Adhisti

Adhisti
Bab 53


__ADS_3

Glodak .... klontang .... pyar


Terdengar suara dari kamar Sri. Pak Broto memandang ke arah Sri, begitu juga sebaliknya. Kompak keduanya berlari menuju kamar. Terlihat sebuah bingkai


tak berbentuk dengan kaca berserakan di lantai. Tak jauh dari tempat Sri berdiri, dilihatnya pintu lemari yang terbuka, dengan semua pakaian Sri terhambur disekitarnya.


"Pi—."


Sri memandang pak Broto dengan raut muka ketakutan. Pak Broto juga telihat khawatir saat mengetahui hanya pakaian istrinya yang terhambur dari lemari. Sedangkan pakaian beliau masih tersusun rapi.


"Ternyata kamu memang membuktikan ancamanmu," gumam pak Broto.


Sri mendengar gumaman pak Broto, yang semakin membuatnya penasaran.


"Pi— maksud Papi apa? Siapa yang Papi maksud dengan kamu?" tanya Sri penasaran.


Pak Broto terdiam, beliau larut dengan pikirannya. Karena kalau sampai Darmi bertindak, berarti memang benar kalau istrinya memperlakukan Menik dengan tidak baik.


"Pi— Papi," panggilnya kembali.


Pak Broto menoleh ke arah istrinya, "Iya Mi?"


"Maksud gumaman Papi tadi apa?"


Huft ... pak Broto mengembuskan napas kasar.


"Mi, boleh ayah bertanya? Tolong jawab dengan jujur."


"Mami selama ini selalu jujur sama Papi. Masak Papi tidak mempercayai Mami."


"Kalau Mami memang sudah jujur sama ayah, berarti ayah tidak jadi bertanya."


"Kok begitu Pi?"


"Tidak apa-apa Mi, tidak usah dipikirkan. Rapikan saja yang berhamburan."


Sri terdiam dan segera melaksanakan perintah suaminya. Diambil sapu dan sekop untuk menampung pecahan kaca pigura pernikahannya.


Sementara itu, pak Broto menuju ruang kerja untuk memikirkan cara terbaik supaya Darmi tak mengusik istrinya.


Semribit angin masuk melalui celah jendela yang terbuka. Tampak sekelebat bayangan menyertainya. Bayangan itu berdiri tepat di depan meja pak Broto. Suara tawa melengking kembali menggema di ruang kerja, membuat buku kuduk pak Broto sedikit meremang.


"Hentikan tawa jelekmu itu Darmi!"


"Kenapa Broto, kamu takut?" serunya.


"Aku tidak penah takut pada makhluk seperti kamu Darmi," tegas Pak Broto.


"Jelas kamu tidak takut. Aku kan cantik. Ha ... ha ..."

__ADS_1


"Sudah tidak usah berbasa basi. Sampaikan apa yang kamu inginkan."


"Kamu sudah tahu apa keinginanku Broto! Tak perlu bertanya lagi."


Perdebatan alot terjadi antara pak Broto dan Darmi. Tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Darmi memutuskan untuk meninggalkan rumah pak Broto. Namun, sebelumnya pergi Darmi sempat meneror Sri yang sedang memasang kembali pigura foto pernikahannya. Foto yang sudah dipasangnya kembali terjatuh.


Pyar .... kaca berhamburan, sayup terdengar suara tawa yang baru sekali ini di dengar oleh Sri Suketi. Seketika dia berteriak memanggil pak Broto.


Mendengar teriakan istrinya, Pak Broto segera berlari ke arah kamar. Terlihat Sri menangis histeris sembari menutup telinganya dengan bantal.


Pak Broto segera menghampiri Sri yang gemetar ketakutan. Dipeluknya tubuh Sri, untuk menenangkannya. Pak Broto mengurai pekukannya saat tubuh istrinya tak gemetar ketakutan lagi.


Perlahan Sri menatap suaminya. Sri menanyakan suara tawa yang dia dengar. Namun, pak Broto enggan mengatakannya. Biarlah masalah Darmi beliau tangani sendiri.


***


Di kediaman pakde Harjo terlihat Menik membantu budhe Harmini memasak sesuai arahan budhe Harmini. Kali ini budhe Harmini layaknya seorang guru yang mengajari muridnya memasak.


Setelah berkutat kurang lebih satu jam di dapur, terhidanglah nasi goreng sea food di atas meja makan. Pakde Harjo, budhe Harmini, dan Menik menikmatinya bersama. Kebetulan anak-anak pakde Harjo sedang tidak berkumpul di rumah.


Selesai sarapan, Menik membereskan semua peralatan makan. Pakde Harjo dan Budhe Harmini bersiap untuk menjadi among tamu di acara hajatan pernikahan tetangganya. Sehingga Menik di tinggal sendirian di rumah.


Perasaan Menik sedikit mengganjal, ketika melewati kamar yang biasanya dipakai budhe Harmini untuk menyeterika. Perasaan itu dihalaunya, Menik segera menuju kamarnya.


Diambilnya ponsel yang sedari tadi malam di jejalkan dalam tas ransel. Diamatinya ponsel tersebut, banyak panggilan dan pesan yang masuk. Namun, tak terlihat nama pak Broto dalam riwayat panggilan maupun pesan yang masuk di ponselnya.


Tut .... tut ... tut ...


"Halo." terdengar jawaban dari seberang telepon.


Menik terdiam mendengarkan suara itu. Hatinya seketika mendingin dan tenang. Suara yang dia rindukan, suara yang selalu bisa menenangkan batinnya. Namun sebenarnya tak boleh lagi Menik sering-sering mendengarnya.


"Halo, Menik? Kamu dengar suaraku?"


Hanya suara isakan Menik yang dia dengar. Membuatnya semakin gelisah. Seandainya bisa, saat ini juga dia akan merangkum Menik dalam pelukannya, dan menenangkannya.


"Nik, kamu kenapa?" tanya lagi.


Tak ada jawaban dari Menik, hanya suara tangis yang semakin terdengar. Hatinya terasa teriris mendengar Menik menangis.


"Nik, istighfar. Jangan nangis, nanti aku belikan semua yang kamu inginkan. Atau akan aku ajak kamu keliling ke tempat-tempat indah yang kamu impikan selama ini," rayunya.


Isakan Menik mereda, dia tersenyum mendengar semua janji itu. Segera Menik menekan tombol merah mengakhiri panggilan.


Tut ... tut ...


Panggilan terputus, membuat laki-laki itu memandang ponselnya seraya bergumam, "Dasar kamu Nik, nggak pernah berubah. Semakin ingin aku segera menemuimu."


***

__ADS_1


Mangata malam ini terlihat begitu indah. Menemani Agus yang sedang dirundung rindu. Andai jalanan yang terbentuk karena sonar rembulan itu nyata, ingin rasanya dia menyeberangi lautan menuju di mana kekasihnya berada.


Agus mulai menghitung hari, masih tersisa ratusan hari yang harus dia lewati agar bisa bertemu dengan Menik istri kecilnya.


Sejak pesan terakhir yang dia kirimkan, Menik tak mau lagi membalas pesannya. Kalaupun dibalas hanya dengan kata-kata, "aku masih kecil, silakan mencari yang dewasa".


Agus sungguh menyesal telah mengirim pesan yang menyebut Menik seperti anak kecil. Bahkan ibu dan kakaknya juga ikut menyalahkan Agus. Tak ada celah agar dia bisa berkomunikasi dengan Menik seperti dulu.


"Agus."


Panggilan Andi membuat Agus kembali ke alam nyata. Dia membalas sapaan Andi, dan mengajaknya untuk menikmati indahnya rembulan malam ini.


Perbincangan yang awalnya santai berubah menjadi serius, ketika Andi mulai menyinggung tawarannya.


"Gimana Gus, dengan tawaranku?"


"Maaf mas, jawaban saya masih tetap sama."


Mendengar jawaban Agus, Andi menatapnya dengan jengah dan segera berdiri meninggalkan Agus.


"Awas kamu Gus, tunggu hadiah dariku." gumam Andi sembari menjauh dari tempat Agus berada.


Meski lirih, Agus masih bisa mendengar gumaman Andi. Terselip ragu menghantam dadanya. Gamang kembali hadir menyapanya. Ditambah dengan Menik yang masih merajuk. Rasanya dia ingin masa-masa tugas akhirnya segera berakhir. Agar bisa bertemu dan berbicara dengan Menik meluruskan masalah yang muncul.


***


Arunika menyapa Menik melalui celah-celah tirai yang tak menutup sempurna. Menik terbangun dan merenggangkan otot-ototnya. Segera dia berwudu dan melaksanakan salat subuh. Selesai salat dia rapikan semua barang-barangnya ke dalam ransel yang dia bawa. Hari ini jadwal Menik untuk kembali ke kampus, menjalani rutinitas agar cepat mendapat gelar sarjana.


Menik keluar kamar saat sudah siap sembari membawa tas ranselnya. Budhe Harmini terheran melihat keponakannya telah siap untuk pergi.


"Nudk, kamu mau ke mana?"


"Menik mau ke kampus Budhe. Ada janji sama pembimbing Menik."


"Mau naik apa kamu Nduk?"


"Naik bus saja budhe, tinggal jalan ke depan. Mumpung masih pagi, biar tidak uyel-uyelan."


"Bareng pakdhe mu saja Nduk, kebetulan ada acara pelatihan dekat kampus mu."


"Wah, rejeki Menik berarti. Bisa hemat uang saku," seloroh Menik.


Setelah sarapan Menik berangkat bersama pakde Harjo. Sepanjang perjalanan pakde Harjo banyak memberikan Menik petuah-petuah bijak. Pakde yang biasanya selalu irit bicara itu, tiba-tiba berubah menjadi banyak bicara. Apalagi ada om Hariyanto yang semakin menambah hidup suasana.


Satu jam lebih tiga puluh menit, Menik sampai di kos. Pakde Harjo dan Om Hariyanto segera menuju tempat pelatihan di salah satu hotel yang tak jauh dari kampus Menik.


Selepas menyimpan rasel di kamar, Menik segera turun untuk memanaskan mesin si hitam yang libur selama tiga hari. Untung saja si hitam tidak ngambek karena ditinggalkan di kos. Begitu Menik menekan tombol start, si hitam langsung menyahut.


Berm ... berm ...

__ADS_1


__ADS_2