Adhisti

Adhisti
BAB 54


__ADS_3

Berm ... berm ...


Menik melajukan si hitam menuju halaman kampus. Segera dia parkir si hitam di tempat parkir paling teduh, biar tidak kepanasan dan kehujanan. Terlihat mobil sedan putih terpakir diparkiran khusus dosen. Tidak menyia-nyiakan kesepatan yang ada, Menik segera menuju ruangan pebimbingnya.


Kurang lebih empat puluh lima menit Menik melaksanakan bimbingan. Dia sangat bersyukur karena penelitian tahap awal telah disetujui. Sehingga dia bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.


Senyum terkembang di bibirnya. Siapapun yang melihat senyum itu sudah bisa menebak, jika Menik sedang bahagia. Menik tidak menyadari jika pembimbing akademiknya, mengawasi Menik dari awal masuk ruang dosen.


"Menik" panggil pak Budi


Menik menghentikan langkahnya, dan menghampiri pak Budi.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Menik.


"Tidak apa-apa Nik. Bapak hanya ingin melihat senyum yang sudah kembali lagi."


Menik membalas ucapan pak Budi dengan senyuman, dan segera berpamitan untuk kembali ke kelas.


Senyum Menik menular kepada pebimbing akademiknya. Tanpa sadar beliaupun ikut tersenyum. Beliau bersyukur, melihat Menik bisa tersenyum kembali. Setelah beberapa waktu lalu, senyum itu sempat menghilang dari wajah Menik. Bahkan nilai Menik sempat jatuh di angka dua. Padahal biasanya Menik memperoleh nilai di atas angka tiga koma.


Ince melihat Menik dari kejauhan, dia segera berlari untuk menghampiri sahabatnya itu. Sejak peristiwa beberapa hari yang lalu, merena belum bertemu. Bahkan mengirim pesan pun tidak.


"Menik ... aku kangen," teriak Ince.


Menik pura-pura tak mendengar dan melihat Ince. Dia berjalan menuju tangga. Belum sempat Menik menginjakkan kakinya di anak tangga yang pertama, Ince menubruk dan memeluknya dari belakang.


Karena tidak siap mendapat pelukan dari Ince, seketika Menik oleng. Untung ada tangan yang menahannya sehingga Menik tidak sampai terjatuh.


"Ince! Kira-kira kalau mau peluk-peluk orang. Untung aku gercep menangkap Menik. Jika tidak, sudah pasti kalian berdua terguling di lantai dan jadi bahan tontonan mahasiswa yang lain."


Ince hanya nyengir mendengar rentetan wejangan yang diucapkan Mimi. Bagi Ince wejangan dari Mimi merupakan nyanyian indah.


"Nik, kapan kamu datang?" tanya Ince.


"Tadi pagi Ce, bareng sama pakde Harjo."


"Aku kira kamu sama Darmawan lagi Nik."


Seketika Menik menatap Ince, memberikan isyarat agar Ince tidak menyinggung nama Darmawan di depan Mimi. Menik bisa melihat tatapan tajam Mimi, begitu mendengar dia pulang diantar Darmawan.


Sayang, Ince tidak menangkap sinyal yang diberikan Menik. Dia malah kembali menanyakan bagaimana situasi perjalanan pulang Menik waktu diantar Damawan.


"Ehm— jadi kamu pulang diantar Darmawan Nik?" ketus Mimi.


"Iya Mi. Kebetulan Darmawan juga mau ke rumah kakak sepupunya. Jadi aku diajak bareng sekalian Mi."

__ADS_1


"Harusnya kamu tolak Nik. Kalau seperti ini namanya kamu PHP-in Darmawan."


Ince baru tersadar jika ucapannya tentang Darmawan telah membangunkan singa yang baru saja tertidur. Dia segera memutar otaknya untuk bisa menghentikan mamak singa mengamuk. Akhirnya dia mendapatkan cara yang tiba-tiba melintas dipikirannya.


"Mi, jangan salahkan Menik. Semua itu gara-gara aku, Mi. Seandainya Menik nggak datang waktu itu, sudah pasti Menik pulang sendiri."


"Memangnya kamu kenapa, Ce?"


Ince segera menceritakan kronologi peristiwa yang terjadi waktu itu. Alasan yang membuat Menik harus menerima tawaran dari Darmawan.


Setelah mendengar alasannya, Mimi ikut marah dengan kedua pasangan alay. Dia tak lagi menyalahkan Menik.


"Coba ada aku saat itu Ce. Sudah ku jadikan dendeng mereka berdua. Lagi pula kamu itu selalu begitu jika sudah cinta sama seseorang. Bucin mu terlalu parah. Cocok sama Dwi, sepaket kalian berdua."


Ince tidak marah mendengar omelan Mimi. Dia malah tersenyum lebar sembari tertawa mengingat kebodohannya.


"Ayo, cepat kita ke kelas, keburu pak Adi masuk kelas. Bisa-bisa kita berdiri di luar," seru Menik.


Mereka bertiga segera menaiki tangga menuju kelas meraka, yang ternyata sudah terisi oleh beberapa mahasiswa.


Pandangan Mimi menyapu kelas, namun dia tak menemukan Dwi. Mimi merogoh ponsel yang ada di dalam tas. Dia tuliskan pesan singkat kepada Dwi.


Mimi: Jeng, cepat datang ke kampus. Aku, Ince, dan Menik sudah menyiapkan tempat duduk khusus untukmu.


Pikiran Mimi bercabang. Dia tidak fokus menerima penjelasan dari dosen. Mimi terus memikirkan Dwi yang biasanya selalu cepat menjawab apabila ada pesan masuk di ponselnya.


Ditarik perlahan ponsel dari tas nya, Mimi membuka aplikasi pesan warna hijau secara sembunyi-sembunyi. Takut ketahuan dosen yang sedang mengajat. Digulir perlahan layar ponselnya untuk mencari nama Dwi.


Ternyata tanda centang telah berubah dari satu menjadi dua, hanya saja masih belum berubah warna. Hatinya semakin gelisah, Mimi menyenggol siku Menik.


Mendapat senggolan Mimi, segera Menik menoleh ke arah Mimi.


"Ada apa?" bisik Menik.


Mimi memgisyaratkan dengan matanya agar Menik melihat tulisan yang sudah Mimi tulis di selembar kertas.


Di kertas itu tertulis, "Di mana Dwi?"


Setelah membacanya, Menik menggelengkan kepalanya. Karena memang tidak tahu menahu ke mana diajeng bayik kesayagan mereka. Mimi menghirup napas panjang, dan mengeluarkannya dengan kasar. Menunjukkan jika dia sedang gelisah.


Tak lama berselang, perkuliahan telah berakhir. Para mahasiswa segera berhamburan ke luar kelas, untuk menuju ke kelas lain apabila masih ada jadwal perkuliahan.


"Ce, kamu tahu Dwi di mana?" tanya Mimi sambil mencolek lengan Ince.


"Mendapat colekan mesra penuh kehangatan dari Mimi, Ince segera menoleh.

__ADS_1


"Aku juga nggak tahu Mi. Setahuku kemarin dia kan antar kamu ke sampai depan rumah," ujar Ince mengingatkan Mimi.


"Benar dia mengantarku Ce, tapi habis itu dia langsung pulang," jelas Mimi.


Menik ikutan nimbrung dengan percakapan kedua temannya.


'Mungkin dia capek Mi," seru Menik sok bijak.


"Tidak biasanya Dwi nggak menjawab pesan dariku. Nah, hari ini dan sampai sesiang ini, Dwi masih belum membukanya. Aku takut terjadi sesuatu."


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Dwi, Mi. Mungkin saja paket datanya habis, atau di sana tidak ada sinyal," imbuh Ince.


Mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Kali ini tanpa kehadiran Dwi, Menik bertugas untuk mengantar Mimi dan Ince ke kos.


Menik mengantar Mimi ke boulevard terlebih dahulu. Setelah itu baru mengantar Ince ke kos.


"Nik, nggak mampir dulu?" tanya Ince saat Menik mengantarnya sampaidi depan pinti kos.


"Sorry Ce, hari ini aku capek banget. Rasanya pengin cepat ketemu kasur dan bantal. Aku merindukan keduanya."


"Dasar bocah gendeng, bukannya merindukan suaminya. Malah merindukan kasur dan bantal."


"Kalau aku gendeng berarti kamu juga gendeng Ce," seloroh Menik.


Setelah berpamitan, Menik segera kembali ke kos. Di perjalanan menuju kos, Menik mampir membeli makan siang.


***


Ponsel Menik terus bergetar di dalam tas. Menik lupa masih mengaktifkan mode silent. Sehingga dia tak mendengar ada beberapa panggilan dan pesan yang masuk di ponse.


Menik langsung tertidur tatkala telah bersua dengan kasur dan bantalnya. Bahkan nasi yang dibelinya belum disentuhnya.


"Menik ... Nik".


Terdengar suara asing di telinga Menik. Pelahan Menik membuka matanya, mengerjab sebentar untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melalui celah tirai.


Menik tak melihat siapapun berada di kamarnya, sampai Menik menyadari ada bayangan orang di depan jendela kamarnya. Segera ditarik jilbab instan yang tergantung di sisi tempat tidur.


Mata Menik menelisik, menerka siapa yang berdiri di balik jendela kamarnya. Ada perasaan gamang saat dia semakin mendekati jendela. Apalagi waktu telah memasuki senja.


Swatamita menambah suasana syahdu senja. Perlahan Menik menyingkap tirai, seketika terpampang nyata siapa yang telah memanggilnya.


Menik mengerjabkan mata beberapa kali untuk meyakinkan dengan apa yang dilihatnya. Sosok itu tersenyum kepada Menik.


Kamu— Mbak—

__ADS_1


__ADS_2