
Baiklah, kali ini aku menurutimu. Tapi kalau Agus semakin keterlaluan padamu, aku tetap akan maju. Biar dia merasakan sakit, seperti yang kamu rasakan saat ini," tandas Darmi dan menghilang tanpa pamit.
"Walah, mbak Darmi ngambek," gumam Menik dan menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Menik kembali memeriksa perhiasan yang akan dikembalikan kepada keluarga Agus. Sampai lima kali Menik memeriksanya, takut ada yang tertinggal.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Menik mengemasnya dengan rapi seperti saat Agus memberikan padanya.
"Sekarang giliran kamu yang akan aku bebaskan dari memori menyakitkan," ucap Menik sambil menatap ponselnya.
Layar ponsel bergulir mencari ikon galeri. Satu persatu kenangan bersama Agus mulai menghilang dari ponsel Menik. Ada rasa perih ketika Menik mulai menghapus semua kenangan. Semua waktu yang telah dilaluinya bersama Agus, sekarang hanyalah sebuah kenangan usang yang harus segera di buang.
Air mata memang tidak bisa diajak kompromi. Sudah diberitahu jangan keluar, malah ngeyel keluar tanpa permisi. Sesekali Menik menyusutnya dengan tisu. Suasana rumah yang sepi menyeret Menik ke dalam lamunan.
Teng ... teng ... bunyi gembok dipukulkan ke besi pagar memecah lamunan Menik.
Cepat-cepat Menik menghapus sisa air matanya. Dia segera mengintip siapa yang datang ke rumahnya.
Ternyata kurir dari salah satu jasa pengiriman yang datang. Menik membenarkan letak hijabnya dan keluar menenmui kurir tersebut.
"Mbak, Menik Adhisti Putri Broto," ucap kurir, memastikan bahwa Menik yang menerima paket.
"Iya, saya sendiri."
"Ini Mbak, ada kiriman surat. Tolong tanda tangan bukti penerimaan paketnya," ujar kurir dengan sopan.
Setelah menanda tangani bukti penerimaan kiriman, Menik membawa masuk amplop coklat berukuran sedang. Sesampainya di kamarr Menik baru menyadari jika pada bagian depan amplop ada kop surat pengadilan agama.
Menik tersenyum miris, mengetahui Agus benar-benar mengurus semuanya dengan cepat. Perlahan dibuka amplop coklat itu, ada surat pemanggilan sidang esok lusa. Rencana untuk kembali ke kos sore ini terpaksa Menik urungkan.
"Aku berangkat sidang sama siapa? Ayah sedang dinas di luar kota. Lagi pula, ayah belum tahu masalah ini. Apa aku minta mas Soni untuk menemaniku?" monolog Menik.
Saat Menik dilanda kebingungan mencari teman untuk menghadapi sidang cerai pertamanya, ponsel Menik berdering.
"Assalamualaikum, Nik," sapa Soni di seberang sana.
"Waalaikumsalam, Mas," balas Menik.
"Lagi apa? Baru berapa jam tidak melihatmu, aku sudah menrindukanmu."
"Mas Soni, nggak usah ngegombal. Menik sudah bukan gadis yang bisa digombalin."
"Siapa yang gombalin Menik. Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku."
"Mas ... besok lusa ada acara tidak?" tanya Menik mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa Nik?"
"Ehm ... ada acara nggak?"
"Kelihatanya nggak ada. Kenapa?"
Menik menceritakan kepada Soni, jika sudah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan esok lusa. Dia minta bantuan Soni untuk menemaninya. Karena ayahnya sedang tidak ada di rumah. Kalau mengajak budhe Harmini, akan membuat keluarga besarnya tahu tentang perceraiannya.
Soni menerima ajakan Menik untuk menemaninya ke pengadilan. Rencananya, dia akan menjemput Menik di rumah. Namun, Menik menolaknya. Menik lebih memilih untuk datang ke rumah Soni. Menik khawatir gerak geriknya dipantau grup nyinyir, dan mereka akan melakukan siaran langsung kepada ibu sambungnya.
__ADS_1
Di rumah Agus, terlihat dia dan bu Islah sedang berdiskusi. Agus berencana besok tidak akan menghadiri persidangan, supaya diundur hari persidangan. Bu Islah nampak berpikir mengenai rencana Agus. Beliau bingung harus bagaimana. Karena sejak sedikit memihak Agus, pak Dewa mendiamkannya.
"Terserah kamu, Gus. Tapi Gus, jika perceraianmu mundur, berarti rencana pernikahanmu dengan Wiwid juga ikut mundur. Apa keluarga pak Hadi mau menerimanya?" tutur bu Islah
Mendengar ucapan bu Islah, Agus berpikir sejenak dan berkata, "Sebenarnya Agus nggak mau nikah sama Wiwid. Seandainya kemarin Menik tidak bersama dengan Soni. Agus tidak akan menjatuhkan talak."
Bu Islah membuang napas kasar, mendengar ucapan Agus. Beliau bingung dengan jalan pikiran Agus.
"Terus mau kamu apa?" tegas bu Islah.
"Agus maunya tetap sama Menik. Tapi sayang, Menik selingkuh dengan Soni," ucap Agus lirih.
"Kalau masih mau dengan Menik, kenapa kamu menjatuhkan talak tiga!" seru bu Islah dengan nada sedikit meninggi.
"Agus khilaf, Bu. Seandainya waktu bisa diulang ..."
"Memangnya kamu Nobita yang punya mesin waktu. Makanya kalau bertindak, dipikir dulu!" ketus bu Islah dan beranjak meninggalkan Agus yang termangu di kamar.
Agus mengutuki semua perlakuannya kepada Menik. Tapi lagi-lagi kecurigannya tentang Menik dan Soni yang telah berzina muncul.
"Aku tidak bisa menerima bekas orang lain!" tandasnya.
***
Mentari pagi memberikan hangatnya, menghilangkan jejak dingin udara malam. Menik bersiap menghadapi hari yang akan menjadi awal kehidupan barunya. Tunik biru muda dipadukan dengan rok lipit menjadi pilihannya hari ini.
"Bismillah, semoga semua urusan hari ini berjalan dengan lancar," ucap Menik sebelum berangkat ke pengadilan.
Sebelum ke pengadilan, terlebih dulu Menik menjemput Soni di rumahnya. Entah kebetulan atau tidak, mereka berdua menggunakan baju dengan warna yang sama.
"He ... he ... Iya-ya kok bisa sama," ucap Menik polos.
"Namanya juga sehati," ucap Soni.
"Ada Menik tho, kenapa nggak di suruh masuk?" seru bu Wagiyem saat melihat Menik duduk di teras rumah.
Menik menghampiri bu Wagiyem, mengambil tangan beliau dan menciumnya.
"Maaf Bu, Menik terburu-buru. Takut terlambat sampai sana. Insya Allah nanti pulangnya Menik mampir lagi," ucal Menik sopan.
Bu Wagiyem mengangguk tersenyum ke arah Menik. Ditatapnya wajah ayu Menik yang terlihat sedikit pucat. Bu Wagiyem mendekat ke arah Menik, dan memeluknya sembari berucap, "Insya Allah semuanya akan baik-baik saja, Nduk."
Mendapat pelukan bu Wagiyem, tak terasa air mata Menik menguar begitu saja. Bu Wagiyem mengurai pelukannya saat mendengar isakan Menik.
"Doa ibu bersamamu. Jangan menangis lagi. Tunjukkan kamu kuat, Nduk," ucap bu Wagiyem bijak sambil menghapus air mata Menik.
Menik mengangguk dan segera berpamitan. Kali ini mereka pergi menggunakan mobil Soni. Biar tidak terlalu menyolok jika dilihat orang.
Pukul sembilan tepat Menik sampai di pengadilan. Suasana masih terlihat lengang, terlihat ada beberapa pasang suami istri yang sepertinya sedang mengantri untuk sidang.
Menik berjalan mondar mandir menunggu kedatangan Agus yang tak kunjung muncul. Sudah satu jam berlalu dari jadwal yang telah ditentukan. Berkali-kali petugas menelepon nomor Agus, namun tak juga diangkat.
"Sepertinya kamu ingin bermain-main denganku," gumam Soni.
Soni menghubungi nomor Astuti, dia sampaikan kepada Astuti jika Agus mangkir dari sidang pertama. Mendengar Agus mangkir, Astuti emosi. Dia segera menelepon ayahnya.
__ADS_1
"Ayah, Agus mangkir dari persidangan. Sudah satu jam lebih dia tidak muncul."
"Biar ayah yang menyeretnya ke sana. Kamu telepon temanmu yang bekerja di sana. Minta perpanjangan waktu sebentar."
"Baik Yah."
Pak Dewa menuju kamar Agus, beliau melihat Agus masih santai bermain game di ponselnya.
"Gus, bisa antar ayah sebentar?" tanya pak Dewa.
"Bi—bisa Yah."
Agus mematikan gamenya dan berganti baju dengan cepat. Mumpung pak Dewa sudah mau menyapanya kembali. Agus tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Ayo, Yah," ucap Agus stelah rapi.
Sepanjang jalan Agus menanyakan tujuan pak Dewa. Namun, hanya di jawab dengan arahan belok kanan, belok kiri, dan lurus. Mendengar pak Dewa yang irit bicara, Agus tak berani bertanya lebih. Dia pasrah mengikuti petunjuk pak Dewa.
"Stop!" perintah pak Dewa saat mereka sampai di belakang sebuah gedung.
Pak Dewa segera turun dan mempercepat langkahnya. Agus menyusul pak Dewa dengan sedikit berlari. Perasaan Agus sedikit aneh, saat membaca tulisan-tulisan yang berada di dindinng dan pintu.
Dug!
Agus menabrak punggung pak Dewa yang menghentikan langkahnya.
"Masuk!" titah pak Dewa dengan tegas.
Pintu terbuka dari dalam memperlihatkan Astuti dengan senyum devilnya. Mata Agus membelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Me—Menik," ucapnya terbata-bata.
Kaki Agus bergerak cepat ke arah Menik berdiri. Refleks Soni menarik Menik ke belakang badannya, sehingga pelukan Agus mampir di badan Soni.
"Awas, minggir! Aku mau memeluk istriku," ucap Agus sambil berusaha mendorong Soni yang lebih tinggi darinya.
"Lewati aku, baru kamu bisa memeluknya," ijar Soni dengan senyum sinisnya.
"Dasar pebinor," runtuk Agus.
Melihat perseteruan Agus dan Soni, Astuti merarik Agus agar segera duduk.
Mediasi untuk mempertahankan pernikahan Menik dan Agus gagal. Persidangan kedua untuk membacakan putusan akan dilaksanakan satu minggu lagi.
Menik keluar ruangan didampingi Soni. Agus terus saja memandang ke arah Menik, sampai akhirnya dia menyadari jika warna baju Soni dan Menik senada.
Penuh emosi Agus mengejar Menik dan Soni.
"Prok ... prok ... pasangan kumpul kebo yang serasi," ucap Agus sembari bertepuk tangan.
Mendengar sindiran Agus, Soni menghentikan langkahnya dan menghampiri Agus. Kepalan tangan Soni hampir saja mendarat ke rahang Agus jika Menik tidak memeluknya.
"Menik tidak mau Mas Soni jadi tukang pukul," lirih Menik.
Soni tersenyum teduh dan menurunkan kepalannnya. Agus terperangah melihat Menik menghambur ke arah Soni dan memeluknya. Emosinya semakin meluap, ditariknya Menik dengan paksa dari pelukan Soni.
__ADS_1
Plak!