Adhisti

Adhisti
Bab 52


__ADS_3

Klontang ... prang


Baskom tembaga di dalam sentong tiba-tiba terguling tanpa sebab. Tergopoh-gopoh mbah Minto menuju sentong. Terlihat seorang gadis berdaster putih sedang bergelayut manja di langit-langit, sambil tertawa ceria.


"Kamu—" ucap mbah Minto


"Iya mbah, aku datang."


"Jangan bikin ulah kamu, atau perlu aku kirim ke rel kereta di atas sungai!" ancam mbah Minto.


Wajah gadis itu semakin memutih pucat, mendengar ancaman mbah Minto.


"Ha ... ha ... aku nggak takut mbah. Kirim saja aku ke sana, tapi ku bawa juga cucu kesayanganmu. Bagaimana mbah, adilkan."


Kali ini gantian mbah Minto yang terdiam. Ancaman gadis berdaster putih itu membuatnya bergetar.


"Takut mbah?" sindir gadis itu.


"Jangan macam-macam kamu. Sebelum kamu membawa cucuku, aku kirim kamu duluan ke rel kereta."


"Darmi nggak macam-macam mbah, cuma satu macam. Broto saja yang macam-macam. Pilih istri nggak jelas."


"Alam kita berbeda Darmi, tolong jangan kau mencampurinya."


"Tidak bisa mbah. Aku harus menepati janjiku pada mendiang Asih."


"Lupakan janjimu Mi. Biar kamu segera pergi ke akhirat. Tak lagi gentayangan seperti ini."


"O— tidak bisa begitu mbah. Karena Asih aku bisa terbebas dari penguasa rel kereta."


"Tapi Mi, saranku tolong jangan kau ganggu keluarga Broto." tegas mbah Minto kembali.


"Aku nggak akan ganggu mereka, asal mereka tidak mengganggu Menik anaknya Asih."


"Memang kamu tahu duduk permasalahnnya?"


"Tahu lah mbah. Darmi gitu loh."


"Coba ceritakan kalau kamu memang tahu."


"Ogah mbah. Tanya sendiri mantu baru mu itu. Aku tahu kok, mbah lebih sayang Suketi dari pada kepada Asih. Padahal Asih sayang sekali sama mbah."


"Sok tahu kamu Mi. Dasar hantu gentayangan."


"Biar hantu, aku punya harga diri mbah."


Blush ... asap putih memendar di dalam sentong meninggalkan suara tawa melengking memekakkan telinga. Mbah Minto mengelus dada melihat kelakuan hantu labil tersebut.

__ADS_1


***


Tok ... tok ...


"Nduk boleh budhe masuk?" seru budhe Harmini dari balik pintu.


Menik menghampiri pintu kamar dan memutar anak kunci.


Ceklek


"Masuk budhe."


Budhe Harmini mendekat ke arah Menik. Beliau bertanya mengapa Menik menangis semalam. Dengan berurai air mata Menik menceritakan semua perkataan yang terlontar dari mulut Sri. Termasuk kata-kata yang menjelekkan mendiang bu Asih.


Mengetahui mendiang adiknya disenggol Sri Suketi, amarah budhe Harmini memuncak. Tanggannya menggenggam erat, geram dengan ulah Sri Suketi.


"Memang harus disekolahkan lagi mulut Sri Suketi. Biar tahu cara bicara yang benar, tidak asal jeplak." geram budhe Harmini.


Menik bengong melihat budhe Harmini yang emosi tingkat langit ke tujuh. Budhe yang biasanya Menik kenal baik dan lemah lembut itu, tiba-tiba mengeluarkan tanduknya. Padahal Menik saja yang nggak menyadari kalau budhe nya itu memang garang dari lahir.


Menik kembali melanjutkan cerita, mengenai dari lemari yang dikunci dan makanan yang disembunyikan. Mendengar cerita Menik, budhe Harmini bertambah panjang tanduknya. Seakan-akan hendak menanduk Sri Suketi.


Budhe Harmini segera menyuruh Menik untuk sarapan. Beliau khawatir ponakannya lapar, karena tidak mendapat makanan dari ibu sambungnya.


Sementara itu di rumah pak Broto, tampak Sri yang kebingungan melihat, deretan sayur yang sudah tertata rapi. Bahkan rak telur di pintu lemari es terisi penuh tanpa celah.


Mungkinkah Menik yang mengisinya, tapi kapan? Seingat Sri, Menik tak pernah pergi kemana-mana.


Deg ... jantung Sri seakan melompat keluar dari raganya. Ketika kilatan ingatan melintas dipikirannya. Dia teringat waktu kedatangan Menik pertama kali, pak Broto mengajak Menik makan di luar.


Seketika ketingat dingin sebesar kelereng memenuhi keningnya. "Apakah aku ketahuan menyembunyikan semuanya?" tanya Sri dalam hati. "Ah, tidak mungkin aku ketahuan. Lagi pula pagi-pagi kunci lemari sudah aku pasang." gumamnya.


Pak Broto baru keluar dari kamar mandi, melihat Sri melamun di depan lemari es, penasaran dengan apa yang telah terjadi.


"Mi, kenapa bengong di depan lemari es? Apa ac di kamar kurang dingin?"


"Aduh Papi ngagetin mami saja. Untung mami nggak punya riwayat sakit jantung. Kalau ada bisa-bisa mami pingsan."


"Salah siapa mami melamun di depan lemari es. Dan itu sayuran kenapa tidak dimasukkan?"


Sri terdiam, bingung hendak memberikan jawaban apa. Kepalang basah, akhirnya Sri memilih untuk nyebur sekalian saja.


"Ehm— anu Pi—."


"Anu apa Mi? Ayah nggak paham kalau mami cuma bilang anu."


"Ehm— nggak muat Pi. Mami kemarin lupa kalau masih ada persediaan sayuran di lemari es." ujarnya bohong, untuk mencari jalan aman.

__ADS_1


Pak Broto mulai tahu kalau istri barunya pintar berbohong. Bukannya menegur, beliau malah semakin ingin mendengar cerita bualan Sri.


"Memangnya kapan Mami belanja sayuran?"


"Ke—ke—marin Pi."


Pak Broto terus saja mengorek apa yang disembunyikan Sri, sehingga tak pernah bisa akur dengan Menik. Padahal, Menik itu cepat akrab dengan siapa saja.


Naluri Pak Broto mengadakan pasti ada yang salah dengan interaksi antara Sri dan Menik. Hanya saja Menik tak pernah secara gamblang menceritakan perlakuan Sri kepadanya.


Perlahan tabir itu mulai terbuka. Pak Broto menjadi paham yang menyebabkan Darmi sampai menyambangi kediamannya. Sesuatu yang langka sejak Asih meninggal.


"Aku harus bisa mengubah perlakuan Sri terhadap Menik, sebelum Darmi benar-benar menerornya." gumam Pak Broto yang telah berada di teras depan.


Tring ... satu pesan masuk di ponsel pak Broto. Tertera nama pakde Harjo sebagai pengirim pesan.


Pakde Harjo: To, anakmu.di sini. Tak usah kau cari lagi. Biar aku yang mengurusnya kalau kamu memang sudah tak mau mengurusnya. Dan, jangan berani datang ke rumah saat ini. Bisa-bisa lemper budhemu melayang.


Deg


Pak Broto terkejut dengan pesan yang disampaikan pakde Harjo. Karana tidak biasa, pakde Harjo menulis pesan sepanjang itu. Pak Broto tidak berani menjawabnya. Apabila yang menulis pesan itu budhe Harmini, Pak Broto pasti berani membalasnya.


Diletakkannya kembali ponsel di atas meja teras. Pak Broto teringat dengan Menik yang biasanya akan tidur dipangkuan pak Broto setiap selesai salat.


Air mata tanpa terasa mengintip dan tanpa permisi menuruni pipi pak Broto. Cepat-cepat pak Broto menghapusnya, agar Sri tidak tahu.


Lega hati pak Broto mendengar Menik ada di rumah pakde Harjo. Sehingga pak Broto masih bisa menyembunyikan rasa malunya dari keluarga besannya. Tak bisa dibayangkan apabila Menik memilih pulang ke rumah suaminya. Otomatis, keluarga suaminya menjadi tahu mengenai keadaaan Menik sejak pak Broto menikah dengan Sri Suketi. Padahal keluarga besannha sudah tahu permasalahan Menik dan ibu sambungnya. Hanya saja meraka tidak mau ikut campur.


"Papi ... ayo ke pasar Pi. Mami kepingin makan jeruk."


"Mager Mi, ntar sore saja."


"Walah, ternyata papi juga tahu bahasa anak muda sekarang.


"Harus tahulah Mi. Agar ayah bisa gaul dengan teman beda usia." seloroh pak Broto.


"Terserah ayah wae lah. Sekarang kita sarapan Pi. Seadanya sayuran yang di lemari es."


Pasangan suami istri tersebut beranjak menuju meja makan dan menikmati sarapan hanya berdua. Bahkan Sri tak menanyakan keberadaan Menik. Situasi ini semakin menunjukkan jika Sri tidak menyayangi Menik. Seperti yang selama dia dengungkan di lingkungan tetangga pak Broto.


Glodak .... klontang .... pyar


Terdengar suara dari kamar Sri. Pak Broto memandang ke arah Sri, begitu juga sebaliknya. Kompak keduanya berlari menuju kamar. Terlihat sebuah bingakai


tak berbentuk dengan kaca berserakan di sampingnya. Tak jauh dari tempat Sri berdiri, dilihatnya pintu lemari yang terbuka, dengan semua pakaian Sri terhambur di sekitarnya.


"Pi—."

__ADS_1


__ADS_2