Adhisti

Adhisti
Bab 78


__ADS_3

Plak!


Tamparan mendarat di pipi Menik. Tak ada air mata yang keluar, Menik menatap Agus tak percaya sembari memegangi pipinya yang terasa perih.


Melihat Menik ditampar, Soni langsung menerjang Agus dengan pukulan bertubi-tubi. Sudut bibir dan pelipis Agus sobek terkena pukulan Soni. Darah mengalir dari pelipis yang terbuka sedikit lebar. Agus tak sempat menghindar ataupun membalas pukulan Soni.


Melihat ada perkelahian, seorang sekuriti menghampiri mereka.


"Ada apa ini? Ayo ke kantor!" ucapnya galak.


"Hanya salah paham Mas. Akan kami selesaikan secara kekeluargaan," ujar pak Dewa.


Mendengar penjelasan pak Dewa, sekuriti tersebut beranjak kembali menuju pos penjagaan.


Puas menghajar Agus, Soni menghampiri Menik. Ditangkupnya pipi Menik sambil berucap, "Kamu nggak papa? Maaf, aku tak bisa menjagamu dengan baik."


Menik tersenyum membalas pertanyaan Soni.


"Aku baik-baik saja, Mas. Namun aku nggak suka Mas Soni jadi tukang pukul," ucap Menik.


"Maaf, Aku lepas kendali," sesal Soni.


Agus memandang interaksi mereka berdua dengan hati terluka. Dia tak menyangka telah menampar Menik. Emosi membuatnya lepas kendali.


"Berdiri!" titah pak Dewa kepada Agus yang masih terduduk di lantai.


Dengan sedikit terhuyung Agus berdiri dari duduknya.


Plak! Plak!


Tamparan kembali mendarat di pipi Agus. Kali ini pak Dewa yang memberikannya cuma-cuma.


"Ayah malu punya anak sepertimu. Beraninya memukul perempuan. Pulang sekarang!" titah pak Dewa.


Bagai kerbau dicocok hidungnya, Agus mengikuti langkah lebar pak Dewa. Darah masih menetes dari pelipisnya. Tak tega melihat keadaan Agus, Menik mengejarnya.


"Mas," panggilnya.


Agus menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Menik. Terlihat Menik mengangsurkan tisu kepada Agus.


"Tunduk dikit, Mas," ucap Menik sembari berjinjit agar bisa menjangkau pelipis Agus.


Agus bersimpuh di depan Menik, agar Menik bisa menjangkau pelipis Agus. Dengan telaten dia, membersihkan luka Agus.


Pandangan Agus menatap lekat ke arah Menik yang tengah konsentrasi membersihkan lukanya. Perasaan bersalah semakin menderanya. Menghantam egonya, mengikis emosinya.


"Maaf," ucapnya sambil berusaha menjangkau pipi Menik yang telah di tamparnya.


Menik mundur selangkah, sehingga tangan Agus menggantung di udara kosong.


"Sudah bersih. Menik pulang dulu," pamit Menik.


Agus bergeming mendengar ucapan Menik. Matanya berkabut melihat Menik berjalan berdampingan dengan Soni.


"Ayo pulang," seru pak Dewa menyadarkan Agus.


"Nik," pangil Astuti.


"Iya Mbak, ada apa?" jawab Menik.


"Besok kalau ada surat panggilan dari pengadilan, kamu nggak usah datang lagi. Biar cepat selesai. Dan ... maaf atas sikap adikku."

__ADS_1


"Baik Mbak."


Sepanjang perjalanan menuju rumah Soni, Menik terdiam. Bekas tamparan di pipi Menik mulai berubah menjadi keunguan. Memar bekas tamparan Agus tercetak begitu nyata di pipi mulus Menik.


Saat melewati apotek Soni mampir sebentar untuk membeli salep pereda memar. Sebelum turun, Soni bertanya kepada Menik mau turun apa tidak.


Menik menolak ajakan Soni untuk turun, karena malu jika bekas tamparan Agus dilihat banyak orang.


Selesai membeli obat pereda memar, Soni mengarahkan kendaraannya menuju arah rumahnya.


Suara mesin mobil terdengar mendekat ke rumah bu Wagiyem. Beliu menyambut Menik di teras rumah. Ketika netra sepuhnya memindai Menik, pandangan bu Wagiyem terhenti pada bekas tamparan di pipi Menik.


"Pipinya kenapa, Nduk?" tanya bu Wagiyem yang masih terfokus dengan pipi Menik.


"Ta—tadi ada nyamuk yang nempel di pipi Menik. jadi Menik pukullah...eh ternyata terlalu kenceng nukulnya. Sehingga pipi Menik memar.


Pandangan bu Wagiyem beralih ke arah Soni san berkata, "Kamu tadi ke mana? Sampai pipi Menik memar.


"Soni kecolongan Bu. Tapi Soni sudah balaskan kepada Agus," jelas Soni.


"Agus nampar Menik?" tanya bu Wagiyem penasaran.


Anggukan kepala Soni, mengatakan apa yang ditanyakan bu Wagiyem. Tentu saja bu Wagiyem terkejut mendengar Agus yang menampar Menik.


"Le, antar Menik.ke rumah sakit untuk visum. Agar bisa melaporkan KDRT yang telah silakukan Agus.


"Nggak usah Ibu, Menik sudah baikan. Paling dua hari memarnya juga hilang" elak menik dengan sopan.


Meski bu Wagiyem terus memaksanya, Menik tetap pada pendiriannya. Sekarang pikiran Menik fokus pada proses persidangannya. Bu Wagiyem akhirnya menyerah, tidak lagi menyuruh Menik untuk visum.


"Sini Nik, aku obatin memarmu," seru Soni sambil tersenyum menggoda Menik.


Terbersit senyum di bibir bu Wagiyem, saat melihat interaksi antara Menik dan Soni.


Pantas Soni tidak pernah rela melepaskanmu, batin bu Wagiyem.


Setelah mengoleskan salep ke pipinya, Menik berjalan mendekati Soni.


"Sini Mas, aku oleskan salep di pipi, Mas."


Mendengar Menik memanggilnya, Soni segera mendekat. Ada sedikit lebam di pipinya. Ternyata satu pukulan Agus senpat mendarat. Perlahan Menik mengoleskan salep di pipi Soni. Tatapan Soni terpaku pada sosok yang sedang mengoleskan salep. Ada rasa hangat menerpa hati Soni. Apalagi Menik sudah menggunakan kata aku untuk menyebut dirinya.


Ehem


Suara deheman menghentikan aktivitas Menik dan memutuskan pandangan Soni. Keduanya menoleh ke arah asal suara.


"Tante Ningsih. Silakan duduk, Tante. Soni panggilkan Ibu," ujar Soni saat mekihat tente Widya ibu dari Febri datang ke rumahnya.


Saat Soni ke belakang untuk memanggil bu Wagiyem, Menik masih duduk di sofa ruang tamu. Pandangan meneliisik tante Ningsih, membuat Menik tidak nyaman. Dia pun berinisiatif untuk beranjak menuju kamar Soni.


"Tante, maaf saya tinggal," ujar Menik dan beranjak menuju kamar Soni.


Tante Ningsih terheran melihat Menik menuju kamar Soni yang biasanya anti dimasukkin siapa saja. Bahkan Febri anak tante Ningsih pun dilaranng masuk ke kamar Soni.


"Woi! Ningsih!" seru bu Wagiyem membuat lamunan Ningsih terhenti.


"Mbak ini, ngagetin orang saja," gerutunya.


"Salah siapa melamun. Lagi pula ngapain kamu lihatin kamar Soni. Seperti nggak pernah lihat kamar itu," tutur bu Wagiyem.


"Mbak, mbakyu masih waras kan?" tanya Ningsih penasaran dan memegang kening bu Wagiyem.

__ADS_1


Bu Wagiyem menepis tangan Ningsih dan berkata, "Dasar adik semprul, nyumpahin mbakyu nya agar nggak waras."


"Kalau menurutku mbak Gigi sudah nggak waras. Mosok ada anak gadis masuk kamar Soni, dibiarkan saja." tutur Ningsih panjang lebar.


"Panggil aku seperti biasa saja Ning. Aku nggak suka namaku kamu rubah," rajuk bu Wagiyem.


"Biar keren, Mbak," jawab Ningsih sambil nyengir.


Kakak beradik itu terlibat dalam obrolan yang tak ada topik utamanya. Mereka ngobrol ngalor ngidul, sehingga tak menyadari jika Soni melangkah masuk ke dalan kamarnya.


Terlihat Menik tertidur di kasur Soni. Pikiran berat membuat tubuh Menik gampang merasa capek. Sepertinya peristiwa hari ini cukup menguras tenaga dan emosi Menik. Sehingga membuatnya jatuh tertidur, saat akan menyimpan salep ke dalam kotak penyimpanan obat yang berada di kamar Soni.


Entah apa yang mendorong Soni ikut berbaring di samping Menik. Maju mundur Soni ingin mengusap bekas tamparan Agus yang semakin berubah warna lebih kentara. Namun, Soni mengurungkan niatnya. Tangan yang sudah terulur ditariknya kembali. Lama-lama mata Soni terpejam, menyusul Menik ke dalam mimpi.


Menjelang asar Ningsih berpamitan kepada bu Wagiyem.


"Yu, aku pamit dulu. Ingat, jangan lupa janjimu," seru Ningsih.


"Insya Allah, Ning. Semoga aku tidak lupa."


"Yu, mana Soni dan gadis itu?" tanya Ningsih penasaran. Karena sedari lepas duhur tidak melihat mereka berdua.


Alarm bu Wagiyem langsung memberikan sinyal waspada. Tanpa menjawab pertanyaan Ningsih, bu Wagiyem melesat menuju kamar Soni.


Disibaknya tirai yang menutup pintu masuk ke kamar Soni.


"Astaghfirullah," seru bu Wagiyem nyaring.


Mendengar suara bu Wagiyem yang nyaring, Ningsih menyusul masuk ke kamar Soni. Dia pun lamgsung istghfar dan mengambil ponsel dari dalam tas nya.


Cekrek ... cekrek ...


Beberapa foto diambil Ningsih untuk mengabadikan momen langka itu. Soni yang biasanya bersikap dingin dengan cewek, teenyata bisa juga meleleh di hadapam Menik.


"Kenapa malah kamu foto? Harusnya kamu bangunkan mereka," ucap bu Wagiyem sambil mendekat ke arah kasur untuk membangunkan mereka berdua.


Ningsih menarik tangan bu Wagiyem dan berkata, "Jangan diganggu mbak, biarkan saja. Toh mereka masih berpakaian lengkap."


"Tapi mereka belum menikah, Ning."


Lagi-lagi ningsih menahan langkah bu Wagiyem. terjadilah perdebatan di antara mereka yang sedikit mengusik tidur Menik. Mata Menik terbuka sekejab, memandang ruangan yang tampak asing baginya.


Mata itu kembali terpejam, tangan Menik menggapai-gapai mencari guling. Tangan Menik masih menggapai-gapai, dan dia menemukan sesuatu yang dikiranya guling.


Menik memeluk gulingnya erat, ada rasa hangat menerpa kulitnya saat memeluk guling. Tidak seperti guling yang ada di rumah dan kos.


Bu Wagiyem mengantarkan Ningsih yang pamit pulang. Beliau belum melihat posisi tidur Soni Menik yang telah berubah. Tak bisa dibayangkan jika beliau melihatnya. Bisa dipastikan Soni terkena amukan bu Wagiyem.


Sementara itu di kediaman pak Broto, terdengar suara Astuti memberikan wejangan kepada Agus sambil mengobati lukanya. Agus menunduk tak membantahnya.


***


Menik merasakan nyaman dalam tidurnya, hingga tanpa sadar semakin membenamkan kepalanya di dada Soni. Tidur Soni terusik akibat gerakan Menik. Matanya terbuka, pandangannya langsung bertemu dengan puncak kepala Menik.


Soni melebarkan matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Setelah memastikan bahwa dia tidak salah lihat, bukannya menjauh dari Menik. Soni malah semakin mengeratkan pelukannya.


Menik mulai membuka matanya saat merasa ada yang memeluknya. Perutnya pun terasa tertindih sesuatu. Menik terkejut saat menyadari sedang berpelukan dengan Soni.


Perlahan Menik memindahkan lengan Soni yang berada di atas perutnya dan bergeser perlahan menjauh.


"Mau ke mana kamu?" ucap Soni mengagetkan Menik.

__ADS_1


__ADS_2