Adhisti

Adhisti
Bab 61


__ADS_3

"Ma—maaf," ucap Agus perlahan.


Bu Islah memandang Agus penuh tanya. Agus yang dipandang bu Islah hanya bisa menunduk.


"Mengapa kamu minta maaf?" tanya bu Islah.


"Ya, pasti karena salah, Bu," sela Astuti.


"As, ibu tidak bertanya sama kamu. Jadi kamu diam!" perintah bu Islah tegas.


Mendapat teguran dari bu Islah, Astuti langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Bahaya kalau mendapatkan teguran dua kali. Bisa-bisa Astuti dijodohkan dengan laki-laki pilihan ibunya.


"Sekarang, kamu jawab pertanyaan ibu, Gus. Ada apa sebenarnya sampai Astuti juga marah sama kamu?" ucap bu Islah lembut namun penuh penekanan.


Agus menarik napas panjang, sebelum menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dengan terpaksa, Agus menceritakan kejadian di mall kemarin. Bu Islah yang mendengar cerita sebenarnya langsung murka.


"Kamu itu laki-laki, harus bisa menolak dengan tegas. Bukannya malah mengikuti semua kemauan Wiwid. Pantas saja dia masih berharap sama kamu." cecar bu Islah.


"Maaf, Agus mengaku salah, Bu." ucapnya lirih masih dengan kepala yang menunduk.


"Tahu bakalan seperti ini, ibu tak akan mau melamar Menik. Menyesal ibu, Gus. Besok akan ibu minta ayahmu mengurus surat-surat perpisahan kamu sama Menik." tegas bu Islah sambil beranjak meninggalkan Agus.


Astuti menatap Agus dengan kilatan marah bercampur kasihan. Marah karena merasa Menik dipermainkan, tapi kasihan juga, karena Agus dipaksa untuk berpisah dengan Menik.


"Mbak ... bantu Agus," mohon Agus.


"Maaf, kali ini kamu selesaikan sendiri masalahmu. Sebelum ibu menyampaikannya kepada ayah," ucap Astuti dan meninggalkan Agus.


Bu Islah masuk ke kamar Astuti dan langsung memeluk Menik erat sembari mengucapkan kata maaf berkali-kali.


"Ibu, mengapa minta maaf terus sama Menik? Ibu tidak punya salah dengan Menik," ucap Menik.


Perlahan bu Islah mengurai pelukannya. Ditatapnya mata menantunya dengan teduh.


"Maaf ibu tidak bisa mengajari Agus untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab."


Menik bingung dengan apa yang diucapkan bu Islah.


"Maksud Ibu apa? Menik tidak paham."


Bu Islah menceritakan apa yang sudah diceritakan Agus kepada beliau. Menik terkejut mengetahui jika Agus sudah menceritakannya. Padahal Menik berniat untuk menyembunyikannya.


"Aku yang membuat Agus menceritakan kepada ibu, Nik," ucap Astuti yang baru kembali ke kamar.


Menik memandang Astuti sembari tersenyum dan berucap, "Terima kasih, Mbak."

__ADS_1


Bu Islah kembali memeluk Menik dan menyampaikan keputusannya agar Menik berpisah dengan Agus.


Menik terdiam mendengar keputusan bu Islah. Jujur bukan perpisahan yang diinginkan Menik. Dia hanya ingin meluruskan permasalahan yang ada. Mendengar penjelasan Agus tentang keadaan sebenarnya.


"Aku tak akan pernah menceraikanmu, Nik!" teriak Agus yang tiba-tiba masuk kamar dan memeluknya.


Menik meraih menepuk lengan Agus yang memeluknya sambil berucap, "Lepas Mas, kita bicara dulu baik-baik."


Agus bergeming tidak mau melepaskan pelukannya. Melihat itu bu Islah semakin meradang.


"Lepaskan menantu ku, Gus!" perintahnya.


Mendengar perintah bu Islah, Agus segera melepaskan pelukannya meski dengan terpaksa.


"Sekarang kamu mau buat alibi apa, Gus," sinis bu Islah.


Agus membuang napas kasar. Kepalanya pusing memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk mempertahankan Menik.


"Ayo Gus, kamu jelaskan semuanya pada kami!" tegas Astuti.


Ince merasa kehadirannya tidak tepat saat itu, perlahan dia beranjak menuju teras dan duduk di sana.


Berbeda dengan Astuti yang tetap berada di dalam kamar, sembari duduk di dekat Menik. Sejak mendengar percakapan ayah dan ibu nya beberapa saat yang lalu, dia bertekad akan melindungi Menik.


Menik mendengarkan semua cerita Agus. Hatinya sakit melihat Agus digelendoti wanita lain di muka umum, sedangkan dia sendiri belum pernah seperti itu.


Tapi kali ini Menik harus bersikap dewasa. Dia harus menghargai kejujuran Agus. Ada tanya yang Menik sembunyikan, tentang foto dan video yang pernah dia dapatkan dari nomor tak dikenal.


"Maafkan aku, Nik. Lain kali aku akan tegas menolaknya," ucap Agus sembari memegang tangan Menik.


"Jangan mau Nik, biar Agus sama Wiwid saja. Kamu cari yang lain. Masih banyak penggemarmu di luar sana," ucap Astuti memanas-manasi Agus.


"Diam kamu As! Biar Menik berpikir," tegur bu Islah.


Mendapat teguran dua kali dari bu Islah, membuat Astuti terdiam dan menyingkir dari kamarnya. Dia menyusul Ince ke teras.


"Bagaimana keputusanmu, Nduk? Ibu tidak akan memaksamu untuk memaafkan Agus. Seandainya kamu tidak bisa memaafkan Agus, biar ibu sampaikan ke ayah. Tapi, kalau kamu memaafkan Agus, ibu tidak akan sampaikan ke ayah mengenai masalah ini."


"Mas—"


"Iya, Nik," jawab Agus.


"Kali ini Menik akan memaafkan Mas. Tapi Menik tidak bisa janji akan bisa memaafkan lagi, apabila Mas seperti ini lagi," ucap Menik lirih namun tegas.


"Aku janji Nik tidak akan mengulanginya lagi. Apabila aku mengulanginya, aku pasrah dengan keputusanmu," janji Agus.

__ADS_1


"Baik, Mas. Menik pegang janji Mas Agus. Kebetulan di sini ada Ibu yang menjadi saksi janji Mas," tegas Menik.


Agus mengangguk dan tersenyum. Hatinya lega mendapatkan maaf dari Menik. Bu Islah merangkum Menik dalam pelukkannya.


"Terima kasih Nduk, mau memaafkan Agus," ucapnya.


Setelah semuanya terselesaikan, bu Islah, Agus, dan Menik keluar dari kamar Astuti. Pak Dewa datang tepat ketika mereka bertiga keluar dari kamar Astuti.


Deg, jantung Agus seketika berdetak kencang, takut ayahnya curiga dan bertanya. Agus merapalkan doa dalam hati, agar ayahnya tidak bertanya apa-apa.


"Lho Gus, kapan kamu pulang? Mengapa tidak kirim kabar?" tanya pak Dewa.


"A—Agus pulang semalam Yah, dijemput Menik," ucapnya berbohong.


Menik memandang bingung ke arah Agus. Tak percaya namanya akan dijadikan tameng.


"Benar begitu, Nduk?" tanya pak Dewa kepada Menik.


"Iya Ayah, kebetulan kemarin Menik mengantar teman ke perpustakaan di kampus, terus kebetulan ketemu Mas Agus. Jadi pulang sama-sama," jelas Menik.


Mendengar Menik membenarkan ucapannya, hati Agus menjadi lega. Bisa gawat kalau pak Dewa mengetahui peristiwa di mall kemarin.


Waktu semakin bergulir, Menik memutuskan untuk segera berpamitan pulang. Karna sore nanti dia dan Ince sudah harus kembali ke kota S.


Sebenarnya Agus berat melepas Menik untuk kembali ke kota S. Dia masih ingin berlama-lama berada di dekat istrinya. Tapi dia tak bisa menahan Menik, karena dia juga harus segera kembali ke asrama untuk menyelesaikan tugas akhirnya.


***


Menjelang asar Menik dan Ince kembali menuju kota S tanpa menunggu kepulangan pak Broto dan Sri. Menik mengirimkan pesan singkat ke pada ayaahnya.


Menik: Ayah, Menik pamit kembali ke kos. Kunci rumah Menik titip sama budhe Ninik depan rumah.


Pesan yang dikirim Menik terjeda, karena di rumah Sri susah untuk mendapatkan sinyal.


Setelah menitipkan kunci kepada budhe Ninik, Menik dan Ince kembali ke kota S dengan berboncengan motor. Lagi-lagi Menik melupakan ajakan Darmi.


Sementara itu di rumah mbah Minto, suara barang-barang berjatuhan menggema di dalam sentong. Namun, setiap ditengok, tidak ada satupun barang yang jatuh. Semua masih utuh di tempatnya.


Bagi mbah Minto dan mbah Kasdi hal itu sudah biasa. Berbeda dengan Doweh yang hari itu diminta mbah Minto untuk menjaga rumah, karena beliau pergi ke rumah pakde Harjo.


Klontang ... prang ... klontang ...


Suara itu terdengar lagi dari dalam sentong, perlahan Doweh melangkah dengan ketakutan. Keringat dingin menghias keningnya. Disingkap perlahan tirai yang menutupi sentong.


Sreek ... a ... a ...

__ADS_1


__ADS_2