
Sesampainya di apartment, Aileen segera keluar dari mobil dan berlari menuju unit apartemennya.
Archie khawatir jika Aileen akan bertemu dengan orang yang mengincarnya, dengan segera Archie juga turun dan berlari mengikuti Aileen.
"Aileen tolong jangan berlari!" teriak Archie namun tidak di gubris oleh Aileen.
Aileen terus saja berlari menuju lift dan menunggu pintu lift terbuka.
Archie berhasil menyusul Aileen dan berdiri di sebelahnya dengan nafas yang terengah-engah, dengan segera Archie menggenggam tangan Aileen dengan erat.
"Kenapa kamu megangin aku kenceng banget sih mas?" tanya Aileen.
"Aku ga mau kamu lari tiba-tiba kayak tadi lagi, jadi kalo kamu lari aku juga akan ikut kamu berlari." jelas Archie.
"Maaf mas, aku khawatir sama keadaan Brenda, aku harap penculiknya masih ada di sekitar sini dan Brenda bisa di temukan secepatnya." ucap Aileen penuh harap.
"Jangan terlalu berharap banyak Aileen, jika dia memang berniat menculikmu atau Brenda, pasti mereka merencanakan semuanya dengan matang termasuk jalan keluar mereka." jelas Archie.
"Iya aku tau, tapi tidak ada salahnya bukan aku berharap dia masih di sini?" ucap Aileen.
Archie hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Aileen sambil membelai rambutnya agar merasa terhibur.
"Kita tunggu Bob ya, kita juga butuh dia untuk menjelaskan semuanya." ucap Archie.
Aileen segera menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Archie, dan akhirnya mereka berdua menunggu di lobby sampai Bob tiba di sana.
Bob yang tadi langsung berangkat menuju apartment Aileen, langsung berlari masuk ke dalam apartment sesampainya di sana.
"Aileen!" panggil Bob yang melihat Aileen dan Archie di lobby.
"Bob, kamu sudah datang... Bagaimana hal ini bisa terjadi Bob?" tanya Aileen.
"Aku juga ga tau Leen, tadi dia bilang ada yang membunyikan bel pintu, aku bilang kalo itu mungkin kurir paket, tapi dia bilang tidak membeli apapun, akhirnya dia mengira kalau kamu memesan makanan untuknya jadi dia membuka pintu dan aku tidak mendengar suara Brenda lagi." jelas Bob sambil terengah-engah.
"Sudah tenanglah dulu Bob, ini minumlah dulu sepertinya kamu sangat terkejut." ucap Archie sambil memberikan air putih yang di sediakan di meja resepsionis.
"Terimakasih kak Archie.." ucap Bob sambil mengambil air putih tersebut lalu meminumnya.
Setelah selesai meminum air putih, Archie segera berbicara dengan resepsionis untuk meminta ijin melihat cctv yang ada di sana.
"Maaf tuan, tapi hanya pihak berwenang saja yang bisa melihat sistem keamanan kami." ucap salah satu resepsionis tersebut.
__ADS_1
"Apa? Kamu tidak tau kalau teman kami baru saja di culik di sini? Aku akan membuat nama apartment ini buruk jika kalian tidak memperlihatkan rekaman cctv!" ketus Archie.
"Maaf tuan tapi kami tidak bisa memperlihatkan cctv, anda harus melapor ke pihak yang berwajib setelah itu biar mereka yang melihat rekaman cctv." jelas resepsionis.
"Wah, sepertinya aku memang harus bertindak sedikit berlebihan di sini!" ketus Archie yang langsung mengambil hp dari kantung celananya.
"Halo Fiki, cepat beli saham apartment B sekarang juga!" tegas Archie.
"Apartment B? Yang ada di ujung kota? Yang benar saja tuan Archie! Apartment itu tidak memiliki harapan lagi, mereka jarang sekali di kunjungi orang lain." ucap Fiki.
"Termasuk istriku dan sahabatnya yang menempati apartment ini! Jadi segera beli saham mereka dan biarkan aku memiliki kuasa untuk melihat ruang kendali!" tegas Archie.
"Ruang kendali? Kamu mau membeli saham itu hanya karena ruang kendali?" tanya Fiki.
"Cepat selesaikan!" ucap Archie yang langsung mematikan telfonnya.
Dua orang resepsionis yang ada di sana hanya diam menatap Archie, mereka berusaha mengendalikan wajah mereka agar tidak terlihat khawatir.
"Apa dia sedang berbohong?" bisik salah satu resepsionis tersebut.
"Entahlah, tapi sepertinya wajahnya beneran deh." balas yang satunya.
"Bagaimana ini? Kalau sampai dia beneran akan membeli saham di sini?"
"Karena kita menghalanginya, bagaimana kalau dia memecat kita?"
"Ga mungkin! Dia pasti berbohong!"
Tidak ada percakapan lagi yang terjadi setelah itu, karena saat itu juga mereka mendapatkan telfon dan membuat keduanya terkejut.
"Telfon tuh, dari siapa ya?" tanya salah satunya.
"Ga tau, angkat gih!" ucap yang lain.
"Engga ah kamu aja!" balas yang lain.
Kedua resepsionis itu hanya saling melempar satu sama lain karena tidak ada yang mau mengangkat telfonnya.
"Kenapa ga di angkat mbak? Mungkin itu telfon dari atasan kalian." ucap Archie dengan senyum sinisnya.
"Aduh mbak tolong di percepat deh, kami juga mau liat cctv karena mau nolong orang kok bukan mau berbuat jahat." sahut Aileen.
__ADS_1
"Jangan sampe dia beneran membeli apartment ini.." lanjutnya.
Mendengar ucapan Aileen membuat kedua resepsionis tersebut berfikir sejenak lalu akhirnya segera mengangkat telfon tersebut.
"Halo selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis tersebut dengan lembut saat mengangkat telfonnya.
"Bodoh! Bagaimana cara kerjamu sampai ada seseorang yang mau menghancurkan apartmentku!" ketus seseorang dari sebrang telfon.
"A-apa tuan? M-menghancurkan? Bukan membeli?" tanya resepsionis tersebut.
Aileen dan Bob yang mendengar ucapan resepsionis tersebut hanya ternganga sambil menoleh ke arah Archie, mereka tidak percaya jika Archie malah menghancurkan apartment itu.
"Cepat turuti permintaan tamu itu! Jangan sampai aku merugi karena dirimu!!" teriak orang tersebut dan langsung mematikan telfonnya.
Kedua resepsionis tersebut segera menoleh ke arah Archie yang sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dengan raut wajah yang menyebalkan.
"Aku padahal suruh membelinya, tapi ternyata asistenku memiliki cara yang lebih efektif.." ucap Archie dengan senyum penuh kemenangan.
"Apa kamu sedang bersenang-senang di sini mas?" tanya Aileen tidak percaya.
"Ah maaf sayang, baiklah kalau begitu cepat tunjukkan aku seluruh cctv yang ada di sini!" tegas Archie.
Kedua resepsionis tersebut segera menganggukkan kepalanya lalu mereka segera mengantar Archie, Aileen dan Bob ke ruang kendali dan menyuruh petugas di sana memperlihatkan rekaman cctv.
Ketiganya dengan serius memperhatikan semua kotak cctv yang di jalankan, dan setelah hampir satu jam melihat akhirnya mereka menemukan rekaman saat seseorang serba hitam membawa Brenda.
"Itu Brenda!" sahut Aileen sambil menunjuk ke salah satu layar.
"Pak tolong perbesar kamera itu sampai bisa terlihat wajah pelakunya!" ucap Archie.
Dengan segera petugas tersebut mengangguk dan melakukan apa yang si perintahkan.
Tapi sayang, wajah orang tersebut sama sekali tidak bisa di kenali karena hanya matanya saja yang bisa terlihat.
"Kalau memang penculikan ini karena aku, berarti pelakunya akan menghubungiku kan?" tanya Aileen.
Semuanya baru sadar jika incaran mereka adalah Aileen, jadi mereka pasti akan menghubungi Aileen untuk meminta tebusan atau sebuah syarat.
"Tapi selama menunggu kita ga bisa diem aja di sini Leen, kita akan semakin jauh dari pelakunya." ucap Bob.
"Kamu benar, makanya aku segera mengirim rekaman cctv itu kepada Fiki, aku juga mengirim rekaman cctv di tempat parkir agar dia bisa mencari plat mobil tersebut." jelas Archie.
__ADS_1
"Aku juga menyuruh orangku untuk memeriksa cctv di jalan raya untuk mencari mobil tersebut." lanjutnya.
Aileen benar-benar lega karena Archie banyak membantunya, dia bisa sedikit bernafas setelah mengetahui kalau ada banyak orang yang akan membantu mencari sahabatnya.