
"Sebagai ucapan terima kasihku, aku mau menjadikan Fendi sebagai—."
"Sebagai kakak Ce?" sela Darmawan.
"Ais, kamu diam dulu bisa nggak Wan!" ketus Ince.
"Terus sebagai apa Ce? Nggak mungkinkan sebagai–." Menik menatap Fendi dengan tatapan penuh arti.
Fendi yang ditatap Menik langsung paham arah pembicaraan Ince. Namun dia menunggu sampai Ince mengutarakan maksudnya, dari pada menyela.
"Diam dulu kalian!" perintah Ince dengan Tegas. "Aku putuskan, Fendi jadi bodyguardku." seru Ince dengan menatap Fendi penuh binar pengharapan.
Menik, Darmawan, dan Fendi seketika lega mendengar keputusan Ince. Mereka bertiga was-was apabila Ince akan menjadikan Fendi sebagai pacarnya untuk membalas budi.
Tentu saja jika Ince memutuskan untuk Fendi menjadi pacarnya, bukan balas budi namanya. Tapi mencari kesempatan dalam kesempitan. Dan tentu itu menjadi momok bagi Fendi. Karena hatinya terlanjur tertaut pada gadis yang berada di sebelah Ince.
Fendi membalas tatapan penuh harap Ince adengan gelengan perlahan. Menandakan dia keberatan untuk jadi bodyguard-nya. Ince mencebik kesal dengan penolakan halus Fendi.
"Ck ... masak jadi bodyguard ku saja kamu nggak mau Fen."
Fendi terdiam, bingung harus menjawab apa. Takut jawabannya salah, akan memicu kegarangan Ince.
Menik melihat kegamangan Fendi. Perlahan mendekati Ince, dan memberikan pengertian.
"Ce, coba balas budinya yang nggak memberatkan Fendi. Kalau balas budi menjadikan Fendi bodyguard, sama saja kamu malah semakin memberikan beban. Coba kamu pikirkan cara lain." bujuk Menik.
"Ehm—oke lah. Kalau begitu, aku jadikan Fendi pacarku saja. Gimana, baguskan ideku." ucap Ince dengan polos.
Mereka bertiga terdiam, sesak terasa. Apa yang mereka takutkan ternyata hanya terjeda sebentar untuk menjadi kenyataan. Ketiganya saling pandang mencari jawaban yang tepat untuk menolak kemauan Ince.
Ince penasaran mengapa ketiga temannya terdiam setelah mendengar ide cemerlang tentang balas budinya.
"Kenapa diam? Fendi kamu setujukan dengan usulku?" tanya Ince dengan mengerjabkan kedua matanya.
Fendk tak langsung menjawab pertanyaan itu. Matanya memandang ke arah Menik, seakan mencari kekuatan darinya. Menik membalas pandangan itu dengan senyuman. Mengisyaratkan agar Fendi segera menjawab.
Fendi menghirup oksigen dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Dalam hati dia sangat jengkel dengan Ince. Mending nggak usah balas budi, dari pada aku pacaran sama kamu, batinnya.
"Ce, maaf aku tak bisa menerima permintaanmu. Tidak usah kamu membalas budi. Kita kan sahabat, jadi sahabat harus ada saat bahagia dan susah. Terus, di antara sahabat tidak ada namanya balas budi."
"Bener nich kamu nggak mau jadi pacarku?" tanya Ince.
"Maaf Ce, hatiku sudah terlanjur tertaut dengan gadis lain."
"Oke-oke. Santai saja Fen. Aku nggak akan paksa kamu. Lagi pula aku sudah tahu siapa yang kamu incar." ucap Ince sembari mengedipkan salah satu matanya.
Fedi terhenyak dengan ucapan Ince yang mengatakan sudah tahu siapa yang Fendi Incar. Khawatir menyeru di pikirannya. Semoga saja Ince tak memberitahu Menik.
"Sok tahu kamu Ce." serunya mengalihkan pembicaraan.
"Tahulah Fen, bahkan aku kenal baik sama dia. Mau aku sampaikan tentang perasaanmu padanya atau tidak?" gurau Ince.
Fendi menajamkan tatapannya pada Ince. Menandakan dia tidak suka jika masalah hati dicampuri orang lain.
"Sudah-sudah, nggak usah dibahas lagi. Aku mau antar Menik pulang. Ada yang mau ikut?" sela Darmawan.
Ince tak percaya mendengar ucapan Darmawan yang akan mengantar Ince pulang. Bisa-bisa pecah perang dunia kelima jika sampai ketahuan Agus.
"Beneran Nik, kamu pulang diantar Darmawan?"
Menik mengangukkan kepalanya sambil tersenyum penuh misteri ke arah Ince. Ince masih tak percaya dengan jawaban Menik. Dia menyenggol lengan Menik seraya berbisik, "Beneran Nik, kamu nggak bohong?"
"Iya, ayo ikut kalu tidak percaya."
__ADS_1
***
Azan magrib berkumandang ketika Menik dan Darmawan melewati gapura pembatas kabupaten yang merupakan pintu masuk hutan M.
Gelap menyapa mereka begitu memasuki hutan M yang minim penerangan. Hanya berbekal sorot lampu kendaraan mereka membelah hutan M. Membuat Darmawan yang jarang melewatinya, beberapa kali masuk lubang.
Menik terbangun ketika keningnya terantuk pinggiran pintu, akibat Darmawan menginjak rem tiba-tiba.
"Aduh. Pelan-pelan Wan." seru Menik sembari mengelus keningnya.
"Sorry Nik, sepertinya aku menabrak sesuatu." gusar Darmawan.
Darmawan bermaksud untuk turun melihatnya. Belum sempat Darmawan membuka pintu mobilnya, Menik menarik ujung baju Darmawan.
"Sst ... sst ...nggak usah turun Wan. Tekan klakson saja. Kita lanjut jalan." ucap Menik perlahan.
Darmawan langsung tanggap dengan apa yang diucapkan Menik. Dia baru teringat, ketika memasuki hutan M, lupa membunyikan klakson.
Perlahan Darmawan dan Menik kembali melanjut perjalanannya. Dengan Menik sebagai penunjuk jalan berlubang, kali ini Darmawan bisa menghindar dari beberapa lubang.
Cahaya lampu terlihat mengintip di ujung hutan, menandakan mereka memasuki kawasan permukiman penduduk. Lega hati Menik telah berhasil melewati hutan, meski dengan sebuah pemandangan yang tidak bisa dia ceritakan. Tapi dasar Darmawan penasaran, dia pun bertanya mengenai apa yang dia tabrak tadi.
"Nik, tadi aku nabrak apa?" polos Darmawan.
"Sudah nggak usah dibahas Wan. Ntar dia ikut lagi." ucap Menik santai.
Mendengar ucapan Menik, Darmawan mengherikan rasa ingin tahunya.
"Nik, kita mampir salat dulu." ajak Darmawan saat melintasi sebuah masjid.
"Ayo."
Darmawan menepikan mobilnya. Mereka segera turun untuk mengambil air wudu. Karena sudah tertinggal salat berjamaah, mereka berjamaah sendiri.
Lamunan Darmawan terhenti tatkala Menik mengajak untuk melanjutkan perjalanan.
"Ayo Wan, lanjut lagi. Takut kemalaman. Ntar kena teguran ayah. Apalagi aku pulangnya sama kamu."
"Memangnya kenapa kalau pulang sama aku Nik?"
"Yah, pasti ayah akan curiga dan bertanya siapa kamu."
"Ooh— kalau pertanyaannya cuma seperti itu, tenang saja biar aku yang jawab." ucap Darmawan percaya diri.
Sementara itu di rumah Pak Broto, beliau terlihat mondar mandir di depan pintu pagar. Sesekali netra tuanya memandang ke arah jalan raya yang berada tepat di sebelah kiri rumahnya. Membuat Sri bertanya-tanya, mengapa suaminya di depan pagar.
"Pi, nungguin siapa?" tanya Sri.
"Ini Mi, ayah nunggu Menik. Katanya pulang, tapi belum sampai juga. Semoga anak itu tidak kenapa-kenapa." ucap Pak Broto dengan netra yang masih menatap ke arah jalan raya.
"Tunggu di teras saja Pi. Mungkin Menik mampir salat dulu." ajak Sri.
"Mami masuk saja, biar Ayah tunggu di sini." tegas Pak Broto menolak ajakan istrinya.
Mendengar penolakan pak Broto, Sri segera masuk ke dalam rumah dengan muka cemberut.
Tak lama nampak sorot lampu mobil berbelok ke dalam gang dan berhenti di depan pak Broto.
"Mati aku Wan, ayah sudah menungguku di depan." lirih Menik.
"Tenang Nik, biar aku yang menjelaskan."
Pak Broto memandang penuh curiga terhadap Menik yang pulang diantar laki-laki lain dan hanya berdua.
__ADS_1
Perlahan Menik turun dari mobil dan menghampiri pak Broto. Menik mencium tangan yang sering mengelus kepalanya setiap selesai salat, dengan takzim.
Darmawan mengikuti apa yang dilakukan oleh Menik. Dia ikut mencium tangan pak Broto dengan takzim.
Ehem ... deheman pak Broto membuat lutut Menik serasa tak bertulang. Dia paham arti deheman itu. Menik berdoa dalam hati, semoga Darmawan tak terkena amarah pak Broto. Darmawan yang paham langsung memperkenalkan dri.
"Assalamualaikum Pak, perkenalkan saya Darmawan. Teman sekelas dan seangkatan Menik. Maaf kalau Menik datangnya terlambat. Tadi kami mampir salat sebentar." jelas Darmawan.
"Waalaikumsalan. Teman Menik? Kenapa sampai mengantar Menik pulang?" cecar pak Broto tanpa menyuruh Darmawan masuk dan duduk.
"Kebetulan saya ada keperluan juga Pak, jadi saya sekalian mengajak Menik. Lagi pula kasihan kalau Menik sore-sore pulang sendirian."
"Jadi itu alasannya. Tidak berbuntut yang lainnya?"
Pertanyaan pak Broto tepat mengenai sasaran. Netra pak Broto yang penuh pengalaman bisa menangkap ada perhatian khusus dari Darmawan terhadap Menik.
" Untuk sementara tidak pak. Dan saya permisi, hendak ke rumah kakak sepupu saya. Mengantarkan titipan ibu saya."
"Hati-hati di jalan, dan tidak usah menjemput Menik. Biar saya yang mengantarkan kembali ke kampus."
"Baik pak. Assalamualaikum." pamit Darmawan.
"Waalaikumsalam." sahut pak Broto.
Menik tak sempat mengucapkan terima kasih karena pak Broto menyuruhnya untuk masuk rumah lebih dulu.
"Wah-wah ... ada yang punya pacar baru. Awas ketahuan suami." sindir Sri.
Menik tak menghiraukan sindiran Sri, dia melenggang santai menuju kamar dan segera mandi. Melihat Menik tidak menghiraukannya, Sri semakin kesal. Dia segera memghampiri pak Broto yang masih duduk di teras menikmati purnama.
"Pi, lihat kelakuan anak Papi. Apa pantas seorang yang sudah bersuami diantar laki-laki lain? Pokoknya Papi harus tegur Menik. Karena tadi Mami tegur, Menik malah langsung masuk kamar." adu Sri berapi-api.
"Iya Mi. Biarkan Menik mandi dulu. Setelah itu , baru aku nasihati." seru pak Broto.
"Beneran lho Pi. Jangan sampai lupa. Nggak enak kalau ketahuan sama besan kita." tandas Sri.
Selesai mengadu, Sri melangkah masuk untuk menyiapkan makan malam. Seperti biasa, di awal Sri akan menyajikan semua lauk yang dia masak. Namun, begitu pak Broto selesai makan, semua lauk itu menghilang dari meja makan.
Pak Broto mengetuk kamar Menik, dilihatnya wajah ayu Menik yang mirip dengannya. Kecuali mata sipit milik mendiang istrinya.
"Nduk." panggil pak Broto.
"Iya Ayah. Masuk Yah."
Pak Broto berjalan menuju tempat tidur Menik dan duduk di sana. Menik memutar kursi meja rias agar berhadapan dengan pak Broto.
"Nduk, kalau bisa besok jangan diantar laki-laki. Apalagi sampai berduaan di dalam mobil. Ingat status Nduk."
"Menik paham Ayah. Seandainya tidak terlalu sore dan mendung, pasti Menik akan pulang sendiri. Lagi pula Darmawan anaknya sholeh Ayah. Jadi nggak bakalan melewati batas."
"Iya ayah paham Nduk. Tapi sekali lagi ingat statusmu. Apalagi orang deretan sini sudah tahu tentang pernikahanmu. Ayah hanya menjaga agar kamu terhindar dari fitnah."
"Iya Yah. Insya Allah Menik nggak akan mengulanginya." janji Menik.
" Ya sudah Nduk, cukup satu hari ini saja. Besok jangan diulangi lagi." ujar pak Broto.
Terdengar suara Sri memanggil Pak Broto untuk segera makan malam. Tentunya tanpa memanggil Menik. Pak Broto beranjak keluar kamar. Beliau menghentikan langkahnya sebelum keluar dari pintu kamar Menik.
" Ayo kita makan sama-sama." ajak pak Broto.
"Menik nanti saja Yah. Masih kenyang."
Kruk ... kruk ...
__ADS_1
Tengah malam, cacing di perut Menik meminta jatah asupan makanan. Menik beranjak menuju dapur untuk mencari makanan. Terpampang deretan mie instan menggoda iman di dalam lemari makan. Menik berniat mengambilnya satu. Ditariknya perlahan pintu lemari, namun gagal. Dicobanya sekali lagi, dan—