Adhisti

Adhisti
Bab 62


__ADS_3

Sreek ... a ... a ...


Tiba-tiba semua gelap, tubuh Doweh mendarat sempurna di lantai sentong yang dingin.


Darmi menghampiri Doweh, dicoleknya pipi Doweh. Namun tak berhasil membangunkan Doweh dari pingsannya.


"Apa salahku? Kenapa dia pingsan saat melihatku, padahal aku tidak menakutinya," gumam Darmi.


Tiga puluh menit berlalu, Doweh tak kunjung membuka matanya. Darmi menungguinya demgan setia, sambil sesekali mencolek pipi Doweh.


Lelah menunggu Doweh yang tak kunjung sadar, Darmi memutuskaan untuk pergi dari rumah mbah Minto.


Tak lama setelah Darmi pergi, mbah Minto kembali ke rumah. Dipanggilnya nama Doweh berkali-kali namun tak ada sahutan. Mbah Minto memutuskan untuk langsung masuk ke rumah, kebetulan pintu tidak terkunci.


Tirai yang menutupi pintu sentong tersingkap sedikit. Menampakkan sebagian kaki Doweh yang terbaring di lantai. Mbah Minto menajamkan penglihatannya.


"Pak ... pak'e sini sebentar," ucap mbah Minto memanggil mbah Kasdi.


Mbah Kasdi segera mendekat ke arah suara mbah Minto berasal.


"Ada apa Mak?" tanya mbah Kasdi.


Mbah Minto meminta mbah Kasdi untuk melihat siapa yang terbaring di lantai sentong. Perlahan pasangan sepuh itu menyingkap tirai semakin lebar. Tampaklah Doweh yang terbaring di lantai dingin sentong tanpa alas tidur.


"Doweh," ucap keduanya kompak dan saling memandang.


"Coba dibangunin, Pak," ucap mbah Minto.


Mbak Kasdi menggoyangkan badan Doweh, namun tak membuahkan hasil. Beliau beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil segayung air.


Air di dalam gayung tidak langsung diguyurkan melainkan dituang ke dalam semprotan yang biasanya dipakai mbah Kasdi untuk memandikan burung-burung kesayangannya.


Merasakan dinginnya semprotan air yang mengenai wajahnya, perlahan Doweh mulai membuka matanya. Ditatapnya wajah renta mbah Minto dengan lekat, untuk memastikan bahwa benar-benar mbah Minto asli yang berada di depannya.


"Mbah ... Mbah Minto," ucap Doweh.


"Iya, ini aku Weh. Kenapa kamu sampai tidur di lantai sentong?"


"Ta—tadi Doweh dengar suara dari arah sentong mbah. Doweh lihat, ter—ternyata a—ada gadis yang biasanya main ayunan di ja—jati kem—kembar mbah," ucapnya terbata-bata.


"Oalah, aku kira kamu kenapa Weh. Rejeki kamu ketemu dia di sini," ujar mbah Minto sambil terkekeh.


Doweh memandang mbah Minto dengan tatapan sedikit kesal. Karena bukannya merasa kasihan dengannya, mbah Minto malah bilang kalau itu rejekinya bisa bertemu dengan gadis cantik.


"Sudah Mak, jangan tertawa terus. Kasihan Doweh ketakutan lihat Darmi. Untung saja Darmi tidak usil mengerjai Doweh. Dan sekarang kamu Weh, segera wudu dan salat asar sebelum habis waktunya."


Doweh segera menganbil wudu dan melakukaan kewajibannya. Sedangkan mbah Minto mulai menyusun sesajen untuk di tempatkan di tempat biasanya.


Belum sempat mbah Minto meletakkan sesajen, tiba-tiba Darmi muncul di hadapan beliau. Sontak mbah Minto terkejut, untung. saja nampan berisi sesajen itu tidak tumpah.


"Dasar, bocah nggak jelas, datang sesuka hatinya," hardik mbah Minto.


"Habis, Simbah perginya lama banget. Darmi kan kangen," ucap Darmi.


"Kamu apain Doweh, Mi?"


"Tidak aku apa-apain Mbah. Dia saja yang usil gangguin Darmi main di dalam sentong," ujar Darmi tak bersalah.


"Memang kamu mainan apa? Sampai Doweh masuk ke sentong."


"Aku cuma mainan nampan sama kuali Mbah."


"Pasti kamu berisik, sehingga Doweh masuk ke sentong."


Darmi tersenyum mendengar tebakan mbah Minto. Karena benar apa yang dikatakan mbah Minto. Doweh masuk ke sentong karena mendengar suara gaduh yang dibuatnya.


"Lagi pula kenapa kamu berisik, Mi? Pasti ada yang ingin kamu sampaikan kepada simbah."


Darmi mengangguk, dan menceritakan ajakkannya untuk bertemu dengan Menik yang belum dipenuhi oleh Menik hingga sekarang.

__ADS_1


"Jadi kamu ingin ketemu Menik? Di sini?" tanya mbah Minto kembali.


"Iya Mbah."


"Mau ngapain ketemu Menik?"


"Ada yang harus aku sampaikan ke Menik, Mbah."


"Kamu ngomong sama simbah saja, Mi. Nanti simbah yang sampaikan ke Menik," bujuk mbah Minto.


"Tidak mau Mbah. Darmi harus sampaikan ke Menik langsung," kukuh Darmi.


Setelah gagal membujuk Darmi, akhirnya mbah Minto menuruti keinginan Darmi untuk bertemu dengan Menik di rumah. Mbah Minto segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan.


Mbah Minto: Nduk, kalau bisa segera ke rumah simbah. Darmi menanyakanmu.


Pesan terkirim, namun belum terbaca oleh Menik. Mbah Minto meletakkan kembali ponselnya. Beliau melanjutkan meletakkan sesajen.


***


Menik telah sampai di kos dan sudah membersihkan diri. Kini dia bersiap-siap untuk mengerjakan skripsinya. Disusun beberapa buku yang akan digunakan sebagai referensi di meja.


Tangan Menik bergerak untuk mengambil ponsel yang belum di keluarkan dari dalam tas sejak tadi. Terlihat ada beberapa panggilan dari ayahnya. Selain panggilan ada juga pesan dari ayah dan simbahnya.


Menik membuka pesan dari ayahnya terlebuh dahulu.


Pak Broto: Iya, hati-hati.


Pesan singkat dan padat dari ayahnya. Sejak tahu ponselnya selalu diperiksa Sri, pak Broto jarang memgirim pesan. Beliau lebih suka langsung menelepon, dan segera menghapus riwayat panggilannya.


Setelah membuka pesan dari ayahnya, Menik segera membuka pesan dari mbah Minto.


Mbah Minto: Nduk, kalau bisa segera ke rumah simbah. Darmi menanyakanmu.


Menik langsung teringat dengan ajakan Darmi beberapa waktu lalu.


Tring ... ponsel yang sedang di pegang mbah Minto berbunyi. Ada pesan Masuk dari cucunya. Beliau segera menjawab pesan tersebut.


Mbah Minto: Simbah tunggu Nduk.


Menik meletakkan ponselnya, dan kembali berkonsentrasi dengan skripsinya. Ditandainya kata-kata yang dianggap penting pada buku yang dibacanya.


***


Tak terasa hari jumat, Menik segera pulang ke rumah mbah Minto untuk menemui Darmi. Kali ini Menik tidak mengajak Ince pulang, karena rencananya setelah ketemu Darmi, dia akan kembali ke kos, tanpa mampir ke rumah.


Tok ... tok ...


"Assalamualaikum ... Mbah ... simbah ..." ucap Menik.


"Waalaikumsalam," jawab mbah Kasdi.


Menik mencium tangan mbah Kasdi dan memeluknya.


"Ayo duduk, Nduk," ajak mbah Kasdi.


"Iya, Mbah."


Menik mengikuti mbah Kasdi duduk di balai-balai teras belakang rumah. Sembari menikmati pemandangan sawah yang terlihat hijau. Terdengar lirih suara aliran sungai yang mengalir di belakang sawah.


Mbah Kasdi menanyakan seputar perkuliahan Menik. Beliau juga menasihati Menik agar bersabar menghadapi Sri Suketi. Menik mendengarkan semua nasihat simbahnya. Sampai akhirnya mbah Kasdi menanyakan hubungannya dengan Agus. Menik terdiam bingung hendak bercerita dari mana.


Mbah Kasdi menangkap gelisah yang di rasakan oleh Menik saat ditanya tentang hubungannya dengan Agus. Tapi beliau tidak mau memaksa Menik untuk menceritakannya.


"Mbah, kenapa mbak Darmi ingin bertemu dengan Menik?" tanyanya mengalihkan pertanyaan mbah Kasdi tentang Agus.


Mbah Kasdi tersenyum sambil berkata, "Nanti kamu tanyakan langsung sama Darmi. Simbah juga tidak tahu."


"Kira-kira jam berapa Mbah? Karena Menik harus cepat kembali ke kampus. Besok pagi ada janji dengan dosen."

__ADS_1


"Tunggu mbah putri mu pulang dulu, Nduk."


Menik dan mbah Kasdi berbincang sambil menunggu mbah Minto pulang. Banyak petuah yang disampaikan mbah Kasdi kepadanya. Sesekali keduanya tertawa terbahak-bahak saat mengingat kenakalan Menik sewaktu kecil.


Mbah Minto pulang dengan diantar oleh Doweh. Dilihatnya motor kesayangan Menik sudah terparkir rapi di teras. Menandakan cucu perempuan satu-satunya telah datang. Mbah Minto segera masuk ke dalam rumah. Beliau bergegas menuju teras belakang saat mendengar suara tawa Menik dan mbah Kasdi.


"Menik," panggil mbah Minto.


Menik menoleh dan segera menghampiri simbahnya, untuk bersalaman dan memeluknya.


Tiba-tiba angin berhembus sedikit kencang, dan munculah Darmi. Mbah Minto melepaskan pelukan Menik. Menatap ke arah Darmi, yang tersenyum.


"Mi, ini Menik sudah datang. Kamu mau ngomong apa sama Menik. Cepat sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan," perintah mbah Minto.


"Sabar dulu Mbah. Darmi nggak disuruh duduk dulu nie?" seloroh Darmi.


Menik menatap tak percaya ke arah Darmi yang ternyata akrab dengan mbah Minto.


"Tidak usah bercanda kamu, Mi. Mau cerita sekarang, atau mbah usir kamu," ancam mbah Minto.


Darmi memandang ke arah Menik. Tatapannya melembut melihat anak mendiang Asih. Darmi jadi teringat saat Asih melepaskannya dari cengkeraman penguasa rel kereta. Sejak itulah Darmi berjanji akan menjaga keturunan Asih.


"Nduk, aku hanya berpesan padamu. Hati-hati dengan Sri Suketi, ada yang dia sembunyikan darimu. Perbanyak dzikirmu untuk menghindari serangannya. Aku tak selalu bisa menahannya untukmu. Dan ...."


Darmi menjeda ucapannya, dia ragu menyampaikannya.


"Dan, apa Mbak?" tanya Menik.


"Dan ... untuk suamimu, kamu harus menjaganya."


"Maksud Mbak Darmi apa?" tanya Menik penasaran.


"Entahlah, aku masih ragu untuk mengatakannya. Kita lihat nanti perkembangannya. Hanya aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi."


Menik menoleh ke arah mbah Minto, meminta penjelasan dengan apa yang dikatakan Darmi. Namun, mbah Minto juga tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Darmi.


"Tidak usah khawatir, Nduk. Semua sudah digariskan oleh-Nya. Perbanyak doa, semoga yang aku khawatirkan tidak akan terjadi," ucap Darmi menenangkan Menik.


"Kamu jangan membuat Menik khawatir, Mi," sela mbah Minto.


"Darmi nggak membuat Menik khawatir Mbah. Hanya meminta Menik untuk menambah doa-doanya, agar semuanya baik-baik saja."


"Baik Mbak, Menik akan menambah zikir dan doa Menik. Agar semuanya berjalan lancar. Aamiin."


Setelah mengatakan itu Darmi segera pamit kembali ke jati kembar di dekat makam Asih.


"Sudah Nduk, nggak usah terlalu kamu pikirkan perkataan Darmi. Cukup ingat perkataannya yang menyuruhmu berzikir dan doa," ujar mbah Kasdi.


Menik mengangguk mengiyakan ucapan mbah Kasdi. Setelah itu Menik menuju makam mendiang Asih dengan ditemani mbah Kasdi dan mbah Minto.


"Assalamualaikum, Ibu. Menik datang setelah lama tidak ke sini. Menik kangen Ibu."


Mbah Minto mengusap air mata yang hadir di sudut mata tuanya, tatkala mendengar Menik bercerita di depan nisan mendiang Asih. Hatinya terasa perih, melihat cucunya hanya bisa bercerita dengan sebuah nisan.


Cukup lama Menik berada di makam, dia baru beranjak saat mbah Kasdi mengingatkannya waktu mulai masuk zuhur. Segera Menik berpamitan kepada mendiang Asih.


"Ibu, Menik pulang dulu. Doakan Menik segera lukus dan dapat pekerjaan. Menik sayang Ibu. Menik janji akan menambah lagi.doa-doa Menik untuk ibu."


Menik, mbah Minto, dan mbah Kasdi kembali ke rumah. Mbah Kasdi segera menuju masjid di dekat rumah untuk melaksanakan aalat jumat.


Setelah asar Menik berpamitan untuk kembali ke kota S. Menik menolak saran mbah Minto, yng menyuruhnya untuk pulang ke rumah. Setelah berpamitan, Menik segera kembali ke kota S.


Langit kemerahan saat Menik sampai di kos, segera dia membersihkan badannya. Karena kecapekan Menik merebahkan badannya di kasur. Perlahan mata itu terpejam menuju alam mimpi.


Tring ... tring ... tring


Suara ponsel mengusik tidurnya, diraih ponsel yang berada di nakas. Dengan mata setengah terpejam Menik menggeser tombol warna hijau.


"Halo, assalamualaikum." terdengar suara laki-laki di ujung telepon.

__ADS_1


__ADS_2