
Aileen, Raka dan Brenda masih saling berdiam diri tanpa mengatakan apapun karena tidak tau harus berbicara apa.
“Sudah sudah, jangan melamun terus ah kayaknya bukan kita banget!” ucap Raka sambil bertepuk tangan untuk menyadarkan kedua sahabatnya itu.
“Ayo sekarang, kamu mau kemana Aileen? Aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau pergi.” Lanjut Raka.
“Em,,, aku mau ke rumah orang tuaku dulu ya Rak, aku mau berpamitan kepada mereka dan melihat keadaan adikku." Ucap Aileen.
“Sepertinya aku juga harus ikut dengan kalian, karena kalau tidak om dan tante akan salah paham walaupun sebenarnya kalian pernah berpacaran.” Sahut Brenda.
“Ya Brenda benar, aku tidak mau menambah masalah kepadamu karena orang tuamu salah paham terhadapku.” Ucap Raka.
“Kalau begitu aku siap-siap dulu ya.” Ucap Brenda yang di balas anggukan oleh Aileen dan juga Raka.
Setelah Brenda selesai bersiap, ketiganya segera berangkat menuju rumah orang tua Aileen.
Sesampainya di rumah orang tuanya, seketika Aileen ragu untuk turun dari mobil karena dia tidak siap untuk berpisah dari keluarganya.
“Kenapa Leen? Ga mau turun?” tanya Brenda.
“Aku takut Bren, aku takut brhadapan dengan kedua orang tuaku.” Ucap Aileen.
“Ya kalo gitu jangan pergi Leen, tetep di sini dan hadapi orang itu bareng-bareng.” Ucap Raka.
“Engga Rak, aku ga mau cari masalah, lebih baik mencegah dari pada mengobati bukan? Jadi lebih baik aku pergi sampai semua keadaan tenang, aku ingin tau siapa yang mengancamku dan aku juga mau tau sebenarnya apa yang orang ini inginkan.” Jelas Aileen.
“Kamu tenang saja Leen, aku Raka dan Bob akan memantau terus keadaan di sini untuk melihat siapa yang sebenarnya mengancammu dan menginginkan kamu pergi.” Ucap Brenda.
“Terimakasih, terimakasih karena sudah mau membantuku, kalian semua benar-benar sahabat terbaik.” Ucap Aileen.
“Tenang saja, kalau nanti suami kamu bertanya aku akan mengatakan kalau aku mau bertanggung jawab atas anak yang kamu kandung, aku yakin dia tidak akan mencarimu lagi.” Ucap Raka.
“Hah? Kamu serius Rak? Nanti kalo ada apa-apa gimana? Nanti ga ada cewek yang mau sama kamu loh.” Ucap Aileen.
“Kenapa? Anak kamu juga anakku, anak Brenda dan anak Bob.” Jawab Raka.
“Udah mending ijin dulu sama orang tua kamu Leen, dan aku rasa lebih baik kamu ngomong apa adanya sama orang tua kamu biar mereka ga khawatir dan mereka bisa mencari alasan jika keluarga kak Archie datang dan
bertanya kepada mereka.” Ucap Brenda.
__ADS_1
Aileen berfikir cukup lama, lalu akhirnya dia keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumahnya, sedangkan Brenda dan Raka memutuskan untuk diam di dalam mobil dan membiarkan Aileen untuk menjelaskan tentang masalahnya
lebih dulu kepada orang tuanya.
“Kamu yakin mau ngebiarin Aileen pergi gitu aja Rak?” tanya Brenda.
“Kamu tenang saja Bren, aku akan terus berada di dekat Aileen, hatiku masih menyukainya tapi aku tau kalau hatinya sudah bukan untukku lagi, hanya saja dia masih belum sadar kalau dia sudah mulai menyukai suaminya.”
Jelas Raka.
“Wah salut sih sama kamu Rak, semoga kamu dapet pasangan yang lebih baik dari Aileen ya Rak.” Ucap Brenda.
Raka hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala mendengar ucapan Brenda, lalu tiba-tiba Raka baru tersadar kalau dia tidak melihat Bob saat itu.
“Loh tapi tumben banget aku ga liat Bob bareng kamu Bren?” tanya Raka.
“Ah, dia ada jam tambahan entahlah dosennya minta jam tambahan untuk menjelaskan materi jadi dia sekarang masih di kampus.” Jelas Brenda.
“Oalah, kalian berdua ini sudah memiliki hubungan ya?” tanya Raka.
“What!? Sama Bob? Aku? Aduh engga deh, kamu ga liat aku setiap hari sama dia tuh berantem mulu!” ucap Brenda.
Brenda hanya menggelengkan kepalanya sambil bergidik ngeri membayangkan jika dirinya bersama Bob.
“Udah deh ga usah ngaco kalo ngomong Rak! Kita di sini mau nemenin Aileen bukan mau ngeledekin aku dan tanya-tanya soal hubunganku!” ketus Brenda.
Raka hanya tersenyum penuh arti mendengar ucapan Brenda, lalu kembali melihat rumah Aileen yang masih hening seperti tidak ada pembicaraan, entah apa yang sedang di lakukan Aileen di dalam rumah orang
tuanya.
***
Di sisi lain, Archie yang masih berada di dalam kamarnya masih belum bergerak sedikitpun, dia masih duduk di tepi tempat tidur dan menatap ke luar jendela.
Adeline yang melihat kakaknya seperti itu merasa sedih sekali karena selama ini dia tidak pernah melihat Archie galau seperti saat ini.
“Kak, turun yuk.. Kita ke rumah mom dan dad aja ya.” Ajak Adeline.
“Kamu pulanglah, aku mau sendiri Del.”
__ADS_1
“Kak jangan begini, di saat seperti ini justru kak Archie butuh teman, dan aku juga akan menyuruh kak Adrian ke sini untuk menemani kakak juga.” Ucap Adeline.
“Jangan libatkan Adrian, aku tidak ingin dia melihatku dalam keadaan seperti ini.”
“Kak, yang namanya sahabat itu harus ada di saat sahabatnya sedang terpuruk, dan di saat seperti ini lah kak Adrian harus ada di samping kakak.” Ucap Adeline.
“Del..” ucap Archie.
“Terserah kakak, pokoknya aku akan tetap menyuruh kak Adrian ke sini untuk menemani kak Archie, karena sebentar lagi aku harus bekerja!” tegas Adeline yang langsung berjalan ke luar kamar kakaknya.
“Non..” panggil bi Ijah saat melihat Adeline keluar dari kamar Archie.
“Bi, jaga kak Archie ya… Aku akan menghubungi temannya namanya kak Adrian, dia akan segera kemari bi, aku mau pamin kerja dulu ya soalnya ada pemotretan yang ga bisa aku batalin.” Ucap Adeline.
“Baiklah non, non Adel bekerja saja, bibi yang akan mengurus tuan Archie di sini.” Ucap bi ijah.
“Paksa kak Archie makan ya bi, dia bakal sakit kalo terus-terusan ga makan.”
“Siap non tenang saja, bibi akan memaksa tuan untuk makan.”
Setelah menitipkan kakaknya kepada bi Ijah, Adeline segera berjalan keluar rumah sambil menghubungi Adrian dan menyuruhnya untuk menemani Archie di rumahnya.
“Halo kak Adrian.” Sapa Adeline saat Adrian sudah mengangkat telfonnya.
“Ada apa Del?”
“Kak, bisakah aku minta tolong kepada kakak?”
“Minta tolong apa?”
“Datang ke rumah kakak dan temani kak Archie karena dia sedang ada masalah dengan istrinya.” Ucap Adeline.
“Baiklah, setelah meetingku selesai aku akan segera mengunjungi Archie di rumahnya.” Jawab Adrian.
“Terimakasih banyak kak..” ucap Adeline yang langsung mematikan telfonnya.
Setelah melihat Adeline pergi, bi Ijah kembali masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makanan untuk majikannya itu.
Dan di tempat yang tidak jauh dari rumah Archie, seseorang sedang memantau rumah Archie dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia Archie!” ucap seseorang yang sedang bersembunyi sambil mengawasi rumah Archie dari jauh.