
Pagi mulai datang dan cahaya matahari pun perlahan masuk ke sela-sela tirai kamar yang tidak ada penghuninya.
“Huekk,, hueekk..” Suara Aileen yang berasal dari kamar mandi.
Semalaman Aileen tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena mual yang dia rasakan, entah kenapa Aileen mulai merasa lemas karena setiap makanan yang dia makan selalu keluar dan itu membuat tubuhnya tidak mendapat
asupan makanan dan menyebabkan tubuhnya lemah.
Brenda yang berada di kamar sebelah terbangun karena suara yang berasal dari kamar sahabatnya itu, Brenda segera bangun dan berjalan menuju kamar sahabatnya.
Tanpa pikir panjang, Brenda segera membuka pintu kamar Aileen tanpa mengetuknya dan segera masuk ke dalam.
“Aileen!” ucap Brenda sambil mencari di sekeliling kamar, namun tidak terlihat ada tanda keberadaan Aileen di sana.
“Hueekk!!” tiba-tiba Brenda kembali mendengar suara Aileen yang berasal dari kamar mandi.
Dengan segera Brenda berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintu dengan segera.
“Yaampun Aileen, kamu muntah-muntah lagi?” tanya Brenda sambil memegang tengkuk leher Aileen untuk melancarkan Aileen memuntahkan isi perutnya.
“Hikss,, hikss, rasanya ga enak banget Bren..” ucap Aileen yang ternyata sudah menangis.
“Leen, kamu libur kuliah dulu aja ya.. Aku akan mengijinkan kamu kepada dosenmu.” Ucap Brenda.
“Engga Bren, hari ini ada praktek di lab dan aku harus ikut matkul itu biar bisa lulus nanti.” Ucap Aileen.
“Aileen plis, dosen kita akan mengerti jika aku menjelaskan kepada mereka jika kamu sudah menikah dan sekarang sedang mengandung, mereka pasti akan mengerti kok.” Jelas Brenda.
“Ga bisa Bren, aku harus tetap masuk.” Ucap Aileen memaksa.
“Tapi Leen, kamu lagi lemes kayak gini gimana mau masuk? Nanti yang ada kamu malah pingsan di kelas.” Ucap Brenda.
“Engga kok aku kuat, aku yakin anakku juga pasti bisa mengerti kalau mamanya harus belajar.” Ucap Aileen.
Brenda hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang sulit sekali di beritahu.
“Kalau begitu aku telfon Raka dan Bob dulu ya, aku akan menyuruh mereka menjemput kita kemari, kamu mandi dulu aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.” Ucap Brenda.
“Terimakasih banyak ya Bren, aku ga tau bisa apa kalo ga ada kamu..” ucap Aileen yang di balas tatapan tajam oleh Brenda.
“Jangan pernah berterimakasih karena aku melakukan ini karena sudah menganggapmu sebagai saudaraku dan anak yang kamu kandung adalah keponakanku dan juga akan aku anggap sebagai anakku juga nantinya.” Jelas Brenda.
Aileen hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala mendengar ucapan sahabatnya, lalu segera mengambil pakaiannya.
Sedangkan Brenda segera keluar dari kamar Aileen dan bersiap untuk menyiapkan makanan karena hari itu dia tidak ada kelas pagi, jadi dia lah yang akan menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya Brenda telah selesai menyiapkan sarapan lalu segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap juga.
Aileen yang sudah selesai mandi dan bersiap segera menuju ruang makan dan melihat sudah ada banyak sekali makanan yang di sediakan Brenda di atas meja makan.
“Yaampun Brenda ini bikin makanan sebanyak ini udah kayak orang mau selametan aja deh..” gumam Aileen sambil melihat makanan yang ada di meja makan dan tangannya menarik salah satu kursi yang ada di sana lalu duduk di tempatnya.
Tidak lama Aileen menunggu sahabatnya turun, Brenda segera menuruni tangga dan tersenyum melihat Aileen yang sudah duduk tenang di kursinya.
Aileen yang mendengar suara langkah kaki dari belakang segera menoleh dan melihat Brenda yang sedang menuruni tangga.
“Kamu mau selametan Bren masak segini banyaknya?” tanya Aileen.
Brenda yang mendengar pertanyaan Aileen hanya bisa menaikan kedua bahunya dan duduk di kursi yang ada di depan Aileen.
“Kenapa kamu bilang selametan? Aku ini masak sarapan buat kita tau.” Ucap Brenda.
“Tapi ini banyak banget Bren, emang kamu mampu makan segini banyaknya?” tanya Aileen.
“Ya engga lah Leen! Ini buat kamu tau, kamu sekarang harus makan untuk dua orang jadi aku menyiapkan banyak makanan untuk kalian.” Jelas Brenda.
“What?! Tapi ga sebanyak ini juga kali Brenda! Kamu tau kan kalau aku makan dikit aja langsung mual, ini gimana jadinya aku harus makan sebanyak ini?” tanya Aileen.
“Udah deh cepet makan pelan-pelan aja sambil nunggu Raka dan Bob datang, butuh sejam setengah naik mobil untuk ke sini jadi kita bisa santai dulu.” Ucap Brenda.
“Oh iya Bren,, kamu ga masalah kalo harus tinggal di sini? Kamu tau kan kita membutuhkan waktu satu setengah jam untuk ke kampus.” Ucap Aileen tiba-tiba.
“Kenapa kamu nanya lagi sih Leen? Aku baik-baik saja kok dan aku akan tetap berada di sampingmu di saat seperti ini!” tegas Brenda.
“Terimakasih Bren, jangan cepat menikah ya biar kamu lebih lama menemaniku seperti sekarang…” canda Aileen.
“Ye enak aja! Kamu mau aku jadi perawan tua hah?!” ketus Brenda yang di balas tawa oleh Aileen dan juga Brenda secara bersamaan.
Setelah berbincang dan tertawa bersama, akhirnya keduanya segera menyantap makanan mereka. Brenda melihat Aileen yang makan dengan lahap dan juga menghabiskan susunya yang biasanya tidak tersentuh sama sekali.
Aileen menyadari jika sejak tadi Brenda memperhatikannya, Aileen segera melihat Brenda dengan tatapan aneh.
“Kenapa kamu ngeliat aku kayak gitu?” tanya Aileen kepada Brenda.
“Aku seneng aja kamu makan dengan lahap, bahkan kamu menghabiskan susu yang sejak kemarin tidak pernah mau kamu sentuh.” Ucap Brenda.
“Eh, iya juga ya Bren, kenapa aku mau makan dan minum susu ya? Biasanya langsung mual.” Ucap Aileen yang juga baru menyadari hal itu.
“Mungkin keponakanku sudah mulai mengerti kalau mamanya sangat ingin belajar dan dia mulai sedikit tenang di dalam sana.” Ucapa Brenda.
“Ya mungkin kamu benar Bren, anak pintar..” puji Aileen sambil mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Ting tong… tiba-tiba saja bel pintu apartment Aileen berbunyi di tengah-tengah sarapan mereka.
“Raka dan Bob sudah sampai?” tanya Aileen kepada Brenda namun Brenda hanya membalas dengan mengangkat kedua bahunya.
Aileen beranjak dari tempat duduknya dan segera berjalan ke pintu depan untuk membukakan pintu.
Ceklek!! Saat Aileen membuka pintu apartmentnya, bukan Raka atau Bob yang ada di sana, melainkan seseorang yang memakai pakaian pengantar paket.
“Iya? Cari siapa ya mas?” tanya Aileen.
“Mbak Aileen?” tanya pengantar paket tersebut.
“Iya saya sendiri, ada apa?” tanya Aileen kembali.
“Saya ingin memberikan paket untuk mbak Aileen, silahkan tanda tangan di sini.” Ucap pengantar paket tersebut sambil mengulurkan sebuah kertas dan pulpen kepada Aileen.
“Paket? Dari siapa ya mas?” tanya Aileen yang tidak lagsung menandatangani kertas yang di berikan oleh pengantar paket tersebut.
“Saya juga ga tau nih mbak, soalnya kan saya cuma mengantar saja.” Balasnya.
Aileen hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menandatangani kertas yang di berikan pengirim paket tersebut.
“Terimakasih mbak..” ucap pengantar paket.
“Terimakasih kembali mas.” Balas Aileen yang langsung kembali masuk ke dalam apartment dengan paketan yang ada di tangannya.
Brenda yang menunggu di meja makan langsung bereaksi saat melihat Aileen datang dengan paket yang ada di tangannya.
“Apa itu Leen? Bukan Raka dan Bob yang datang?” tanya Brenda.
“Bukan, entahlah ada yang mengirim paket padaku tapi aku tidak tau siapa karena tidak ada nama pengirimnya.” Ucap Aileen.
“Coba buka saja, mungkin orang tuamu yang mengirim paket ini.” Ucap Brenda.
Aileen hanya menganggukkan kepala lalu segera membuka paket tersebut dengan perlahan lalu senyum di wajah Aileen mulai mengembang karena melihat bagian tubuh boneka yang terlihat.
Lalu setelah seluruh boxnya terbuka, senyum di wajah Aileen berubah menjadi teriakan yang membuat Brenda terkejut mendengarnya.
“Aaaa!!” teriak Aileen.
“Leen? Ada apa?!” tanya Brenda dengan wajah paniknya.
***
Mohon maaf semua kakak-kakak yang setia menunggu author update setiap hari, maaf karena kemarin author belum bisa menepati janji update 2 bab sehari karena tanggal 2 kemarin ayah author telah berpulang dan itu sama sekali ga pernah author duga jadi author tidak update beberapa hari kemarin, author benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya... SARANGHAE..
__ADS_1