Adhisti

Adhisti
Bab 16


__ADS_3

Di alun-alun mereka berdua wisata kuliner dari satu warung pindah ke warung yang lain. Sampai Menik menyadari sesuatu. Dia meraba kantong jaketnya. Namun tak menemukan benda persegi itu.


"Ce ... sst ... ssst." lirih Menik memanggil Ince yang asyik memindahkan nasi becek ke perutnya. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Ince, Menik menyenggol lengan Ince.


"Apa?" tanya Ince


"Ehm ... kelihatannya dompetku tertinggal di warung yang tadi Ce. Aku ke sana dulu, nggak apa-apakan kamu aku tinggal?"


"Kebiasaan kamu ninggal dompet sembabarangan. Aku ikut! Biar aku yang bayar nasinya."


Mereka bergegas menuju warung tenda yang mereka singgahi sebelumnya.


"Permisi bu, maaf mau menanyakan apakah ibu melihat dompet warna hitam gambar teddy bear tertinggal?" tanya Menik kepada pemilik warung


"Iya ada mbak. Tapi tadi sudah di bawa sama mas-mas yang berambut cepak mbak. Pakai baju warna hitam. Katanya itu dompet milik calon istrinya."


"Ibu sempat menanyakan namanya tidak?"


"Maaf mbak, tadi saya repot jadi tidak sempat menanyakan. Langsung saja saya berikan dompetnya."


"Ya sudah bu, terima kasih." Menik dan Ince melangkah meninggalkan warung tenda itu.


"Nik .... Menik." terdengar suara laki-laki yang tengah memanggilnya.


Menik menoleh ke arah suara itu. "Mas Soni." panggilnya.


"Lama nggak ketemu Nik, apa kabar?" tanya Soni


"Alhamdulillah Menik baik, mas apakabarnya?"


"Alhamdulillah baik juga. Lama nggak ketemu kamu makin cantik saja Nik." goda Soni.


"Aih, mas Soni kebiasaan dari dulu selalu godain Menik. Jelaslah Menik tambah cantik. Karena Menik sekarang sudah besar. Jadi pinter dandan, makanya kelihatan cantik."


Ince yang merasa diabaikan sejak kedatangan Soni, memberengut sebal.


"Kenalin saya Kartika mas, temannya Menik." Ince yang merasa diabaikan langsung menyela pembicaraan Menik dan Soni.


"Soni, suami masa depannya Menik." ucap Soni sembari mengangsurkan tangganya ke arah Ince.


Refleks Menik mencubit lengan Soni, yang dengan lancang mengenalkan diri sebagai suami masa depannya. Untung yang diajak bicara Ince, jadi nggak akan berefek besar.

__ADS_1


Bisa-bisa mas Agus marah kalau mendengarnya. batin Menik


Soni mengibas-ibaskan telapak tangannya di depan wajah Menik yang sedang bengong.


"Woi ... woi ... Menik, jangan melamun. Kesurupan baru tahu rasa kamu." candanya.


"Mas Soni jangan ngaku-ngaku calon suami masa depannya Menik. Ketahuan bohongnya. Ha ... ha." ejek ince. "Aku lho sudah ketemu langsung, jadi mas Soni nggak bisa bohong sama Ince ... ups ...Tika."


"Wah, yang bener Tik. Kalau Menik udah punya calon?" tanya Soni penuh selidik.


"Bener lah mas. Meski mulut Tika ini kadang ngomong nggak bener, tapi Tika pantang bohong mas. Takut kena azab."


Soni memandang Menik mencari jawaban mengenai perkataan Tika. Ditatapnya lembut netra sipit itu dan bertanya, "Bener Nik, apa yang dikatakan oleh Tika?" Ada nada kecewa di suara Agus. Harapannya untuk meminang Menik, harus pupus.


Menik hanya mengganguk. Dia tidak sanggup menantap sorot mata tajam itu. Yach sorot mata yang selalu bisa menetramkan hatinya. Sayangnya sang pemiliknya tak pernah mengucapkan kata yang selalu dinanti Menik.


Soni terlihat meraba kantong jaketnya, mengambil dompet bergambar teddy bear. Hadiah darinya saat Menik merayakan ulang tahun ke 17.


"Nie dompetmu. Tadi aku melihatnya tertinggal di warung. Setelah ku lihat ternyata dompet kamu Nik." Soni mengangsurkan dompet itu kepada Menik.


"Makasih mas, untung mas yang menemukan."


"Aku kira kamu sudah membuangnya Nik. Ternyata masih kamu pakai."


"Tapi kamu buang mas, Nik."


"Maksudnya mas?"


"Kamu simpan dompetnya, tapi kamu buang orang yang memberikannya." Soni menghela napas berat. "Bukankah kamu dulu janji akan menanti mas pulang?" sarkas Soni


"Maaf mas." Lirih Menik menjawab ucapan Soni. Hatinya tercubit, perih terasa. Ya, Menik salah sudah melupakan janjinya. Namun dia bisa apa sekarang, tatkala sudah menerima pinangan orang lain.


***


Ince nelangsa melihat sahabatnya yang sejak pertemuannya dengan Soni menjadi pendiam. Ince tak menyangka kisah percintaan sahabatnya begitu rumit.


"Nik, mau cerita sama aku nggak? Ayo duduk di sudut sana." ajak nya sembari menarik tangan Menik.


"Nik ... sebelum kamu cerita, aku mau nanya sama kamu. Sebenarnya siapa saat ini yang ada di hati kamu. Tentunya sebagai laki-laki yang kamu cintai, bukan laki-laki yang kamu anggap sebagai kakak?"


Menik menoleh, "Aku bingung Ce ... huft ... nyatanya hatiku bukan milik mas Agus..tapi milik mas Soni—" lirih Menik menjawab, terlihat genangan air berkumpul di sudut netranya.

__ADS_1


"Terus sekarang mau kamu gimana Nik? Kamu tak boleh mundur dari keputusan tadi malam. Karena akan banyak hati yang tersakiti. Tapi kalau kamu relakan Soni. Hanya kamu dan Soni yang sakit."


"Tapi Ce ... aku mengenal mas Soni dari SMP. Banyak kenanganku bersamanya. Aku tak bisa begitu saja melepasnya." sanggah Menik


"Nik, kamu tak boleh egois. Ingat doa mu seteleh ayah menikah. Kamu ingin bisa keluar rumah dengan cara yang terhormat. Dan Allah membalasnya lewat lamaran Agus. Berarti memang Agus lah jodoh kamu."


"Tapi Ce ... aku gamang. Hatiku bercabang. Di sisi lain aku tak bisa mundur dari pernikahan dadakan ini. Namun di sisi lain aku belum mempunyai perasaan seorang perempuan kepada mas Agus sebagai laki-laki. Aku menganggapnya kakak Ce. Hatiku masih tertuju sama mas Soni Ce."


"Kamu nggak boleh egois Nik. Ingat banyak hati yang kamu pertaruhkan, jika kamu membatalkan pernikahan ini. Saranku Nik, tetaplah menikah sama Agus. Aku yakin perlahan kamu akan mencintainya."


"Entahlah Ce ... pusing aku. Nggak bisa mikir rasanya."


Ince menepuk-nepuk perlahan punggung Menik. Menyalurkan kekuatan sahabat untuk menguatkan hati Menik agar tetap setia dengan keputusannya tadi malam.


***


Soni membiarkan tubuhnya tersiram air dingin dari shower di kamar mandi. Di cengkeram erat kepalanya, sesekali tangannya pun meninju dinding kamar mandi. Dia luapkan kekesalannya melalui tinjuan di dinding.


Bu Wagiyem, ibu Soni yang mendengar suara dinding dipukul, mencari arah sumber suara tinjuan itu.


Setelah menemukan asal suara tersebut bu Wagiyem masuk ke kamar Soni dan mendudukan diri di sofa kamar.


Soni terperanjat melihat siluet ibundanya. "Tumben ibu masuk kamar Soni." sapanya.


Bu Wagiyem menggeleng perlahan mendengar ucapan Soni. Beliau memang jarang masuk kamar Soni. Kecuali saat Soni tak berada di rumah.


"Memang ibu nggak boleh masuk kamarmu?"


"Boleh kok ibu."


Bu Wagiyem meraih tangan Soni yang lecet-lecet. "Kemu kenapa le? tumben seperti ini."


"Soni kecewa ibu ... kecewa berat."


"Kecewa kenapa, coba cerita mengapa wajahmu muram tak bergairah untuk hidup. Coba ceritakan sama ibu, siapa tahu bisa meringankan bebanmu.


"Soni sedih ibu ... kekasih hati Soni di tikung orang. Soni kalah cepat bu."


Perlahan ibu menarik Soni dalam dekapannya. Dielus perlahan punggung lebar anak laki-laki satu-satunya. Karena kedua saudara Soni perempun semua. Terdengar isakan perlahan. Namun Bu Wagiyem pura-pura tak merasa.


"Soni mau minta apa?"

__ADS_1


"Soni mau minta kawin ... eh nikah bu. Tapi calonnya suda terlanjur ditikung orang. Soni harus bagaimana bu? Mau ikhlas tapi berat. Mau lepasinpun, berat banget"


__ADS_2