
Waktu berlalu begitu cepat, hari berganti hari, malam berganti malam, siang berganti siang sampai setahun sudah dia di tinggalkan oleh Aileen.
Semuanya sudah berubah kecuali Archie yang masih berdiri di tepi balkon kamarnya menatap pemandangan luar sendirian.
Archie terus memikirkan Aileen yang tidak tau bagaimana kabarnya, karena setelah Aileen pindah, Archie sudah tidak di perbolehkan untuk mencari tau keberadaan Aileen ataupun mencari tau tentang kabarnya.
"Tuan Archie,, ayo sarapan dulu tuan.." panggil bi Ijah yang saat itu berada di depan kamar Archie yang pintunya terbuka.
Mendengar ucapan bibinya membuat Archie langsung menoleh ke asal suara.
"Iya bi, nanti Archie turun kok.. Bibi duluan saja ya." balas Archie.
"Tuan, sudah setahun anda seperti ini terus loh.. Tuan Archie harus move on dan bisa membuka hati untuk wanita lain." ucap bi Ijah.
"Bagaimana dengan anaknya ya bi? Laki-laki apa perempuan? Bagaimana keadaannya sekarang? Pasti sudah sekitar 3 bulan bukan?" tanya Archie.
"Tuan.." ucap bi Ijah yang khawatir dengan keadaan majikannya itu.
"Tidak apa bi, aku baik-baik saja kok... Ayo kita sarapan bi." ajak Archie dengan senyum yang di paksakan.
__ADS_1
Bi Ijah tau betul kalau majikannya ini sedang berusaha untuk baik-baik saja dan memaksakan senyumnya, namun bi Ijah juga tidak bisa melakukan apapun kepadanya.
Seperti biasa, sarapan yang di lalui Archie hanya berdua dengan bi Ijah, itupun karena Archie memaksa bi Ijah untuk makan bersamanya, jika tidak mungkin Archie hanya makan sendirian di meja makan yang besar itu.
"Tuan,, bolehkan bibi bicara?" tanya bi Ijah.
"Hmm ada apa bi?" tanya Archie.
"Apakah tuan Archie tidak mau menikah lagi?" tanya bi Ijah yang membuat Archie yang saat itu sedang melahap makanannya tersedak.
"Tuan, maaf kalo pertanyaan bibi menyinggung... Apa tuan baik-baik saja?" tanya bi Ijah yang khawatir dan langsung memberikan segelas air kepada Archie.
Setelah menghabiskan minum yang di berikan oleh bi Ijah, Archie segera menghabiskan sarapannya tanpa mengatakan apapun dan membuat bi Ijah takut kalau dirinya salah bicara.
Setelah selesai Archie segera beranjak dari tempat duduknya dan menoleh ke arah bi Ijah.
"Untuk saat ini Archie masih menikmati hidup seperti ini bi, tapi jika ada wanita yang membuat hatiku berdebar aku tidak akan menutup hati untuknya." jelas Archie yang langsung berjalan keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil.
Mendengar ucapan Archie membuat bi Ijah sedikit lebih tenang karena ternyata Archie masih ada keinginan untuk menikah lagi.
__ADS_1
***
Di sisi lain, ada seorang wanita yang sedang menggendong tubuh seorang bayi perempuan mungil yang sangat cantik dan menggemaskan.
"Aileen... Aku membawa sarapan untukmu." teriak Brenda sambil masuk ke dalam apartment.
"Sstt... Jangan berisik Brenda, kamu membuat anakku terbangun!" ucap Aileen dengan berbisik.
"Ups, sorry... Apa Almeera sudah tertidur?" tanya Brenda dengan nada berbisik.
"Hmm, baru tidur tapi kamu membangunkannya lagi." jawab Aileen.
3 bulan yang lalu, Aileen sudah melahirkan anak perempuan yang sangat cantik dan menggemaskan yang di beri nama Almeera Zahra.
Aileen tidak memberi nama keluarga kepada Almeera karena memang dia tidak memiliki suami untuk di berikan namanya kepada anaknya.
Selama setahun ini Aileen benar-benar seperti berada di pinggir jurang yang suatu saat bisa terjatuh kapan saja.
Hidupnya penuh dengan cobaan dan hinaan dari orang sekitarnya, namun Aileen masih bertahan karena Almeera, kedua orang tuanya dan juga para sahabatnya.
__ADS_1
Jika tidak mungkin Aileen tidak akan pernah melahirkan Almeera karena dia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri jika bukan orang terdekatnya yang mencegahnya dan memberinya semangat.