
Mendengar Almeera yang terus menangis akhirnya Brenda memutuskan untuk kembali menggendong Almeera dan mencoba untuk menenangkannya.
“Kemana ibunya? Kenapa dia tidak mengantar anaknya sendiri?” tanya dokter Gunawan.
“Mamanya sedang kuliah, jadi aku yang menggantikannya.” Jawab Brenda.
“Bagaimana bisa dia lebih mementingkan kuliahnya di bandingkan dengan anaknya yang sedang sakit?” tanya dokter Gunawan.
Mendengar pertanyaan dokter Gunawan membuat Brenda kesal dan langsung menatap wajah dokter Gunawan dengan tajam.
Dokter Gunawan yang awalnya tidak sadar langsung terkejut saat melihat Brenda menatapnya dengan tajam.
“A-ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Gunawan dengan gugup.
“Kamu sebenarnya seorang dokter atau presenter gossip?!” ketus Brenda.
“Apa? Kenapa kamu kasar begitu?” tanya Gunawan yang merasa ucapan Brenda terlalu kasar.
“Kalau kamu tidak tau lebih baik jangan mengkritik orang hanya karena beberapa kata, kamu ga tau kalo mamanya sangat menyayanginya, dia seorang single parent yang harus berjuang untuk anaknya, dia bahkan yang mengantar anaknya kemari dan aku memaksanya untuk kuliah karena sekarang dia sudah semester akhir.” Jelas Brenda.
“Apa salah seorang ibu muda meraih mimpinya? Apa karena dia sudah memiliki anak dia tidak boleh mengejar cita-citanya? Toh ada seseorang yang menjaga anaknya, mungkin kalau ibunya hanya meninggalkannya tanpa siapapun dia bisa di salahkan!” lanjutnya.
Brenda segera mengambil tas bayi Almeera dan berjalan ke arah pintu ruangan, membuat Gunawan yang terpaku beberapa detik langsung tersadar.
“Anda mau kemana?” tanya Gunawan sambil memegang tangan Brenda yang sedang memegang tas bayi.
“Aku ingin mengganti dokter untuk keponakanku, aku ga mau keponakanku di periksa oleh orang yang suka gossip!” ketus Brenda.
“Tidak ada lagi dokter anak yang bertugas hari ini, aku juga benar-benar minta maaf kepadamu karena sudah mencela ibu dari anak ini, aku tidak akan mengulanginya.” Ucap Gunawan.
Brenda menepis tangan Gunawan dan masih bertekat untuk pergi dari ruangan itu, namun Gunawan tetap menahannya dan meminta maaf berkali-kali sampai Almeera yang awalnya sudah tenang kembali menangis.
“Lihatkan, kepalanya pasti sangat pusing sampai dia menangis seperti itu.” Ucap Gunawan.
Brenda langsung melihat Almeera dengan tatapan kasihan, lalu dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan dan menaruh Almeera di atas kasur pasien kembali.
“Cepat periksa keadaan keponakanku.” Ucap Brenda.
Sambil memegangi tangan Almeera, Gunawan mulai memeriksa Almeera dengan serius dan juga perlahan membuat Almeera merasa nyaman dan mulai tenang.
Brenda benar-benar tidak mengerti kenapa Gunawan bisa menenangkan Almeera hanya dengan melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
“Apa kamu memberi Almeera obat bius tadi? Kenapa sekarang dia diem aja?” tanya Brenda.
“Hah? Dari tadi aku hanya memegang stethoscope, terus gimana aku bisa membiusnya?” tanya Gunawan.
“Terus kenapa dia bisa diem secepet itu?” tanya Brenda.
“Karena aku tampan dan semua anak kecil menyukaiku.” Ucap Gunawan dengan pedenya.
“Hah? Maaf tuan dokter Gunawan, tapi sepertinya kita tidak saling mengenal untuk bercanda seperti itu.” Ucap Brenda yang merasa rishi dengan sikap Gunawan.
“Ah, maaf aku keceplosan.. Silahkan gendong kembali Almeera karena pengobatan sudah selesai.” Ucap Gunawan.
Dengan segera Brenda kembali menggendong Almeera dan duduk di kursi yang ada di hadapan Gunawan untuk mendengar tentang kesehatan Almeera, namun tatapan Brenda kepada Gunawan membuat Gunawan tidak nyaman.
“Kamu masih penasaran kenapa aku bisa membuat keponakanmu tenang dalam sekejap?” tanya Gunawan yang langsung di balas anggukan oleh Brenda.
“Aku ini dokter anak yang sudah bekerja cukup lama, aku sudah sering kali bertemu dengan banyak anak kecil, dan kami juga di latih bagaimana cara menangani anak kecil yang sifatnya bermacam-macam.” Jelas Gunawan.
Mendengar penjelasan Gunawan membuat Brenda menganggukkan kepalanya karena mengerti dengan penjelasannya dan bisa menerimanya.
Tok,,tok,,tok… Tiba-tiba saja ruangan Gunawan di ketuk dan membuat keduanya menoleh ke asal suara, di sana sudah ada Aileen yang berdiri sambil mengintip ke dalam ruangan.
“Ah iya tadi aku meminta dosenku untuk membiarkan aku persentasi lebih dulu karena aku harus ke rumah sakit melihat anakku, dan untungnya dosenku sangat pengertian dan teman-teman kelasku juga mengerti.” Jelas Aileen.
“Tapi seengganya butuh hampir 60 menit lebih dari kampus kemari, kamu ngebut ya?” tanya Brenda.
“Ga perlu ngomongin itu, gimana keadaan Almeera? Apa kamu dia sudah di periksa?” tanya Aileen yang tidak memperdulikan Gunawan di sebelahnya.
“Aileen?” panggil Gunawan yang membuat Aileen dan Brenda berhenti lalu menoleh ke arah Gunawan.
“Dokter Gunawan kenal Aileen?” tanya Brenda.
“Dokter Gunawan? Kak Gunawan?” tanya Aileen yang kembali mengingat Gunawan.
Brenda yang sedang berada di tengah-tengah keduanya hanya bisa menoleh ke Aileen dan Gunawan secara bergantian.
“Tunggu dulu! Kenapa kalian saling mengenal? Apa dia mantan kekasihmu Aileen?” tanya Brenda.
“Ngawur! Kamu tau aku hanya beberapa kali berpacaran!” ketus Aileen.
“Ya terus kenapa kamu mengenal dokter ini?”
__ADS_1
“Kamu ga kenal dia? Kak Gunawan juga ga kenal Brenda?” tanya Aileen.
Brenda dan Gunawan hanya bisa menggelengkan kepala karena mereka berdua memang tidak saling mengenal satu sama lain.
“Yaampun, dia ini sepupunya Bob!” ucap Aileen.
“Kak Gunawan, dia ini Brenda sahabatku dan juga Bob.. Kalian berdua beneran ga saling kenal?” tanya Aileen.
“Sejak kapan Bob punya sepupu?” tanya Brenda.
“Sejak kapan Bob punya sahabat perempuan selain kamu?” tanya Gunawan.
“Hah? Kalian berdua kok saut-sautan sih nanyanya? Ya pokoknya begitu, mungkin kalian ga pernah ketemu karena Brenda memang anak rumahan dan tidak sepertiku yang sering pergi bersama Bob.” Ucap Aileen.
Aileen yang baru sadar kalau anaknya baru saja di periksa segera mengambil Almeera dari Brenda dan menggendongnya sambil menciumi wajahnya berkali-kali.
“Jadi bagaimana keadaan anakku kak?” tanya Aileen.
“Jadi keponakanmu adalah anaknya Aileen? Aileen, sejak kapan kamu memiliki anak? Jadi yang Bob bilang kalo kamu mau menikah itu beneran?” tanya Gunawan.
“Ya beneran kak, emang ngumpet-ngumpet karena aku masih kecil waktu itu dan kami juga tidak saling mengenal apa lagi menyukai, sampai di sinilah aku bersama anak perempuanku.” Jelas Aileen.
“Dimana suami kamu? Kenapa kamu sendirian? Aku juga mau mengenal suami kamu.” ucap Gunawan.
Aileen dan Brenda yang mendengar pertanyaan Gunawan hanya bisa diam dan saling menatap satu sama lain, mereka berdua hanya bisa membisu dan membuat Gunawan merasa heran.
“Ada apa? Kenapa kalian berdua diam?” tanya Gunawan.
“Apa Bob tidak pernah bercerita kak? Selama ini Bob masih sering mampir untuk melihat Almeera.” Ucap Aileen.
“Aku sudah tinggal di rumahku sendiri, dan kami sama-sama sibuk jadi tidak pernah bertemu bahkan tidak pernah saling mengirim pesan.” Jelas Gunawan.
“Aileen dan suaminya sudah berpisah, kami tidak bisa menjelaskan lebih lanjut yang perlu dokter tau Aileen sudah berpisah dengan suaminya.” Jelas Brenda dengan singkat.
“Brenda, aku dan mas Archie belum bercerai..” ucap Aileen meluruskan.
“Belum bercerai? Dia sudah mengirim surat cerai kepadamu apa itu yang di namakan belum bercerai? Dia sudah melupakanmu Aileen, dia sudah rela melepaskanmu tanpa mencarimu sama sekali.” Ucap Brenda.
“Bren jangan emosi..” ucap Aileen menenangkan.
“Di saat kamu sering mendapat terror, di mana dia? Seharusnya jika dia mencintaimu, dia harus mengikutimu walaupun kamu membuat kesalahan dan memutuskan untuk pergi dengan sendirinya!” teriak Brenda yang kesal dan langsung meninggalkan ruangan Gunawan begitu saja membuat Aileen menghela nafas panjang.
__ADS_1