Adhisti

Adhisti
Bab 34


__ADS_3

"Ehm—boleh ngajak teman lagi nggak?" tanya Menik tanpa dosa.


Sontak Ince dan Fendi memandang Menik penuh arti.


"Ke—kenapa pada lihat aku?" ujarnya tak paham.


Ince memberikan isyarat agar Menik membaca pesan yang dikirimkannya.


Ince: Jangan ngajak teman Nik. Kasihan Darmawan. Ntar uangnya habis.


"Ehm, nggak jadi dech ngajak Mimi sama Dwi. Lain kali saja." ucap Menik setelah membaca pesan dari Ince.


"Nggak apa-apa Nik, kalau kamu mau ngajak Mimi sama Dwi. Hitung-hitung pajak jadian kita." ucap Darmawan dengam senyum merekah.


"Halah modus. Memang kapan kamu jadian sama Menik." sindir Ince.


"Kalian beneran jadian? Kapan?" tanya Fendi penasaran sembari berusaha menyembunyikan kecewa.


"Kalian itu percaya saja sama Darmawan. Kita nggak jadian kok." jelas Menik.


"Bukan nggak jadian Nik, belum jadian. Masih proses." seru Darmawan.


Seketika lega dada Fendi mengetahui mereka tidak jadian. Namun, Fendi resah mendengar ucapan Darmawan yang masih bertekad untuk memenangkan hati Menik.


"Jangan halu kamu Wan. Belum tentu Menik mau sama kamu." sindir Ince.


"Siapa juga yang halu Ce. Kita lihat saja nanti, pasti Menik mau jadi pacarku. Iya kan Nik?" ucap Darmawan percaya diri.


Menik tak menjawab ucapan Darmawan. Dia tersenyum menanggapinya.


"Tu lihat Ce, Menik senyum. Berarti masih ada harapan untukku. Dan masih mending aku berani mengakui perasaanku. Dari pada nggak berani ngaku langsung kalau suka. Malah berkedok sebagai sahabat biar bisa dekat." sarkas Darmawan sembari melirik Fendi.


Fendi tahu jika kata-kata Darmawan ditujukan kepadanya. Tapi Fendi berusaha tenang dan tidak menanggapinya.


"Halah kamu itu Wan, ngoceh terus. Aku lihat saja nanti, apa Menik mau sama kamu." ledek Ince.


"Oke. Tunggu tanggal mainnya. Siap-siap saja nggak ada lagi yang boncengin kamu." balas Darmawan.


"Sudah-sudah, katanya mau print laporan. Ayo ke kos. Tapi kalian para cowok tunggu di bawah." sela Menik untuk mengakhiri perdebatan Ince dan Darmawan.


***


Senja menyapa tatkala Menik pulang ke kos. Dia pun segera membersihkan diri.


Dert .... dert


Vibarasi ponsel Menik menandakan ada pesan masuk di grup chat kos.


Nonie: Woi. Nitip makan nggak? Mumpung aku di warung bambu.

__ADS_1


Fera: Nitip mbak, seperti biasa. Pakai ayam.


Nonie: Oke. Yang lain nitip nggak? Keburu aku pulang.


Menik: Aku nitip juga mbak, seperti pesanan Fera.


Nonie: Oke Nik. Pemesanan ditutup.yach. Aku pulang.


Endang: Mbak Non ... aku pesen juga, pakai ikan lele.


Nonie: Oke Ndang. Nggak terima pesanan lagi ya.


Menik: Oke.


Fera: Oke.


Sudah menjadi kebiasaan di kos Menik, apabila ada yang keluar kos mendekati waktu makan, dan mampir ke warung, harus memberitahu teman satu kos. Agar teman yang lain bisa nitip makan.


Selesai makan malam bersama, masing-masing penghuni kos masuk ke dalam kamar. Semuanya sibuk berkutat dengan tugas-tugas kampus. Apalagi Nonie yang berada di semester akhir. Harus secepatnya menyelesaikan skripsinya. Kerena Heri pacarnya, sudah tak sabar menunggunya lulus dan segera menikah.


Menik sudah menyelesaikan tugas kuliahnya terlihat bersantai rebahan di atas kasur sembari memainkan game memasangkan gambar.


Beb ... beb ....


Layar ponsel yang tadinya penuh gambar, berubah menjadi gambar dua ikon, hijau dan merah.


"Siapa sih gangguin orang main game, lagi asyik pula." gerutu Menik yang sebentar lagi naik level, namun gagal karena ada panggilan masuk.


"Waalaikumsalam." jawab Menik.


"Nik, apakabar?"


"Alhamdulillah baik. Maaf ini siapa?" tanya Menik penasaran, karena nomor penelepon tak terdaftar di ponselnya.


"Wah-wah ... ada yang lupa dengan suara suaminya."


"Mas Agus—?" tanya Menik untuk menegaskan.


"Iya Nik. Ini aku Agus."


"Tumben mas telepon? Lagi nggak sibuk? Atau baru ingat sama Menik?" cecar Menik.


"Kamu nggak berubah Nik, masih saja seperti petasan renteng kalau bicara. Ini lah yang selalu membuatku kangen, dan ingin telepon kamu. Tapi apa daya, aku jarang di daratan. Jadi susah sinyal." jelas Agus.


"Preet ... kalau kangen kenapa nggak berusaha kirim pesan atau telepon pas ada waktu. Mas tahu nggak, tiga bulan mas ghosting."


"Aku tahu aku salah Nik, nggak kirim kabar sama sekali sama kamu."


"Sibuk banget kah mas? Sampai nggak bisa kirim kabar. Ibu dan Ayah sampai nanyain kabar mas sama Menik. Dan— Menik terpaksa bohong, bilang kalau mas sudah hubungi Menik."

__ADS_1


"Aku minta maaf Nik. Doain semua urusan mas lancar, dan segera lulus tepat waktu."


"Aamiin." jawab Menik.


"Nik, teleponnya ganti video call saja ya. Mumpung sinyal bagus. Kangen pengin lihat kamu senyum."


Belum sempat Menik menyetujui panggilan itu sudah beralih ke video call, Agus telah mengubah panggilan itu.


"Akhirnya aku bisa lihat wajah kamu lagi Nik." ucap Agus.


"Mas lebay."


"Beneran Nik, aku senang sekali bisa lihat wajahmu. Jadi pengin cubit pipi bakpau kamu."


"Sini kalau berani, cubit saja. Ntar Menik balas gelitikin."


"Menik di kos? Coba aku pengin lihat kamarmu."


"Iya mas, di kamar."


Menik mengganti arah kamera dan mengedarkan kemera ponsel mengelilingi kamarnya. Agus mengernyit ketika sadar cincin nikah bukannya disematkan di jari Menik. Malah tergantung di lehernya.


"Nik, kenapa cincinnya di pasang di kalung?"


"Ooh, ini maksud mas?" Menik menunjuk ke arah lehernya. Tak sadar bila ada pemandangan lain yang lebih menarik buat Agus. Selain cincin itu pastinya.


"Turun dikit Nik, nggak kelihatan." seru Agus.


Menik tak memyadari arah pandangan Agus menurut saja menurunkan arah kamera ponsel.


"Gimana mas, sudah kelihatan belum?"


"Sudah. Pas banget malahan. Coba aku di dekatmu Nik. Pasti sudah—." Agus menjeda perkataannya.


"Sudah apa mas?" tanya Menik penasaran.


"Ehm— sudah aku pindah itu cincin ke jari mu." elak Agus, agar tak ketahuan Menik kalau saat ini dia sedang menikmati pemandangan langka yang disuguhkan pasangan halalnya itu.


"Menik sengaja mas, taruh di kalung. Supaya nggak jadi bahan pertanyaan orang-orang. Bukankah mas sendiri yang mengingnkan pernikahan ini dirahasikan dulu." ucap Menik.


Keasyikan Agus seketika buyar mendengar ucapan menohok yang Menik lontarkan.


"Tapi jangan juga dipasang di kalung Nik. Biarkan cincin itu tersemat di jarimu." tegas Agus.


"Ntar kalau orang nanya itu cincin apa gimana? Apa Menik harus jujur, kalau Menik sudah menikah?"


"Jawab saja begitu juga nggak apa-apa Nik. Biar nggak ada lagi yang berharap jadi pacar Menik."


"Oke, kalau begitu ntar Menik pasang. Terus kalau ada yang nanya, siapa suami Menik. Menik harus jawab apa? Atau Menik jawab jujur saja kalau mas sebagai suami Menik. " cecar Menik.

__ADS_1


Agus terdiam mendengar rentetan kalimat Menik yang semakin menyudutkannya. Lidahnya kelu ingin menjelaskan mengapa mereka masih harus merahasiakan pernikahannya. Meski beberapa tetangga dan kerabat sudah ada yang tahu.


Agus membuang napas kasar sebelum berucap, "Maaf Nik, Aku membawamu dalam situasi seperti ini. Suatu saat aku akan jelaskan."


__ADS_2