
Pandangan mereka tertaut, ada perasaan bahagia terpancar dari pandangan mereka.
"Mas Soni."
"Hai Nik, apakabar?" ucap Soni sambil kembali tersenyum.
"Alhamdulillah baik. Mas Soni apakabar?"
"Yah, seperti yang kamu lihat Nik, aku baik-baik saja. Meski ditolak olehmu."
Menik terdiam mendengar ucapan Soni yang menyindirnya.
"Lhah malah diam. Maaf kalau ucapanku tadi membuatmu tersinggung, Nik."
Menik tersenyum dan berucap, "Menik yang salah Mas. Maaf."
Keduanya terdiam setelah saling mengucapkan maaf. Hening tercipta di antara keduanya. Hingga terdengar satu suara yang mengalihkan perhatian Menik.
Seorang gadis cantik berjalan ke arah Soni dan Menik. Dengan manja dia memeluk lengan Soni.
"Ternyata Mas di sini. Febri cari dari tadi," ujar Febri.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Soni sambil melepas tangan Febri dari lengannya.
"Sudah, tinggal Mas Soni bayar. Ayo Mas, keburu mama marah," ucap gadis itu sembari menarik tangan Soni.
"Nik, aku duluan," pamit Soni.
"I—iya Mas."
Menik memandang punggung Soni yang pergi mengikuti Febri. Hati Menik perih, melihat Soni berjalan dengan gadis lain. Tapi Menik tidak boleh egois. Bukankah dia yang meninggalkan Soni.
"Semoga kamu bahagia Mas, dengan gadis itu," gumam Menik.
Merasa ada yang mendesak keluar dari sudut matanya, Menik memandang ke atas sambil mengerjabkan matanya beberapa kali, agar air itu tak jadi menetes. Berkali-kali Menik istigfar, supaya dia tenang.
Ince membiarkan Menik untuk mengatasi perasaannya yang kacau saat bertemu dengan Soni. Dia biarkan dulu Menik yang berusaha menahan tangisnya.
"Semoga kamu kuat, Nik," gumam Ince.
Ince mendekati Menik dan menanyakan apakah sudah menemukan high heels yang cocok. Sengaja Ince tidak menanyakan mengenai Soni. Setelah menemukan ukuran yang cocok, Menik segera ke kasir untuk membayarnya.
Capek kulineran dan belanja sepatu, keduanya langsung pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan keduanya diam. Menik larut dengan pikirannya tentang Soni. Sedangkan Ince, memikirkan bagaimana cara menceritakan apa yang dia dengar kepada Menik.
Sampai di rumah, sebelum masuk keduanya mengucap salam. Tapk tidak ada yang menjawab salam mereka. Menik dan Ince langsung masuk ke rumah, dan menuju halaman belakang.
__ADS_1
Terlihat Pak Broto menikmati kue buatan Sri. Melihat Menik datang Sri kangsung berpura-pura menjadi ibu peri yang sangat baik. Disuruhnya Menik dan Ince untuk langsung makan. Tumben hari ini makanan tidak disembunyikan. Tapi itu malah membuat Menik curiga. Pasti ada sesuatu yang Sri sembunyikan.
Menik tetap makan masakan Sri, tapi sebelum menikmati masakan Sri, Menik berdoa banyak-banyak. Agar apa yang direncanakan Sri gagal.
Sementara itu di rumah Soni, terlihat Febri mencoba sepatu dan gaun yang telah dia beli tadi. Febri mematutkan dirinya di depan cermin, sebelum keluar untuk meminta pendapat Soni mengeni gaun dan high heels warna senada dengan gaun yang baru dibelinya tadi.
"Mas ... Mas, coba lihat ke sini. Bagus nggak?" ucap Febri sembari berputar-putar di depan Soni.
Soni diam tak mengubris pertanyaan Febri. Pikirannya berkecamuk memikirkan Menik.
"Woi Mas ... gimana cantik nggak?" tanya Febri lagi
"Hem," jawab Soni.
"Coba jawabnya yang bener, jangan cuma hem,"
Meski mendapat protes dari Febri , Soni tetap diam. Melihat Soni masih tak menghiraukannya, Febri segera meninggalkan Soni untuk masuk ke kamar.
"Dasar tidak peka, apa sih salahnya jika bilang aku cantik kalau pakai gaun ini," gerutu Febri. "Awas kamu Soni, akan aku buat kamu bertekuk lutut memujaku."
Sementara itu di rumah Menik, terlihat Menik hendak berpamitan untuk kembali ke kos.
"Ayah, Menik berangkat sekarang. Takut kemalaman di jalan," pamit Menik.
"Nduk, kalau sempat kamu mampir ke rumah mertuamu. Tidak sopan, jika kamu pulang tapi tidak mampir ke sana. Sempatkan mampir meski sebentar."
Setelah berpamitan, Menik dan Ince menuju rumah Agus. Menik sengaja tidak memasukkan mobil ke halaman rumah. Karena niatnya hanya mampir sebentar.
"Assalamualaikum," salam Menik.
"Waalaikumsalam. Masuk Nik," seru Astuti dari dalam rumah.
Setelah dipersilakan masuk, keduanya masuk dan langsung menuju ke ruang keluarga. Melihat bu Islah, Menik menghampiri beliau dan mencium tangan bu Islah. Bu Islah langsung memeluk menantunya. Entah mengapa akhir-akhir ini setiap melihat Menik, hati bu Islah merasa sedih. Agak lama bu Ielah memeluk Menik, hingga terdengar suara yang menyuruh beliau untuk melepaskan pelukannya.
"Ibu jangan terlalu lama memeluk istriku, gantian aku yang mau memeluknya," seru Agus.
Bu Islah tersenyum mendengar ucapan Agus, dan mulai mengurai pelukannya.
"Biar saja ibu peluk Menik lama-lama. Kamu dilarang peluk Menik, sampai semua orang tahu kalau kalian sudah menikah."
"Tinggal sebulan lagi kan tidak apa-apa dicicil peluk-peluk. Agus sudah nggak sabar lebih dari memeluk Menik, Ibu," gurau Agus sambil melirik Menik yang menunduk karena malu dengan ucapan Agus.
"No ... no, tak ada cicil mencicil ataupun kredit di sini. Kalau ibu bilang tidak boleh ya tidak boleh," tegas bu Islah.
"Maaf ada anak di bawah umur," seru Ince.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ince, bu Islah tertawa dan mengacungkan kedua jempolnya.
"Tuh dengar Gus, kalau ngomong difilter. Ada anak di bawah umur," ucap Astuti menimpali ucaoan Ince.
Sebenarnya Menik terkejut melihat ada Agus di rumah. Karena biasanya kalau pulang ke rumah, Agus akan memberitahu Menik.
Hampir satu jam Menik berada di rumah Agus. Kalau Ince tidak mengingatkannya, Menik pasti lupa waktu. Apalagi Agus yang selelu menempel pada Menik selayak gambar sablon di kaos, yang membuat Ince agak sungkan untuk mengingatkannya.
"Ibu, Menik dan Ince pamit dulu. Takut kemalaman sampai di kos," pamit Menik
"Kenapa cepat sekali, Nduk. Ibu masih kangen sama kamu. Coba besok saja pulangnya," rayu bu Islah.
"Maaf Ibu, Menik besok ada janji dengan dosen."
"Tidak bisa diganti hari janjinya?"
"Maaf tidak bisa Ibu. Insya Allah lain kali Menik mampir lagi."
"Jangan cuma mampir Nduk, tapi nginap di sini," ucap bu Islah. "Mbak Tika juga boleh ikut Menik nginap di sini," sambung bu Islah sambil menengok ke arah Ince.
Ince tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan bu Islah yang memperbolehkannya menginap di rumah beliau.
"Nik, tadi naik apa ke sini? Aku tidak melihat motormu," tanya Agus.
"Bawa mobil Ibu, Mas."
"Bawa mobil? Kalau begitu aku antar kamu saja, nanti turunkan aku di terminal untuk naik bus ke kampusku," seru Agus.
"Ta—tapi, Mas."
Belum sempat Menik menjawab, Agus sudah menghilang masuk ke kamarnya. Astuti menghampiri Menik, dan mengatakan biar saja Agus mengantarnya. Dari pada Menik menyopir sendiri.
Menik memandang Ince untuk mencari solusi, tapu Ince hanya mengangkat kedua bahunya. Akhirnya mau tidak mau, Menik menyetujui permintaan Agus.
Setelah berpamitan, ketiganya berangkat ke kota S terlebih dahulu. Di dalam mobil Ince menguasai kursi di baris kedua. Dengan leluasa Ince berbaring mendengarkan lagu. Sesekali terdengar suara Ince menirukan lagu yang dia dengar. Untung saja suara Ince lumayan enak didengar. Kalau tidak, bisa kena lemparan bantal dari Menik. Atau lebih ekstrim, diturunkan di tengah jalan.
"Mas, boleh Menik bertanya?"
"Boleh, mau tanya apa?" jawab Agus.
"Mas kapan pulang ke rumah? Tumben tidak ngabarin Menik."
Agus tak langsung menjawab pertanyaan Menik.
"Kok diam, Mas?" ucap Menik.
__ADS_1
Huft ... Agus membuang napas panjang. Dia menoleh sekejab ke arah Menik dan kembali fokus melihat ke arah depan.