
Siapa itu? Ada hubungan apa dengan mas Agus? Kenapa mas Agus tiba-tiba menutup panggilannya. batinnya.
Wiwid semakin mengikis jarak. Dia penasaran melihat Agus video call dengan seorang gadis yang wajahnya tak bisa dia lihat dengan jelas.
Agus segera berdiri dari duduknya dan memasukkan ponsel ke dalam kantong jaketnya, dan bermaksud menjauh dari tempat itu.
"Agus! Berhenti!" teriak Wiwid. Dia tak peduli lagi belasan pasang mata memperhatikannya.
Agus menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap ke arah Wiwid. Seraya berucap, "Ada apa Wid? Aku ngantuk mau istirahat."
"Kamu barusan vc sama siapa? Apa gadis itu yang sedang kau jaga hatinya?" cecar Wiwid.
"Bukan urusan kamu Wid." ucap Agus dan segera beranjak menuju kamarnya. Agus jengah dengan sikap Wiwid yang tiba-tiba berubah.
Agus mau berteman dengan Wiwid karena melihat pribadinya yang bagus. Namun sejak mereka semakin dekat, perlahan sikap Wiwid berubah. Menjadi posesif terhadap Agus. Padahal mereka hanya dekat, tanpa adanya sebuah komitmen.
"Agus! Jangan menghindar! Jawab pertanyaanku." teriak Wiwid sembari mengejar Agus dan mencekal tangannya.
Mau tidak mau Agus menghentikan langkahnya. Malu, itu yang ada dalam benak Agus. Aku harus segera mengambil sikap tegas, batin Agus.
Agus menarik tangan Wiwid menjauhi tempat itu.
"Ada apa lagi Wid? Kenapa kamu seperti ini?" tegas Agus.
"Aku? Aku biasa saja Gus. Kamu saja yang berubah." sarkas Wiwid.
"Aku nggak pernah berubah Wid. Dari dulu aku seperti ini. Malah kamu yang berubah. Bukankah kita teman Wid, mengapa saling menyakiti?" sindir Agus.
"Teman? Jadi selama ini kamu menganggapku hanya teman? Setelah semua yang kita alami, kamu masih anggap aku teman! Keterlaluan kamu Gus." ketus Wiwid.
"Maksud mu apa Wid, dengan yang sudah kita alami? Selama ini aku tak pernah berbuat di luar batas padamu." tegas Agus.
"Benar katamu Gus, kamu memang tak pernah berbuat di luar batas. Namun, perhatian yang kamu berikan padaku, apakah itu bukan cinta?"
"Maaf Wid, perhatian yang aku berikan sama kamu hanyalah perhatian seorang sahabat. Nggak lebih Wid." Agus menurunkan nada bicaranya.
"Sahabat Gus? Sampai kamu mau berpura-pura jadi calon suamiku di hadapan mantan pacarku, kamu sebut itu juga bantuan sahabat Gus? ha ... ha ...ha, bahkan kau memelukku dengan erat kala itu. Kamu lucu Gus. Sandiwaramu sangat bagus. Kamu cocok jadi artis Gus." sarkas Wiwid.
Mendengar ucapan Wiwid mengenai peristiwa saat Agus diminta untuk mengaku sebagai calon suami, Agus langsung terdiam. Dia ingat saat itu terbawa situasi. Sehingga memeluk Wiwid dengan erat.
"Maaf Wid, kalau saat itu aku terlalu menghayati peranku." serunya perlahan.
"Nggak usah minta maaf Gus. Hanya satu permintaanku, wujudkan cerita itu menjadi kenyataan. Bahkan aku masih menyimpan foto saat kau sematkan cincin itu, dan bukan hanya foto yang ku simpan, cincinnya juga masih melingkar di jariku." seru Wiwid sembari menunjukkan cincin yang ada di jarinya.
"Maaf Wid, aku tetap tidak bisa. Bukankah kamu yang memintaku untuk bersandiwara saat itu. Mengapa sekarang kau berubah?" gusar Agus.
"Aku tak pernah menganggap itu sandiwara Gus. Karena dari awal melihatmu, aku sudah memutuskan, bahwa kamu yang akan jadi suamiku." mantab Wiwid berucap. Dia tak peduli dengan penolakan Agus.
"Wid, tolong kamu mengerti aku. Bukankah sudah aku katakan, ada hati yang harus ku jaga."
"Nggak Gus aku nggak mau. Dan kamu juga harus ingat! Kalau kamu juga harus menjaga hatiku!" ketus Wiwid seraya pergi meninggalkan Agus yang tengah gusar.
Perlahan Agus memasuki kamarnya, direbahkan tubuhnya di kasur ukuran single itu. Pikirannya menerawang, memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Tentu itu tidak akan mudah baginya maupun Menik. Mengingat nama Menik, membuatnya merogoh kantong jaketnya. Agus baru sadar jika telah memutuskan sambungan telepon sepihak.
"Gawat kalau Menik merajuk." gumamnya dan menuliskan pesan untuk Menik.
__ADS_1
Agus: Maaf tadi aku matikan panggilannya.Tak sengaja terpencet.
Tak ada jawaban dari Menik. Padahal Menik terlihat sedang online. Agus mengirim pesan kembali.
Agus: Jangan merajuk Nik. Seperti anak kecil saja.
Membaca pesan Agus yang tertera di ponselnya seketika mode garang Menik muncul. Ibarat singa lagi bobok cantik dibangunkan. Perlahan dia ketik pesan balasan untuk Agus.
Menik: Memang Menik masih anak kecil. Makanya cari yang sudah dewasa!
Selesai menulis dan mengirim pesan balasan itu, dia segera memblokir nomor Agus. Sudah menjadi kebiasaan bagi Menik. Apabila dia sedang marah dengan sesorang maka Menik akan menghindar dari orang tersebut. Dari pada ketemu dan berbuat onar pada orang itu.
Agus terperangah mendapat balasan dari Menik. Dia berusaha menghubungi Menik. Namun panggilannya selalu gagal, mengirim pesan juga tidak ada respon. Agus menghela napas panjang. Ternyata begini rasanya punya istri masih anak-anak, batinnya.
***
Azan subuh berkumandang, membangunkan jiwa-jiwa yang masih bercengkrama dengan mimpi untuk segera bermunajat kepada-Nya.
"Sudah subuh ternyata." gumam Menik dan beranjak untuk membersihkan diri.
Digelarnya sajadah yang sudah satu minggu ini tak tersentuh olehnya karena ada tamu yang datang. Menik berlama-lama dalam sujudnya. Diadukan semua apa yang ada di hatinya. Tak lupa untaian doa dia kirim khusus untuk mendiang bu Asih.
Tok ... tok ...
Terdengar ketukan pintu, membuat Menik menyudahi sesi curhat dengan sang penulis takdir. Dihapusnya sisa air mata yang sempat menguar di ujung matanya. Perlahan dibukanya pintu itu.
"Eh mbak Nonie, tumben pagi-pagi ketuk kamar Menik." ujarnya.
"Maaf kalau aku membangunkanmu. Nik, aku mau pulang kampung dulu, kakakku mau nikah. Nitip kunci kamar. Aku berangkat sekarang. Takut ketinggalan pesawat." ucap mbak Nonie dan bergegas turun.
"Mbak Non." seru Menik dari ujung tangga atas.
"Iya Nik?"
"Naik apa mbak Non ke Bandara?"
"Naik ojol Nik. Itu udah nunggu di depan." serunya sembari meneruskan langkah.
"Hati-hati mbak Non." seru Menik kembali.
Nonie mengacungkan jempol untuk menjawab seruan Menik.
***
Suasana kampus pagi ini terlihat ramai. Banyak mahasiswa keluar masuk ke ruang dosen. Menik dan Ince menunggu giliran untuk masuk menemui pebimbing skripsinya.
"Nik, kamu sudah sampai mana?" tanya Ince.
"Bab tiga Ce, kemarin aku revisi. Semoga kali ini Prof. Josef berbaik hati meloloskan bab tiga. Biar bisa segera penelitian."
"Kamu enak Nik, aku masih harus revisi judul. Pak Mul minta sripsiku di luar sastra. Bingung aku Nik." gusar Ince.
"Coba pelan-pelan rayu pak Mul, siapa tahu beliau luluh." saran Menik.
"Semoga saja Nik. Tapi aku sangsi."
__ADS_1
"Bismillah saja Ce."
Tibalah giliran mereka masuk ke kantor dosen. Menik menuju ke ruangan Prof. Josef, dan Ince menuji ruang pak Mul. Tak berselang lama, Menik keluar ruangan Prof. Josef dengan senyum merekah. Menandakan dia bisa melanjutkan ke penelitian.
"Alhamdulillah." gumamnya.
Menik menunggu Ince, dibawah tangga depan ruangan dosen.
"Semoga Ince juga lancar." gumamnya.
Mata Menik mengawasi siapa saja yang keluar dari pintu kantor dosen. Namun belum juga melihat Ince keluar. Padahal tiga puluh menit berlalu. Karena terlalu konsentrasi, Menik tak sadar jika sudah ada Mimi duduk di sampingnya.
"Ehem ... hem ...ehem." Mimi berdehem untuk memberitahu Menik bahwa dia berada di dekatnya.
Mendengar deheman Mimi, Menik langsung menoleh dan senyum.
"Kapan kamu sampai Mi? Aku nggak lihat kamu lewat, tiba-tiba sudah ada di sampingku."
"Kamu saja yang bengong Nik. Dari tadi arah pandangmu cuma ke kantor dosen. Memangnya kamu menunggu siapa?" selidik Mimi.
"Nunggu Ince, Mi. Lama sekali dia konsultasinya." jelas Menik.
"Semoga saja anak itu nggak buat ulah. Kamu tahu sendirikan Ince."
"Semoga saja Mi." ucap Menik cemas.
***
"Matamu kenapa Gus. Mirip panda." ledek Soni.
"Nggak bisa tidur mas." ucap Agus sambil menguap.
"Kenapa nggak bisa tidur? Mikirin adiknya Andi?" seloroh Soni.
"Salah satunya itu mas."
"Salah duanya apa Gus?" kejar Soni.
"Mikirin tunangan Agus yang merajuk, gara-gara Agus sebut anak kecil."
"Memang umurnya berapa?"
"Masuk dua puluh tahun mas." jelas Agus.
"Sudah nggak kecil lagi itu Gus. Malah ibarat bunga sedang mekar-mekarnya." canda Soni.
"Mas Soni bisa saja."
"Kalau aku boleh beri saran Gus. Pendapatku tetap sama seperti kemarin. Mumpung kamu nelum nikah, putuskan saja tunangannya. Dari pada karirmu mati gara-gara nolak adiknya Andi."
"Tapi mas, Saya terlanjur—."
"Terlanjur apa Gus? Jangan-jangan sudah kau apa-apakan tunanganmu itu." sela Soni memotong ucapan Agus.
"Ah mas Soni, mana berani saya lewat batas mas. Terlanjur cinta maksudnya mas." jelas Agus, agar Soni tidak salah sangka padanya.
__ADS_1
"Oalah aku kira sudah terlanjur apa. Nah mumpung belum kamu apa-apain tunanganmu itu, lepaskan saja Gus. Tapi kalau kamu pilih karirmi mati, pertahankan saja gadis itu." ucap Soni dan menepuk pundak Agus seraya beranjak meninggalkannya.
Seandainya kamu tahu mas, gadis itu bukan lagi tunangannku tapi istriku. Pasti lain lagi pendapatmu.