
Tengah malam, cacing di perut Menik meminta jatah asupan makanan. Menik beranjak menuju dapur untuk mencari makanan. Terpampang deretan mie instan menggoda iman di dalam lemari makan. Menik berniat mengambilnya satu. Ditariknya perlahan pintu lemari, namun gagal. Dicobanya sekali lagi, dan ternyata terkunci. Pantas saja tidak bisa dibuka.
Menik tersenyum miris melihat pintu lemari yang terkunci. Dicoba mencari telur di dalam lemari es. Lagi-lagi zonk, mungkin telurnya sudah menetas semua pikirnya.
Pak Broto terbangun mendengar suara yang berasal dapur. Perlahan beliau mendekat ke arah dapur. Beliau kaget melihat Menik sedang minum air putih dengan gelas besar.
"Malam-malam di dapur ngalain Nduk?"
"Eh, Ayah. Menik lapar. Tapi nggak ada yang bisa dimakan Yah. Jadi Menik minum air putih untuk mengurangi lapar." ucap Menik sambil senyum.
Pak Broto melihat ke arah lemari, terlihat banyak stok mie instan. Beliau heran mengapa Menik tak mengambilnya.
"Lha, di lemari makan ada mie Nduk, kenapa nggak diambil?"
"Coba Ayah yang ambilkan untuk Menik." pintanya.
Taktik Menik agar pak Broto tahu jika lemari terkunci. Saat yang tepat membongkar salah satu kelakuan Sri di belakang pak Broto.
"Dasar manja kamu Nduk."
Pak Broto menuju lemari makan, dan beliaupun tak berhasil membukanya.
"Dikunci kan Yah." seru Menik
"Iya. Siapa yang mengunci lemari?" heran pak Broto.
"Pastinya bukan Menik Yah."
Pak Broto beralih ke lemari es, dibukanya perlahan, dan lagi-lagi lemari es nggak ada bahan makanan sama sekali. Hanya tersedia air putih.
"Ke mana perginya telur-telur si Blirik? Perasaan tadi sore baru ayah simpan di lemari es."
"Menetas kali Yah." gurau Menik.
"Sudah kita makan di luar saja Nduk. Jam segini biasanya warung di sekitar stasiun lama masih buka." ajak pak Broto.
Menik segera mengganti pakaiannya, dan menyusul pak Broto yang sudah di atas motor. Malam itu pak Broto dan Menik menyusuri kota, sampai akhirnya menemukan penjual tahu gimbal dekat stasiun lama.
Selesai menikmati tahu gimbal, Pak Broto dan Menik tidak langsung pulang. Malah menuju pasar pagi yang tak jauh dari stasiun lama. Menik memborong sayuran dan beberapa lauk untuk diolahnya besok pagi.
Pukul 01.30, ayah dan anak itu baru memasuki rumah. Untung Sri tak terbangun mendengar derit pintu pagar. Menik segera menyusun sayuran di dalam lemari es, setelah itu masuk ke kamar.
Pak Broto masuk ke kamarnya. Dipandanginya wajah sang istri, terselip rasa tak percaya saat melihat putrinya tak bisa membuka lemari yang penuh dengan makanan, akibat ulah istrinya yang sekarang sedang tidur dengan nyenyak.
Mau tidak percaya tapi kenyataan. Pak Broto bingung dengan sikap yang akan diambilnya besok pagi. Karena tidak mungkin malam-malam membangunkan Sri dan menanyakan mengapa lemari dikunci dan semua makanan hilang dari lemari es.
***
Pagi menjelang terdengar lengkingan suara Bagong pasangan Blirik membangunkan penghuni rumah. Sri segera bangun, takut keduluan pak Broto. Dibukanya kunci lemari makanan, dan dikembalikan telur-telur si Blirik ke dalam lemari es. Kali ini matanya kurang awas, sehingga tak melihat sayur yang sudah tertata rapi.
__ADS_1
Sri segera menyalakan kompor dan mulai menjerang air untuk kopi pak Broto. Sedangkan Menik di kamar masih khusuk bermunajat pada Sang penulis takdir.
Nging ... nging ... ketel air menderukan suara menandakan air mendidih sempurna. Sri segera menyeduh kopi hitam kesukaan pak Broto.
Wangi kopi menyeruak di antara aroma tanah basah sisa gerimis subuh tadi. Pak Broto beranjak menuju halaman belakang untuk memberi makan Bagong dan Blirik.
Pak Broto melirik ke arah lemari makan, ternyata anak telah bergantung di lubangnya. Beliaupun membuka lemari es, dilihatnya telur si Blirik berbaris dengan rapi. "Aku harus bagaimana?" gumamnya. Setelah mengetahui semuanya.
Kur ... kur ...
Terdengar suara pak Broto memanggil ayam-ayamnya. Tak lama sepuluh ekor ayam telah mengerubungi beliau untuk mendapatkan jatah makanan. Dengan telaten dielusnya satu persatu ayam peliaharaannya.
Panggilan Sri menghentikan aktivitas pak Broto dengan ayam-ayamnya. Beliau bergegas duduk di teras belakang.
"Pi, ini kopinya sesuai takaran dan kebetulan Mami buat kue. Cicipin Pi, enak apa tidak."
"Enak." ucap pak Broto, meski dalam hati berkata, "masih enak buatan Asih dan Menik."
"Alhamdulillah kalau Papi suka. Besok Mami buatkan lagi Pi." ujar Sri dengan ceria.
"Mi, tadi malam Ayah mau buat susu jahe, rapi lemarinya tidak bisa terbuka."
"Masak sih Pi. Perasaan gampang saja kok di buka, apalagi Mami nggak pernah menguncinya."
"Ooh, mungkin tadi malam macet pintunya Mi."
Sengaja pak Broto tidak mengatakan langsung jika lemarinya terkunci. Karena beliau ingin tahu apakah Sri akan mengakui perbuatannya atau tidak. Dan ternyata Sri tidak mengakuinya.
"Nggak tega Mi. Akhirnya ayah ajak Menik keluar cari STMJ."
"Kok Mami nggak dibangunin Pi, kan mami juga pengin ikut." rajuknya.
"Papi nggak tega bangunkan Mami, soalnya tidurnya nyenyak sekali." elak pak Broto. Padahal sengaja beliau tak membangunkan Sri.
"Aih, Papi nggak asyik." rajuknya kembali.
"Jangan merajuk Mi. Sebagai gantinya nanti siang kita pergi ke luar kota. Papi mau cari laptop."
"Laptop untuk siapa Pi?" tanya Sri penasaran.
"Nanti Mami juga tahu. Ayo siap-siap Mi. Ayah bangunkan Menik dulu."
Pak Broto beranjak meninggalkan Sri yang masih berkutat dengan rasa penasarannya. Beliau menuju kamar Menik dan segera menyuruh Menik untuk segera mandi.
Setelah sarapan bersama, mereka segera menuju salah satu kota yang terkenal dengan toko elektroniknya. Sampai di sana Pak Broto menyuruh Menik untuk memilih jenis laptop yang bisa mendukung skripsinya.
Menik berkeliling melihat-lihat berbagai jenis laptop. Pilihannya jatuh ke laptop berlogo sama dengan ponselnya.
"Ayah sini." seru Menik memanggil pak Broto.
__ADS_1
"Sudah dapat?" tanya pak Broto.
Sri terus saja memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Timbul banyak pertanyaan dipikirannya. Kenapa Menik yang memilih, bukankah yang hendak membeli laptop pak Broto. Namun Sri tak berani menanyakannya langsung. Takut terbuka topengnya. Dia putuskan tetap diam, namun dengan mata yang awas.
"Sudah Yah, Menik boleh pilih yang itu?" tunjuk Menik pada etalase.
"Mas, bisa lihat yang ditunjuk anak saya?" ucap pak Broto kepada penjaga toko.
Penjaga toko segera mengambil dan menaruh di depan Menik.
"Boleh Yah?" tanya Menik kembali.
Pak Broto mengangguk dan memberikan kartu debit kepada Menik untuk membayarnya.
"Terima kasih Ayah. Menik tambah sayang sama Ayah." ucap Menik seraya memeluk erat pak Broto.
Pak Broto menepuk perlahan punggung anak gadisnya. Menik melerai pelukannya, dan segera menuju kasir untuk membayar.
Sri dengan awas memperhatikan harga yang harus dibayarkan. Matanya membola saat tahu berapa harganya.
Awas kamu Menik, tunggu di rumah saat ayahmu pergi, batin Sri.
Setelah membayar, mereka bertiga melanjutkan berkeliling. Ketika melewati counter HP, pak Broto menawari Sri untuk membeli ponsel baru. Namun Sri menolak, dengan alasan ponselnya masih bagus.
Capek berkeliling, mereka memutuskan untuk mapir makan. Sri selalu bergayut manja di lengan pak Broto. Tak memberi kesempatan Menik untuk bermanja-manja dengan ayahnya.
***
Sri menghampiri kamar Menik yang terbuka sedikit. Dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dilihatnya Menik sedang berselancar menggunakan laptop barunya di atas tempat tidur.
Ehem ... ehem ...
Sri berdehem untuk memberitahu keberadaannya. Menik reflek menoleh.
"Maaf Mi, menik tidak melihat Mami masuk ke kamar."
"Jelaslah nggak melihat Mami masuk. Kan matanya tertutup laptop mahal." sindir Sri.
Menik tersenyum datar menanggapi sindiran Sri. Dia terus beristigfar dalam hati agar tak membalas sindiran ibu sambungnya.
"Sudah punya laptop, ngapain juga minta yang baru. Sana minta sama suami mu atau mertuamu. Ingat kamu sudah menikah, jadi bukan lagi tanggungan kami."
Menik masih bersabar dengan ucapan Sri. Semua ditahannya, meski tangannya terkepal sempurna di balik selimut.
"Dasar anak nggak tahu malu. Sudah punya suami, eh pulang dengan laki-laki lain. Apa itu didikan ibu mu." sarkas Sri.
Hanya karena laptop, Sri bicara merembet kemana-mana. Seketika Menik berdiri mengikis jarak dengan Sri.
"Kamu boleh menghinaku. Tapi jangan sekali-sekali menghina ibuku. Ingat kamu di sini hanya pendatang, yang dipungut ayahku."
__ADS_1
"Wah-wah ... ternyata kamu pintar ngomong juga. Jadi membuatku semakin yakin, didikan seperti apa yang sudah ibu mu berikan."
Braaak—