
"Yes, akhirnya berhasil," ucap Sri.
"Apa yang berhasil Mi? Kelihatannya Mami bahagia sekali," ucap pak Broto yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sri.
"A—anu Pi," ujar Sri tergagap.
"Anu apa Mi?"
"Nggak apa-apa, Pi. Mami senang lihat Menik dan Ince pulang. Jadi rumah ini tidak sepi."
"Ooo ... ayah kira ada apa," seru pak Broto dan beralih ke belakang rumah.
Selesai makan Menik dan Ince masuk ke kamar untuk meluruskan punggung.
"Ce, kamu atau aku yang mandi duluan?"
"Kamu dulu, Nik. Aku mau merem sebentar. Nfantuk," ucap Ince.
Selesai mandi Menik melihat Ince sudah bercengkrama dengan alam mimpi. Napasnya teratur, menandakan tidur Ince benar-benar nyenyak.
Menik menemui pak Broto untuk meminta izin membawa mobil mendiang bu Asih. Terlihat pak Broto tengah memandikan bagong, ayam bangkok kesayangan beliau.
Sebelum mendekat ke tempat pak Broto, Menik lebih dulu memastikan keadaan, agar bisa ngobrol dengan pak Broto tanpa gangguan Sri.
Setelah memastikan keadaan aman, Menik melangkah mendekati pak Broto.
"Ayah," panggil Menik.
Pak Broto menoleh ke arah Menik dan menjeda sejenak kegiatan beliau.
"Ada apa, Nduk? Duduk dulu, ayah lanjutkan memandikan bagong."
Menik menuruti ucapan pak Broto. Dia duduk sembari memperhatikan pak Broto yang telaten memandikan bagong.
Setelah selesai dimandikan, bagong dimasukkan ke dalam kandang. Bagong sedikit berontak waktu akan dimasukkan ke kandang. Karena melihat ada ayam betina pendatang baru yang sedang makan.
Pak Broto mendekati Menik, dan duduk dinsampingnya.
"Ada apa, Nduk?"
"Ayah, boleh tidak Menik pinjam mobil ibu?"
"Tumben kamu mau pinjam. Memangnya mau pergi kemana?"
"Ehm ... minggu depan mas Agus wisuda Yah. Rencananya Menik mau langsung berangkat dari kampus. Karena Menik ada janji juga dengan dosen."
"Oh, bawa saja kalau kamu memang perlu. Dari pada nganggur di rumah."
__ADS_1
Mendengar pak Broto memberikan izin membawa mobil, Menik langsung memeluk pak Broto.
"Terima kasih, Ayah," ucap Menik sambil tersenyum.
Pak Broto tersenyum melihat kebahagiaan putrinya. Ternyata mudah membuat Menik tersenyum lagi. Senyum yang telah lama menghilang dari bibir Menik.
"Tapi ada syaratnya, Nduk."
"Apa syaratnya, Yah?"
"Jangan ngebut. Terus ajak Ince juga saat wisuda Agus. Jangan berangkat sendirian. Ayah takut kamu nyasar."
"Isya Allah, Yah."
"Nduk, mana Ince? Ayah dari tadi belum melihatnya."
"Masih tidur, Yah. Sebentar Menik bangunkan dulu, sudah mau magrib.
Menik beranjak menuju kamar, terlihat Ince sudah segar habis mandi.
"Sudah bangun kamu?" tana Menik.
"Sudah dari tadi aku bangun, sekarang malah sudah mandi."
"Ce, tadi ayah menanyakanmu."
Setelah makan malam, Ince berkonsultasi dengan pak Broto mengenai skripsinya. Terlalu asyik berdiskusi tentang skripsi Ince, pak Broto sampai lupa waktu.
"Pi, sudah malam. Besok lagi dilanjutkan ngobrolnya," ucap Sri.
Merasa sungkan dengan teguran Sri, Ince segera mengakhiri sesi konsultasinya. Dia segera masuk ke kamar dan berbaring di samping Menik yang telah tidur lebih dulu.
Mata Ince tak kunjung terpejam, dikarenakan dia telah tidur siang. Untuk mendatangkan rasa kantuk, Ince bermain game mencocokkan gambar. Namun, usahanya tetap gagal. Dicobanya lagi menghitung domba yang melompat, namun gagal lagi. Sampai akhirnya terdengar suara tirai yang terbuka.
Srek ... srek ... srek
Mata Ince terbelalak melihat siapa yang muncul dari balik tirai. Satu detik, dua derik, 3 detik belum ada juga yang muncul dari balik tirai. Ince memberanikan diri untuk bangun dan mendekat ke arah jendela. Perlahan Ince mengintip keluar jendela. Hanya gelap yang bisa dia lihat. Ince segera merapikan kembali tirai yang terbuka sedikit, akibat daun jendela yang tak menutup sempurna.
Ince kembali merebahkan badannya di kasur. perlahan mata itu terpejam menyusul Menik masuk dalam buaian mimpi.
Kokokkan bagong menyadarkan Menik dari dekapan mimpi. Direnggangkannya otot-otot yang kaku. Perlahan Menik bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk bersuci dan segera melaksanakan salat subuh.
Menik menggukung sajadah dan merapikan mukenanya kembali. Diliriknya Ince masih tertidur. Menik menggoyangkan badan Ince untuk membangunkannya.
Ince membuka matanya sedikit, diliriknya Menik sambil berucap, "Aku masih ngantuk, Nik. Bangunkan aku lima menit lagi."
"Bangun, salat dulu, Ce. Nanti tidur lagi. Sore kita baru kembali ke kampus."
__ADS_1
Dengan gontai Ince melangkah menuju kamar mandi untuk berwudu dan segera salat. Masih menggunakan mukena Ince membaringkan badannya di atas sajadah. Matanya terpejam kembali dan terdengar dengkuran halus.
***
"Pi, beneran Menik Papi izinkan untuk membawa mobil?" tanya Sri penuh selidik.
"Hem," acuh pak Broto menjawab pertanyaan Sri.
"Ih, Papi ini ditanya mami jawabannya cuma hem. Coba jawab itu yang panjang, biar mami paham," protes Sri.
"Mami kan sudah tahu jawabannya, mengapa bertanya lagi."
"Tapi Pi, bukannya berbahaya membiarkan Menik membawa mobil. Sedangkan mami saja mau bawa mobil itu tidak Papi perbolehkan," rajuk Sri.
Pak Broto memang tak pernah mengizinkan Sri untuk menyentuh mobil mendiang Asih. Karena mobil itu dibeli mendiang Asih dengan uangnya sendiri.
"Menik sudah biasa membawanya Mi. Tidak usah khawatir. Kita doakan saja yang baik. Dan Mami tentunya sudah paham mengapa Mami tidak ayah perbolehkan untuk mengemudikan mobil itu."
Sri terdiam mendengar jawaban halus tapi mengena. Pak Broto melirik sekilas ke arah Sri, dan melihat perubahan wajah Sri.
"Mi, semua harta mendiang Asih adalah hak Menik. Sedangkan Harta ayah dengan Mami juga masih ada hak Menik. Jangan sekali-sekali Mami merasa harta ini adalah gono gini kita," tegas pak Broto dan beranjak dari sisi Sri.
Pak Broto lebih memilih memberi makan bagong dari pada berdebat dengan Sri. Beliau berharap semoga Sri sadar setelah mendengar ucapannya tadi.
Hati Sri semakin panas mendengar penjelasan pak Broto mengenai harta. Otaknya berputar mencari cara agar bisa menguasai semuanya.
Aku harus punya anak, agar bisa aku jadikan alasan untuk menguasai harta suamiku, batin Sri.
Sri segera menelepon kakaknya yang di desa. Dia meminta kakaknya untuk membelikan obat penyubur kandungan. Mengingat usianya yang tak lagi muda. Sehingga memerlukan obat-obatan pendukung.
Meski sudah diingatkan oleh kakaknya mengenai efek samping obat penyubur kandungan, tapi Sri tidak mengindahkannya. Baginya yang penting rencananya berjalan dengan mulus.
Ince mengelus dada tak sengaja mendengar rencana Sri. Ince tak habis pikir ternyata Sri begitu licik. Pantas Darmi pernah berpesan padanya untuk menjaga Menik dari Sri.
"Aku harus memberitahu Menik. Supaya dia waspada terhadap Sri," gumam Ince.
Klontang ... terdengar suara panci terjatuh. Karena terburu-buru Ince menabrak panci. Refleks Sri menoleh ke arah dapur, tapi tak melihat mendapati seorang pun di dapur. Ince menyembunyikan diri di gudang sebelah dapur.
"Huft ... untung nggak ketahuan," gumam Ince sembari mengelus dada.
Merasa aman, Ince melangkah keluar dari persembunyiannya. Namun, baru melangkah satu langkah terdengar suara memanggil namanya.
"Ce ..."
Wajah Ince langsung pias, jantungnya berdegub kencang. Perlahan, kepalanya menoleh ke arah sumber suara.
Deg ... deg ...
__ADS_1