
Pagi itu Aileen sedang bersiap untuk berangkan kuliah karena ada persentasi yang harus dia lakukan di salah satu mata kuliahnya.
Aileen sudah berdandang sangat cantik seperti biasanya hingga membuat Aileen yang sedang bercemin tersenyum manis melihat dirinya sendiri.
“Oeekk,,, oeeekk…” tiba-tiba saja Aileen di kejutkan dengan suara tangis yang berasal dari Almeera.
Aileen segera berjalan ke tempat tidur Almeera yang ada di sebelah tempat tidurnya lalu segera menggendong anak perempuannya itu.
“Uh anak mama sayang, kamu haus ya sayang..” ucap Aileen sambil mengelus punggung mungil Almeera.
Aileen baru sadar kalau tubuh anaknya terasa sangat panas dan langsung berteriak memanggil Brenda.
Brenda yang mendengar suara teriakan dari Aileen segera menghampiri Aileen di kamarnya dan segera membuka pintu.
“Aileen, apa Almeera rewel lagi?” tanya Brenda yang sedang menengok ke dalam kamar.
“Brenda! Almeera panas banget!” ucap Aileen dengan wajah paniknya.
Brenda yang juga ikut merasa panik segera masuk dan berjalan mendekati Aileen yang masih menggendong Almeera.
“Seriusan panas? Terus gimana? Bawa rumah sakit?” tanya Brenda.
“Ga tau nih Bren, aku minta ijin dosen dulu ya.” Ucap Aileen.
“Engga Aileen! Kamu harus tetap masuk kuliah karena kita sudah semester akhir sekarang, kamu harus cepat menyelesaikannya dan lulus kuliah.” Ucap Brenda yang melarang Aileen untuk libur kuliah.
“Tapi Almeera membutuhkan aku Bren..”
“Kamu ikut ke rumah sakit aja, sampai di sana aku yang akan menjaganya dan segera menghubungi mama kamu.” jelas Brenda.
Aileen menganggukkan kepala mendengar saran dari sahabatnya itu, hari itu kebetulan Rahina tidak menginap di rumah anaknya karena Gino harus ke luar kota dan Rahina harus mengurus Arlo di rumah.
“Lagian kenapa waktunya pas banget, pas papa kamu ke luar kota dan mama kamu mengurus Arlo, Almeera malah sakit.” Ucap Brenda.
“Sudahlah Bren ayo kita berangkat ke rumah sakit, aku juga sudah membawa tas untuk kuliah, kamu ambil tas Almeera di bawah lemari ya, aku selalu menyiapkan pakaian Almeera untuk hal yang tidak di inginkan seperti ini.” Ucap Aileen.
Brenda segera menganggukkan kepalanya lalu mengambil tas yang di beritahu oleh Aileen, lalu mereka berdua segera pergi menggunakan mobil Aileen.
“Pelan-pelan aja nyetirnya Bren, yang penting sampai.” Ucap Aileen yang di balas anggukan oleh Brenda.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan Aileen terus saja memeluk tubuh Almeera dengan erat karena walaupun tubuhnya panas, Almeera justru menggigil seperti orang kedinginan yang membuat Aileen semakin khawatir.
“Tenanglah Aileen, kalau ibunya merasa tidak tenang pasti anaknya bisa merasakan juga.” Ucap Brenda.
“Aku tau, tapi aku ga bisa tenang Bren… Ini pertama kalinya Almeera seperti ini..” ucap Aileen.
“Semua anak pasti pernah sakit Aileen, mungkin sakitnya Almeera ini karena dia mau pinter.” Ucap Brenda.
“Hah? Pinter? Pinter apaan?” tanya Aileen yang tidak tau maksud dari ucapan Brenda.
“Kalo kata orang dulu, anak bayi sakit biasanya karena dia mau tumbuh gigi, mau duduk, mau berbicara atau berjalan dan masih banyak lagi..” jelas Brenda.
“Benarkah itu Bren? Wah kenapa kamu mengetahui semuanya sedangkan aku tidak..” ucap Aileen dengan nada sedih.
Aileen merasa kalau dirinya belum bisa menjadi ibu yang baik untuk putri kecilnya, sedangkan Brenda yang belum menjadi ibu sudah mengetahui semuanya.
Brenda melirik ke arah Aileen, dia tau betul kalau sahabatnya itu pasti sedang berfikir yang tidak-tidak karena ucapannya.
“Leen, aku kebetulan tau tentang hal itu dari ibuku jadi jangan terlalu di fikirkan.” Ucap Brenda mencoba untuk menenangkan sahabatnya.
“Tapi aku ini calon dokter, harusnya aku lebih tau hal seperti ini di bandingkan kamu.” ucap Aileen.
Sampai akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit dan keduanya segera turun dari mobil dan berjalan ke receptionist untuk mendaftarkan Almeera.
“Sus tolong anakku ya,, dia tidak pernah panas selama ini dan sekarang tubuhnya panas sekali.” Ucap Aileen.
“Iya tenang ya bu, kalau anda panik anak anda juga akan ikut merasakannya.” Jelas perawat tersebut.
Aileen hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan perawat tersebut, lalu dengan segera perawat tersebut mendaftarkan Almeera dan menuntun mereka ke ruangan perawatan anak.
“Silahkan duduk di sini ya bu,, tunggu dokter memanggil baru anda masuk ke dalam.” Jelas perawat tersebut.
Aileen dan Brenda hanya menganggukkan kepala lalu segera di kursi yang sudah di sediakan sambil menunggu antrian yang cukup panjang.
“Antriannya panjang ya…” ucap Aileen saat melihat kursi yang ada di sampingnya sampai di depan ruangan pemeriksaan.
“Kamu ke kampus dulu aja sana, aku dan Almeera akan pulang naik taxi nanti, atau setelah persentasi kamu bisa langsung menjemput kami di sini.” Ucap Brenda.
“Aku ga mau ninggalin Almeera Bren..”
__ADS_1
“Aileen, kamu jangan khawatir ya.. Ada aku yang menjaga Almeera dan aku pastikan akan mengatakan kepadamu apapun yang dokter katakan.” Ucap Brenda.
Aileen masih belum mengiyakan ucapan Brenda, dia hanya diam sambil menatap wajah mungil anak perempuannya.
“It’s oke, percaya padaku, kamu melakukan hal ini agar cepat lulus dan bekerja untuk Almeera, dia akan bangga memiliki mama yang kuat sepertimu.” Ucap Brenda menguatkan.
Mendengar ucapan Brenda akhirnya Aileen menganggukkan kepala dan memberikan Almeera kepada Brenda.
“Aku titip Almeera ya,, setelah pulang kuliah aku akan menghubungimu, kalau kalian masih belum selesai aku akan segera menjemput kalian.” Ucap Aileen yang di balas anggukan oleh Brenda.
Setelah berpamitan, dengan berat hati akhirnya Aileen berjalan meninggalkan Brenda dan Almeera di sana dan segera menuju kampusnya untuk persentasi agar cepat selesai.
Sedangkan Brenda menggendong Almeera dengan hati-hati dan mengelus pipi keponakannya yang menggemaskan itu.
Dan tibalah waktunya Almeera di panggil untuk masuk ke dalam ruangan setelah menunggu hampr 10 orang yang mengantri.
“Lihalah Almeera, sekarang waktunya kamu yang di periksa, jangan menangis ya sayang..” ucap Brenda sambil berdiri dan mencium kening Almeera.
Brenda masuk ke dalam ruangan pemeriksaan dan langsung duduk di depan dokter laki-laki yang terlihat masih muda sedang menulis laporan anak yang sebelumnya masuk.
Dokter tersebut belum menoleh ke arah Brenda sampai Brenda duduk di depannya barulah dokter tersebut menoleh dan melihat Brenda.
Seketika dokter tersebut terdiam beberapa detik menatap wajah Brenda yang cantik dan terlihat tidak menor seperti anak muda sekarang.
“Dok…” panggil Brenda namun tidak di gubris oleh dokter tersebut.
Brenda yang bingung langsung melihat papan nama dokter tersebut lalu kembali memanggilnya.
“Dokter Gunawan..” panggil Brenda untuk kedua kalinya dan itu membuat dokter tersebut sadar.
“Eh, i-iya mbak maaf tadi saya melamun, silahkan siapa yang mau saya periksa?” tanya dokter Gunawan.
“Ini keponakan saya dok, tadi pagi tiba-tiba badannya panas tapi dia menggigil.” Jelas Brenda.
“Ah, silahkan tidurkan di kasur itu saya akan mencoba memeriksanya.” Ucap dokter Gunawan.
Brenda segera menganggukkan kepalanya lalu berdiri untuk menaruh Almeera di kasur yang sudah di sediakan.
Namun tiba-tiba saja Almeera menangis hingga membuat Brenda terkejut karena hal itu.
__ADS_1
“Maaf sayang, aunty nakal ya sayang tunggu sebentar aja ya sayang..” ucap Brenda berusaha untuk menenangkan Almeera.