
"Menik bingung mbak harus cerita dari mana. Intinya, rasanya campur aduk, manis, asam, asin— ramai rasanya." kelakar Menik.
Ayu yang masih ditata model hijabnya melempar Menik dengan segumpal tisu. Sayang lemparannya tak menjangkau sasaran.
"Nggak kena we ..." olok Menik
Mendengar ejekan Menik, Ayu tersenyum. Sudah biasa kalau keduanya bertemu pasti ramai. Karena usia mereka tak terpaut jauh. Hanya saja Menik yang bertemu dengan jodohnya terlebih dulu.
***
Usai pemberkatan nikah, acara dilanjutkan di gedung. Pengantin diarak menuju pelaminan dengan didampingi orang tua dan pager ayu.
Seperti biasa para tamu akan tertarik untuk melihat pengiring pengantin. Baik pager bagus maupun pager ayu-nya. Karena sudah menjadi rahasia umum, biasanya yang jadi pengiring pengantin ganteng-ganteng dan cantik-cantik.
Agus duduk satu meja dengan keluarganya. Dia memperhatikan Menik dari kejauhan. Hatinya geram, melihat beberapa teman Jaka, membicarakan pagar ayu. Meski bukan hanya Menik yang dijadikan pembicaraan mereka. Namun, tetap saja membuatnya khawatir.
"Gus, hati-hati istrimu dilirik orang." seloroh Astuti dengan senyum menggoda Agus.
"Mbak As, jangan buat Agus jadi tambah khawatir. Lagi pula nggak mungkin Menik yang dilirik mereka. Bukankah masih ada mbak Ndari, mbak Ayu, dan mbak Yani yang juga tak kalah cantik." seru Agus menjawab ucapan Astuti.
"Memang mereka bertiga juga cantik Gus. Tapi yang ter-imut tentu saja masih dipegang sama Menik. Secara istrimu paling muda di antara mereka bertiga."
Dalam hati Agus membenarkan apa yang diucapkan Astuti. Namun dia berusaha untuk menenangkan hatinya, meski sebenarnya khawatir.
Dipandangi olehnya gadis yang telah menjadi istrinya. Memang tak begitu cantik, hanya ada sesuatu yang membuat orang tertarik untuk mengenalnya lebih dekat.
Belum saja aku tinggal, sudah ada yang lirik. Untung saja sudah ku beri stempel kepemilikan, batin Agus.
Tring
Sebuah pesan masuk di ponsel Menik.
Agus: Nik, jaga pandangan. Tak boleh melihat laki-laki lain. Mas awasi dari sini.
Menik: 🤔
Agus: Ingat mas awasi dari sini.
Menik: Dasar posesif.
Setelah membalas pesan Agus, Menik kembali memasukkan ponsel ke dalam tas tangan yang di bawanya.
"Nik, kamu lapar nggak?" tanya Yani.
__ADS_1
"Lapar banget mbak, haus pula." jawab Menik.
"Kita ke sana yuk cari makan. Mumpung pengantinnya belum ganti baju."
"Ayo mbak. Sekarang kita serbu nasi becek dan nasi gandul. Daripada ntar di tengah-tengan makan disuruh ngiring pengantin ganti baju." seru Menik.
Menik dan Yani segera beranjak menuju stand prasmanan yang mereka inginkan. Langkah Menik terhenti, melihat kambing yang berputar-putar dengan estetik di depannya. Dia urungkan menuju stand nasi becek.
Kambing guling, kelihatanya enak, batinnya.
Yani tak menyadari jika Menik berhenti di stand kambing guling.
"Nik, ini mbak ambilin piring." ucap Yani dan menyorongkan piring ke arah Menik.
Namun piring itu tak lekas disambut, membuat Yani menoleh dan baru menyadari adik sepupunya tak berada di belakangnya.
"Kemana ini anak. Tadi ngajak makan nasi becek. Eh, malah menghilang." gumam Yani.
Yani bermaksud untuk meletakkan kembali piring itu. Belum sampai piring yang dipegangnya bertemu dengan piring-piring yang lainnya, ada tangan yang menyambut piring itu. Sontak Yani menoleh, seketika senyum terbit di bibirnya. Setelah mengetahui siapa yang menyambut piring itu.
"Mas Rama." ucapnya
"Apakabar Yani. Kenapa piringnya dikembalikan lagi?" tanya Rama.
"Ooh."
"Mas Rama apakabar? Masih satu divisi sama Mas Jaka?"
"Alhamdulillah aku baik Yan. Dan aku masih satu divisi sama Jaka. Makanya aku diundang ke pernikahan ini. Kebetulan Wulan juga satu kantor, cuma lain divisi." jelas Rama sembari mengambil nasi becek.
"Ayo mas, kita duduk di sana." tunjuk Yani ke arah deretan meja kosong.
Sementara itu, Menik masih setia mengantre di stand kambing guling. ya, kebetulan kambing guling merupakan salah satu makanan favoritnya."Budhe Harmini memang top, tahu saja kesukaan Menik." gumamnya.
Setelah berhasil mendapatkan dua porsi kambing guling tanpa lontong, Menik mengedarkan pandangannya. Mencari sosok suami posesifnya. Saking asyiknya mencari sosok Agus, tanpa sengaja dia menabrak seorang laki-laki. Wajah Menik mendarat sempurna di dada bidang laki-laki itu.
Ehm, sepertinya aku tak asing dengan aroma parfumnya. batin Menik.
"Sudah puas dusel dadaku?" suara bariton laki-laki itu menyadarkan Menik yang masih menempel di dada bidangnya.
Refleks Menik mundur dan mendongakkan wajahnya. Laki-laki itu tersenyum mengejek.
"Lupa sama aroma parfum suamimu?" tanya laki-laki yang tak lain adalah Agus, suami Menik.
__ADS_1
Blush ... seketika pipi Menik merah merona karena malu. Agus merasa gemas dan segera mencubit pipi istri kecilnya.
"Aduh, sakit mas." Menik mengaduh memegangi pipi bekas cubitan Agus.
Agus malah terkekeh melihat Menik yang merajuk. Semakin gemas rasanya. Kalau saja tidak ingat saat ini mereka ada di mana, pasti Agus akan memeluknya posesif.
"Ayo ikut mas, sudah ditunggu ayah sama ibu." Agus memindahkan piring yang penuh kambing guling dari tangan Menik, ke tangannya. Bagaimana piring tidak penuh, Menik merayu petugas stand kambing guling, untuk memberinya porsi lebih.
"Nik, kamu gandeng tangan mas." titah Agus.
Menik menuruti kemauan suaminya. Beberapa pasang mata menatap pasangan pengantin baru dua puluh empat jam. Rata-rata yang melihat interaksi keduanya, menganggap mereka sebagai kakak beradik.
"Yan, kalah lagi kita sama bocil." seru Ndari.
"Iya mbak, nggak nyangka aku, kalau Menik yang ketemu jodohnya. Ku kira kemarin mbak Ayu duluan yang ketemu jodoh. Secara diantara kita berempat mbak Ayu paling senior." Yani menanggapi ucapan Ndari.
"Ngomong- ngomong di mana mbak Ayu, Yan?" Ndari mengedarkan pandannya ke arah tamu-tamu.
"Kalau nggak salah lihat dan salah demgar, tadi Yani lihat mbak Ayu dikenalkan sama anak temannya om Broto mbak."
"Aroma-aroma perjodohan lagi ni Yan."
Yani mengangguk tanda menyetujui ucapam Ndari. "Semoga kali ini memang jodoh mbak Ayu, mbak."
"Aamiin." Ndari mengamini perkataan Yani.
***
"Sini Nik, duduk dekat mbak." seru Astuti kala adik iparnya menghampiri mejanya.
Menik mengangguk dan berjalan menuju kursi di samping Astuti. Namun belum sempat Menik duduk, Agus menarik tangan Menik untuk duduk di samping Agus.
"Dasar bucin dan posesif. Kekepin terus Menik, toh lusa sudah tak bisa lagi." sindir Astuti.
"Apaan sih mbak As ini. Kalau iri bilang sama mas Gandung. Jangan mau dijanjiin terus."
Senyum yang tadi terlihat di wajah Astuti langsung sirna, mendengar nama Gandung disebut Agus.
Bu Islah menatap tajam ke arah anak bontotnya. "Maaf." ucap Agus tanpa suara.
"Maaf mbak, bukan maksud Agus mengingatkan mbak As tentang mas Gandung."
Astuti menangguk menjawab permintaan maaf Agus.
__ADS_1