Adhisti

Adhisti
Bab 93


__ADS_3

Bros huruf A tergelatak tanpa suara di samping bantal Agus. Diam-diam Astuti mengambil dan menyimpannya. Dihubunginya ponsel Menik namun tak ada jawaban. Curiga semakin menghimpit Astuti, dia pun bergegas menuju rumah Menik.


Sampai di rumah Menik, Astuti bertemu dengan Sri dan geng nyinyirnya. Tapi kali ini bu Subangun tidak bergabung, dikarenakan sedang rawat inap di rumah sakit. Penyakit lamanya kambuh.


"Assalamualaikum, Tante?" sapa Astuti berusaha seramah mungkin.


Panggilan tante yang disematkan Astuti padanya, membuat Sri menatap sinis ke arahnya.


Enak saja dipanggil Tante! Aku ini masih muda, batin Sri.


"Waalaikumsalam, Cari siapa?" jawab Sri sinis.


Astuti menyampaikan alasannya datang ke rumah tersebut untuk mencari Menik. Jawaban Sri yang mengatakan Menik di kos, membuat Astuti terhenyak. Tak mau berlama-lama bicara dengan Sri, Astuti segera pamit undur diri.


"Jeng, kenapa banyak yang mencari Menik?" nyinyir budhe Poni.


"Tahu tu. Paling minggat lagi. Kalau nggak dibawa kabur sama orang, maklum janda."


Tanpa sadar Sri membocorkan rahasia keluarga. Mulut yang terlalu lemas itu membuat masuk ke dalam jurang masalah. Sri lupa dengan pesan Pak Broto.


"Siapa yang janda, Jeng?" ucap Budhe Poni kepo.


Mendengar pertanyaan Budhe Poni, seketika Sri sadar bahwa dia telah membuat sebuah kesalahan.


Waduh, gawat ini. Semoga Budhe Poni tidak ember. Kalau Budhe Poni ember, bisa tamat riwayatku, batin Sri gusar.


"Jeng ... jeng Sri, kok malah diam?" seru Budhe Poni.


"Ehm ... itu Budhe, tetangga desa Sri yang janda," jawab Sri asal.


***


Gusar masih menggelayuti hati dan pikiran Astuti. Bolak-balik Astuti menghubungi ponsel Menik, namun tidak ada jawaban. Yah, Pak Broto sengaja memblokir semua nomir yang ada hubungannya dengan keluarga Agus tanpa terkecuali.


Seandainya Menik tidak mengenal Astuti, tentu saja Menik tidak akan mengenal Agus. Namun, siapa yang bisa menghindar dari suratan takdir yang sudah ditulis oleh-Nya.


Perusahaan Pak Hadi semakin terpuruk, membuat Pak Rahmat tidak tega melihat bos sekaligus sahabatnya itu bersedih. Diam-diam beliau mendatangi kantor Pak Broto dan bertemu dengan beliau. Pak Rahmat sengaja datang ke kantor Pak Broto.


"Wah-wah, ada angin apa Kamu datang menemuiku, Mat? Di mana tuanmu yang angkuh itu?" ucap Pak Broto sinis.


"Sudahlah, To. Jangan Kamu ingat lagi peristiwa masa lalu. Ingatlah persahabatan kita bertiga jauh sebelum Kamu dan Hadi memperebutkan mendiang Asih. Lagi pula bukankah kamu yang berhasil memenangkan hati mendiang Asih?"

__ADS_1


"Sahabat, kata Mu?" sarkas Pak Broto sembari meletakkan kaca mata yang sedari tadi bertengger nyaman di hidungnya.


"Kalian berdua sama saja. Tidak Hadi atau pun Kamu, sama-sama masih memendam dendam masa lalu. Kamu nggak kasihan sama mendiang Asih, To?"


"Maksud Kamu apa? Tidak usah membawa nama Asih dalam masalah ini. Karena saat ini , Aku sedang memperjuangkan nasib anakku!"


"To, perlu kamu ketahui, jika Hadi tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan kali ini. Coba kamu pikirkan sekali lagi, To! Apakah kamu tega melihat ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, hanya karena kepentingan pribadi Mu?"


"Cukup! Tidak usah banyak omong lagi! Kalau memang Hadi ingin memperjuangkan karyawannya, suruh Hadi untuk melakukan apa yang pernah Aku tawarkan! Pergi dari ruanganku sekarang!" seru Pak Broto.


Mendapat pengusiran dari Pak Broto, Pak Rahmat segera meninggalkan ruangan Pak Broto. Dengan gontai Pak Rahmat berjalan keluar ruangan itu. Sebenarnya Pak Rahmat bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Pak Broto sekarang. Hatinya ikut bersedih melihat Menik menjadi target balas dendam dari Widya.


Dug!


Terlalu serius memikirkan jalan keluar untuk menyatukan kembali persahabatan yang terputus puluhan tahun itu, membuat Pak Rahmat kurang memperhatikan langkah kakinya. Sehingga beliau menabrak Soni.


Amplop yang dibawa Soni terlepas dari genggaman. Bebapa isi amplop itu tercecer, buru-buru Pak Rahmat membantu Soni untuk merapikannya. Netra sepuh Pak Rahmat, sempat melirik sekilas ke arah berkas itu. Sebersit senyum terbit di bibirnya.


"Maaf", ucap Pak Rahmat sembari mengangsurkan berkas yang tercecer.


Soni mengangguk sekilas mendengar permintaan maaf dari Pak Rahmat. Karena terburu-buru membuatnya tidak mengenali Pak Rahmat. Padahal Soni telah beberapa kali bertemu dengan beliau.


Tok ... tok ...


Senyum Pak Broto terbit ketika melihat siapa yang datang. Bagi Pak Broto, saat ini hanya Soni yang bisa menjaga Menik dengan aman. Sengaja beliau masih menyembunyikan fakta tentang Menik dari Sri. Dan Pak Broto menunggu saat yang tepat untuk menegur Sri mengenai status Menik yang bocor di lingkungan rumah.


"Ayah," ucap Soni dan mengangsurkan amplop cokelat di tanggannya.


Amplop cokelat kini berada di tangan Pak Broto, dengan teliti beliau memeriksa isinya. Setelah meneliti dan merasa isi amplop cokelat itu sudah sesuai. Pak Broto kembali mengangsurkannya kepada Soni.


"Lanjutkan! Masa iddah Menik berakhir hari ini. Besok Kamu urus semuanya!" titah Pak Broto.


"Baik, Ayah," ujar Soni dan meninggalkan ruangan Pak Broto.


***


Brak!


Suara tendangan di pintu membuat Agus menghentikan kegiatannya merapikan baju ke dalam koper.


Nampak Astuti dengan wajah merah menahan amarah. Tanpa sengaja Astuti bertemu dengan Soni, ketika Astuti menjenguk temannya di rumah sakit. Kebetulan Soni mengantar Menik untuk berkonsultasi dengan psikolog mengenai trauma akibat perbuatan Agus.

__ADS_1


"Kurang ajar Kamu! Sebejat itu perlakuanmu terhadap Menik!" ucap Astuti sambil memukuli lengan Agus.


Pukulan Astuti bertubi-tubi mendarat di lengan dan punggung Agus. Tidak ada niat Agus membalasnya. Dia cukup tahu diri, kalau dia bersalah. Wajar Astuti memukulinya secara brutal.


"Hentikan, As! Kamu menyakiti Agus!" teriak bu Islah saat secara tidak melewati kamar Agus.


Astuti menatap nyalang kepada Bu Islah, rasa tidak suka dengan sikap ibunya yang selalu membela Agus, membuatnya sedikit kecewa.


"Seandainya Ibu tahu apa yang diperbuat Agus, tentu Ibu tak akan mencegah As memukulinya. Bahkan kalau bisa, akan As laporkan ke polisi!" teriak Astuti histeris.


Teriakan Astuti terdengar sampai ke telinga Pak Dewa yang kebetulan tengah menikmati angin sepoi di pinggir kolam.


"Kenapa teriak-teriak, As?" ujar Pak Dewa.


"Tanya pada Agus, Yah! seru Astuti sembari menujuk muka Agus dengan telunjuknya.


Pandangan Pak Dewa beralih ke arah Agus yang menundukkan wajahnya. Nyalinya ciut melihat Pak Dewa berdiri tepat di depannya.


"Kali ini apalagi ulah Mu!" sinis Pak Dewa.


Sejak Agus bercerai dengan Menik, hubungan Pak Dewa dan Agus menjadi renggang. Bahkan Pak Dewa hanya berbicara dengan Agus jika terpaksa. Dan itu tidak hanya kepada Agus. Pak Dewa masih enggan tidur satu kamat dengan Bu Islah yang selalu mendukung Agus. Sehingga membuat Agus tidak menyadari kesalahnnya.


"Maaf, Yah," ucap Agus lirih nyaris tidak terdengar.


"Maaf! Memang apa yang telah kamu perbuat, sehingga minta maaf?"


"A—Agus ... memaksa Menik, Yah."


"Maksudmu, memaksa apa? Kalau ngomong yang jelas! bentak Pak Dewa.


"A—A—Agus, me ... ."


"Agus memaksa Menik untuk melayani hasrat Agus, Yah." sela Astuti.


"Apa!" ucap Pak Dewa dan bu Islah kompak.


Tulang kaki Agus seketika lenyap, Agus berlutut di depan Pak Dewa dan Bu Islah dengan wajah menunduk. Rasa bersalah daan malu membuat Agus tidak berani menatap kedua orang tuanya.


"Bagun! titah Pak Dewa sembari mencengkeram kerah baju Agus.


Plak! Plak!

__ADS_1


"Ayah!"


__ADS_2