
Di kediaman keluarga Hamilton, Aileen sudah duduk di meja makan bersama untuk makan malam.
Aileen sama sekali tidak bersemangat karena sampai saat ini belum juga mendapatkan kabar dari sahabatnya.
“Aileen, kamu udah enakan?” tanya Yasmine saat melihat menantunya yang tidak bersemangat.
“Hmm, enakan mom tapi masih khawatir sama keadaan Brenda.” Jawab Aileen.
“Jangan khawatir, Archie akan membawa sahabat kamu dalam keadaan baik-baik saja.” Sahut Hamish.
Aileen hanya tersenyum ke arah mertuanya sambil menganggukkan kepala, saat itu juga hp Aileen berdering.
Dengan segera Aileen mengangkat telfon dari suaminya itu karena dia tau kalau itu pasti tentang sahabatnya.
“Halo, halo mas Archie?” tanya Aileen dengan tidak sabar.
“…”
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu, segera bawa Brenda ke rumah sakit ya mas.”
“…”
“Terimakasih banyak mas, kamu sudah menyelamatkan sahabatku, aku mohon segera bawa dia ke rumah sakit dan pastikan tidak ada trauma atau luka padanya.” Ucap Aileen.
Setelah itu telfon pun di matikan dan Aileen tersenyum bahagia.
“Bagaimana?” tanya Adeline yang penasaran.
Begitu juga dengan Yasmine dan Hamish yang ikut penasaran.
“Brenda sudah selamat, penculiknya juga sudah di amankan polisi jadi semuanya sudah baik-baik saja sekarang.” Jelas Aileen.
Mendengar penjelasan Aileen membuat semuanya menghela nafas lega karena Brenda sudah di selamatkan.
“Terus gimana penculiknya? Siapa penculiknya? Bukankah dia juga yang selama ini mengancammu?” tanya Adeline tidak sabar.
“Ah iya aku lupa tanya kak, nanti aja kita tanya langsung ya.” Ucap Aileen yang di balas anggukan oleh Adeline.
Aileen segera beranjak dari kursi makannya tanpa menyentuh makanannya sama sekali membuat semua orang menatapnya.
“Kamu mau kemana Aileen?” tanya Yasmine.
“Mau siap-siap mom, Aileen mau ke rumah sakit.” Ucap Aileen.
__ADS_1
“Yaampun Aileen, makan dulu mommy ga mau tau pokoknya kamu harus menghabiskan makananmu dulu baru ke rumah sakit!” tegas Yasmine.
“Tapi mom,, ga ada waktu lagi..” rengek Aileen.
“Ga ada tapi-tapian! Ayo cepet makan dulu baru pergi.” Ucap Yasmine.
“Lagian mereka ga akan langsung sampe rumah sakit kok Leen, ayo makan dulu kamu kan harus ngasih ASI buat Almeera.” Sambung Adeline.
Akhirnya Aileen menganggukkan kepalanya lalu kembali duduk di kursi makannya dan mulai menghabiskan makanan yang sudah dia ambil tadi.
Sedangkan Adeline menunggu Aileen selesai untuk bergantian menggendong Almeera.
“Sini kak aku udah selesai kok, kakak makan dulu ya.” Ucap Aileen yang langsung mengambil alih Almeera dari gendongan Adeline.
Aileen masih berada di meja makan menunggu semua orang menyelesaikan makan malamnya.
“Leen, malam ini kamu tidur di sini kan?” tanya Yasmine.
“Eh, kayaknya Aileen pulang ke rumah mama aja deh mom.” Jawab Aileen.
“Loh emangnya kenapa? Kamu ga mau nginep di sini aja? Kan ini juga rumah kamu.”
“Ga enak mom, Aileen juga ga ngerti hubungan Aileen sama mas Archie ini sebenernya hukumnya apa, soalnya kan udah dua tahun kita ga bertemu.” Jelas Aileen.
“Makanya itu karena belum pasti Aileen lebih baik tidur di rumah mama aja dulu, sampai kami mengadakan acara pernikahan baru Aileen dan Almeera akan pindah ke sini.” Jelas Aileen.
Mendengar penjelasan Aileen membuat semuanya akhirnya mengerti kalau Aileen tidak mau ada pembicaraan yang tidak-tidak tentang hubungan mereka, akhirnya mereka semua menyetujui keinginan Aileen yang akan pindah setelah acara pernikahan mereka.
“Kalo gitu mom akan segera mengadakan acara pernikahan secepatnya karena mom ga mau menunda lagi!” seru Yasmine dengan semangat.
Aileen hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya, dia bersyukur mendapatkan mertua dan ipar yang sangat menyayanginya.
Sedangkan di sisi lain, Archie, Fiki, Bob dan Brenda sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit untuk memeriksa keadaan Brenda.
“Kak aku baik-baik saja kok jadi ga perlu ke rumah sakit.” Ucap Brenda.
“Tidak Brenda, kalau aku tidak membawamu ke rumah sakit istriku akan memarahiku dan aku pusing mendengar omelannya.” Ucap Archie.
“Di rumah sakit aku juga akan memeriksa kondisi mentalmu, aku takut hal ini akan menjadi trauma bagimu.” Jelas Archie.
“Yaampun kak aku ini udah besar, aku ga akan trauma hanya karena hal itu, di sana juga aku ga takut sama sekali kok, karena aku tau kalau kalian akan datang menyelamatkanku.” Jelas Brenda.
“Udah nurut aja ga usah banyak protes lu!” ketus Bob yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Brenda hanya menatap tajam ke arah Bob dan langsung berdecak kesal. Sedangkan Archie dan Fiki hanya tersenyum tipis mendengar pertengkaran anak kecil menurut mereka.
“Brenda, aku mau bertanya sesuatu kepadamu.” Ucap Archie.
“Ada apa kak?”
“Apa ucapanmu tentang seorang wanita itu benar?” tanya Archie.
“Benar kak! Aku ga mungkin salah karena sepertinya hanya ada seorang wanita dan Raka di sana, aku ga mendengar ada orang lain yang ada di sana.” Jelas Brenda.
“Mungkin wanita itu adalah dalang di balik semuanya, dia yang menyuruh Raka melakukan hal itu.” Ucap Fiki.
“Tapi kepada Raka melakukan hal itu? Raka adalah anak orang kaya, papinya itu pengusaha yang sukses, dia ga mungkin melakukan hal ini hanya untuk uang.” Ucap Bob.
“Itu yang sedang aku pikirkan, apa wanita tersebut salah satu keluarganya? Dia sepertinya sedang melindungi seseorang.” Ucap Archie.
Semua orang yang ada di mobil langsung diam tidak mengatakan apapun, mereka semua sedang dalam pikirannya masing-masing.
Hingga mereka tiba di rumah sakit, semuanya segera keluar dari mobil dan Bob membantu Brenda untuk turun dari mobil.
“Aku bisa sendiri Bob, aku baik-baik saja kakiku tidak terkilir.” Ucap Brenda.
“Tapi kamu tadi jatoh Brenda.”
“Aku jatoh tapi kak Fiki yang menangkap aku! Sepertinya kaki kak Fiki yang terkilir.” Ucap Brenda sambil melihat ke arah kaki Fiki.
Begitu juga dengan Bob yang ikut melihat ke arah kaki Fiki, sedangkan Archie hanya melirik sekilas karena dia sudah tau kalau Fiki lah yang paling terluka saat itu.
“Sudah ayo masuk ke dalam, aku sudah membuat janji dengan dokter langgananku.” Ucap Archie.
Bob dan Brenda lebih dulu berjalan di depan, sedangkan Archie segera melingkarkan tangannya di lengan Fiki untuk membantunya berjalan.
Sedangkan Fiki yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa terkejut dan menoleh ke arah Archie.
“Lo mau macem-macem ya Arch?” tanya Fiki curiga.
“Lo mau mati ya Fik!?” balas Archie.
“Hahaha, lagian lo ngapain tiba-tiba megang lengan gue.”
“Ya mau bantuin lah! Gue tau lo kesakitan ga usah sok kuat lo ntar juga di rumah nangis.” Ucap Archie.
“Cih! Sialan lo! Emang lo pikir gue apaan!” ketus Fiki yang di balas tawa oleh Archie.
__ADS_1
Setelah candaan mereka, keduanya segera berjalan masuk ke dalam rumah sakit mengikuti Bob dan Brenda yang sudah berjalan di depan mereka.