
Aileen yang sudah berada di dalam rumah segera mencari kedua orang tuanya yang sedang berada di halaman belakang sedang duduk sambil berbincang seperti biasanya.
“Pa, ma..” panggil Aileen yang sudah berada di halaman belakang.
“Aileen? Yaampun Leen, kamu udah lama banget ga mengunjungi kami semenjak kuliah.” Ucap Rahina yang langsung memeluk tubuh putri kesayangannya itu.
“Maaf ya ma Aileen ga pernah ke sini setelah kuliah, tugas Aileen banyak jadi ga sempet ke sini, jangankan ke sini shopping aja Aileen ga pernah.” Jelas Aileen.
“Iya tidak masalah sayang, sekarang kamu di sini jadi kita bisa menghabiskan waktu bersama.” Ucap Rahina.
“Ma, masak sana putri kita datang bukannya kita harus merayakannya?” ucap Gino.
“Ah iya papa benar! Tunggu ya mama mau nyiapin makan untuk kita semua.” Ucap Rahina.
“Ma, jangan repot-repot, Aileen ga lama kok lagian di depan ada Brenda dan Raka temanku.” Ucap Aileen.
Benarkah? Suruh mereka masuk Aileen, kenapa kamu malah membiarkan mereka menunggu di luar?” tanya Rahina.
“Ma, pa, ada yang mau Aileen bicarakan dengan kalian berdua.” Ucap Aileen dengan wajah yang serius.
Kedua orang tuanya menatap aneh ke arah Aileen, karena biasanya Aileen tidak pernah seserius ini saat berbicara dengan kedua orang tuanya.
“Apa ada masalah Aileen?” tanya Gino.
“Iya Leen, ada masalah kan makanya kamu sampe serius kayak gini.” Sambung Rahina.
“Duduk di ruang tamu yuk,, ke mana Arlo?” tanya Aileen.
“Arlo belum pulang, dia sudah mau ujian sekarang jadi dia lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan.” Jelas Rahina.
“Kalau begitu Aileen ke kamar Arlo dulu bentar ya ma ngambil barang Aileen yang tertinggal di kamar Arlo.” Ucap Aileen yang di balas anggukan oleh kedua orang tuanya.
Rahina berjalan keluar rumah untuk memanggil Brenda dan Raka yang masih berada di dalam mobilnya, sedangkan Gino menyiapkan kopi untuk Raka dan es teh untuk Brenda.
Di dalam kamar adiknya, Aileen terenyum melihat-lihat sekeliling ruangan berukuran sedang yang di pakai adiknya setiap hari.
“Tidak ada yang berubah dari kamar ini, semuanya masih terlihat sama dan banyak sekali robot mainan milik Arlo.” Gumam Aileen sambil melihat satu per satu koleksi robot sang adik.
__ADS_1
Namun perhatian Aileen teralihkan saat melihat kotak berwarna cokelat dengan ukuran kecil tersembunyi di balik koleksi robot adiknya.
Dengan rasa penasaran Aileen mengambil kotak tersebut dan membukanya, betapa terkejutnya Aileen saat melihat boneka kecil yang sudah berdarah dengan perut yang tertusuk di dalam kotak kecil tersebut.
“Ah!!” teriak Aileen lalu dia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menjatuhkan kotak tersebut.
“Yaampun, apa-apaan ini?! Siapa yang sudah mengirim ini ke adikku!?” gumam Aileen sambil mengambil kotak yang dia jatuhkan tadi.
Rahina yang mendengar anak perempuannya berteriak segera menghampirinya dan dia juga terkejut saat melihat kotak yang di penuhi dengan darah dari boneka itu.
“Yaampun Aileen, apa itu?!” ucap Rahina yang langsung memeluk tubuh anaknya.
“M-ma,, siapa yang ngirim ini ma?” tanya Aileen.
“Mama ga tau Leen, itu milik Arlo yang dia dapat kemarin iya kemarin dia juga bingung kenapa bisa mendapat paket padahal dia ga beli apa-apa katanya.” Jelas Rahina.
“Ma, duduklah di sini Aileen mau berbicara kepada mama karena kalau Aileen bicara sama papa pasti papa panik.” Ucap Aileen yang menuntuk mamanya untuk duduk di tepi tempat tidur adiknya.
“Ada apa sebenarnya Aileen? Apa ini berhubungan dengan paket berdarah itu?” tanya Rahina.
“Ma, Aileen hamil.” Ucap Aileen yang membuat Rahina terdiam seketika lalu menutup mulutnya dengan tangannya karena terkejut.
“Tapi ma, Aileen harus pergi menjauh dari sini karena ada seseorang yang mengancam keselamatan keluarga Aileen termasuk bayi yang Aileen kandung.” Jelas Aileen.
Ekspresi wajah Rahina seketika berubah yang tadinya senang tiba-tiba mengerutkan keningnya.
“Apa maksudnya Aileen? Kenapa kamu harus pergi?” tanya Rahina.
“Ma, Aileen udah bilang kalau ada seseorang yang mengancam Aileen, dia bahkan mengirim video Arlo yang sedang berada di sekolahnya.” Ucap Aileen.
“Aileen ga pergi jauh ma, Aileen hanya pergi ke kota B yang berjarak 1 jaam setengah saja dari sini, jadi Aileen masih bisa berkuliah.” Lanjutnya.
“Engga! Mama ga setuju! Dan mama yakin kalau papa juga ga akan setuju dengan rencanamu!” tegas Rahina.
“Mama pliss,, Aileen melakukan ini karena Aileen ga mau terjadi apa-apa kepada kalian semua, yang orang itu inginkan adalah Aileen menjauh dari kehidupan mas Archie, jadi papa dan mama harus menyembunyikan Aileen
sebaik mungkin ya?” ucap Aileen.
__ADS_1
“Baiklah, kalau itu demi keselamatan kita semua dan juga cucuku maka papa dan mama juga akan berusaha.” Ucap Gino yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu kamar Arlo.
“Papa?!” ucap Aileen yang terkejut dengan kehadiran papanya.
“Papa udah denger semuanya dan papa setuju dengan pendapatmu.” Ucap Gino.
“Papa! Aileen masih muda, dia juga sedang mengandung anak pertamanya, akan sulit jika dia sendirian.”
“Ma, Aileen akan menjadi seorang ibu, dia harus belajar dewasa dan harus mengatasi masalah rumah tangganya sendiri!” tegas Gino.
“Papa benar ma, Aileen mohon ijinkan Aileen untuk pergi ya ma, kalau ada sesuatu pasti Aileen segera menghubungi mama kok.” Ucap Aileen.
“Baiklah kalau begitu, mama juga akan menyetujui keinginanmu, tapi kamu harus berjanji kalau kamu akan menjaga dirimu dan anakmu baik-baik.” Ucap Rahina yang di balas anggukan oleh Aileen.
Setelah selesai menjelaskan semua yang terjadi di kehidupannya, Akhirnya mereka bertiga segera turun ke bawah menemui Brenda dan Raka yang sudah menunggu di ruang tamu.
“Kalian sudah di sini saja.” Ucap Aileen.
“Hm, papamu menyuruh kami untuk turun jadi kami turun deh hehe.” Jawab Brenda.
“Makan dulu ya, setelah itu baru kalian bisa mengantar Aileen ke rumah mertuanya untuk berpamitan.” Ucap Gino.
“Hah?” ucap Raka dan Brenda secara bersamaan.
Keduanya tidak mengerti kenapa Gino mengatakan hal itu, mereka tidak tau kalau sebenarnya Gino sudah mengetahui semuanya.
“Jangan bingung, papa dan mamaku sudah tau semuanya dan mereka berdua juga akhirnya mendukung keputusanku.” Ucap Aileen.
“Benarkah itu om tante? Kalian berdua tenang saja ya, Raka akan selalu menjaga Aileen 24 jam!” tegas Raka.
Gino dan Rahina yang mendengar ucapan Raka terlihat kebingungan dan saling menatap satu sama lain. Sedangkan Aileen dan Brenda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Raka.
“Emang kamu siapa sampai harus menjaga anakku 24 jam?” tanya Gino yang penasaran.
“Eh? S-saya hanya teman saja om.” Jawab Raka dengan canggung.
“Sudah pa jangan kayak gitu kasian temanku takut sama papa.” Sambuk Aileen sambil mendorong pelan papanya agar berjalan ke ruang makan.
__ADS_1
Sedangkan Raka hanya menghela nafas lega karena terbebas dari pertanyaan horror papa Gino.