
Evan dan Andrean baru saja kembali dari Jepang untuk urusan bisnis. Perjalanan mereka kali ini cukup melelahkan karena mereka harus berhadapan dengan banyak serangga yang harus disingkirkan.
Narda dan Arthur sedang bersiap untuk menjemput Andrean dan Evan dibandara. Kali ini Arthur mengizinkan Narda ikut menjemput kedua adiknya yang lain karena dia yakin tidak akan ada musuh yang berani mendekati mereka saat ada dirinya.
Arthur bukan hanya dikenal sebagai ilmuan gila tapi dia juga dikenal sebagai calon raja mafia menggantikan Hendery. Kekuatan dan keberanian Arthur tidak bisa diragukan, dan banyak musuh yang menghormatinya karena sikap Arthur yang bijaksana.
"Adek jangan jauh jauh dari kakak bahaya" Ucap Arthur sembari memperbaiki kancing jasnya.
Narda mengangguk paham karena ini bukan kali pertama dia diwanti wanti oleh Arthur. Setiap kali Narda mendengar kata kata itu Narda selalu bertanya dalam hati, bahaya apa? dan kenapa berbahaya?.
Narda melihat ke sekeliling dia menyadari sesuatu. Narda memperhatikan dengan matanya yang tajam dan dia menyadari jika bawahan Arthur tidak hanya menjaga mereka dari dekat tapi juga dari jauh.
Narda melihat beberapa anak buah Arthur yang menyamar menjadi OB, ada juga yang berlalu lalang menggunakan pakaian biasa, ada yang menyamar menjadi kakek kakek, dan ada tiga penembak jitu yang menjaga mereka dari jauh.
"Kakak apa kita memang harus dijaga seperti ini? ini membuat ku takut..." Narda.
Arthur menggenggam tangan Narda dan membawa Narda untuk berjalan disampingnya. Berbeda dengan Arthur yang menggunakan setelah jas lengkap, Narda hanya menggunakan hoodie berwarna cream dan celana jeans pendek diatas lutut.
"Tidak usah takut mereka semua bertugas melindungi kita terutama diri mu, lihat saja pakaian mu begitu minim bahan...
belum lagi kau memiliki kulit putih, mata indah, bulu mata lentik, bibir pink, hidung yang mancung, dan kau itu pendek aku takut adikku ini diculik pedofil" Sahut Arthur membuat Narda melongo tak percaya.
"Kakak!..." Kesal Narda.
Narda memang sangat menawan sejak kecil dia memang sudah menawan. Dari kecil wajah Narda memang lebih terlihat cantik ketimbang tampan, hal itu membuat ketiga kakaknya sangat posesif pada Narda.
Bahkan setiap kali membawa Narda jalan jalan keluar mansion tak jarang ketiga kakaknya akan bertengkar dengan orang tak dikenal karena orang orang itu berani menggoda Narda. Andrean dan Evan melihat rombongan Arthur dan Narda dari jauh.
"kak Arthur mengatur semua dengan baik" Evan.
__ADS_1
"Tapi ku rasa tidak terlalu baik, lihat" Andrean menunjuk ke arah seseorang yang terlihat menatap Narda dari salah satu kursi tunggu.
Evan dan Andrean membawa anak buah mereka mendekati rombongan Narda. Evan memeluk Narda dan memberikan isyarat pada Arthur.
"Adek lain kali kalau keluar dari mansion jangan pakai celana pendek!" tegur Evan.
"Hehehe iya kak" Narda.
"Kak..." Narda memeluk Andrean erat.
Andrean memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menangkap orang itu. Keributan terjadi karena ternyata orang itu membawa senjata dan menembak anak buah Andrean.
Anak buah Arthur ikut bergerak menangkap orang itu. Ternyata orang itu tidak sendirian dia memiliki banyak rekan Andrean tak melepaskan Narda dari pelukannya karena khawatir orang orang itu akan menyerang sang adik.
Narda benar benar tidak tahan dengan suara tembakan. Itu membuat telinga Narda terasa sangat sakit dan dadanya terasa sangat sesak, Narda mencengkram kuat bahu Andrean pandangan matanya berkunang kunang dan kemudian gelap.
Narda jatuh pingsan didalam pelukan Andrean hal itu membuat mereka panik. Andrean mengangkat tubuh Narda dan bergegas membawanya ke rumah sakit.
Mereka bertiga juga mengabari Jason dan Hendery. Tentu saja itu menyulut amarah kedua raja mafia itu, membuat keduanya menyiapkan segala sesuatunya untuk berperang.
Saat sampai dirumah sakit Narda langsung ditangani oleh para dokter terbaik. Setelah diperiksa lebih lanjut ternyata Narda baik baik saja, dokter segera menemui Andrean yang menunggu dengan khawatir.
"Dokter bagaimana keadaan adikku?" Andrean.
"Dia baik baik saja, dia pingsan karena rasa panik dan kecemasan berlebihan sebaiknya Narda dijauhkan dari semua hal yang membuatnya takut karena selain tidak baik untuk mentalnya itu juga tidak baik untuk kesehatan fisiknya" Dokter.
Andrean menemui Narda didalam ruang rawat inap. Andrean memegang tangan Narda dan mengusap lembut kepala sang adik.
"adek... maaf kami tidak bisa menjauhkan mu dari semua ini, kami sudah berusaha tapi tak ada hasilnya kami justru selalu membawa mu dalam bahaya" Andrean.
__ADS_1
Narda sebenarnya sudah sadar tapi dia malas membuka matanya. Tidak disangka Narda malah mendengar hal yang tak terduga dari Andrean.
"Kami ingin kau bahagia dan baik baik saja, tapi kami tidak tau bagaimana caranya... apakah ini salah kami karena membawa mu ke dalam keluarga ini? apakah selama ini kau bahagia? atau hanya berpura pura bahagia?" Andrean tak dapat menahan air matanya.
Jason dan yang lainnya memasuki ruangan Narda dan menatap Andrean sedih. Andrean adalah orang yang paling tegar diantara mereka semua, bahkan Jason dan Hendery juga mengakui itu.
Namun semua ketegaran dan kekuatan Andrean akan runtuh dan menghilang jika dihadapan Narda.
"Andrean..." Jason memegang pundak sang anak.
"apakah kita harus membiarkan Narda pergi untuk menjalani hidupnya? haruskah kita biarkan dia memilih?" Andrean.
"Apa maksud mu?! Narda adalah anak keluarga kita! Dia adalah adik mu lalu kemana dia akan pergi?!" Marah Karina.
Andrean terdiam dia duduk dikursi yang ada disamping Narda dan menggenggam erat tangan adik bungsunya itu. Andrean juga bingung harus bagaimana semua cara sudah mereka lakukan untuk menjauhkan Narda dari bahaya tapi nyatanya bahaya semakin datang bertubi tubi menyerang Narda.
Narda membuka matanya dan memegang wajah Andrean. Andrean beranjak dan mendekatkan wajahnya pada Narda sembari mengusap kepala Narda oenuh kasih.
"Kak... adek tidak mau pergi" Cicit Narda membuat hati Andrean semakin sakit.
"Adek akan selalu disini bersama kakak dan semuanya, adek akan kuat kak... jangan suruh adek pergi kak" Narda ikut meneteskan air mata membuat semua tameng hati Andrean runtuh.
"Kita berjuang sama sama ya... adek harus kuat, kakak janji akan selalu melindungi mu jangan pernah menyerah dek" Andrean.
"Adek percaya sama kakak, dan semuanya... kita pasti akan selalu sama sama, kakak juga jangan menyerah karena adek akan terus berjuang buat kita" Narda.
"Papa..." Narda memanggil Jason membuat pria itu terbangun dari lamunannya.
"Iya adek? sayangnya papa" Jason.
__ADS_1
"Adek mau pulang saja... adek tidak suka rumah sakit" Narda.