalam tas. Nonie berinisiatif membukanya. Tertera nama ayah di layar. Segera Nonie menerima panggilan.


Pak Broto terkejut saat mendengar suara yang menjawab panggilannya bukan suara Menik. Untung Nonie segera memperkenalkan diri dan menjelaskan keadaan Menik.


Mendengar Menik sakit, pikiran pak Broto menjadi gundah. Beliau segera berpamitan kepada mbah Kasdi dan mbah Minto.


"Tunggu besok pagi saja To. Sudah malam. Apaalagi kamu bawa mobil sendiri. Mak takut ada apa-apa denganmu di jalan," ujar mbah Minto khawatir.


"Nggak Mak. Broto harus berangkat sekarang. Menik masuk rumah sakit," seru pak Broto sembari berkemas.


"Tapi, Le—"

__ADS_1


"Sudah nggak usah khawatir Mak. Biar aku menemani Broto," sela mbah Kasdi dan ikut berkemas meski belum mendapat persetujuan untuk ikut.


"Yo wes kalau begitu. Hati-hati di jalan. Ingatkan anakmu untuk beristirahat jika ngantuk, Pak," tutur mbah Minto.


Mbah Kasdi dan pak Broto berangkat menuju rumah sakit. Pikiran kalut pak Broto membuat beliau menginjak pedal gas dalam-dalam. Berkali-kali mbah Kasdi mengingatkan pak Broto untuk mengurangi kecepatannya. Namun pak Broto tak menghiraukannya, membuat mbah Kasdi berpegangan erat pada seat belt.


Setengah berlari pak Broto menuju ruang perawatan Menik. Terlihat Nonie menemani Menik yang terbaring lemah. Pak Broto langsung menggenggam telapak tangan Menik. Hati beliau hancur melihat anak semata wayangnya terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap.


"Maafkan, ayah," ucap pak Broto lirih dengan suara parau menahan air mata yang hendak meloloskan diri.


Mbah Kasdi memandang ke arah Nonie dan berucap, " Terima kasih Mbak."


"Sama-sama Mbah," jawab Nonie.


Sinar mentari masuk masuk melalui ventilasi dan jendela kaca yang telah terbuka tirainya. Mata Menik mengerjab menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Menik bingung melihat tempat yang berbeda dengan kamarnya. Dia lupa jika berada di rumah sakit. Semalam sewaktu Nonie dan Fera membawanya, Menik terlalu lemah sehingga tak menyadari jika di bawa ke rumah sakit.


"Ayah," ucap Menik lemah.


Pak Broto menghampiri Menik dan menggenggam tangannya. Diusap kepala Menik penuh rasa sayang sambil berkata, "Maafkan ayah, Nduk."


Ucapan maaf pak Broto membuat Menik menghambur ke dalam pelukan ayahnya. Tangisnya seketika pecah. Lama Menik menangis dalam dekapan hangat pak Broto. Sekuat tenaga pak Broto menahan air matanya agar tidak meloloskan diri.


Melihat pemandangan tersebut, Nonie perlahan keluar dari ruangan itu. Tidak enak rasanya berada di dalam sana. Saat keluar kamar rawat Menik, Nonie berpapasan dengan mbah Kasdi.


"Mau ke mana, Nduk?" sapa mbah Kasdi ramah.


"Nonie pamit pulang dulu, Mbah. Karena ada jadwal konsultasi dengan dosen pagi ini," ujarnya sopan.


Setelah berpamitan dengan mbah Kasdi, Nonie memesan ojek online untuk kembali ke kos. Dan langsung mendapat rentetan pertanyaan dari ibu kos.


"Mbak Nonie dari mana saja? Pagi-pagi baru pulang," tanya ibu Kos dengan nada penuh penekanan.


Beliau merasa curiga dengan Nonie yang pulang pagi-pagi menggunakan ojek online. Sebagai ibu kos yang perhatian, beliau langsung menginterogasi Nonie.


Gawat nie, bu kos mencurigaiku, batin Nonie.


"Nonie dari rumah sakit. Semalam antar Menik ke medical centre dengan Fera, dan ternyata Menik harus rawat inap di rumah sakit," jelas Nonie.


Mendengar salah satu anak kosnya di rawat di rumah sakit, ibu kos langsung khawatir. Beliau masuk ke dalam rumah untuk memanggil suaminya dan mengantar ke rumah sakit.


"Lhah, aku ditinggalin begitu saja," ucap Nonie yang melihat ibu kos langsung masuk rumah setelah mendengar penjelasannya.


Taman kampus di dekat kelas Menik terlihat sedikit ramai. Ada beberapa mahasiswa terlihat sedang menunggu dosen yang belum datang. Suasana sedikit mendung membuat suasana menjadi sejuk.


"Ke mana anak ini, aku hubungi berkali-kali ponselnya tapi tidak bisa," gumam Ince sedikit gusar karena tidak berhasil menghubungi ponsel Menik.


"Ce, Ince," seru seseorang.


Ince menoleh merespon panggilan itu, "Apa?"

__ADS_1


__ADS_2