
Aileen POV
Aku Aileen Almira Guntoro, di usiaku yang baru 17 tahun aku harus menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua dariku karena sebuah perjodohan.
Aku adalah anak yang memiliki banyak teman terutama laki-laki, apa salahnya jika aku memiliki banyak teman laki-laki, bukankah begitu? Tapi pemikiran orang tuaku sangat berbeda.
Mereka berfikir jika perempuan bergaul dengan laki-laki dia akan menjadi anak yang tidak bisa di atur dan terlibat pergaulan bebas, dan itu adalah alasan utaman kenapa aku di jodohkan dan menikah tepat di hari kelulusanku.
Aku yang harusnya masih bermain dengan teman-teman sebayaku, harus menikah dan mengurus seorang suami yang lebih pantas di bandingkan dengan omnya sendiri.
Mungkin karena bukan keinginanku untuk menikah, aku tergoda saat teman SMA ku mengajakku berkencan, Raka adalah laki-laki yang sangat populer di sekolahku, bisa di bilang dia adalah pentolan anak gaul di SMA.
Saat itu aku mulai 'selingkuh?' di belakang suamiku, walaupun sebenarnya suamiku tidak pernah mencampuri urusan pribadiku begitu juga sebaliknya.
Saat suamiku menikah lagi dengan mantan kekasihnya aku bahkan tidak merasakan apapun awalnya, namun lama-kelamaan rasanya ada sesuatu yang mengganjal di jantungku.
Entah apa yang terjadi kepada diriku, tapi rasanya aku ingin menyuruh mereka untuk berpisah dan merebut kembali perhatian suamiku.
Kami selalu berdebat mengenai masalah apapun dan tidak ada hari di mana rumah yang kami tinggali tenang, sampai akhirnya suatu hari aku dan suamiku dengan sadar melakukan hubungan suami istri yang seharusnya.
Entah bagaimana bisa, tapi hal itu terjadi begitu saja tanpa ada rencana dan pembicaraan. Namun saat pesta kelulusanku, aku terlalu banyak minum dan Raka membawaku ke kamar.
__ADS_1
Entah apa lagi yang kami lakukan, tapi tiba-tiba Raka berada di sebelahku saat aku terbangun dan itu membuatku merasa takut dan khawatir jika suamiku mengetahuinya.
Aku tidak membahas hal itu karena aku tidak ingin siapapun mengetahui hal memalukan itu, sampai seminggu setelahnya aku mengetahui kalau diriku ternyata sudah mengandung.
Itu benar-benar tamparan keras untukku karena aku tidak tau siapa ayah dari anak yang aku kandung, aku berharap anak ini adalah anak suamiku, tapi bagaimana kalau sampai anak ini adalah anak kekasihku? Bagaimana aku menghadapi suamiku?
Tapi akhirnya aku tetap mengatakan yang sebenarnya kepada suamiku apa adanya, suamiku bahkan mengetahui kalau aku tidur dengan kekasihku dan dia amat sangat murka akan hal itu bahkan sampai mengusirku.
Namun setelah aku mengkonfirmasi kepada Raka, dia menjelaskan semuanya dan membuktikan kalau anak yang aku kandung adalah anak dari suamiku, darah daging mas Archie...
Aku bahagia, sangat bahagia, ingin rasanya berlari ke pelukan suamiku dan mengatakan kalau anak yang aku kandung adalah anak suamiku dan membuatnya memaafkanku.
Tapi tiba-tiba saja semuanya di hancurkan begitu saja karena sebuah pesan singkat yang dikirim oleh nomer yang tidak aku kenal, dia mengancamku dan bahkan mengirimkan fotoku saat itu seperti dia selalu memantauku.
Benar-benar mengejutkan dan juga menyakitkan, aku tidak mau ada orang yang terluka karena diriku, jadi aku memutuskan untuk pergi jauh dari suamiku dan hidup sendiri, awalnya aku kira itu sangat mudah tapi apa daya ternyata semua penderitaan di mulai saat aku pergi jauh dari suamiku.
Aku harus mencoba untuk menutup telingaku dari semua omongan orang yang menghina jika anakku adalah anak hasil hubungan gelap, dan masih banyak hal yang harus aku tahan walaupun menyakitkan, bahkan aku harus bersabar dengan paket ancaman yang di kirim ke apartmentku.
Bahkan aku sudah hampir 5 kali pindah ke apartment lain untuk menghindari ancaman itu, namun nihil! Kemanapun aku pindah dia akan mengetahuinya dan tetap memberikan ancaman kepadaku.
Kedua orang tuaku, adik laki-lakiku, dan para sahabatku selalu datang bergantian menemaniku di apartment karena Brenda kadang harus menginap di kos temannya karena mengerjakan tugas yang menumpuk.
Mereka selalu mengingatkanku kalau masih ada bayi mungil yang sedang tumbuh di dalam rahimku, dan aku harus tetap kuat untuk bayi ini dan itu selalu berhasil membuatku kembali bersemangat untuk menjalani hidup.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku melahirkan seorang putri yang cantik, putih bersih, hidung mancung, dan menggemaskan yang aku beri nama Almeera Zahra.
Aku tidak memberi nama belakang kepada putriku karena aku memang tidak memiliki suami yang harus aku berikan namanya kepada putriku, dan aku harap suatu saat nanti nama belakang ayah kandungnya lah yang akan berada di akhir namanya.
Di usiaku yang hampir menginjak 19 tahun, aku sudah melahirkan seorang anak dan harus mengurusnya seorang diri, benar-benar sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan.
Menjadi seorang ibu di usia yang terbilang sangat muda itu benar-benar sesuatu yang tidak mudah, apa lagi saat tidak ada seorang suami yang mendampingi dan bergantian untuk begadang saat bayiku menangis terutama di saat aku harus berangkat kuliah keesokan harinya.
Walaupun sebenarnya setelah melahirkan mamaku tinggal bersamaku, tapi aku tidak tega untuk membangunkannya karena dia harus menjaga anakku di saat aku sedang kuliah.
Lelah? Tentu saja sangat lelah, tapi kembali lagi aku hanya bisa bilang 'tidak apa-apa' karena masih ada Almeera yang harus aku jaga.
Semenjak Almeera lahir di dunia ini, rasa rinduku kepada mas Archie sedikit bisa di bendung karena wajah Almeera sedikit banyak mirip dengannya dan setiap aku merindukan mas Archie aku akan memandangi wajah putriku.
Setiap hari aku harus memberi ASI kepada Almeera dan aku juga harus memompa ASI untuk persediaan di rumah saat aku kuliah, bahkan saat di kampus aku masih menyempatkan waktu untuk memompa ASI di toilet.
Rumit bukan? Yah begitulah kehidupanku setelah jauh dari mas Archie... Entah bagaimana keadaannya saat ini, apa dia sudah memiliki istri dan anak? Atau dia masih menungguku kembali? Walaupun itu kemungkinan yang sangat kecil.
Setidaknya berharap dia masih menungguku tidak ada salahnya bukan? Toh aku selama ini tidak mengkhianatinya, Almeera juga darah dagingnya jadi masih ada kesempatan untuk kita kembali bukan?
Hahhh,, itu hanyalah hayalanku yang selalu aku aminkan di setiap doa di dalam sujudku...
Almeera sudah genap berusia 3 bulan sekarang, tidak terasa dia sudah semakin besar dan suatu saat nanti pasti dia akan bertanya tentang keberadaan ayah kandungnya.
__ADS_1
Aku bahkan memikirkan sampai ke sana walaupun Almeera baru berusia 3 bulan, apa ini saatnya aku menemuinya dan mengatakan yang sebenarnya? Apa ancaman itu sudah tidak akan datang lagi? Karena semenjak Almeera lahir, sudah tidak ada lagi surat ancaman atau paket ancaman yang di kirim ke apartmentku.
Apa ini sudah waktunya aku kembali dan mengenalkan Almeera kepada ayah kandungnya?